Thriller

Sarkofagus Beton

21 January 2026

Tiga bulan kemudian.

Hujan turun di Jakarta, membasuh debu dan polusi dari kaca jendela sebuah kafe kecil di Cikini. Di dalam, aroma kopi arabika dan roti bakar mendominasi, kontras dengan bau lindi dan daging busuk yang masih menghantui ingatan Naya setiap kali dia memejamkan mata.

Naya duduk di pojok, menatap rintik hujan di kaca. Dia mengenakan celana jins longgar yang menyembunyikan kaki kanannya, namun bunyi klik-klik pelan saat dia berjalan tadi masih membuat beberapa pengunjung menoleh penasaran.

Di layar televisi yang tergantung di dinding kafe, berita siang sedang tayang.

"...Sidang perdana kasus Sentinela memasuki babak akhir. Adrian Santoso, mantan Direktur Operasional, dituntut hukuman mati atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan terorisme biologis. Sementara itu, PBB secara resmi mengambil alih pengawasan zona eksklusi Desa Sindang..."

Gambar beralih ke rekaman udara. Desa Sindang tidak lagi terlihat seperti desa.

Seluruh lembah itu kini tertutup oleh kubah beton raksasa. Sarkofagus.

Pemerintah, dibantu oleh kontraktor internasional, telah menuangkan jutaan ton beton khusus untuk mengubur TPA Sindang, pabrik tekstil, dan hutan sampah tua. Mereka menyebutnya "Proyek Pengendalian Limbah". Namun, Naya tahu apa fungsi sebenarnya kubah itu: Penjara.

Untuk mengubur Ibu. Untuk memastikan mimpi buruk itu tidak bangun lagi.

"Masih nonton itu?"

Reza datang membawa nampan berisi dua latte. Dia terlihat lebih segar, rambutnya dipotong rapi, meski bekas luka di pelipisnya masih terlihat jelas—suvenir dari malam di Glodok.

"Susah buat nggak nonton, Za," Naya menyeruput kopinya. "Itu kuburan orang tua gue."

Reza duduk di hadapannya, wajahnya berubah serius. "Gimana sesi terapinya?"

"Lumayan. Psikolog gue masih ngira gue cuma korban ledakan gas yang halusinasi soal monster. Gue biarin aja dia mikir gitu. Lebih gampang daripada jelasin kalau gue pernah chatting sama mayat hidup."

Mereka berdua tersenyum tipis. Senyum yang hanya dimengerti oleh veteran perang yang selamat dari neraka yang sama.

Status mereka sekarang rumit. Secara hukum, mereka adalah saksi kunci yang dilindungi negara (terutama karena tekanan publik internasional setelah kebocoran data Pak Teguh). Tapi secara rahasia, mereka diawasi 24 jam. Ada mobil sedan hitam yang parkir di seberang jalan kafe, dan Naya tahu siapa di dalamnya. Intelijen.

Mereka takut pada Naya. Atau lebih tepatnya, takut pada apa yang dibawa Naya.

Naya meraba pahanya di balik meja. Kaki bioniknya masih di sana. Pemerintah tidak berani mengamputasinya. Para ilmuwan yang memeriksanya menyimpulkan bahwa sistem saraf Naya telah terintegrasi terlalu dalam dengan mesin itu. Mencabutnya bisa membunuh Naya—atau lebih buruk, memicu sinyal "bunuh diri" yang bisa membangunkan kembali organisme di bawah beton sana.

Jadi, mereka membiarkannya. Naya adalah kunci gembok yang berjalan. Selama Naya hidup dan tenang, monster di bawah sana juga tenang.

"Pak Teguh nitip salam," kata Reza, memecah keheningan. "Dia lagi sibuk diundang seminar di Eropa. Dia jadi pahlawan lingkungan sekarang."

"Dia pantes dapetin itu," Naya mengangguk. "Dan Ko Abun?"

"Masih di Glodok. Masih jualan VGA bekas sambil nge-hack satelit iseng-iseng. Dia bilang kalau kaki lo perlu di-service atau ganti oli, dateng aja ke dia. Gratis."

Naya tertawa kecil. Tawa yang terasa ringan, tidak lagi dibebani ketakutan.

"Za," Naya menatap mata sahabatnya itu. "Lo nyesel nggak?"

"Nyesel apa?"

"Ikut gue balik ke desa waktu itu. Kalau lo nggak ikut, lo bisa lulus tepat waktu, jadi insinyur sipil normal, nggak perlu dikejar-kejar tentara."

Reza terdiam sejenak. Dia memutar-mutar cangkir kopinya.

"Jujur? Kadang gue mimpi buruk. Gue mimpi tikus kabel itu ngerayap di kasur gue," kata Reza. "Tapi kalau gue nggak ikut... lo mati sendirian di sana, Nay. Dan gue nggak bakal maafin diri gue seumur hidup."

Reza mencondongkan tubuhnya, menatap Naya tajam.

"Kita nyelamatin Jakarta, Nay. Mungkin dunia. Gue rasa itu worth it dibanding skripsi."

Naya tersenyum haru. "Makasih, Partner."

Setelah menghabiskan kopi, mereka keluar dari kafe. Hujan sudah reda, menyisakan genangan air yang memantulkan lampu jalan sore hari.

"Mau ke mana sekarang?" tanya Reza. "Gue anter."

"Gue mau ke sana sebentar," kata Naya.

"Ke mana? Sindang?" Reza kaget. "Itu zona terlarang, Nay. Radiasi residunya masih tinggi."

"Nggak masuk ke zona merah. Cuma ke perbatasannya. Ada bukit di seberang sungai Citarum yang menghadap ke sana. Gue perlu pamit."

Sore itu, mereka berdiri di atas bukit ilalang di perbatasan Kabupaten. Di depan mereka, terpisah oleh jurang sungai Citarum yang lebar, terlihat pemandangan yang monumental.

Kubah beton raksasa itu tampak abu-abu dan angkuh di tengah lembah hijau yang kini mati. Tidak ada pohon, tidak ada rumah. Hanya beton seluas ratusan hektar.

Penjagaan militer terlihat di sekeliling kubah. Pagar kawat berduri rangkap tiga, menara pengawas, dan tanda bahaya biohazard kuning menyala.

Naya berdiri diam, angin sore menerpa wajahnya.

Dia tidak melihat beton itu. Dia melihat apa yang ada di bawahnya.

Dia membayangkan rumah masa kecilnya yang kini menjadi fosil. Dia membayangkan Ipul yang jasadnya mungkin sudah melebur menjadi satu dengan tanah. Dia membayangkan Ibunya dan Bapaknya, beristirahat dalam pelukan abadi yang aneh namun damai.

"Mereka nggak sakit lagi," bisik Naya.

Dia meletakkan telapak tangannya di atas tanah bukit itu.

Dia menutup matanya. Dia mencoba "mendengar".

Jauh... jauh di kedalaman sana... di balik lapisan beton dan tanah...

Dug... ... ... ... Dug...

Detak itu masih ada.

Sangat lemah. Sangat lambat. Mungkin satu detak setiap satu jam. Seperti beruang yang sedang hibernasi panjang.

"Ibu" belum mati. Dia hanya tidur. Dia menunggu zaman berganti. Mungkin seratus tahun lagi, atau seribu tahun lagi, ketika beton itu retak dimakan usia, dia akan bangun kembali.

Tapi untuk sekarang, dunia aman.

Naya membuka matanya.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah gantungan kunci boneka astronot yang dulu Ipul berikan padanya saat mereka lulus SMA. Benda itu dia temukan di saku celana trainingnya yang kotor—mungkin terbawa dari sisa-sisa barang Ipul.

Naya menggenggam boneka astronot itu erat, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah sungai Citarum yang mengalir di bawah.

"Selamat jalan, Pul. Terbang yang tinggi," bisik Naya.

Boneka itu jatuh, hilang ditelan arus sungai yang hitam. Sungai yang akan membawanya ke laut, membebaskannya dari tanah terkutuk ini.

"Ayo pulang, Nay," ajak Reza lembut.

Naya berbalik. Dia menatap Reza, lalu menatap kaki kanannya.

Dia bukan lagi Naya si gadis desa yang naif. Dia juga bukan monster.

Dia adalah jembatan. Penjaga gerbang antara dunia manusia dan dunia di bawah sana. Dan selama dia hidup, dia akan memastikan gerbang itu tetap tertutup.

"Ayo," kata Naya mantap.

Dia melangkah menuruni bukit. Langkah kaki kanannya berbunyi klik pelan saat beradu dengan batu, sebuah pengingat konstan akan harga yang harus dia bayar.

Langit di barat berwarna jingga kemerahan. Bukan warna lindi, bukan warna ungu beracun. Itu warna matahari terbenam yang wajar. Indah dan normal.

Naya dan Reza berjalan menjauh, meninggalkan sarkofagus beton itu di belakang mereka.

Cerita tentang Desa Sindang mungkin akan dilupakan, menjadi urban legend atau teori konspirasi di internet. Tapi bagi Naya, cerita itu terukir dalam daging dan besinya, selamanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Naya merasa lapar. Lapar akan nasi goreng, bukan sampah. Lapar akan hidup.

"Za," panggil Naya.

"Ya?"

"Lo yang bayar makan malem ya. Dompet gue masih disita polisi."

Reza tertawa lepas. "Siap, Ratu Sampah. Siap."

Mereka berjalan beriringan menuju mobil, meninggalkan bayang-bayang masa lalu, menyongsong masa depan yang tidak pasti, namun milik mereka sendiri.

— TAMAT —