Rumput gajah yang tajam menggores pipi Naya, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa sakit di seluruh tulang belulangnya. Dia terbaring telentang di parit kering di pinggir jalan tol, menatap langit malam yang bersih. Bintang-bintang berkelip acuh tak acuh, seolah tidak peduli bahwa beberapa kilometer dari sana, sebuah desa baru saja dihapus dari peta.
Di sampingnya, Reza mengerang panjang, mencoba duduk sambil memegangi rusuk kirinya. Jaket scrub hijaunya yang curian sudah robek dan kotor oleh tanah merah.
"Lo idup, Nay?" tanya Reza parau.
"Kayaknya," jawab Naya. Dia mencoba menggerakkan kaki kanannya.
Berat. Rasanya seperti mencoba mengangkat tiang beton dengan ujung jari kaki. Kaki bionik itu kini mati total. Tidak ada lagi pendaran cahaya biru, tidak ada lagi dengungan halus. Infeksi hive mind itu sudah putus koneksinya, meninggalkan Naya dengan sebongkah prostetik canggih yang kini hanya menjadi beban mati seberat dua puluh kilogram yang menempel permanen di pahanya.
"Bantu gue..." pinta Naya.
Reza merangkak mendekat, lalu menarik Naya hingga terduduk. Mereka berdua bersembunyi di balik semak-semak, mengintip ke arah jalan raya. Truk-truk logistik dan bus malam melaju kencang, tidak menyadari ada dua penyintas kiamat kecil yang sedang menggigil di pinggir jalan.
"Kita di mana?" tanya Naya.
Reza menyipitkan mata melihat plang penunjuk jalan hijau yang samar di kejauhan. "Tol Cipali. Kilometer... entah. Tapi kita udah jauh dari Sindang. Setidaknya aman dari zona karantina."
"Aman?" Naya tertawa getir, suara yang terdengar pecah. Dia menepuk kaki kanannya yang terbungkus sisa terpal robek. "Gue bawa barang bukti berjalan, Za. Kalau ada orang liat kaki ini, gue bakal masuk berita. Atau masuk lab militer."
"Kita cari tempat sembunyi. Gue butuh ngejahit luka di kepala gue, dan lo butuh mandi. Lo bau formalin," kata Reza, mencoba mencairkan suasana meski wajahnya menyiratkan kekhawatiran mendalam.
Mereka berjalan tertatih-tatih menyusuri pinggiran jalan tol, melawan arah arus kendaraan agar bisa melihat lampu sorot mobil yang datang. Naya harus memapah bahu Reza, dan Reza harus menopang pinggang Naya, menyeret kaki besinya langkah demi langkah.
Satu jam kemudian, mereka menemukan sebuah rest area bayangan—warung-warung semi permanen yang didirikan liar di balik pagar pembatas tol, biasanya tempat supir truk istirahat sejenak untuk ngopi atau kencing.
Bangunan itu terbuat dari bambu dan terpal, diterangi lampu neon kuning yang suram. Ada beberapa truk parkir, tapi suasananya sepi.
"Lo tunggu di sini, di balik pohon pisang ini," perintah Reza. Dia melepas sisa jaket scrub hijaunya, menyisakan kaos oblong yang kotor tapi terlihat lebih normal. "Gue mau nego sama yang punya warung. Gue masih punya duit di saku celana yang nggak basah."
Naya mengangguk, menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Dia melihat Reza berjalan pincang menuju warung itu.
Naya sendirian lagi. Di keheningan malam ini, tanpa suara "Ibu" di kepalanya, dia merasa sangat sepi. Dia meraba perbatasan antara paha manusianya dan logam kakinya. Kulitnya terasa dingin dan keras di sana. Tidak ada rasa sakit, hanya sensasi kebas yang aneh.
Dia bukan lagi manusia utuh. Dia adalah monster yang selamat.
Reza kembali sepuluh menit kemudian membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti sobek.
"Dapet," bisik Reza. "Ada kamar kosong di belakang warung. Gue bilang kita korban kecelakaan motor yang dibegal. Ibu warungnya kasihan, dia kasih sewa murah buat semalam."
Mereka menyelinap masuk lewat pintu belakang warung, menghindari tatapan para supir truk yang sedang merokok di depan.
Kamar itu kecil, dindingnya triplek, dan hanya ada satu kasur busa tipis di lantai yang spreinya sudah kusam. Tapi bagi Naya, itu terlihat seperti suite hotel bintang lima. Ada kamar mandi kecil di sudut dengan bak mandi plastik.
Reza mengunci pintu grendel, lalu merosot duduk di lantai.
"Mandi dulu, Nay. Cuci semua lindi itu. Gue mau nyalain TV di luar, cari berita," kata Reza.
Naya masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan keran. Airnya dingin dan jernih. Bukan air lindi. Bukan air yang ada cacingnya. Air bersih.
Naya melepas pakaiannya yang hancur. Dia berdiri di depan cermin kecil yang retak di dinding kamar mandi.
Untuk pertama kalinya, dia melihat dirinya dengan jelas.
Tubuhnya kurus kering, penuh lebam biru dan ungu. Rambutnya menggumpal karena lumpur.
Dan kakinya.
Dari pangkal paha ke bawah, kaki kanannya bukan lagi daging. Itu adalah struktur biomekanikal yang indah sekaligus mengerikan. Warnanya abu-abu matte seperti bahan pesawat tempur stealth. Bentuknya mengikuti anatomi otot manusia, tapi lebih tajam, lebih tegas. Di bagian lutut dan pergelangan kaki, terdapat sendi-sendi bola (ball joint) yang kompleks.
Dan di bagian betis, ada sedikit bagian yang transparan, memperlihatkan sisa-sisa cairan pendingin hijau yang kini diam tak bergerak.
Naya menyentuh kakinya. Dia tidak merasakannya di kulit tangan, tapi dia merasakannya di dalam kakinya. Sensasi sentuhan itu dikirim langsung ke otaknya lewat saraf buatan.
"Ini permanen," bisik Naya. Air mata menetes, bercampur dengan air keran.
Dia mengambil gayung, menyiram tubuhnya. Dia menggosok kulitnya dengan sabun batangan yang ada di situ sampai merah, mencoba menghilangkan bau kematian yang menempel. Tapi dia tahu, bau itu tidak ada di kulitnya. Bau itu ada di dalam ingatannya.
Setelah selesai mandi dan memakai sarung pinjaman dari ibu warung sebagai kemben (karena bajunya sudah dibuang), Naya keluar.
Reza sedang duduk di kasur, menatap layar TV tabung 14 inci yang bergambar semut di pojok atas kamar. Volume suaranya kecil sekali.
"Liat ini, Nay," kata Reza tanpa menoleh.
Naya duduk di samping Reza.
Di layar TV, seorang pembaca berita dengan wajah serius sedang membacakan headline. Di belakangnya, ada gambar peta Desa Sindang dengan grafis zona merah.
"...Pemerintah menetapkan status Darurat Sipil untuk wilayah Kecamatan Sindang. Ledakan pipa gas alam yang terjadi dini hari tadi memicu kebakaran hebat di area Tempat Pembuangan Akhir. Pihak berwenang mengkonfirmasi adanya kontaminasi limbah B3 yang berbahaya."
Layar berganti menampilkan juru bicara militer yang memakai masker.
"Kami telah mengevakuasi seluruh warga desa ke tempat yang aman. Sayangnya, banyak korban jiwa akibat ledakan awal dan keracunan gas. Kami menghimbau masyarakat untuk tidak mendekati radius 10 kilometer dari lokasi karena potensi ledakan susulan."
"Bohong," desis Naya. "Mengevakuasi? Mereka membakar mayat-mayat itu di truk!"
"Dengerin lanjutannya," kata Reza.
Pembaca berita melanjutkan:
"Sementara itu, dua orang mahasiswa yang diduga berada di lokasi saat kejadian dilaporkan hilang. Pihak kepolisian sedang mencari keberadaan Naya Arisanti dan Reza Pratama untuk dimintai keterangan sebagai saksi kunci..."
Foto Naya dan Reza terpampang di layar TV. Foto dari kartu mahasiswa mereka.
"...namun, pihak berwenang juga memperingatkan bahwa kedua mahasiswa ini mungkin mengalami disorientasi mental akibat paparan gas beracun, dan bisa bertindak berbahaya. Jika melihat mereka, harap segera lapor ke pos militer terdekat."
Reza mematikan TV. Layar menjadi gelap.
"Kita bukan saksi kunci, Nay," kata Reza pelan. "Kita buronan. 'Disorientasi mental' dan 'berbahaya'? Itu kode buat 'tembak di tempat'."
Naya memeluk lututnya (lutut yang satu dingin, yang satu hangat). "Mereka takut kita ngomong. Mereka takut soal jurnal Dr. Suryo."
Reza mengambil tas selempangnya yang sudah sobek-sobek. Dia mengeluarkan buku jurnal kulit itu. Masih basah, bau, dan kotor, tapi utuh.
"Buku ini bukti kalau apa yang terjadi di sana bukan kecelakaan. Ini eksperimen genosida yang gagal," kata Reza. "Kalau kita kasih ini ke polisi, polisi bakal kasih ke atasan mereka, dan atasan mereka mungkin orang yang sama yang nyuruh helikopter itu nembakin warga."
"Terus kita harus gimana? Kita nggak bisa pulang ke rumah kos. Kita nggak bisa ngehubungin orang tua kita, pasti telpon mereka disadap."
Hening menyelimuti kamar sempit itu. Suara truk yang lewat di jalan tol terdengar seperti raungan monster di kejauhan.
Reza menatap Naya, lalu tatapannya jatuh ke kaki bionik Naya yang terekspos karena sarungnya tersingkap.
"Lo bisa jalan?" tanya Reza.
"Bisa, tapi pincang. Berat banget kalau nggak ada power-nya."
"Kita butuh sekutu. Orang yang punya power, tapi bukan pemerintah," Reza berpikir keras. "Dosen gue. Pak Teguh. Dia dulu aktivis 98. Dia sering nulis op-ini pedas soal lingkungan dan korupsi. Dia punya koneksi ke jurnalis internasional."
"Di mana dia tinggal?"
"Jakarta. Apartemen di pinggiran kota."
"Kita ke Jakarta?" Naya menatap Reza ragu. "Naik apa? Kita nggak punya kendaraan. Numpang bus umum sama aja bunuh diri, muka kita ada di TV."
Reza tersenyum tipis, senyum nakal yang sudah lama hilang dari wajahnya sejak mereka masuk ke Desa Sindang.
"Kita di tempat istirahat supir truk, Nay. Banyak truk logistik yang mau ke Jakarta malem ini. Kita 'nebeng' lagi. Tapi kali ini bukan truk mayat. Truk sayur atau truk pasir."
Naya menghela napas panjang. Dia lelah. Sangat lelah. Tapi melihat semangat di mata Reza, dia merasa sedikit harapan tumbuh kembali.
"Za," panggil Naya pelan.
"Hm?"
"Makasih udah nggak ninggalin gue. Padahal gue udah jadi... ginian."
Reza menatap kaki besi Naya, lalu menatap mata Naya. Dia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Naya yang penuh luka lecet.
"Lo tetep Naya. Mau kaki lo dari daging, dari besi, atau dari tahu bulat, lo tetep Naya yang gue kenal. Lagian..." Reza mencoba bercanda, "Kaki lo keren kok. Kayak cyborg di film anime. Nanti kalau udah aman, kita cat warna merah biar matching sama jaket gue."
Naya tertawa kecil. Tawa yang tulus. Air matanya menetes lagi.
"Besok pagi, kita jadi hantu," kata Naya. "Kita masuk ke Jakarta, kita cari Pak Teguh, dan kita bongkar semuanya."
"Setuju," Reza menguap lebar. Adrenalinnya habis. Matanya tinggal segaris. "Sekarang tidur. Gue jaga pintu."
Reza bergeser duduk di depan pintu, memeluk tas berisi jurnal itu seperti bantal. Dalam hitungan detik, dia sudah mendengkur halus.
Naya berbaring di kasur tipis. Dia menatap langit-langit triplek yang berjamur.
Dia mencoba memejamkan mata, tapi bayangan ibunya yang jatuh ke dalam api masih menghantuinya. Bayangan Ipul yang tersenyum di dunia digital masih menyiksa batinnya.
Dan lebih dari itu, Naya merasakan sesuatu yang membuat dia tidak bisa tidur nyenyak.
Di dalam keheningan kakinya yang mati... dia merasakan getaran yang sangat lemah.
Bzzzt...
Bukan getaran listrik. Tapi getaran... data.
Kaki ini mungkin kehilangan daya baterai utamanya. Tapi sistem penerimanya belum rusak. Dan jauh di sana, entah di mana, ada sesuatu yang masih mencoba mengirimkan sinyal.
Apakah Gunung itu benar-benar sudah mati? Atau dia hanya offline sementara?
Naya menarik sarung menutupi kakinya, menyembunyikan monster itu dari pandangan, dan membiarkan kelelahan membawanya ke alam mimpi yang tanpa mimpi.
(Bersambung ke Bab 24)