Om CEO, Lepaskan Aku-Habisi Saja Dia!-Bab 36

21 January 2026

Deg! Punggung Faris sontak menegak, memang benar apa yang dikatakan Krishna. Bukan hanya Bayu yang tidak ikut lembur semalam, tapi semua timnya memang tidak dia perintahkan untuk lembur.

“Umm ... yaa Pak Bayu punya tugasnya sendiri, Pa. Tadinya memang mau ikut lembur bersanaku. Tapi aku nggak tega karena sudah beberapa hari ini dia pulang malam terus, Pa. Jadi aku izinin dia nggak lembur dulu.”

Krishna menghela napas dalam. Lalu menggelengkan kepala. “Tetap saja kamu sudah berbohong, Faris. Dan Papa tidak tahu apalagi kebohonganmu.”

“Ya ampun, Papa. Ini hanya masalah kecil, jangan diperbesar.” Faris mengikuti Krishan yang sudah berjalan menuju pintu.

Krisna memegang knop pintu, tapi dia kembali membalik badan. “Bagimu mungkin ini hal kecil, tidak penting. Tapi bagi Papa ini adalah prinsip kepercayaan.” Krishna benar-benar membuka pintu dan pergi dari sana.

Faris mengepalkan kedua tangan dengan kencang. Dia bukan kesal karena bohongnya ketahuan, tapi dia marah pada Krishna yang menurutnya terlalu kaku dan selalu ikut campur urusannya. Meskipun ini memang perusahaan milik Krishna, tapi menurut Faris seharusnya dia juga punya hak sebagai pengambil keputusan.

Sepanjang hari itu di kantor Faris jadi tidak semangat kerja. Hatinya kesal sekali pada Krishna. Menurutnya sang paman yang sudah usia lanjut yang jalannya pun sudah dibantu tongkat, seharusnya duduk manis saja di rumahnya yang mwah. Faris ingin tanggung jawab perusahaan diserahkan saja padanya seluruhnya. Jadi dia punya hak penuh untuk mengatur seluruh operasional.

Tidak terlalu sore Faris sudah sampai di rumah. Mobilnya memasuki halaman rumah yang luas, diserahkannya kunci mobil pada satpam rumah untuk dimasukkan ke garasi.

Dengan raut wajah memberengut Faris berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Bertepatan dengan Astrid yang baru saja keluar kamar karena tadi dia melihat mobil sang suami dari balkon kamarnya.

“Mas Faris, sudah pulang,” sambutnya dengan senyum sumringah. Segera diambilnya tas kerja Faris dan menggelendot manja di lengan sang suami.

“Huft!” Faris masih dengan wajah menekuk, hanya menoleh sebentar pada sang istri. Padahal Astrid dengan sengaja telah merias wajahnya demi menyambut kedatangan suaminya.

Astrid mengusap lembut pipi suaminya. “Kenapa, Mas? Kayaknya capek banget, ya? Nanti habis mandi aku pijitin, ya?”

Faris kembali menghela napas dalam seraya berjalan masuk ke kamar. Dia duduk di sofa dekat jendela. Menghempaskan badan di sana sambil bersandar dan memejamkan mata.

Astrid menatap sendu sang suami, pikirnya karena terlalu capek lembur semalaman dan mungkin tidak sempat tidur, makanya Faris terlihat selelah itu. Dia ikut duduk di samping sang suami lalu mulai memijat pundaknya.

Faris membuka kedua mata, menoleh pada Astrid. “Sayang, aku sudah tidak tahan lagi.”

“Hemm? Maksudnya?” Astrid menegakkan punggung, dia begitu penasaran dengan maksud suaminya. “Tidak tahan apa, Mas? Apa ada masalah di kantor?” Kening Astrid mengernyit.

“Huft! Ini lebih parah. Masalahnya bukan hanya di kantor saja, tapi rasanya mengikutiku kemana saja!”

Astrid semakin cemas mendengarnya. “Mas, cerita sama aku. Ada apa sebenarnya?”

Faris mengacak rambutnya sendiri, dia menatap Astrid lekat-lekat. “Astrid, ini soal Papa. Sepertinya kita harus bergerak lebih cepat. Aku kesal sekali pada papa yang selalu mengaturku. Padahal aku ini kan direktur di kantor, tapi masih juga selalu disetir oleh papa! Kesal sekali rasanya, aku nggak dikasih kepercayaan sedikit pun. Aku ingin bebas dari pengaruhnya! Aku ingin berdiri sendiri!” Suara Faris terdengar menggebu.

Astrid mengusap pundak Faris. “Sabar, Mas. Kalau memang begitu, aku setuju sekali. Aku juga sudah nggak sabar ingin menjadi nyonya di rumah besar ini. Ingin bebas melakukan apa saja tanpa takut ketahuan papa. Aku juga ingin Zara tunduk kepadaku, Mas! Dan kalau dia tidak mau menurut padaku, maka aku bisa mengusirnya kapanpun aku mau!”

Faris mengangguk. “Oke, Sayang. Kita pasti bisa melakukannya.”

“Lalu Mas, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kamu punya rencana?”

Kedua bola mata Faris memicing tajam. Lalu dia mengangguk, begitu yakin. “Kita ubah rencana. Kita jangan terlalu fokus pada Zara lagi. Nyatanya sebenarnya dia tidak terlalu berbahaya. Zara akan lemah kalau tidak ada papa. Jadi ... kita langsung urus papa saja.”

Kedua bola mata Astrid langsung berbinar. Dia mengangguk beberapa kali. Tentu saja Astrid langsung setuju dengan ide Faris. Sebab itu juga yang beberapa kali terlintas di kepalanya. Menghabisi langsung pada intinya, yaitu pada Krishna.

“Kamu cerdas, Mas! Aku setuju! Ayo kita susun rencana untuk papa, habisi saja dia langsung! Sementara kita biarkan saja kancil kecil itu. Biar dia disibukkan oleh Arion. Tampaknya Zara cukup kerepotan dengan ulah-ulah Arion. Meskipun belum sampai berhasil mengusirnya.”

“Benar, Sayang. Kamu tenang saja, aku punya rencana. Papa yang sudah tua, tentu rentan dengan penyakit. Jadi, kita bisa celakakan dia dengan penyakit. Supaya tidak ada yang curiga pada kita.”

“Wuahhh! Bisakah begitu, Mas?”

Faris mengangguk mantap. Nanti malam aku akan bertemu dengan temanku. Dia seorang dokter. Aku yakin dia pasti membantuku. Secepatnya kita singkirakan di tua itu dan –“

Kalimat Faris terhenti karena merasa mendengar sesuatu. Segera Faris berjalan ke balkon diikuti Astrid. Pintu ke balkon yang terbuka membuat suara mobil di halaman depan terdengar.

“Itu papa pulang.” Faris membalik badan. “Astrid, kita harus berbuat seolah sangat memperhatikan kesehatan papa, supaya nanti tidak ada yang curiga pada kita.” Nada suara Faris agak berbisik, seperti takut akan terdengar oleh Krishna di bawah sana.

Astrid mengangguk setuju. “Kalau gitu Mas Faris mandi saja dulu. Nanti kan kita makan malam bersama. Sekarang biar aku menyambut papa dulu di bawah.”

“Oke Sayang.” Faris tersenyum.

Astrid segera keluar kamar beranjak ke lantai bawah. Langkahnya dipercepat. Tepat dia melihat Krishna berjalan melewati ruang tengah. “Papa, sudah pulang?”

“Ah iya, Astrid. Oh ya, Papa lihat mobil Faris di garasi. Sudah pulang rupanya dia.” Krishna duduk perlahan di sofa ruang tengah. Baru saja Astrid mau menjawab, terlihat Dewangga yang datang lalu meletakkan tas kerja di samping Krishna. Astrid melirik tidak suka pada Dewangga. Sebab pria tinggi itu bagaikan pengawal pribadi Krishna yang selalu ada.

“Hemm Dewangga, pulanglah. Besok pagi-pagi saya akan ke kantor lagi, kamu bisa datang, ya.”

Dewangga mengangguk. Lalu pamit dan pergi meninggalkan mereka berdua. Astrid sengaja sejak tadi tidak memandang wajah Dewangga, justru dia seperti memunggunginya. Astrid enggan berinteraksi dengan Dewangga.

“Astrid, benar Faris sudah pulang?” tanya Krishna lagi.

Astrid segera mengangguk dan tersenyum. “Ah iya Pa, benar. Baru saja sampai dan sekarang sedang mandi. Oh ya, Papa mau istirahat dulu di sini sambil minum minuman hangat atau mau langsung mandi. Kalau mau mandi biar aku saja yang siapkan air hangatnya di kamar Papa. Mungkin Papa mau berendam dulu?’

Krishna menggeleng. “Papa mau istirahat dulu sebentar di sini. Kamu tolong bilang pada pelayan, Papa mau dibuatkan teh jahe, ya. Lalu juga kalau suamimu sudah selesai mandi, suruh kesini sebentar. Ada yang mau Papa bicarakan!”