Rasa dingin menjalar dari ujung bahu Naya yang terluka, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti bisa ular. Namun, ini bukan racun. Lengan-lengan robotik halus yang melayang di sekitarnya baru saja menyemprotkan busa bio-sintetik ke luka tembaknya. Dalam hitungan detik, busa itu mengeras, menutup lubang peluru, menghentikan pendarahan, dan mematikan rasa sakit.
Efisien. Tanpa empati.
"Fase penyembuhan selesai," Adrian berkata tanpa melihat Naya. Matanya terpaku pada layar tablet di tangannya. "Tanda-tanda vital stabil. Detak jantung agak tinggi karena stres, tapi itu wajar. Kita bisa mulai."
"Mulai apa?" Naya meludah, mencoba menarik tangannya yang terkunci. "Lo mau jadiin gue eksperimen kayak Dr. Suryo?"
Adrian terkekeh pelan, seolah Naya baru saja melontarkan lelucon anak kecil. Dia meletakkan tabletnya dan berjalan mendekati kursi pasung Naya.
"Dr. Suryo itu kuno, Naya. Dia terobsesi dengan 'keabadian'. Dia ingin hidup selamanya. Itu ambisi orang tua yang takut mati," Adrian menyentuh dagu Naya, memaksanya mendongak. "Saya? Saya seorang pebisnis. Saya tidak butuh hidup selamanya. Saya butuh kontrol."
Adrian memberi isyarat tangan.
Dari lantai di samping kursi Naya, sebuah panel terbuka. Kabel hitam tebal dengan ujung konektor yang tampak seperti jarum-jarum halus muncul. Kabel itu bergerak otomatis seperti ular kobra, mendesis pelan, mencari mangsa.
Targetnya adalah kaki kanan Naya.
"Jangan..." desis Naya, matanya membelalak horor.
"Tenang saja. Ini cuma kabel LAN," kata Adrian santai.
Ular kabel itu mematuk. Jarum-jarum halusnya menembus pori-pori logam di betis bionik Naya, mencari port saraf yang tersembunyi di balik lapisan polimer.
KLIK. ZZZT.
Dunia Naya meledak menjadi warna putih.
Dia menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Otot-ototnya kejang hebat. Rasanya seperti ada ribuan volt listrik yang dipompa langsung ke sumsum tulang belakangnya, tapi alih-alih membakar, listrik itu membawa data.
Naya tidak lagi berada di ruangan penthouse mewah itu.
Dia melayang di ruang hampa yang gelap. Di bawahnya, terhampar peta digital tiga dimensi yang berdenyut merah. Itu bukan peta Jakarta. Itu peta jaringan akar.
Dia melihat "Ibu".
Jauh di timur, di bekas TPA Sindang yang kini menjadi kawah menganga, gumpalan daging raksasa itu sedang menggeliat. Ledakan gas metana tadi tidak membunuhnya; itu hanya menghancurkan cangkangnya. Sekarang, biomassa itu tumpah keluar, merembes ke tanah, menyebar lewat air tanah, mencari makan untuk memulihkan diri.
Naya bisa merasakan rasa lapar "Ibu". Rasa lapar yang purba, buta, dan menuntut.
MAKAN... BUTUH KARBON... BUTUH KALSIUM...
"Luar biasa," suara Adrian terdengar bergema di dalam kepala Naya, seperti suara Tuhan dari langit-langit. "Kamu lihat itu, Naya? Itu bukan cuma monster. Itu adalah superkomputer biologis. Kapasitas pemrosesan datanya jutaan kali lebih cepat dari silikon. Dan kamu... kamu adalah mouse dan keyboard-nya."
"Keluar dari kepala gue!" jerit batin Naya.
"Coba gerakkan," perintah Adrian. "Ada satu node (simpul) akar yang mendekati jalan tol Cipali. Coba perintahkan dia untuk berhenti."
"Nggak mau!"
"Kalau kamu tidak melakukannya, saya akan naikkan tegangan input ke otakmu. Otak manusiamu akan mendidih."
Rasa panas mulai menjalar di kepala Naya. Sakit sekali. Seperti migrain yang dikali seribu.
Naya tidak punya pilihan. Dia fokus pada titik merah yang bergerak di peta mentalnya—akar raksasa yang sedang menggali tanah di bawah jalan tol.
BERHENTI.
Naya mengirimkan perintah itu lewat kakinya, lewat kabel, lewat menara pemancar di gedung ini, langsung ke jaringan saraf Ibu.
Di peta mentalnya, titik merah itu berhenti bergerak.
"Bagus," kata Adrian puas. Rasa sakit di kepala Naya mereda. "Lihat? Kamu bakat alami. Kamu adalah Pawang Naga."
Naya menangis dalam diam di dunia nyata. Air matanya menetes ke baju pasien steril yang kini dipakainya. Dia baru saja menyelamatkan jalan tol itu, tapi dengan harga yang mahal: dia membuktikan pada Adrian bahwa senjata ini berfungsi.
Dia bukan lagi manusia. Dia adalah remote kontrol kiamat.
Sementara itu, di perut bumi Jakarta Pusat.
Suasana di kawasan Glodok—pusat elektronik legendaris Jakarta—sudah sepi. Toko-toko sudah tutup, menyisakan lorong-lorong gelap yang dijaga oleh satpam yang mengantuk.
Namun, Reza dan Pak Teguh tidak mencari toko yang buka. Mereka berjalan cepat menyusuri gang belakang yang becek, di antara tumpukan kardus AC bekas dan bau got yang menyengat.
"Bapak yakin temen Bapak bisa dipercaya?" tanya Reza, merapatkan jaketnya yang masih lembap.
"Dia bukan teman dalam artian sosial, Reza. Dia hacker tua. Dulu dia yang bantu aktivis 98 menyebarkan informasi lewat mailing list bawah tanah saat internet masih diblokir pemerintah," jelas Pak Teguh.
Pak Teguh berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat tanpa plang nama. Dia mengetuk dengan pola ritmis: tuk-tuk... tuk... tuk-tuk.
Pintu bergeser sedikit. Sebuah mata mengintip dari balik rantai.
"Sandi?" suara serak bertanya.
"Disket 3.5 inchi," jawab Pak Teguh mantap.
Pintu terbuka.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang penuh sesak dengan server rakitan, monitor tabung kuno, dan kabel yang berseliweran seperti mi goreng. Udaranya dingin karena AC yang disetel maksimal untuk mendinginkan mesin-mesin tua itu.
Seorang pria kurus dengan rambut putih dikuncir kuda duduk di tengah singgasana elektroniknya. Dia sedang merokok kretek.
"Teguh," sapa pria itu, namanya Ko Abun. "Lama nggak mampir. Sekalinya mampir, muka lu kayak buronan di TV."
"Saya emang buronan, Bun," Pak Teguh duduk di kursi plastik. "Ini Reza, mahasiswa saya. Kami butuh bantuanmu."
"Gua udah liat beritanya," Ko Abun mematikan rokoknya. "Teroris lingkungan? Ledakan gas? Gua tau itu omong kosong. Gua deteksi traffic data aneh dari arah timur Jakarta sejak kemarin malem. Enkripsinya militer, tapi polanya... organik. Kayak virus yang idup."
Reza meletakkan tasnya di meja. Dia mengeluarkan Jurnal Dr. Suryo.
"Ini buktinya, Ko," kata Reza. "Ini bukan virus komputer. Ini virus beneran. Dan mereka nyulik temen saya buat jadi inangnya."
Ko Abun membolak-balik jurnal itu dengan hati-hati. Matanya yang sipit melebar saat membaca halaman tentang "biocomputing".
"Gila..." gumam Ko Abun. "Mereka mau bikin wetware server? Pake otak manusia?"
"Sentinela," kata Pak Teguh. "Kami butuh tau di mana mereka nyimpen Naya. Dan kami butuh cara buat nyebarin isi buku ini ke seluruh dunia sebelum mereka ngebungkam kami."
"Nyebarin gampang. Gua punya akses ke backdoor satelit Palapa. Gua bisa hijack siaran TV nasional buat lima menit sebelum mereka lacak gua," kata Ko Abun enteng, seolah bicara soal membajak film. "Masalahnya, kalau temen lu ada di tangan Sentinela, dia pasti ada di 'Menara Kaca'. Kantor pusat mereka di Sudirman."
"Bisa dilacak pastinya?" desak Reza.
"Bisa. Kalau kaki temen lu itu emang mancarin sinyal."
Ko Abun memutar kursinya menghadap tiga monitor besar. Jarinya menari di atas keyboard mekanikal yang berisik.
"Gua bakal scan frekuensi radio yang nggak wajar di area Sudirman. Sinyal yang bandwidth-nya gede banget tapi durasinya pendek-pendek."
Layar monitor menampilkan grafik spektrum gelombang. Garis-garis hijau naik turun.
"Dapet!" seru Ko Abun tiba-tiba. "Liat ini. Ada lonjakan data massive dari penthouse Menara Sentinela. Dan liat polanya..."
Ko Abun memperbesar grafik itu. Pola gelombangnya bukan kotak-kotak digital. Polanya melengkung, naik turun tak beraturan.
"Itu gelombang otak," bisik Reza merinding. "Itu Naya."
"Mereka lagi upload data ke otak dia, atau download dari dia," analisis Ko Abun. "Apapun itu, temen lu lagi disiksa secara digital."
Reza mengepalkan tangannya. "Kita harus ke sana. Malam ini."
"Ke Menara Sentinela? Itu benteng, Boy," Ko Abun menggeleng. "Lu masuk lobi aja udah ditembak."
"Kita nggak lewat lobi," kata Pak Teguh. Dia menatap Reza. "Ingat gondola tadi?"
Reza menatap dosennya. "Bapak mau manjat gedung pencakar langit lagi?"
"Bukan manjat," Pak Teguh tersenyum tipis, senyum nekat seorang veteran jalanan. "Gedung Sentinela itu punya sistem pembuangan sampah otomatis yang canggih. Chute raksasa yang langsung turun ke basement. Ko Abun, kamu punya denah gedung itu?"
"Gua punya blueprint arsiteknya dari database Pemda," Ko Abun mengetik lagi. "Nih. Ada akses logistik di basement 3. Tapi dijaga ketat."
"Kita butuh pengalihan," kata Reza. "Pengalihan yang gede banget sampe mereka nggak sadar ada dua tikus masuk lewat selokan."
Reza menatap layar monitor yang menampilkan grafik gelombang otak Naya.
"Ko, bisa nggak Koko kirim sinyal balik ke Naya? Bukan pesen teks, tapi... gangguan? Sesuatu yang bikin koneksi mereka putus bentar?"
"Lu mau gua DDoS otak temen lu?" Ko Abun menatap Reza ngeri. "Bisa bikin dia stroke."
"Naya kuat," kata Reza yakin. "Dia lebih kuat dari yang kita kira. Kalau Koko bisa kasih dia celah sedetik aja... dia bakal ngancurin sisanya dari dalem."
"Oke," Ko Abun menyeringai. "Gua suka gaya lu. Operasi Penyelamatan Tuan Putri dimulai."
"Dan Jurnal ini?" tanya Pak Teguh.
"Tinggal di sini," kata Ko Abun. Dia mengambil buku kulit itu. "Kalian urus fisiknya. Gua urus digitalnya. Begitu gua liat sinyal kekacauan di Menara Sentinela... gua bakal upload scan buku ini ke setiap layar HP, TV, dan Videotron di Jakarta."
Reza mengangguk. Dia mengambil sebuah linggis kecil dari tumpukan barang rongsokan di sudut ruangan.
"Ayo, Pak. Kita jemput Naya."
Mereka keluar dari Glodok, menembus malam Jakarta yang dingin, menuju menara kaca yang menjulang angkuh di pusat kota, siap untuk meruntuhkan kerajaan bisnis yang dibangun di atas mayat.
(Bersambung ke Bab 29)