Bab 10 : Kenangan Lama
Pagi itu, Alvara menatap Rafa yang sedang asyik menumpuk balok warna-warni di lantai ruang tamu. Suara tawa kecilnya mengisi rumah, ringan dan hangat, tapi sekaligus menusuk sesuatu yang lebih dalam di dada Alvara.
Ia duduk di sofa, menyeruput kopi yang sudah agak dingin, mencoba menenangkan pikirannya. Beberapa hari terakhir pertemuannya dengan Raka terus terbayang. Cara matanya menatap Rafa. Cara ia berbicara pada Alvara. Semuanya terasa aneh, tapi juga familiar.
Alvara menutup mata sebentar, lalu teringat satu malam bertahun tahun lalu. Malam ketika Raka pertama kali mengirim pesan panjang, tentang betapa ia menghargai Alvara, betapa ia ingin selalu menjadi tempat aman baginya. Ia tersenyum tipis di kenangan itu.
"Aku enggak pernah ingin kamu merasa sendiri, bahkan ketika kita berjauhan," bisik Raka di layar ponsel waktu itu.
Kenangan itu membuat Alvara merasa hangat sekaligus sakit. Hangat karena cinta itu pernah ada, kuat dan tulus. Sakit karena waktu dan keadaan memisahkan mereka.
Rafa menarik lengan bajunya. “Mama, lihat ini!” serunya dengan mata berbinar.
Alvara membuka mata, tersenyum, dan menunduk. “Wah, bagus banget, sayang. Mama lihat deh.”
Rafa tertawa senang. “Om Raka pernah main gini juga, kan?”
Alvara terkejut. “Om Raka?”
“Ya! Waktu kita main di taman!” jawab Rafa polos.
Alvara menelan ludah. Bagaimana anak kecil bisa menyimpan ingatan tentang momen yang tidak ia ceritakan? Atau mungkin Rafa mendengar dari cerita teman teman di sekolah?
Ia tersenyum getir. “Iya, om Raka pernah main sama kamu, tapi itu dulu sekali.”
Rafa mengangguk, lalu kembali bermain.
Alvara duduk diam, menatap balok yang berserakan di lantai. Kenangan lama terus menyeruak, membuat hatinya bergetar. Ia sadar, meski ia mencoba melupakan, Raka tetap ada di bagian terdalam hidupnya. Tidak hilang, hanya tersembunyi sementara.
Siang itu, setelah Rafa tidur siang, Alvara duduk di balkon sambil melihat langit yang mulai mendung. Angin sepoi sepoi menyentuh wajahnya, membawa aroma kota yang sudah lama ia kenal. Pikirannya melayang ke saat ia dan Raka menghabiskan waktu berjam jam berbicara lewat layar, tertawa, berbagi mimpi dan rahasia.
Ia tersenyum sendiri. “Kenapa kamu selalu ada di mana pun aku pergi?” gumamnya pelan.
Hatinya terasa campur aduk. Di satu sisi, ia bersyukur pernah mencintai dan dicintai seperti itu. Di sisi lain, ia menyesal tidak bisa mempertahankan cinta itu, kalah oleh tekanan dan pilihan yang ia buat demi keluarganya sendiri.
Rafa tiba tiba muncul di balkon. “Mama, lihat! Ada burung!” serunya.
Alvara menoleh, melihat seekor burung kecil hinggap di pagar. Senyum anaknya membuat hatinya sedikit hangat. Ia merasakan kelegaan sesaat. Kehangatan itu berbeda dari kenangan, tapi tetap menenangkan.
“Ya, indah sekali,” kata Alvara. “Burung kecil, ya sayang?”
Rafa mengangguk senang, lalu melompat ke pelukannya. Alvara memeluknya erat, menahan rasa haru yang kembali muncul. Anak ini adalah bagian dari hidupnya yang nyata, yang harus ia jaga, sekaligus pengingat tentang masa lalu yang belum sepenuhnya tertutup.
Beberapa jam kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Raka.
“Hari ini aku lewat taman dekat sekolah Rafa. Dia tampak senang. Senang bisa lihat kamu juga.”
Alvara menatap layar, hati berdebar. Ia tidak segera membalas. Jari jarinya berhenti di atas layar. Satu kata salah bisa membuka kembali luka yang ia kira sudah terselimuti waktu.
Ia menutup mata sebentar. “Aku harus kuat,” bisiknya.
Namun sebelum ia sempat membuka matanya, Rafa menarik tangannya. “Mama, ayo main!”
Alvara tersenyum dan bangkit, menatap mata anaknya yang polos. Segala rasa rindu, sakit, dan ragu perlahan tertahan oleh kenyataan yang harus ia jalani. Ia bukan hanya dirinya lagi. Ia seorang ibu, dan itu adalah tanggung jawab terbesar yang harus ia jalani.
Tetapi ketika ia menoleh ke jendela balkon, seolah ada bayangan seseorang yang berdiri jauh di sana. Bayangan yang membuat jantungnya sedikit tercekat, meski ia tidak benar benar tahu siapa itu.
Hanya sebuah siluet, cukup untuk membuat napasnya tertahan.
Dan Alvara sadar, masa lalunya tidak pernah benar benar pergi.
Alvara menunduk, menatap tangannya yang masih memegang balok-balok kayu yang berserakan. Suara tawa Rafa masih terdengar di ruang tamu, tapi hatinya terasa hening, seperti ruang itu tiba-tiba membesar sendiri.
Ia menutup mata sejenak, membiarkan kenangan dan rasa rindu bercampur. Setiap momen yang ia lalui bersama Raka dulu terasa begitu dekat, tapi juga begitu jauh. Ia menyesali keputusan yang pernah ia buat, tapi juga tahu, ia tidak bisa kembali ke masa itu.
Rafa muncul lagi dengan wajah polos, membawa boneka kecil. “Mama, Om Raka suka boneka ini, kan?”
Alvara tersenyum tipis. “Mungkin dulu dia suka, ya.”
Bocah itu menaruh boneka di tangan Alvara, kemudian berlari lagi ke arah permainan lain. Alvara memandangnya, merasakan getar yang aneh. Anak kecil itu menjadi pengikat masa lalu dan sekarang. Pengingat sekaligus penghibur.
Lalu ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor yang sama.
“Hari ini senang bisa lihat kamu tersenyum. Semoga Rafa bahagia juga.”
Alvara menatap layar, jantungnya berdebar. Ia menahan diri, tidak langsung membalas. Ia ingin menyusun kata-kata yang tepat, tapi kata-kata itu terasa berat.
Ia meletakkan ponsel, menarik napas panjang. “Aku harus sabar,” gumamnya. “Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk dia.”
Di balkon, angin sore menyentuh wajahnya. Burung-burung kecil hinggap di pagar, membuat suasana damai tapi sekaligus menegangkan. Alvara menyadari sesuatu. Pertemuan dengan Raka bukan lagi kebetulan. Ia sudah mulai hadir perlahan dalam hidup mereka, dan Alvara tahu, hatinya tidak akan sepi lagi.
Dan malam itu, Alvara menyadari satu hal: ada sesuatu yang sedang menunggu di luar, sesuatu yang bisa mengubah semuanya.