Thriller

Bayangan Ibukota

21 January 2026

Jakarta menyambut mereka bukan dengan tangan terbuka, melainkan dengan tamparan polusi dan kebisingan yang memekakkan telinga.

Truk pengangkut arang itu berhenti mendesis di sebuah depo material di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Langit sudah berubah warna menjadi jingga kotor, tanda matahari akan segera tenggelam di balik kabut asap. Suara klakson kontainer, teriakan kuli angkut, dan deru mesin diesel menciptakan simfoni kekacauan yang ironisnya terasa menenangkan bagi Naya. Di sini, di tengah hiruk-pikuk ini, tidak ada yang peduli pada dua penumpang gelap yang melompat turun dari bak belakang truk.

BUGH.

Naya mendarat di tanah becek bercampur oli. Kakinya yang bionik menghantam tanah dengan keras, tapi suara dentumannya tertelan oleh suara truk lain yang sedang mundur.

Reza mendarat di sebelahnya, terbatuk-batuk. Wajah mereka berdua hitam legam, hanya mata dan gigi yang terlihat putih. Mereka terlihat seperti hantu tambang yang tersesat di kota metropolitan.

"Jalan terus, jangan berhenti," bisik Reza, menarik lengan Naya. Dia menundukkan kepala, menghindari tatapan mata seorang mandor yang sedang mencatat muatan.

Mereka menyelinap keluar dari gerbang depo, menyusuri trotoar yang rusak dan dipenuhi pedagang kaki lima. Orang-orang menyingkir saat mereka lewat, menutup hidung atau memandang jijik. Penampilan mereka—kotor, bau apek, dan berantakan—membuat mereka dikira gelandangan atau orang gila.

Dan di Jakarta, orang gila adalah bagian dari pemandangan yang tak kasat mata. Tidak ada yang mau berurusan dengan mereka. Itu adalah kamuflase yang sempurna.

"Kita butuh air," kata Naya, merasakan kulitnya gatal akibat debu arang. "Dan gue butuh nutupin kaki ini lebih bener. Celana training ini udah sobek."

Reza menunjuk sebuah SPBU di seberang jalan raya yang macet. "Di sana ada musala dan toilet umum. Kita bersihin diri di sana."

Mereka menyeberangi jalan dengan nekat, menyelip di antara motor-motor yang saling serobot. Naya merasakan sensasi aneh saat berada di tengah kemacetan ini.

Setiap kali motor lewat terlalu dekat, kaki kanannya bergetar halus.

Zzzt... Zzzt...

Medan elektromagnetik dari koil motor, sinyal HP pengendara, dan pemancar radio di sekitar mereka... Naya bisa merasakannya. Kakinya bertindak seperti antena raksasa yang menyerap "kebisingan" kota. Rasanya seperti ada semut yang merayap di dalam tulang keringnya.

Mereka sampai di toilet SPBU. Reza berjaga di luar pintu toilet wanita yang sepi, sementara Naya masuk.

Di depan cermin wastafel yang buram, Naya mencuci wajahnya. Air hitam mengalir ke lubang pembuangan. Saat lapisan arang itu hilang, dia melihat wajahnya sendiri. Tirus, mata cekung, dan ada bekas luka gores di pipi. Dia terlihat sepuluh tahun lebih tua.

Dia membuka celana trainingnya yang sobek. Kaki bioniknya terekspos.

Di bawah lampu neon toilet yang berkedip, kaki itu terlihat futuristik sekaligus mengerikan. Indikator oranye di betisnya berkedip pelan, seirama dengan sinyal Wi-Fi gratis dari minimarket sebelah.

"Gue harus matiin lo," bisik Naya pada kakinya sendiri.

Dia tidak bisa mematikannya, tapi dia bisa meredamnya. Naya merobek sisa kain baju scrub hijaunya, membasahinya dengan air, lalu melilitkannya rapat-rapat ke bagian indikator dan sensor kakinya. Dia berharap air dan kain tebal bisa sedikit menghambat sinyal keluar-masuk.

Dia memakai kembali celana trainingnya yang kotor. Itu yang terbaik yang bisa dia lakukan.

Saat keluar, Reza sudah menunggunya dengan wajah sedikit lebih bersih, meski bajunya masih dekil. Dia memegang dua bungkus roti dan sebotol air mineral besar.

"Sisa uang gue abis," lapor Reza datar. "Tinggal lima ribu perak. Cukup buat ongkos angkot sekali jalan."

"Kalibata City jauh dari sini, Za," kata Naya, meminum air itu dengan rakus.

"Kita estafet. Naik angkot sampe terminal Kampung Melayu, abis itu jalan kaki atau nyari tumpangan lagi. Yang penting ngejauh dari sini dulu."

Mereka menaiki angkot merah yang ngetem di depan SPBU. Angkot itu kosong, supirnya sedang merokok di luar. Mereka duduk di pojok paling belakang.

Saat angkot mulai penuh dan berjalan, Naya menundukkan kepalanya, pura-pura tidur. Tapi matanya waspada.

Di depannya duduk seorang ibu-ibu yang asyik scroll TikTok dengan volume keras. Di sebelahnya ada anak sekolah yang main game online.

Sinyal-sinyal itu menyerbu Naya.

Ping... Notifikasi WhatsApp masuk...

Loading video... Buffering...

Level up...

Naya tidak mendengar suaranya lewat telinga, tapi lewat sensasi di kakinya. Setiap paket data yang terkirim di dekatnya terasa seperti denyutan kecil. Dr. Suryo mendesain tubuh barunya untuk terhubung dengan jaringan. Di desa, jaringannya adalah hive mind organik. Di kota, jaringannya adalah internet.

Naya meremas tangan Reza, menahan pusing.

"Kenapa?" bisik Reza.

"Berisik," desis Naya. "Kota ini berisik banget. Data di mana-mana."

"Tahan, Nay. Jangan sampe glitch di sini."

Perjalanan ke Kalibata terasa selamanya. Mereka turun di Kampung Melayu saat hari sudah gelap sepenuhnya. Jakarta malam hari lebih hidup, lebih terang, dan lebih berbahaya.

Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan bypass. Kaki bionik Naya mulai terasa berat lagi, baterainya benar-benar kritis. Dia berjalan dengan menyeret kaki kanannya, menimbulkan bunyi srek... srek... yang untungnya tertutup suara kendaraan.

Dua jam kemudian, dengan kaki lecet dan perut keroncongan, mereka berdiri di seberang kompleks Apartemen Kalibata City.

Gedung-gedung pencakar langit itu menjulang tinggi, dengan ribuan jendela kotak-kotak yang menyala seperti mata serangga raksasa.

"Itu tempatnya," kata Reza, menunjuk salah satu tower. "Tower Gaharu. Lantai 18. Unit Pak Teguh."

"Gimana cara masuknya? Ada security di lobi. Pake kartu akses," Naya melihat pos penjagaan yang ketat.

"Kita tailgating," kata Reza. "Nunggu penghuni lain masuk, terus kita ngekor di belakangnya. Muka kita emang ada di TV, tapi di sini ribuan orang keluar masuk tiap jam. Security biasanya nggak terlalu merhatiin muka, cuma liat kartu."

Mereka menyeberang jalan, membaur dengan kerumunan orang yang baru pulang kerja. Karyawan kantoran yang lelah, mahasiswa, kurir paket. Naya menarik tudung jaket Reza (yang sekarang dia pakai) untuk menutupi sebagian wajahnya.

Mereka sampai di pintu kaca lobi Tower Gaharu.

Seorang wanita muda dengan belanjaan banyak sedang menempelkan kartu aksesnya. Bip. Pintu kaca terbuka.

Reza menyenggol Naya. "Sekarang."

Mereka berdua menyelip masuk tepat sebelum pintu kaca menutup kembali.

Berhasil. Mereka di lobi.

Udara AC lobi yang dingin menyergap mereka. Lantainya marmer mengilap. Ada beberapa orang duduk di sofa, main HP. Satpam di meja resepsionis sedang sibuk menulis di buku tamu dan tidak melihat mereka.

Mereka berjalan cepat menuju lift.

"Tahan liftnya!" seru seseorang dari belakang.

Reza reflek menahan pintu lift yang hampir menutup. Seorang bapak-bapak masuk membawa koper.

Lift penuh sesak. Naya terhimpit di pojok belakang.

Masalah muncul.

Lift apartemen ini menggunakan sistem kartu akses untuk menekan tombol lantai. Si bapak tadi menempelkan kartunya, memencet lantai 10. Orang lain memencet lantai 5, 21, dan 7.

Tidak ada yang memencet lantai 18.

Reza diam, keringat dingin mengalir. Dia tidak punya kartu. Kalau dia tidak memencet tombol, orang-orang akan curiga.

Tiba-tiba, kaki Naya bereaksi.

Kedekatan dengan panel kontrol lift dan kartu-kartu RFID itu memicu sesuatu. Kaki bioniknya mengirimkan gelombang interferensi kecil.

Panel tombol lift berkedip-kedip.

Bzzzt.

Lampu lantai 18 menyala sendiri.

Lalu lampu lantai 19. Lantai 20. Semua lantai menyala.

"Lho? Kok error?" gumam bapak berkoper itu bingung. "Liftnya rusak nih."

"Turun aja yuk, ngeri," kata seorang ibu-ibu.

Pintu lift terbuka di lantai 5. Sebagian besar orang keluar karena takut liftnya macet.

"Kita tetep di dalem," bisik Naya ke Reza. Dia tahu itu ulahnya. Dia baru saja meretas lift secara tidak sadar.

Pintu menutup. Lift naik membawa mereka berdua saja.

"Lo barusan..." Reza menatap Naya takjub.

"Jangan tanya. Gue juga nggak ngerti," Naya memegang kepalanya yang pusing.

Ting. Lantai 18.

Pintu terbuka. Lorong apartemen itu sepi, lantainya dilapisi karpet yang meredam suara langkah kaki berat Naya. Aroma masakan tetangga tercium dari balik pintu-pintu yang tertutup rapat.

Reza berjalan memimpin, menghitung nomor unit. "18-CA... 18-CB... Nah, ini dia. 18-CF."

Mereka berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat tua. Ada stiker "Tolak Reklamasi" tertempel di pintunya. Khas Pak Teguh.

Reza mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi ragu.

"Gimana kalau dia nggak ada? Atau gimana kalau dia udah liat berita dan lapor polisi?"

"Kita nggak punya pilihan lain, Za," kata Naya. "Ketuk."

Reza mengetuk tiga kali. Tok. Tok. Tok.

Hening.

Reza mengetuk lagi, lebih keras. "Pak Teguh? Ini Reza, Pak. Mahasiswa Bapak."

Terdengar suara langkah kaki dari dalam. Lalu suara kunci diputar. Celah pengintip di pintu menjadi gelap sesaat karena ada mata yang mengintip.

Pintu terbuka sedikit, masih tertahan rantai pengaman.

Wajah separuh baya dengan rambut memutih dan kacamata baca muncul di celah itu. Pak Teguh. Dia terlihat kaget, matanya membelalak melihat kondisi mahasiswanya yang seperti gembel.

"Reza?" bisik Pak Teguh. Dia melirik ke kiri dan kanan lorong, memastikan tidak ada orang.

"Pak... tolong kami," suara Reza pecah. "Kami nggak bunuh siapa-siapa. Berita itu bohong."

Pak Teguh menatap Reza, lalu beralih ke Naya yang berdiri di belakang Reza, menggigil dengan wajah pucat dan celana kotor.

Mata Pak Teguh turun ke kaki kanan Naya. Meski tertutup celana training, bentuknya yang kaku dan suara dengungan halus yang dihasilkannya tidak bisa disembunyikan di jarak sedekat ini.

Wajah Pak Teguh berubah. Bukan takut, tapi... paham.

"Masuk," kata Pak Teguh cepat. Dia melepas rantai pengaman dan membuka pintu lebar-lebar. "Cepat masuk sebelum ada tetangga yang liat."

Mereka berdua masuk. Pak Teguh segera menutup pintu dan menguncinya ganda.

Apartemen itu kecil, penuh dengan rak buku yang meluap sampai ke lantai. Di meja makan, laptop menyala menampilkan laman berita tentang "Ledakan Gas Beracun di Sindang".

"Saya sudah menunggu kalian," kata Pak Teguh, berbalik menghadap mereka. "Atau setidaknya, menunggu seseorang yang selamat dari sana."

"Bapak tau?" tanya Naya kaget.

Pak Teguh berjalan ke rak bukunya, menarik sebuah buku tebal, lalu mengambil sebuah amplop cokelat tua yang terselip di belakangnya. Amplop itu terlihat sudah sangat lama, kertasnya menguning.

"Dua puluh tahun lalu, sebelum saya jadi dosen, saya adalah wartawan investigasi," kata Pak Teguh. Dia melemparkan amplop itu ke meja. "Saya pernah menyelidiki rumor tentang 'Proyek X' di masa Orde Baru. Jejaknya hilang di Desa Sindang."

Pak Teguh menatap kaki Naya tajam.

"Dan melihat kamu... sepertinya rumor itu bukan cuma dongeng."

Naya dan Reza saling pandang. Mereka datang mencari tempat sembunyi, tapi ternyata mereka datang ke satu-satunya orang di Jakarta yang mungkin tahu potongan puzzle yang hilang.

"Duduk," perintah Pak Teguh. "Ceritakan semuanya. Mulai dari hujan ungu itu."

Naya melangkah maju, kakinya yang berat menyeret di karpet. Tapi sebelum dia sempat duduk, tubuhnya oleng. Batas fisiknya sudah tercapai.

"Naya!" Reza menangkapnya sebelum jatuh.

"Gue... laper..." bisik Naya, lalu pandangannya gelap.

Tapi sebelum kesadarannya hilang total, Naya mendengar suara lain. Bukan suara Pak Teguh, bukan suara Reza.

Suara itu datang dari laptop Pak Teguh yang menyala.

"Koneksi dipulihkan. Lokasi subjek dikonfirmasi: Apartemen Kalibata City. Mengirim Unit Penjemputan."

Naya ingin memperingatkan mereka, tapi mulutnya terkunci. Dia pingsan dalam pelukan Reza, sementara di dunia maya, data lokasinya baru saja bocor ke pemburu yang paling berbahaya.

(Bersambung ke Bab 26)