Basement 3 Menara Sentinela baunya seperti lantai rumah sakit yang dipel dengan uang baru: steril, dingin, dan mahal. Tidak ada tikus got di sini. Yang ada hanyalah deretan mobil mewah pejabat eksekutif dan truk-truk logistik lapis baja yang parkir rapi.
Reza dan Pak Teguh bersembunyi di balik pilar beton raksasa, napas mereka mengeluarkan uap tipis di udara AC sentral yang terlalu dingin. Di tangan Reza, linggis berkarat yang diambil dari Glodok terasa berat dan konyol jika dibandingkan dengan senjata otomatis yang dibawa dua penjaga di depan lift kargo.
"Itu lift akses langsung ke penthouse," bisik Pak Teguh, menunjuk pintu baja mengilap yang dijaga ketat. "Satu-satunya jalan naik tanpa kartu identitas tamu."
"Dua penjaga, Pak. Senapan serbu," Reza menelan ludah. "Kita nggak mungkin serbu depan."
"Kita tunggu sinyal Ko Abun," kata Pak Teguh sambil melirik jam tangannya yang retak. "Kalau si Tua Bangka itu tidak ketiduran, sebentar lagi pesta dimulai."
Di lantai 50, di dalam sangkar kaca di atas awan, Naya sedang menjerit dalam diam.
Kabel yang menancap di kaki bioniknya berdenyut dengan cahaya biru yang menyakitkan. Adrian berdiri di depan konsol utama, matanya berbinar gila melihat aliran data yang masuk. Dia sedang memetakan seluruh jaringan akar "Ibu" yang tersebar di perut bumi Jawa Barat.
"Luar biasa," gumam Adrian. "Ada simpul di Bekasi... di Tangerang... Ternyata Dr. Suryo menanam banyak 'benih' di masa lalu."
"Hentikan..." rintih Naya. Darah segar menetes dari hidungnya.
"Sedikit lagi, Naya. Setelah pemetaan selesai, kita akan aktifkan protokol Awakening. Kita akan bangunkan semuanya serentak. Sentinela akan memegang kendali atas bencana alam buatan. Bayangkan kekuasaannya. Negara akan berlutut minta perlindungan pada kita."
Tiba-tiba, Naya merasakan sesuatu yang asing menyusup ke dalam badai data di kepalanya.
Bukan suara Ibu. Bukan perintah Adrian.
Itu adalah suara... kresek.
Seperti suara radio yang tidak pas gelombangnya. Kasar, bising, dan menyakitkan, tapi entah kenapa terasa membebaskan.
Di Glodok, Ko Abun baru saja menekan tombol Enter dengan seringai lebar.
DDOS ATTACK: INITIATED.
TARGET: NEURAL INTERFACE SENTINELA-01.
Di penthouse, lampu-lampu indikator di konsol Adrian berubah warna dari biru tenang menjadi merah berkedip. Alarm berbunyi nyaring.
WARNING! EXTERNAL INTERFERENCE!
PACKET OVERLOAD!
"Apa ini?!" Adrian berteriak pada teknisinya. "Siapa yang mencoba masuk?!"
Di kursi pasung, Naya tersentak. Rasa sakit di kepalanya berubah menjadi kejelasan yang tajam. Serangan Ko Abun telah menciptakan celah di firewall mental yang dipasang Adrian.
Naya melihat celah itu. Sebuah pintu belakang yang terbuka lebar.
Dia tidak lari keluar lewat pintu itu.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh kemarahannya—marah karena Ipul, marah karena Ibunya, marah karena dijadikan boneka—dan dia menendang pintu itu sampai jebol.
Naya membalikkan arus datanya.
Alih-alih menerima perintah, dia mengirim perintah. Dia menggunakan koneksi kabel di kakinya untuk menyerang balik sistem gedung pintar ini.
"Lo mau kontrol?" desis Naya, mata hitamnya terbuka lebar, menatap Adrian. "Gue kasih lo kontrol."
Naya membajak sistem kelistrikan gedung.
MATI.
Seluruh lampu di Menara Sentinela padam total. Gedung pencakar langit itu menjadi monolit hitam di tengah gemerlap Jakarta.
Lalu, Naya menyalakan sistem darurat.
HIDUP.
Lampu strobo merah menyala di setiap lantai. Sirine kebakaran meraung. Sprinkler air menyembur di semua ruangan, membasahi dokumen-dokumen penting, komputer, dan server.
"Cabut kabelnya!" teriak Adrian panik. "Dia membakar sistem kita!"
Tapi terlambat.
Di Basement 3, kegelapan dan kepanikan melanda. Lampu padam, digantikan lampu darurat merah yang berputar-putar.
Dua penjaga di depan lift kargo bingung. Mereka sibuk bicara di radio yang penuh statis.
"Sekarang!" teriak Reza.
Reza berlari keluar dari persembunyiannya. Dalam kegelapan dan kebingungan itu, dia mengayunkan linggisnya.
BUK!
Hantaman keras mengenai helm taktis penjaga pertama. Orang itu ambruk.
Penjaga kedua berbalik, kaget, mengarahkan senjatanya.
Tapi Pak Teguh—yang ternyata membawa alat pemadam api ringan (APAR) dari dinding—menyemprotkan busa putih tepat ke wajah penjaga itu.
"Argh!" Penjaga itu buta sesaat.
Reza menendang selangkangannya, lalu memukul tengkuknya dengan gagang linggis.
Dua penjaga lumpuh.
"Liftnya mati, Pak!" Reza memencet tombol lift kargo. Tidak ada reaksi.
"Naya yang mematikannya," kata Pak Teguh. Dia melihat ke panel kontrol lift. "Tapi kalau Naya yang pegang kendali..."
Tiba-tiba, pintu lift berdenting. Ting.
Pintu terbuka sendiri. Kosong. Lampu di dalamnya berkedip-kedip seolah mengundang mereka masuk.
"Dia tau kita di sini," Reza tersenyum lega. "Ayo naik."
Sementara itu, di luar gedung, Jakarta sedang menyaksikan pertunjukan horor.
Layar-layar videotron raksasa di Bundaran HI, di jembatan penyeberangan, dan di fasad-fasad gedung perkantoran tiba-tiba mengalami gangguan sinyal. Iklan sampo dan rokok lenyap, digantikan oleh layar semut hitam-putih.
Lalu, sebuah dokumen muncul.
Itu adalah pindaian halaman jurnal Dr. Suryo. Tulisan tangan yang gemetar, sketsa monster anatomi, dan foto-foto hitam putih pembantaian tahun 65.
Diiringi oleh voice over suara Pak Teguh yang sudah direkam sebelumnya oleh Ko Abun:
"Warga Jakarta. Apa yang kalian lihat bukan film fiksi. Di bawah tanah kita, ada monster yang dipelihara oleh negara. Namanya Sentinela..."
Orang-orang di jalanan berhenti. Mobil-mobil melambat. Pejalan kaki mendongak, merekam dengan HP mereka. Kebenaran yang dikubur 50 tahun kini terpampang setinggi 20 meter di pusat ibukota.
Di penthouse, Adrian melihat ke luar jendela kaca. Dia melihat videotron di gedung seberang menampilkan wajah Dr. Suryo.
Wajah Adrian memucat. "Matikan! Hubungi Kominfo! Matikan seluruh jaringan internet!"
"Nggak bisa, Pak! Akses kita dikunci dari dalam!" teriak teknisinya.
Adrian berbalik menatap Naya. Gadis itu masih terpasung di kursi, tapi dia tersenyum. Senyum yang penuh darah dan kemenangan.
"Permainan selesai, Bos," kata Naya.
Adrian mencabut pistol dari balik jasnya. Wajah tampannya kini terdistorsi oleh kemurkaan.
"Kalau aku hancur, kamu ikut hancur!"
Adrian mengarahkan pistol ke kepala Naya.
TING.
Pintu lift pribadi di belakang Adrian terbuka.
Adrian menoleh kaget.
Reza berdiri di sana, basah kuyup, kotor, memegang linggis berkarat dengan kedua tangan seperti pemukul bisbol. Di belakangnya, Pak Teguh memegang senjata laras panjang rampasan dari penjaga basement (yang dia pegang dengan canggung).
"Jauhkan tangan lo dari temen gue," geram Reza.
Adrian tertawa sinis. "Dua tikus got masuk ke istana. Kalian pikir kalian bisa apa?"
Adrian mengarahkan pistolnya ke Reza. "Selamat tinggal, pahlawan kesiangan."
DOR!
Suara tembakan meletus.
Tapi Reza tidak jatuh.
Justru Adrian yang menjerit. Tangan kanannya yang memegang pistol meledak dalam cipratan darah. Pistolnya terlempar jauh.
Adrian jatuh berlutut, memegangi tangannya yang hancur.
Reza bingung. Dia memeriksa badannya. Tidak ada lubang peluru.
Semua orang menoleh ke arah Naya.
Kursi pasung itu bergetar. Penahan logam yang mengunci tangan dan kaki Naya bengkok, lalu patah.
Naya berdiri. Kabel di kakinya terputus paksa, memercikkan api.
Tapi bukan itu yang membuat Adrian tertembak.
Di samping Naya, melayang sebuah drone keamanan kecil milik gedung—drone yang biasanya dipakai patroli keliling. Di bawah drone itu terpasang senjata setrum (taser) jarak jauh yang dimodifikasi.
Naya mengendalikan drone itu dengan pikirannya.
"Gue bilang kan," Naya melangkah turun dari podium, kaki besinya berbunyi berat di lantai marmer. Mata hitamnya menatap Adrian yang merintih di lantai. "Gue yang pegang kontrol sekarang."
Reza berlari menghampiri Naya, memeluknya erat. "Nay! Lo gapapa?"
Naya lemas dalam pelukan Reza. Matanya kembali normal, hitam dan putih. Koneksinya putus.
"Za... videonya...?"
"Udah tayang, Nay. Seluruh Jakarta lagi nonton," Reza menunjuk ke luar jendela.
Di bawah sana, lampu-lampu videotron menyala terang, menampilkan bukti kejahatan Sentinela. Dan lebih dari itu, suara sirine polisi dan kerumunan massa mulai terdengar mengepung gedung. Bukan militer bayaran Sentinela, tapi polisi publik dan wartawan yang haus berita.
Pak Teguh berjalan mendekati Adrian, menodongkan senjata rampasannya ke kepala direktur muda itu.
"Adrian Santoso," kata Pak Teguh dingin. "Atas nama rakyat Indonesia dan korban Desa Sindang... Anda ditahan oleh warga sipil."
Adrian mendongak, wajahnya pucat pasi namun matanya masih menyimpan racun.
"Kalian bodoh..." desis Adrian. "Kalian pikir dengan membuka rahasia ini, kalian menyelamatkan dunia? Kalian baru saja memicu perang. Negara-negara lain akan datang. Mereka akan berebut potongan daging Ibu. Kalian baru saja memulai Perang Dunia Ketiga."
Naya melepaskan pelukan Reza. Dia berjalan pincang mendekati Adrian. Dia menempelkan kaki besinya yang berat ke dada Adrian, menekannya ke lantai.
"Biarin mereka dateng," kata Naya. "Tapi kalau mereka macem-macem... gue bakal bangunin Ibu lagi."
Naya menatap ke luar jendela, ke arah timur, ke arah desa yang sudah hancur.
Dia bisa merasakannya. Jauh di dalam tanah, sisa-sisa kesadaran "Ibu" tidak lagi marah. Dia diam. Dia mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya, Naya merasa monster itu tidak lagi ingin memakan dunia. Dia hanya ingin... diakui keberadaannya.
Pintu penthouse didobrak. Tim SWAT kepolisian masuk, berteriak-teriak. Lampu senter menyilaukan mata.
Naya mengangkat tangannya perlahan. Reza dan Pak Teguh melakukan hal yang sama.
Mereka ditangkap. Tapi kali ini, kamera wartawan menyorot mereka. Dunia melihat mereka.
Dan di layar TV nasional, headline berita berkedip merah:
SKANDAL SENTINELA: NEGARA MEMELIHARA MONSTER?
Kebenaran sudah keluar dari botolnya. Dan tidak ada yang bisa memaksanya masuk kembali.
(Bersambung ke Bab 30 - Bab Terakhir)