Aroma yang membangunkan Naya adalah aroma paling manusiawi yang bisa dia bayangkan: bawang goreng dan bumbu MSG yang gurih.
Naya membuka matanya perlahan. Dia tidak lagi berada di bak truk arang atau di gua berlendir. Dia berbaring di sofa kain yang empuk. Di atas meja di depannya, uap mengepul dari sebuah mangkuk keramik berisi mi instan kuah soto.
Perut Naya berbunyi keras, suara keroncongan yang nyaris menyamai auman monster di desa.
"Makan," suara Pak Teguh terdengar dari sudut ruangan. Dosen senior itu duduk di kursi kerjanya, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, tangannya memegang lembaran-lembaran kertas dari jurnal Dr. Suryo yang sudah dikeringkan dengan hairdryer.
Reza duduk di lantai, bersandar pada rak buku, mulutnya penuh mi. Dia mengangguk pada Naya, memberi isyarat agar Naya segera makan.
Naya bangun dengan susah payah. Tubuhnya terasa kaku, tapi pusing di kepalanya sudah sedikit berkurang. Dia menyambar mangkuk itu dan melahap isinya dengan rakus. Panas kuah mi membakar lidahnya, tapi dia tidak peduli. Dia butuh kalori. Dia butuh energi untuk memberi makan "parasit" di kakinya.
"Jurnal ini..." Pak Teguh melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya. Wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dibanding saat Naya melihatnya di kampus minggu lalu. "Saya pikir saya sudah tahu seberapa busuk negara ini. Ternyata saya masih naif."
"Bapak percaya?" tanya Naya di sela kunyahannya.
"Sulit untuk tidak percaya kalau mahasiswi saya datang dengan kaki terminator dan dikejar satu batalion militer," Pak Teguh menunjuk jurnal itu. "Dan nama-nama di sini... Kapten Suroso. Jenderal Purnawirawan Hadi. Mereka adalah orang-orang yang mendirikan 'Sentinela'. Unit bayangan yang resmi dibubarkan tahun 98, tapi ternyata cuma ganti kulit."
"Mereka mau nutupin semuanya, Pak," kata Reza. "Mereka bakar mayat-mayat itu. Mereka mau ngeratain desa."
"Tentu saja," Pak Teguh berdiri, berjalan ke jendela, mengintip ke bawah lewat sela tirai. "Desa Sindang bukan cuma kuburan massal. Itu laboratorium senjata biologis ilegal. Kalau dunia tahu pemerintah kita membiarkan organisme asing tumbuh di halaman belakang ibukota selama 50 tahun... sanksi PBB bakal menghancurkan negara ini. Mereka lebih memilih membunuh dua saksi mata daripada menghadapi kiamat diplomatik."
Naya meletakkan mangkuk kosongnya. Dia merasa sedikit lebih kuat. Tapi perasaan tidak nyaman itu kembali.
Getaran halus di tulang keringnya.
Zzzt... Zzzt...
Naya menatap laptop Pak Teguh yang masih menyala di meja kerja. Layarnya menampilkan laman berita online.
Tapi tiba-tiba, kursor di layar laptop itu bergerak sendiri.
Naya membeku. "Pak... Bapak pake mouse wireless?"
"Enggak. Kenapa?"
Kursor itu membuka aplikasi Command Prompt. Layar hitam muncul. Barisan kode hijau bergulir cepat.
Ping... Lokasi Terkunci: Tower Gaharu, Unit 18-CF.
Status: Target Diam.
Tim Penjemputan: Tiba di Lobi.
"Mereka tau kita di sini!" teriak Naya, melompat berdiri. Kakinya menghantam meja kopi hingga terguling. "Laptop Bapak! Mereka ngelacak sinyal dari kaki saya lewat Wi-Fi Bapak!"
Pak Teguh terbelalak menatap layarnya. "Bajingan. Mereka meretas IP saya."
DING DONG.
Bel pintu apartemen berbunyi.
Suasana hening seketika. Reza langsung menyambar pisau lipatnya. Pak Teguh memucat.
"Paket," suara dari luar. Datar. Tanpa intonasi.
"Jangan dibuka," bisik Naya. Dia bisa merasakannya. Bukan hanya satu orang. Sinyal elektronik dari peralatan komunikasi canggih berdengung di koridor luar seperti sarang lebah. "Ada enam orang. Mereka bawa senjata."
Pak Teguh bergerak cepat. Jiwa aktivis lamanya mengambil alih. Dia tidak membuka pintu, melainkan mendorong lemari rak bukunya yang berat hingga jatuh menutupi pintu masuk.
BRAKK!
Detik berikutnya, pintu itu didobrak dari luar.
BAM! BAM!
Kayu pintu pecah, tapi tertahan oleh lemari buku.
"Polisi! Buka!" teriak suara di luar, tapi mereka tidak menunggu. Suara tembakan peredam terdengar. Ptew-ptew. Engsel pintu ditembak hancur.
"Lewat balkon!" teriak Pak Teguh. "Kita pindah ke unit sebelah!"
"Bapak gila? Ini lantai 18!" protes Reza, tapi dia tetap lari mengikuti Pak Teguh ke pintu kaca balkon.
Mereka keluar ke balkon sempit. Angin malam Jakarta di ketinggian ini sangat kencang, menderu-deru. Pemandangan lampu kota di bawah sana terlihat indah sekaligus mematikan.
Unit sebelah berjarak sekitar satu meter. Ada celah kosong yang langsung menuju jalan aspal di bawah.
"Saya kenal tetangga sebelah. Mahasiswa juga. Dia biasanya nggak kunci pintu balkon karena sering ngerokok di luar," kata Pak Teguh. Dia memanjat pagar balkon dengan kelincahan yang mengejutkan untuk pria seusianya.
"Reza, lo duluan!" Naya mendorong Reza.
Reza memanjat pagar, menatap jurang di bawahnya, menelan ludah, lalu melompat. Dia mendarat di balkon sebelah dengan selamat.
"Ayo Pak!" Reza mengulurkan tangan.
Pak Teguh melompat. Agak goyah, tapi Reza menangkapnya.
Sekarang giliran Naya.
Dia memanjat pagar balkon. Tapi kaki kanannya yang berat dan kaku menyulitkannya. Dia harus mengangkatnya manual dengan tangan.
BRAKK!
Pintu apartemen Pak Teguh jebol sepenuhnya. Tiga orang berpakaian taktis hitam lengkap dengan masker balaclava dan kacamata night vision menyerbu masuk ke ruang tamu.
Salah satu dari mereka melihat Naya di balkon.
"Target terlihat!"
Dia mengangkat senjatanya. Senapan serbu kompak.
Naya tidak berpikir lagi. Dia menjatuhkan dirinya ke samping, melompati celah balkon.
TRAK-TRAK-TRAK!
Peluru menghantam dinding beton balkon tempat Naya berdiri sedetik yang lalu, memercikkan serpihan semen.
Naya mendarat keras di lantai keramik balkon sebelah. Bahunya menghantam pot bunga.
"Masuk! Masuk!" Reza menarik Naya dan Pak Teguh masuk ke unit tetangga.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya TV. Seorang mahasiswa gondrong sedang main PS5 dengan headset. Dia bengong melihat tiga orang asing—salah satunya dosennya, satu lagi cewek dengan kaki besi—tiba-tiba muncul dari balkonnya.
"Pak Teguh?" tanya mahasiswa itu bingung. "Lagi simulasi bencana?"
"Maaf, Dik. Numpang lewat. Ada debt collector galak," Pak Teguh beralasan cepat sambil menyeret Naya dan Reza ke pintu depan unit itu.
Mereka keluar ke koridor lantai 18 lagi, tapi di sisi yang berbeda dari unit Pak Teguh.
"Tangga darurat!" komando Pak Teguh.
Mereka lari ke pintu tangga darurat.
Namun, pintu tangga darurat di ujung lorong terbuka. Dua orang pasukan taktis muncul dari sana, memblokir jalan.
"Tahan!" teriak salah satu pasukan itu.
"Sialan, dikepung!" Reza berbalik. Lift juga pasti sudah dijaga.
"Ke atas!" kata Naya. "Kita ke rooftop!"
Naya melihat ada tangga akses pemeliharaan gedung di ujung lorong satunya, tangga kecil yang biasanya dipakai teknisi AC.
Mereka berlari ke sana. Pasukan taktis itu menembak. Peluru mendesing melewati telinga Reza.
Naya berhenti sejenak. Dia berbalik.
"Lo mau ngapain?!" teriak Reza.
"Kalian naik duluan! Gue kasih mereka kejutan!"
Naya menempelkan telapak tangannya ke kotak panel listrik yang ada di dinding lorong. Dia memejamkan mata. Dia membiarkan dirinya "mendengar" aliran listrik gedung ini.
Akses Sistem Kelistrikan: Gedung Gaharu.
Perintah: Surge.
Naya menyedot arus listrik dari panel itu, mengalirkannya lewat tubuhnya, lalu melepaskannya kembali dalam satu gelombang kejut yang kacau.
BZZZTTT!
Lampu-lampu di sepanjang lorong meledak satu per satu secara berurutan mendekati posisi pasukan taktis itu.
POP! POP! POP! POP!
Lorong menjadi gelap gulita. Pasukan itu kaget, night vision mereka silau sesaat karena ledakan bohlam. Sistem alarm kebakaran gedung menyalak. WIU WIU WIU!
Sistem sprinkler di langit-langit menyembur, membasahi koridor.
"Sekarang!" Naya berbalik dan lari menyusul Reza dan Pak Teguh menaiki tangga teknisi menuju atap.
Mereka mendobrak pintu akses atap.
Angin di rooftop jauh lebih kencang. Di sini gelap, penuh dengan mesin-mesin kompresor AC sentral dan tangki air raksasa.
"Kita kejebak, Nay!" Reza melihat ke bawah. Tidak ada jalan turun. Dan pintu akses atap di belakang mereka mulai digedor dari dalam.
Pak Teguh berlari ke tepi atap, melihat ke gedung sebelah, Tower Cendana. Jaraknya dekat, sekitar tiga meter, tapi posisinya sedikit lebih rendah.
"Kita harus lompat lagi?" Reza memucat. "Ini lantai 25, Pak! Kalau jatuh kita jadi stiker aspal!"
"Bukan lompat," Pak Teguh menunjuk jembatan gondola (alat pembersih kaca) yang sedang parkir di antara dua gedung. Jembatan besi itu menggantung, menghubungkan atap ke atap.
"Itu goyang banget, Pak!"
"Lebih baik goyang daripada ditembak mati."
Mereka berlari menuju gondola itu. Pintu atap di belakang mereka jebol. Pasukan Sentinela berhamburan keluar.
"Target di atap! Jangan biarkan kabur!"
Naya, Reza, dan Pak Teguh meniti jembatan besi gondola itu. Angin mengguncangnya hebat. Di bawah mereka, jurang beton setinggi 25 lantai menganga.
Di tengah jembatan, Naya berhenti. Kakinya tersangkut di celah grating besi.
"Nay!" Reza berbalik.
"Jalan terus!" teriak Naya sambil berusaha menarik kakinya. Kaki besinya macet.
Seorang pasukan Sentinela membidik dari tepi atap.
DOR!
Peluru mengenai bahu kiri Naya.
Naya menjerit, darah segar muncrat. Rasa sakitnya nyata. Dia manusia.
Pasukan itu membidik lagi untuk tembakan mematikan.
Tapi tiba-tiba, helikopter hitam muncul dari bawah—naik dari sela-sela gedung. Helikopter yang sama dengan yang di desa. Lampu sorotnya menyilaukan pasukan di atap, membuat mereka berhenti menembak karena silau dan hempasan angin.
Apakah helikopter itu membantu Naya?
Tidak.
Dari pintu samping helikopter, seseorang berdiri memegang megafon. Seorang pria berpakaian jas rapi, rambut klimis.
"Naya Arisanti," suara pria itu menggema di antara gedung-gedung pencakar langit. "Jangan melawan. Kami tidak ingin merusak properti kami. Menyerahlah, dan kami akan mengobatimu."
Properti. Mereka menyebut Naya properti.
Naya menatap pria itu. Kemarahan membakar rasa sakit di bahunya.
Dia menarik kakinya sekuat tenaga.
KRAK!
Grating besi itu patah. Kakinya bebas.
Naya tidak lari ke gedung sebelah. Dia menatap helikopter itu. Jaraknya cukup dekat.
"Reza! Pak Teguh! Lompat ke gedung sebelah!" teriak Naya.
"Lo mau ngapain?!"
"Gue mau numpang!"
Naya mundur dua langkah, lalu lari dan melompat. Bukan ke jembatan, tapi ke arah helikopter yang melayang.
Dia melayang di udara, tangan kanannya terulur.
Dia menangkap skid (pijakan kaki) helikopter itu.
Helikopter oleng karena beban tambahan mendadak. Pilot memaki. Pria berjas itu kaget.
Naya bergelantungan di bawah helikopter, ratusan meter di atas tanah Jakarta. Dia menatap pria berjas itu dengan mata menyala.
"Bawa gue ke atasan lo," desis Naya, meski suaranya tenggelam oleh deru baling-baling.
Tapi dia tahu mereka mendengarnya lewat interkom yang dia retas secara pasif.
Naya tidak lagi melarikan diri. Dia menyerang balik.
(Bersambung ke Bab 27)