Suro Dlemok (Misteri Boneka Melayang) - Bertemu Putri Eliza - Bab 6

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

Revan kembali ke kontrakan. Seperti hari-hari biasanya, saat melewati gang sempit itu, dia merasa ada yang mengikutinya. Namun, saat dia menghentikan langkah kakinya, suara yang mengikutinya pun berhenti. Begitu pun seterusnya. Hingga dia melirik ke arah belakangnya, tapi dia tidak menemukan seseorang pun yang berjalan atau mengintainya.

“Hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada,” ucapnya berulang kali sambil memejamkan matanya. Dia hanya diam tanpa bergerak sambil terus menerus mengucap kalimat itu, berharap hantu yang mengganggunya itu pergi.

Kemudian, dia perlahan-lahan membuka matanya. Lalu memberanikan dirinya untuk mengecek area belakangnya. Namun, masih tetap tidak ada apa-apa, ia hanya melihat tempat sampah dan pot bunga yang berukuran besar. 

Setelah Revan memeriksanya lebih lanjut, dia tidak menemukan benda apa pun atau seseorang di sana. Hal itu membuatnya tak karuan, lalu berlari menuju ke kamarnya. Sebenarnya ada pikiran untuk pindah kontrakan, tapi selalu saja dia urungkan, karena sudah nyaman tinggal di tempat itu, meski gang masuknya angker.

Beberapa bulan pun berlalu, kejadian yang ia alami terus berlanjut, setiap dia memasuki gang, selalu ada sesuatu yang mengikutinya. Hal itu tetap berlanjut, hingga pada suatu ketika, saat Revan membuka pintu kamarnya. Dia melihat sosok yang menyeramkan. 

“HA-HA-HANTU!” teriak Revan melihat sosok seram berbaju putih di kamarnya. Wajahnya hancur berantakan dan bersimbah darah. Rambutnya hitam dan panjang membuat kesan semakin menyeramkan. Revan yang saat itu baru masuk ke kamarnya secara spontan melompat menuju kasurnya. Dia sangat ketakutan, karena baru pertama kali bisa melihat hantu secara nyata. 

Revan yang sedang ketakutan menutup dirinya menggunakan selimut. Badannya bergetar akibat rasa takutnya yang luar biasa. 

Sosok hantu itu membuka selimut persembunyian Revan dengan paksa dan tersenyum jahat. Lalu dia melempar selimut yang dipakai Revan ke lantai. 

“Tu-tu-tuan hantu, jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup. A-a-a-aku belum jadi orang kaya dan belum juga menikah. Aku tidak mau mati sekarang,” ucap Revan dengan gugup. 

“Hantu? Di mana?” kata Sosok seram yang lambat laun mengubah dirinya menjadi seorang wanita cantik. Dia menoleh ke belakangnya karena tidak tahu kalau hantu seram yang dimaksud itu adalah dirinya. 

“He! Jangan takut. Mana hantunya, akan aku lawan dia!”

“Kamu sendiri yang hantu, bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?! Padahal aku sudah mengunci rapat kamarku! Harusnya kau tidak bisa masuk!” seru Revan tidak berani melihat wanita itu. 

Sosok hantu wanita itu diam sejenak, lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Revan kaget. 

“Kamu jangan sembarangan ya, kita ini sudah menikah dan sudah menjadi suami istri.”

“Menikah?! Suami istri?! Kapan aku menikah?!” celetuk Revan dengan kebingungan dan belum berani melihat wajahnya. Dia pikir, mana mungkin menikah dengan sosok hantu yang menyeramkan.

“Coba kamu ingat-ingat kejadian beberapa bulan yang lalu!”

“Kejadian kapan?” tanya Revan yang belum memahami perkataan hantu wanita itu. 

“Mungkin kau sudah lupa, ya. Coba ingat, saat kamu melihat insiden kecelakaan truk yang menewaskan dua orang,” ujarnya membujuk Revan untuk mengingatnya kembali. 

Ingatan masa lalunya pun tergambar pada otaknya. Saat itu, dia bersama Eko melihat ada kecelakaan. Karena Revan takut, dia pun ingin buang air kecil.

Dia teringat dengan ujian praktik ijab kabul yang ditugaskan oleh dosennya. Lantas, dia berlatih melakukan Ijab Kabul dengan sebuah pohon yang tak jauh dari tempatnya kencing. Revan orangnya memanglah pemalu dan penakut. Meskipun hanya latihan dengan pohon besar, dia masih saja gugup dan belum lancar mengucap ikrar. 

‘Bagaimana caranya agar fasih ya? Padahal ujian praktik dilakukan besok,’ gumamnya dalam hati. 

Pada saat itulah dia melatih dirinya agar tidak gugup. Niatnya hanya pura-pura saja dan memegang batang pohon seolah sedang bersalaman. 

“Saya terima nikah dan kawinnya Fulanah binti Fulan dengan mas kawin seperangkat alat salat dengan uang nominal satu juta rupiah untuk diri saya sendiri dibayar tunai.” 

Revan mengatakannya dengan lancar saat itu. Setelah itu, dia juga merasakan ada angin yang berembus lembut menerpa wajahnya.

“Aku baru saja mengingatnya,” ujar Revan kepadanya. 

“Baguslah kalau begitu. Tapi kamu tahu tidak?” 

“Tahu bagaimana?” 

“Pohon itu sebenarnya tempatku berdiam. Aku berada di depanmu karena menyukaimu. Ikrar yang kamu serukan itu pun disaksikan oleh beberapa hantu yang berada di sana, meskipun dilakukan pada saat pagi hari, sehingga secara batiniah, pernikahan itu sudah sah,” ungkapnya.

“Sudah sah?! Tapi itu kan cuma bohongan semata. Mana mungkin punya istri dari alam yang berbeda?!” sangkal Revan yang merasa tidak mungkin memperistri dengan wanita beda alam. 

“Itu karena ulahmu sendiri,” cecarnya.

“Ulahku? Lantas, mulai kapan kamu menyukaiku?”

“Saat kamu pipis, aku melihat punya kamu gedhe banget,” kata hantu wanita itu sambil tersenyum. 

“Hah?! Maksudmu, Joniku? Kok bisa?” tanya Revan kepadanya. Namun, sosok hantu wanita itu diam saja. Cukup lama, Revan berdiam diri di dalam selimut untuk bersembunyi dari hantu tersebut. Tidak ada suara lagi darinya.

Revan memberanikan dirinya untuk melihat sosok hantu wanita itu, dia pikir hantu itu sudah pergi. Ternyata dia masih berada di belakang Revan. Namun, wajahnya sudah tidak menyeramkan seperti tadi. Dia seperti layaknya manusia biasa dengan kecantikan bak artis Korea. Seketika, Revan pun berubah pikiran, yang tadinya takut, sekarang menjadi bahagia, karena di dekatnya ada sosok wanita cantik.

“Jadi, kita sudah suami istri?” tanya Revan memastikan. 

“Tak usah bertanya lagi karena aku sudah menjelaskannya tadi.”

“Aku ingin tahu nama kamu,” pinta Revan.

“Panggil aku Putri Eliza. Kamu sendiri Revan kan?” 

“Bagaimana bisa kau tahu namaku?” 

“Iya tahu. Kan kamu suamiku,” ucapnya. 

“Suami? Istriku seorang hantu?” cetus Revan sambil mencoba meraih tangannya. Revan merasakan tangan yang halus dan tidak tembus menandakan kalau dia bukanlah hantu sembarangan. 

Revan menampar-nampar pipinya sendiri untuk membuktikan apakah hal itu merupakan kenyataan. Namun, setelah dia menampar dirinya sendiri, lalu dia bangun dari tidurnya. 

Rupanya kejadian itu hanya mimpi. Dia coba memeriksa sekali lagi apakah masih berada dalam dunia mimpi dengan menampar pipinya lagi. Tapi dia merasa kesakitan karena ulahnya sendiri. 

“Mimpi tadi kok kaya beneran ya? Apa memang benar, setelah ijab kabul bohongan, sosok itu selalu datang ke mimpiku,” kata Revan bermonolog. 

Keesokan harinya, dia mengatakan hal itu kepada Eko. Dia adalah sahabat sejatinya yang tahu dan suka membahas hal gaib. Awalnya Eko tertawa dan tidak percaya. 

“Mana mungkin, kau jangan mengada-ada, hantu itu jadi istrimu?” ledek Eko.

“Aku pun tidak tahu,” jawab Revan.

“Dengarkan baik-baik, kau itu laki-laki. Kalau kau menikahi hantu, rezeki namanya.”

“Dahlah, percuma saja curhat sama kamu.”

Revan pulang ke kontrakan, setiap pulang dari kuliah dan memasuki gang, dia pasti merasa ada yang mengikuti. Namun, Revan tidak menghiraukan hal itu dan terus melangkah saja, memberanikan dirinya.

Malam harinya, Revan pun tertidur dan kembali bermimpi ketemu wanita yang sama. Meskipun hanya mimpi, dia sadar betul dan mencoba bertanya kepadanya lagi. 

“Mengapa kamu selalu mendatangi aku?” tanya Revan. 

“Aku kan sudah bilang, kita berdua sudah suami istri. Masa tidak boleh setiap malam bertemu?”

“Iya, maksudku begini. Dunia kita kan berbeda. Kalau kau menjadi istriku, aku pasti tidak bisa menjagamu kalau kita beda alam,” ucap Revan yang mulai berani bertatap muka dengannya. 

“Aku tidak perlu kau jaga, setiap malam bisa bertemu kamu pun aku sudah senang.” 

Terlintas ide gila pada pikiran Revan. Namun, hal itu sangat berisiko kalau dia mengungkapkannya. Apalagi, Revan menyadari kalau saat itu, dia berurusan dengan makhluk gaib.

“Putri, aku boleh minta sesuatu, ga?”

“Sesuatu apa, Revan?”

“Kalau begitu, coba kamu ....”