Cahaya matahari pagi menerobos celah-celah dinding anyaman bambu, jatuh tepat di wajah Naya yang tertidur gelisah. Dia terbangun dengan sentakan keras, napasnya tertahan di tenggorokan, tangannya refleks meraba betis kanannya.
Dingin. Keras. Logam.
Itu bukan mimpi.
Naya menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Aroma minyak goreng dan bawang putih dari dapur warung di depan tercium samar, bercampur dengan bau apek kasur busa.
Reza sudah bangun. Dia duduk di sudut ruangan, sedang memotong ujung celana training panjang berwarna biru tua dengan pisau lipatnya. Di sebelahnya, tergeletak kaos partai berukuran jumbo yang warnanya kuning mencolok.
"Pagi, Buronan," sapa Reza tanpa menoleh, suaranya serak. "Gue beli baju bekas dari Ibu Warung. Cuma ini yang muat buat nutupin 'aksesoris' lo."
Naya memaksakan diri duduk. Seluruh badannya terasa remuk redam, seolah habis dipukuli satu kompi tentara. Tapi rasa sakit itu adalah tanda kehidupan.
"Makasih, Za," Naya mengambil celana training itu. Bahannya tebal dan longgar. Cukup untuk menyembunyikan bentuk kakinya yang tidak wajar. "Duit lo abis?"
"Tinggal receh. Cukup buat beli satu botol air lagi," Reza melempar celana itu ke Naya. "Cepetan ganti. Ada truk fuso lagi parkir di depan, plat B. Supirnya lagi makan soto. Kita harus masuk ke bak belakang sebelum dia selesai."
Naya mengganti sarungnya dengan celana training itu. Saat dia memasukkan kaki kanannya, dia harus menggunakan kedua tangan untuk mengangkat dan memasukkannya ke lubang celana. Kaki bionik itu benar-benar beban mati sekarang. Berat, kaku, dan tidak responsif.
"Gue ngerasa kayak bawa mayat yang nempel di badan gue," gumam Naya frustrasi.
"Anggap aja gips permanen," kata Reza, membantunya berdiri. "Ayo. Waktu kita sempit."
Mereka mengendap-endap keluar lewat pintu belakang. Halaman belakang rest area liar itu becek sisa hujan semalam. Beberapa ayam kampung berkeliaran mematuk tanah.
Di area parkir depan yang berdebu, sebuah truk fuso tua berwarna oranye terparkir. Bak belakangnya tinggi, ditutupi terpal hijau yang tidak diikat terlalu kencang di bagian belakang. Di bak sampingnya tertulis: SUMBER REJEKI - JAKARTA.
"Isinya apa?" bisik Naya.
"Karung arang," jawab Reza. "Kotor, tapi aman. Polisi males periksa muatan yang bikin tangan item."
Mereka menunggu momen yang tepat. Supir truk—seorang pria gemuk dengan handuk di leher—sedang asyik menyeruput kuah soto sambil ngobrol dengan pemilik warung.
"Sekarang," desis Reza.
Mereka berlari membungkuk menuju pantat truk. Reza naik duluan, memanjat ban serep, lalu menarik dirinya ke atas bak. Dia mengulurkan tangan ke bawah.
"Pegang tangan gue. Injek ban serepnya pake kaki kiri lo."
Naya melakukan instruksi itu. Dengan susah payah dia mengangkat tubuhnya. Kaki kanannya bergelantungan tak berdaya, membentur plat besi truk dengan bunyi KLANG yang cukup keras.
Naya dan Reza membeku.
Supir truk di depan berhenti mengunyah. Dia menoleh ke belakang.
"Suara apaan tuh?" gumam supir itu.
Reza dengan cepat menarik Naya masuk ke dalam bak, menjatuhkan diri di atas tumpukan karung arang. Mereka menahan napas.
"Kucing kali, Bang," sahut pemilik warung. "Banyak kucing garong di sini."
"Kucing kok suaranya kayak besi jatoh," gerutu supir itu. Dia berdiri, berjalan mendekati truk.
Jantung Naya berdegup kencang. Dia membenamkan wajahnya ke sela-sela karung arang yang hitam dan kasar. Debu arang langsung menempel di wajah dan bajunya yang berkeringat.
Langkah kaki supir mendekat. Dia memukul ban belakang dengan tongkat besi untuk mengecek tekanan angin. DUG. DUG.
Lalu dia menarik ujung terpal belakang.
Cahaya matahari masuk. Reza memeluk Naya, mencoba menyamarkan siluet tubuh mereka dengan bentuk karung-karung hitam itu.
Supir itu mengintip sekilas. Hanya hitam di mana-mana.
"Hmh. Aman," gumamnya. Dia mengikat kembali terpal itu, meski tidak terlalu rapat.
Tak lama kemudian, pintu kabin depan dibanting. Mesin diesel tua meraung hidup, memuntahkan asap hitam yang baunya masuk sampai ke bak belakang.
Truk bergerak. Guncangan awal membuat Naya terhuyung, tapi dia segera menyeimbangkan diri di antara celah tumpukan karung.
"Hampir aja," desah Reza, menyeka keringat di dahinya yang kini meninggalkan noda hitam panjang. Dia tertawa kecil melihat Naya. "Muka lo kayak abis ikut perang gerilya, Nay."
"Lo juga nggak lebih ganteng," balas Naya, mencoba tersenyum.
Perjalanan itu panjang dan menyiksa. Panas matahari mulai memanggang bak truk yang tertutup terpal. Debu arang masuk ke hidung dan paru-paru, membuat mereka terbatuk-batuk pelan.
Tapi di tengah ketidaknyamanan itu, Naya merasakan sesuatu yang lain.
Getaran di kakinya.
Awalnya dia pikir itu getaran mesin truk. Tapi polanya berbeda. Getaran mesin truk konstan dan kasar. Getaran di kakinya ini halus, ritmis, dan... intermiten.
Zzzzt... ... Zzzzt... ... Zzzzt...
"Za," bisik Naya. "Kaki gue."
"Kenapa? Sakit?"
"Nggak. Dia... dia getar lagi. Polanya teratur. Kayak detak jantung pelan."
Reza mendekatkan telinganya ke kaki Naya yang tertutup celana training. "Gue nggak denger apa-apa."
"Ini di dalem, Za. Di dalem intinya." Naya menyingkap sedikit celana trainingnya.
Di kegelapan bak truk, mereka melihatnya.
Di bagian betis bionik Naya yang transparan—tempat cairan pendingin biasanya mengalir—ada lampu indikator kecil berwarna oranye yang berkedip lemah.
BLINK... BLINK... BLINK...
"Itu mode apa?" tanya Reza cemas. "Jangan bilang mode meledak."
"Gue nggak tau," Naya meraba indikator itu. "Dulu pas gue hack sistem Pak Karta, indikatornya merah. Pas gue pake kekuatan penuh, warnanya biru. Ini oranye... kayak Standby Mode atau Searching Signal."
"Mencari sinyal?" Reza memucat. "Maksud lo dia nyari Wi-Fi? Atau GPS?"
"Bisa jadi dua-duanya. Dr. Suryo pasti nanemin pelacak di setiap unit buatannya."
"Matikan, Nay! Kita lagi buron! Kalau benda itu ngirim koordinat kita ke militer, tamat riwayat kita!"
"Gue nggak tau cara matiinnya, Reza! Nggak ada tombol on/off-nya!" Naya panik. Dia mencoba memukul-mukul kakinya, tapi benda itu solid.
Tiba-tiba, truk melambat drastis.
Dari depan, terdengar suara sirine yang banyak. Bukan satu mobil, tapi iring-iringan.
Reza merangkak ke celah terpal di bagian depan bak, mengintip lewat kaca kecil yang membatasi bak dengan kabin supir.
"Sialan," umpat Reza. "Razia gabungan."
"Polisi?"
"Bukan cuma polisi. Ada Provos. Ada TNI. Mereka meriksa setiap kendaraan yang masuk arah Jakarta. Ini checkpoint besar di gerbang tol Cikampek Utama."
Naya merasakan getaran di kakinya semakin cepat.
Zzzt-Zzzt-Zzzt.
Lampu oranye itu berkedip makin cepat.
"Dia bereaksi sama sesuatu di luar," kata Naya horor. "Scanner. Mereka punya scanner radiasi atau logam di depan sana."
"Kita harus lompat?" Reza melihat ke belakang. Jalan tol padat merayap. Banyak mobil pribadi di belakang mereka. Kalau mereka lompat sekarang, mereka akan langsung terlihat oleh ratusan orang dan kamera CCTV.
"Nggak bisa. Kita kejebak."
Truk mereka maju perlahan. Antrean semakin pendek.
Naya memutar otaknya. Dia adalah ilmuwan. Dia harus berpikir seperti ilmuwan.
Bagaimana cara memblokir sinyal?
Faraday Cage. Sangkar Faraday.
"Aluminium foil," gumam Naya. "Kita butuh pelindung logam."
"Kita di truk arang, Nay! Nggak ada aluminium foil!"
"Arang!" mata Naya berbinar. "Arang itu karbon! Karbon konduktor listrik, tapi kalau dipadetin dan ditumpuk tebel, dia bisa nyerap gelombang elektromagnetik tertentu. Radio frekuensi susah nembus karbon padat!"
Naya segera menggali tumpukan karung arang.
"Bantu gue, Za! Kubur kaki gue pake arang! Keluarin dari karungnya!"
Reza mengerti. Dia merobek salah satu karung goni dengan pisaunya. Bongkahan arang hitam berhamburan keluar.
"Kubur semuanya! Badan gue juga kalau perlu!"
Reza menumpahkan isi karung itu ke atas kaki Naya. Dia menumpuk karung-karung lain di sekeliling Naya, membuat benteng karbon.
Truk berhenti total. Giliran mereka diperiksa.
Terdengar suara bentakan di luar.
"Selamat siang. Matikan mesin. Buka bak belakang."
Supir truk turun, terdengar gugup. "Muatan arang, Pak. Kotor, Pak."
"Buka aja."
Suara langkah kaki berat sepatu bot militer mendekat ke belakang truk.
Naya meringkuk di bawah tumpukan karung goni dan bongkahan arang. Dia menahan napas. Debu arang masuk ke matanya, tapi dia tidak berkedip. Reza bersembunyi di balik tumpukan paling tinggi di pojok depan, memegang pisaunya erat-erat.
Terpal dibuka. Cahaya matahari masuk.
"Cek pake detektor," perintah suara tegas di luar.
Naya mendengar suara beep-beep alat pemindai elektronik. Tongkat detektor itu disodorokan masuk, menyapu bagian atas muatan.
Alat itu mendekat ke posisi Naya.
Indikator di kaki Naya berkedip gila-gilaan di balik tumpukan arang. Getarannya sangat kencang, Naya takut suaranya terdengar.
ZZZZZT!
Alat detektor di luar tiba-tiba berbunyi nyaring.
TIIIIIIIIIIT!
Jantung Naya berhenti. Ketahuan.
"Ada logam, Ndan!" lapor petugas itu.
"Bongkar," perintah komandannya.
Tangan petugas itu mulai menarik karung arang yang menutupi Naya.
Naya memejamkan mata, siap untuk bertarung atau mati.
"Tunggu," suara supir truk menyela cepat. "Pak, itu mungkin sekop saya. Ketinggalan di dalem pas muat barang kemarin. Jangan dibongkar Pak, nanti bos saya marah arangnya hancur keinjek-injek."
Petugas itu berhenti. Dia melihat ke dalam bak yang penuh debu hitam pekat. Dia tidak mau seragamnya kotor. Dan alat detektornya memang menunjukkan logam, tapi sinyalnya tidak spesifik.
"Logam apa emangnya?" tanya petugas itu curiga.
"Sekop besi, Pak. Sama linggis."
Hening sejenak. Tegangan di udara begitu tinggi sampai rasanya bisa memicu ledakan.
"Ya udah. Jalan. Jangan bawa barang aneh-aneh," kata petugas itu akhirnya, malas berurusan dengan debu arang.
Terpal ditutup kembali.
"Makasih, Pak! Siap!"
Truk bergerak lagi.
Naya tidak berani bergerak selama sepuluh menit penuh. Dia tetap terkubur di bawah arang, gemetar hebat. Lampu di kakinya perlahan kembali ke ritme lambat seiring menjauhnya mereka dari scanner polisi.
Reza merangkak mendekat, menggali Naya keluar dari timbunan arang.
Wajah Naya sekarang benar-benar hitam legam, hanya matanya yang terlihat putih ketakutan.
"Kita selamet?" tanya Naya lirih.
"Selamet," Reza menyeka wajah Naya dengan ujung kaosnya, meski itu hanya meratakan noda hitamnya. "Arang lo berhasil, Bu Ilmuwan."
Naya duduk bersandar, menatap kaki kanannya.
"Za," kata Naya serius. "Scanner tadi... dia deteksi gue. Itu artinya, militer emang lagi nyari tanda tangan energi spesifik dari tubuh gue. Mereka tau gue bukan manusia biasa lagi."
"Kita harus lebih hati-hati di Jakarta," kata Reza. "Di sana CCTV di mana-mana."
Truk melaju kencang memasuki gerbang tol kota. Di kejauhan, siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta mulai terlihat samar di balik kabut polusi.
Hutan beton.
Bagi Naya, gedung-gedung itu terlihat seperti nisan raksasa. Tapi di sanalah satu-satunya harapan mereka berada.
"Pak Teguh," gumam Reza. "Apartemen Kalibata City. Itu tujuannya."
"Gimana cara kita masuk ke apartemen tanpa ID?"
"Kita pikirin nanti. Yang penting sekarang... kita butuh mandi lagi. Sumpah, Nay, lo kayak habis keluar dari tambang batubara."
Naya tertawa kecil, meski hatinya berat. Dia menatap kakinya yang diam. Benda ini bukan lagi sekadar alat bantu jalan. Ini adalah pemancar pelacak yang tertanam di tubuhnya.
Dia membawa bom waktu ke tengah ibukota.
(Bersambung ke Bab 25)