Bunyi bip... bip... bip... dari monitor detak jantung di samping brankar Naya terdengar seperti hitungan mundur bom waktu bagi Reza.
Di dalam tenda medis militer yang dingin dan berbau alkohol itu, Reza duduk kaku di kursi lipat besi. Matanya tak lepas dari sosok dokter militer yang sedang mencuci tangan di wastafel portable di sudut ruangan. Dokter itu—pria paruh baya dengan wajah lelah dan kacamata tebal—sedang bersiap melakukan prosedur yang paling Reza takuti: membersihkan luka Naya.
Naya tertidur pulas akibat obat penenang. Dadanya naik turun dengan teratur, tapi wajahnya pucat pasi. Di balik selimut tipis rumah sakit yang menutupi tubuh bagian bawahnya, tersembunyi rahasia yang bisa membuat Naya lenyap dari muka bumi selamanya.
Kaki kanan itu. Kaki bionik yang terbungkus terpal kotor.
"Baik, Mas," Dokter itu mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu berbalik sambil memegang sebuah nampan berisi gunting medis besar, kapas, dan botol antiseptik. "Saya akan buka balutannya sekarang. Kita harus pastikan tidak ada jaringan nekrotik atau infeksi sepsis."
Reza berdiri refleks, menghalangi jalan dokter itu.
"Dok, sebentar," Reza mencoba tersenyum, tapi bibirnya berkedut gugup. "Apa nggak sebaiknya nunggu dia sadar dulu? Dia... dia histeris banget soal kakinya. Kalau dia bangun dan liat kakinya lagi diotak-atik, dia bisa syok lagi."
Dokter itu menghela napas, menatap Reza dari balik kacamatanya. "Mas Reza, ini protokol medis. Kalau ada zat kimia korosif yang masih nempel di kulitnya dan meresap ke darah, temen Mas bisa meninggal dalam hitungan jam. Kita nggak bisa nunggu dia bangun."
"Tapi Dok..."
"Minggir, Mas. Atau saya panggil Polisi Militer untuk bawa Mas keluar dari tenda ini."
Ancaman itu serius. Reza melihat dua penjaga bersenjata laras panjang berdiri di pintu masuk tenda. Melawan mereka adalah tindakan bodoh.
Reza mundur selangkah dengan enggan. Otaknya berputar cepat mencari cara. Gimana ini? Kalau dia buka terpal itu dan liat plastik abu-abu yang nyatu sama daging... abis kita.
Dokter itu menyingkap selimut Naya. Bau apek dan lindi samar tercium dari bungkusan terpal biru kotor yang melilit kaki kanan Naya.
"Baunya aneh," komentar dokter itu, mengerutkan kening. Dia mengarahkan gunting medisnya ke simpul kain yang dibuat Reza.
Kres. Simpul pertama terpotong.
Jantung Reza serasa berhenti. Dia melirik ke sekeliling tenda. Di brankar sebelah, ada seorang bapak tua—warga desa yang selamat—sedang meracau dalam tidurnya, tangannya terikat ke sisi kasur.
Dokter itu menggunting lagi. Kres. Terpal itu mulai longgar. Sedikit lagi, lapisan abu-abu metalik itu akan terlihat.
Tiba-tiba, bapak tua di brankar sebelah menjerit.
"PANAS! JANGAN BAKAR SAYA! AMPUN!"
Bapak itu kejang-kejang hebat. Ikatan di tangannya menegang. Tubuhnya melengkung ke atas dengan kekuatan yang tidak wajar. Monitor jantungnya menjerit panjang. TIIIIIIIIIT!
Dokter itu terlonjak kaget. "Suster! Pasien 04 kejang! Siapkan Diazepam!"
Perhatian dokter dan dua perawat di tenda itu teralihkan seketika. Mereka berlari mengerubungi bapak tua itu, mencoba menahannya agar tidak jatuh dari kasur.
Ini dia. Kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali.
Reza tidak buang waktu. Dia segera mengguncang bahu Naya.
"Nay! Bangun! Woy!" bisik Reza kasar di telinga Naya.
Naya mengerang pelan, matanya terbuka sedikit. Pupilnya masih melebar efek obat bius. "Za... ngantuk..."
"Jangan tidur, bego! Kita harus cabut!" Reza menampar pipi Naya pelan tapi tegas. "Dokter mau liat kaki lo. Kita harus pergi sekarang."
Kata "kaki" sepertinya menembus kabut di otak Naya. Matanya membelalak sedikit. Kesadaran akan bahaya mulai kembali.
"Bawa gue..." bisik Naya lemah.
Reza melihat sekeliling. Pintu depan dijaga tentara. Pintu belakang... tidak ada pintu belakang. Tapi dinding tenda ini terbuat dari terpal tebal yang diikat ke tiang pancang.
Reza melihat sebuah troli peralatan medis di dekatnya. Di rak bawahnya, ada tumpukan baju scrub (baju operasi) hijau dan masker medis.
"Pake ini," Reza melemparkan baju scrub ke dada Naya, lalu dia sendiri memakai satu rangkap di luar bajunya yang kotor. Dia juga memakaikan masker ke wajah Naya dan dirinya sendiri.
"Naik ke punggung gue lagi," perintah Reza.
Naya dengan susah payah duduk, kepalanya pusing berputar. Kaki kanannya terasa mati rasa, seperti kayu gelondongan yang berat. Dia merangkul leher Reza.
Reza menggendong Naya. Dia tidak lewat pintu depan. Dia menuju sudut belakang tenda, di balik tumpukan kardus infus.
Reza mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku celananya—benda yang untungnya tidak disita karena dia menyembunyikannya di dalam sepatu saat pemeriksaan tadi.
Sreet.
Reza menyobek terpal dinding tenda. Celah vertikal terbuka. Udara malam yang dingin masuk.
"Tahan napas," bisik Reza.
Mereka menyelinap keluar lewat celah itu.
Mereka berada di area belakang tenda medis. Area ini remang-remang, hanya diterangi lampu sorot jauh dari menara pengawas. Di sini, truk-truk militer parkir berjejer.
Tapi bukan truk pasukan.
Ini adalah truk kargo tertutup. Dan baunya... Reza mengenal bau ini. Bau formalin dan kapur barus.
Truk jenazah. Atau lebih tepatnya, truk pengangkut "sampah biologis".
Beberapa petugas berbaju hazmat putih sedang mengangkut kantong-kantong jenazah hitam dari tenda sebelah ke dalam bak truk.
"Itu..." Naya berbisik di telinga Reza, suaranya gemetar. "Itu warga desa yang mati tadi..."
Reza bersembunyi di balik ban truk besar, mengawasi. Petugas-petugas itu bekerja mekanis. Angkat, lempar, tumpuk. Tidak ada penghormatan. Bagi mereka, ini hanya prosedur sanitasi.
"Kita harus keluar dari zona karantina ini," kata Reza. "Pager kawat durinya tinggi banget dan dialiri listrik. Satu-satunya jalan keluar adalah lewat gerbang utama."
"Dan gerbang utama dijaga tank," tambah Naya pesimis.
"Makanya kita nggak jalan kaki," Reza menatap truk kargo di depan mereka. Pintu bak belakangnya masih terbuka. Supir truk sedang merokok di depan, ngobrol sama penjaga. Petugas hazmat baru saja selesai memuat tumpukan terakhir dan pergi untuk mengambil kloter berikutnya.
Bak truk itu kosong dari penjagaan untuk sementara.
Reza menatap Naya. "Lo percaya gue kan?"
"Jangan bilang kita mau naik truk mayat itu," Naya menatap horor.
"Pilihannya cuma dua: jadi mayat beneran di dalem sana, atau pura-pura jadi mayat di truk itu."
Naya menelan ludah. Dia mengeratkan pelukannya di leher Reza. "Jalan."
Reza berlari membungkuk, memanfaatkan bayangan truk-truk lain sebagai pelindung. Dia mencapai bagian belakang truk kargo itu.
Bau di dalamnya membuat mata berair. Tumpukan kantong jenazah hitam memenuhi separuh bak truk.
Reza memanjat masuk, lalu menarik Naya ke dalam.
"Ke pojok paling dalem," bisik Reza. "Di balik tumpukan."
Mereka merangkak di atas tumpukan kantong jenazah yang dingin dan lunak. Rasanya seperti merangkak di atas kasur air yang isinya daging beku. Naya mencoba untuk tidak memikirkan siapa yang ada di dalam kantong di bawah lututnya itu. Pak RT? Bu Darsih?
Mereka meringkuk di sudut paling gelap, di belakang tumpukan mayat setinggi satu meter. Reza menarik beberapa kantong jenazah kosong yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh mereka.
Tak lama kemudian, pintu bak belakang truk ditutup dari luar.
BLAM!
Gelap gulita.
Lalu terdengar suara kunci besi digeser. KLANG.
Mereka terperangkap.
"Za..." suara Naya bergetar di kegelapan. "Gue takut."
Reza meraba tangan Naya dan menggenggamnya erat. "Gue di sini. Gue juga takut setengah mati, Nay. Tapi seenggaknya kita keluar."
Mesin truk menderu hidup. Getarannya merambat lewat lantai besi dan tumpukan mayat, mengguncang tubuh mereka.
Truk mulai bergerak.
Perjalanan itu adalah mimpi buruk tersendiri. Di dalam kotak besi yang gelap, panas, dan bau kematian, Naya dan Reza berhimpitan dengan sisa-sisa tragedi Desa Sindang. Setiap kali truk menghantam lubang jalan, kantong-kantong jenazah itu bergeser, menindih mereka, seolah mayat-mayat itu ingin memeluk mereka.
Naya memejamkan mata, menahan mual. Dia merasakan kaki kanannya berdenyut pelan.
Bip... Bip...
Bukan suara monitor jantung. Itu suara dari dalam kakinya sendiri. Suara sistem saraf bionik yang mulai melakukan reboot setelah kehabisan energi.
"Za," bisik Naya. "Kaki gue... anget lagi."
"Ssst. Jangan bersuara," desis Reza. "Kita lagi berhenti."
Truk melambat, lalu berhenti. Terdengar suara percakapan di luar.
"Pos Pemeriksaan Ring 1. Tujuan?" suara tentara.
"Bawa muatan ke Insinerator Pusat, Ndan. Sesuai prosedur pemusnahan," jawab supir truk.
Reza membeku. Insinerator? Pembakaran?
Mereka bukan dibawa ke rumah sakit atau pemakaman. Mereka dibawa ke tempat pembakaran sampah medis untuk dimusnahkan.
"Buka bak belakang. Pengecekan rutin," perintah tentara itu.
Jantung Reza berdegup kencang sekali sampai rasanya bisa didengar dari luar.
Suara langkah kaki mendekat ke pintu belakang. Kunci besi dibuka.
Pintu terbuka. Cahaya senter menyapu bagian dalam truk.
Reza menahan napas, membenamkan wajahnya ke leher Naya, menutupi kepala mereka dengan plastik hitam kantong mayat.
Senter itu menyapu tumpukan kantong jenazah. Cahayanya berhenti sejenak di sudut tempat mereka bersembunyi.
"Bau banget, anjir," komentar tentara itu, menutup hidungnya. "Isinya apaan nih? Kok bentuknya aneh-aneh?"
"Namanya juga korban ledakan gas, Ndan. Hancur semua," sahut supir truk santai.
Tentara itu tampaknya tidak berniat memeriksa lebih dalam. Bau busuk dan rasa jijik adalah sistem keamanan terbaik.
"Oke. Jalan. Jangan mampir-mampir. Langsung bakar."
Pintu ditutup lagi. BLAM.
Truk bergerak kembali.
"Kita mau dibakar, Za..." bisik Naya panik. "Kita harus lompat."
"Nggak bisa sekarang. Kita masih di jalan raya militer. Banyak konvoi," Reza berpikir keras. "Kita tunggu sampe truk ini keluar dari zona merah, masuk ke jalan tol atau jalan provinsi yang sepi. Baru kita dobrak."
"Dobrak? Pintu itu dikunci dari luar!"
"Lo lupa?" Reza menepuk kaki kanan Naya yang terbungkus terpal. "Kita punya pembuka kaleng otomatis."
Naya tersenyum tipis di kegelapan. Benar. Kaki ini bukan cuma beban. Ini senjata.
Mereka menunggu sekitar dua puluh menit. Guncangan jalan terasa lebih halus. Suara bising di luar berkurang. Kecepatan truk stabil tinggi. Mereka sudah di jalan raya.
"Sekarang, Nay," kata Reza. "Sebelum kita nyampe tempat pembakaran."
Naya menggeser tumpukan mayat yang menindihnya. Dia memposisikan dirinya duduk menghadap pintu belakang.
Dia membuka ikatan terpal di kakinya.
Dalam kegelapan bak truk, kaki kanan Naya bersinar samar. Garis-garis neon biru tipis menjalar di sepanjang betis besinya.
"Siap?" tanya Naya.
"Tendang pintunya sampe lepas," kata Reza, berpegangan pada rangka truk.
Naya menarik napas, mengumpulkan tenaga ke kaki kanannya.
DUM!
Pintu besi itu penyok keluar.
DUM!
Engsel pintu berderit, besinya mulai sobek.
DRAKKK!
Pintu sebelah kanan truk itu jebol, terbuka lebar, berayun-ayun liar dihantam angin jalanan.
Aspal jalan raya yang gelap melesat cepat di bawah mereka. Truk sedang melaju sekitar 60 km/jam.
"Kita harus lompat," teriak Reza mengatasi deru angin.
"Lo yakin?" Naya melihat aspal yang bergerak cepat itu.
"Cari rumput! Tepi jalan!" Reza menunjuk bahu jalan yang ditumbuhi ilalang tinggi.
Reza memeluk pinggang Naya. "Gue jadi bantalan lo. Pada hitungan ketiga."
"Satu..."
"Dua..."
"TIGA!"
Mereka melompat keluar dari truk jenazah itu, melayang sesaat di udara malam, meninggalkan tumpukan mayat teman-teman sekampung mereka menuju tujuan akhirnya, sementara mereka memilih takdirnya sendiri.
Mereka jatuh berguling-guling di semak-semak pinggir jalan tol. Sakit, kasar, dan penuh goresan.
Tapi saat mereka berhenti berguling dan menatap langit malam yang penuh bintang—langit yang bersih tanpa asap TPA—mereka sadar satu hal.
Mereka bebas.
Setidaknya, untuk malam ini.
(Bersambung ke Bab 23)