Thriller

Sarang Kace

21 January 2026

Reza terpaku di tepi atap Tower Gaharu, angin malam mengacak-acak rambutnya. Matanya nanar menatap helikopter hitam yang menjauh, membawa Naya yang bergelantungan di bawahnya seperti boneka rusak.

"Naya..." suaranya hilang ditelan deru angin.

"Reza! Sadar!" Pak Teguh menarik kerah baju Reza, menyentaknya kembali ke realitas yang brutal. "Mereka masih di belakang kita!"

Tepat saat itu, pintu akses atap yang tadi didobrak kembali memuntahkan pasukan Sentinela. Tiga orang. Senjata teracung.

"Jangan bergerak! Tiarap!"

Reza menatap jembatan gondola yang patah. Jalan ke gedung sebelah sudah putus. Mereka terjebak di antara pasukan bersenjata dan jurang beton 25 lantai.

"Ke sini!" Pak Teguh menarik Reza ke balik tangki air raksasa. Peluru mendesing, menghantam tangki air hingga bocor, menyemburkan air bertekanan tinggi.

"Kita mati di sini, Pak," napas Reza memburu, memeluk tas berisi jurnal Dr. Suryo erat-erat.

"Belum," Pak Teguh menunjuk ke sisi lain atap, dekat tepi jurang. Ada sebuah crane kecil permanen yang biasa dipakai untuk menaikkan material bangunan atau mesin AC outdoor.

"Itu kerekan manual," kata Pak Teguh cepat. "Talinya baja. Cukup kuat buat nahan dua orang."

"Kita turun pake tali? Kayak di film? Pak, saya Teknik Sipil, bukan stuntman!"

"Mau turun pake tali atau turun didorong peluru? Pilih!"

Pasukan Sentinela mulai bergerak menyamping, mencoba mengepung posisi mereka di balik tangki air.

Reza mengertakkan gigi. Dia berlari mengikuti Pak Teguh menuju crane itu, merunduk menghindari tembakan. Pak Teguh dengan cekatan melepas pengait keamanan pada gulungan kabel baja.

"Pegang ini!" Pak Teguh memberikan ujung kait besi besar kepada Reza. "Lingkarkan ke badanmu, kaitkan ke sabuk. Saya akan pegang sisanya. Kita turun bareng."

"Ini gila," gumam Reza sambil melilitkan kabel baja dingin itu ke pinggangnya dan pinggang Pak Teguh.

Mereka berdiri di bibir atap. Jauh di bawah, mobil-mobil terlihat seperti mainan Hot Wheels.

"Tiga... dua... satu... Lompat!"

Mereka melompat mundur dari tepi atap.

Rasanya seperti jantung copot. Gravity menarik mereka ke bawah dengan kecepatan mengerikan selama dua detik pertama, sebelum mekanisme rem otomatis pada kerekan itu aktif.

CIIIIT!

Kabel baja menegang, tersentak keras. Reza mengerang saat kabel itu menekan rusuknya. Mereka bergelantungan di sisi gedung, berputar pelan di ketinggian lantai 20.

Di atas, pasukan Sentinela berlari ke tepi, menembak ke bawah. Peluru menghantam dinding kaca apartemen di sekitar mereka. PRANG! PRANG! Kaca jendela pecah, menghujani mereka dengan serpihan tajam.

"Jangan berhenti! Terus turun!" teriak Pak Teguh. Dia menggunakan kakinya untuk menendang dinding kaca, menjauhkan mereka dari gedung agar tidak terbentur, sekaligus mempercepat penurunan.

Mereka meluncur turun melewati jendela-jendela apartemen yang menyala. Orang-orang di dalam apartemen menjerit kaget melihat dua pria bergelantungan di luar jendela mereka malam-malam.

Lantai 15... Lantai 10... Lantai 5...

Mereka semakin dekat dengan area kolam renang di lantai dasar podium apartemen.

"Siap-siap lepas kaitnya sebelum nyentuh air!" komando Pak Teguh.

Mereka mencapai ketinggian tiga meter di atas kolam renang.

"Lepas!"

Reza melepas kait di pinggangnya. Mereka jatuh bebas.

BYUR!

Air kolam renang yang dingin menyergap mereka. Reza berenang ke permukaan, terbatuk-batuk. Dia menyeret Pak Teguh ke tepi kolam. Dosen tua itu tampak pucat dan kehabisan napas, tapi matanya masih nyalang.

"Lewat parkiran basement," Pak Teguh menunjuk pintu akses darurat di dekat ruang ganti kolam renang. "Tembus ke mal sebelah. Di sana ramai, kita bisa baur."

Mereka berlari, basah kuyup dan menggigil, meninggalkan kekacauan di Tower Gaharu menuju anonimitas keramaian Jakarta. Reza menoleh sekilas ke langit. Helikopter yang membawa Naya sudah hilang, cuma menyisakan titik merah kecil di kejauhan yang menuju pusat kota.

Bertahanlah, Nay, batin Reza. Sekarang giliran gue yang nyelamatin lo.

Sementara itu, ribuan kaki di atas Jakarta.

Angin dingin yang menampar wajah Naya tiba-tiba berhenti saat dia ditarik kasar masuk ke dalam kabin helikopter oleh dua orang pasukan taktis.

Naya dilempar ke lantai logam helikopter. Bahu kirinya yang tertembak berdenyut hebat, darah hangat merembes membasahi jaket Reza yang dipakainya. Dia meringkuk, menahan sakit.

"Ikat dia. Borgol kaki dan tangannya," perintah suara dingin itu.

Pria berjas itu—yang tadi memegang megafon—duduk di kursi kulit yang nyaman di seberang Naya. Dia menatap Naya bukan dengan kebencian, melainkan dengan... rasa ingin tahu yang klinis. Seperti seorang kolektor yang baru saja mendapatkan barang langka tapi berbahaya.

Seorang tentara memborgol tangan Naya ke belakang. Lalu dia mencoba memborgol kaki Naya.

Saat dia menyentuh celana training di kaki kanan Naya, dia merasakan logam keras di baliknya. Dia menyingkap celana itu sedikit.

Mata tentara itu membelalak melihat struktur bionik yang ada di sana.

"Jangan sentuh sembarangan," kata pria berjas itu tajam. "Itu aset perusahaan."

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya tampan, licin, tipis, dan tidak menunjukkan emosi. Tipe eksekutif muda yang akan memecat ribuan karyawan tanpa mengedipkan mata.

"Naya Arisanti," kata pria itu. "Saya harus akui, kamu merepotkan. Sangat merepotkan. Tapi kamu juga... mengejutkan. Dr. Suryo bilang kamu adalah Subjek Alpha. Saya mulai percaya."

Naya meludah ke lantai helikopter, campuran ludah dan darah dari bibirnya yang tergigit. "Siapa lo? Anjing penjaganya Suryo?"

Pria itu tersenyum tipis. "Dr. Suryo adalah... konsultan kami. Dia brilian, tapi terlalu sentimentil dengan masa lalu. Dia menganggap 'Ibu' sebagai keluarga. Kami? Kami menganggapnya sebagai sumber daya alam."

Helikopter mulai menurunkan ketinggian. Di bawah, Naya melihat kawasan Segitiga Emas Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit yang paling tinggi dan paling mahal.

Helikopter itu menuju atap salah satu gedung tertinggi. Sebuah menara kaca hitam yang menjulang angkuh. Menara Sentinela.

"Selamat datang di markas pusat, Naya," kata pria itu saat helikopter mendarat mulus di helipad pribadi. "Nama saya Adrian. Direktur Operasional Sentinela. Dan kamu... kamu adalah tamu kehormatan kami."

Pintu helikopter dibuka. Naya diseret keluar.

Dia tidak dibawa ke penjara bawah tanah. Dia dibawa masuk ke dalam gedung melalui lift pribadi yang mewah.

Mereka naik ke lantai paling atas. Penthouse sekaligus laboratorium.

Pintu lift terbuka. Naya didorong masuk ke sebuah ruangan luas yang dindingnya terbuat dari kaca, menampilkan pemandangan 360 derajat kota Jakarta di malam hari. Lantainya putih bersih, steril. Di tengah ruangan, ada sebuah kursi pemeriksaan medis canggih yang dikelilingi monitor dan lengan-lengan robotik.

"Duduk," perintah Adrian.

Naya didudukkan paksa di kursi itu. Borgolnya dilepas, tapi diganti dengan penahan logam yang keluar dari kursi, mengunci pergelangan tangan dan kaki kirinya.

Kaki kanannya—kaki bioniknya—dibiarkan bebas.

Adrian berjalan mengelilingi kursi itu, mengamati kaki Naya dengan takjub. Dia menyentuh permukaan logam dingin itu dengan ujung jarinya.

"Indah sekali," bisik Adrian. "Integrasi jaringan saraf yang sempurna. Tidak ada penolakan. Tidak ada nekrosis. Dr. Suryo menghabiskan lima puluh tahun di dalam lubang sampah untuk menciptakan ini. Dan kamu... kamu mendapatkannya secara kebetulan."

"Gue bukan barang," geram Naya. "Dan gue udah bunuh pencipta lo. Gue ledakin Jantungnya."

Adrian tertawa kecil. Dia berjalan ke sebuah meja konsol besar, menekan beberapa tombol. Layar raksasa di dinding menyala.

Layar itu menampilkan grafik gelombang yang kacau dan peta panas (heat map) dari area TPA Sindang yang baru saja diledakkan.

"Kamu tidak membunuh 'Ibu', Naya. Kamu hanya... membangunkan dia dari koma," kata Adrian. "Ledakan itu menghancurkan pusat kendali Dr. Suryo, benar. Tapi biomassa di bawah sana? Dia masih hidup. Dia marah. Dan sekarang, dia tidak lagi terkekang oleh protokol usang Dr. Suryo."

Adrian menatap Naya, matanya bersinar ambisius.

"Dan berkat kakimu ini... berkat pemancar kecil yang tertanam di dalamnya... kami sekarang punya akses langsung ke jaringan saraf Ibu yang sedang mengamuk itu. Kamu adalah kuncinya, Naya. Kamu adalah router hidup yang kami butuhkan untuk mengendalikan monster itu."

Adrian menekan tombol lain.

Lengan robotik dengan jarum suntik turun dari langit-langit, mendekat ke bahu Naya yang terluka.

"Kita mulai dengan mengobati lukamu," kata Adrian tersenyum dingin. "Lalu, kita akan mulai 'sinkronisasi'."

Naya meronta, tapi penahan di kursi itu terlalu kuat. Dia menatap Jakarta di bawah sana. Jutaan lampu. Jutaan orang yang tidak tahu bahwa di atas mereka, di menara kaca ini, nasib mereka sedang ditentukan oleh seorang direktur sosiopat dan seorang gadis setengah monster.

(Bersambung ke Bab 28)