“Kalau begitu, coba kamu ke dunia manusia dan temui aku di dunia nyata, apa bisa?” tantang Revan.
“Oke, siapa takut. Tapi kau harus turuti dua syaratku,” sahutnya menyetujui tantangan Revan.
Dalam hati Revan, mana mungkin makhluk gaib bisa masuk ke alam manusia. Begitulah pikiran yang terlintas pada otak Revan.
“Aku tidak yakin kamu bisa masuk ke alam manusia,” ledek Revan.
“Apa kau ragu kalau aku bisa melakukannya? Itu gampang, kalau aku masuk ke duniamu, aku akan memakanmu.”
“Memakanku? Tidak mungkin. Lebih baik jangan lakukan itu, soalnya dagingku pahit!”
“Aku pun ga doyan dengan dagingmu, aku mau mengajukan dua syarat padamu kalau kamu mau aku masuk ke duniamu.”
“Oke, syaratnya apa?”
“Dengarkan baik-baik.”
“Iya, aku siap mendengarkanmu.”
“Aku punya dua syarat yang harus kamu penuhi. Pertama, bantu aku menemukan boneka Lulu kesayanganku yang telah meneror manusia. Boneka itu sudah dirasuki oleh iblis yang tidak bertanggung jawab. Kedua, bantu aku membalas dendamkan kematianku dan semua keluargaku. Aku tidak tahu mereka siapa. Namun, aku melihat lambang bunga mawar berwarna biru pada dada kirinya. Kamu manusia pasti akan mengetahuinya,” ujar Putri Eliza.
“Lantas, mengapa arwahmu masih gentayangan didunia?”
Putri Eliza tiba-tiba lenyap dari pandangan Revan. Dia belum sempat menjawab pertanyaan Revan sudah pergi dulu.
“Dasar hantu koplak, tiba-tiba ngilang aja! Aku sebenarnya masih penasaran dengannya!”
Setelah itu, Revan kembali terbangun dari mimpinya dan mendapati kalau dirinya bangun kesiangan. Lalu dia bergegas berkemas untuk pergi kuliah seperti biasanya.
Dalam perjalanannya, dia masih memikirkan mimpi yang dia alami.
‘Mengapa mimpinya terus menerus sama?’ gumamnya dalam hati.
Pagi itu Revan berangkat kuliah seperti biasanya. Sesampainya di kampus, seperti biasa dia bertemu dengan teman sejatinya, Eko.
“Ayo, antar aku ke tempat kecelakaan!” ajak Eko.
“Kecelakaan apa maksudmu?”
“Saat kita berdua pulang dari observasi hutan lindung.”
“Ada perlu apa kamu ingin ke sana lagi?” tanya Revan merinding.
“Aku masih penasaran dengan nama Suro Dlemok itu apa? Kayaknya berbau mistis banget, aku ingin tahu sejarahnya. Aku juga penasaran dengan rumor boneka terbang itu. Sepertinya keren sekali.”
“Keren gundulmu peang. Kalau boneka itu menyerang nyawa kita bagaimana? Kita kan masih muda, perjalanan masih jauh. Aku ga mau mati dulu deh.”
“Kamu aja penakut. Makanya, jangan suka menonton film horor berlebihan. Mana mungkin ada hantu yang bisa membunuh. Palingan cuma meneror saja dan menakut-nakuti aja kerjaan mereka.”
“Ada lho, hantu yang membunuh, kamu saja yang belum tahu.”
“Coba kalau kamu tahu, di mana ada hantu membunuh manusia?” tanya Eko.
“Di Film,” jawab Revan singkat.
“Anjay ... kamu kebanyakan nonton film fiksi ya begini jadinya.”
Setelah Itu, Revan menceritakan kepada Eko, kalau setiap masuk gang yang menuju ke kontrakannya, pasti ada yang mengikuti langkah kakinya.
“Tidak ada hantu. Nanti setelah pulang, aku ikut ke kontrakanmu untuk membuktikan,” ucap Eko.
“Oke, tapi kalau kau mendengar suara langkah kaki di belakangmu, kuharap kamu jangan lari!”
“Tenang saja, aku tidak akan takut. Malahan akan kutantang dia adu jotos.”
Pulang dari kuliah, Eko menemani Revan menuju ke kontrakannya. Sampailah di gang yang menurut Revan itu angker.
Meskipun bukan malam hari, tapi Revan merasa selalu saja diikuti oleh entah apa itu. Revan sudah yakin, pasti ada yang mengikutinya lagi siang itu.
Eko berhenti sejenak dan coba merasakan sesuatu dengan indranya.
“Lho, tidak ada apa-apa di sini,” cela Eko membuktikan kebenarannya.
“Masa, biasanya pasti terdengar suara kaki yang mengikutiku, tapi entah kenapa sekarang kok tidak ada,” sangkal Revan.
“Makanya, kamu jangan suka nonton film bi ...,” umpat Eko belum selesai bicara.
“Biru, maksud kamu?” tanya Revan memotong pembicaraan Eko.
“Film bioskop horor maksudku.”
“Baiklah, kamu sekarang boleh kembali,” ujar Revan dengan nada mengusir.
“Oke, padahal aku ingin masuk ke kamarmu dan memeriksanya apakah ada hantu di sana.”
“Tidak usah, nanti malah adu pedang. Cepat sana kembali, hus ... hus ...,” kata Revan mengusirnya.
“Baiklah, kalau kamu melihat hantu, telepon aku ya.”
“Oke, siap.”
Setelah bayangan Eko pergi, Revan belum beranjak dari gang itu. Dia ingin membuktikan sekali lagi di saat dia berjalan sendirian, apakah masih ada langkah kaki yang mengikutinya?
“Hantu itu ke mana ya? Kok saat aku bersama Eko, tidak ada langkah kakinya ya? Apakah itu ada sangkut pautnya dengan wanita yang selalu datang ke mimpiku?” ucap Revan bermonolog. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya terfokus pada hantu itu. Dia punya niat ingin bertemu dengannya lagi.
Sementara itu, Eko justru memikirkan hal yang lain, dia masih penasaran dengan yang namanya Suro Dlemok itu. Kenapa jalan itu dinamai dengan nama yang aneh? Adakah sejarah kelam di sana?
Itulah beberapa pertanyaan yang membuatnya ingin sekali lagi ke sana, tapi dia belum ada waktu luang akibat banyaknya tugas mata kuliah yang harus dikerjakan. Sehingga dia tunda sampai ada kesibukannya selesai.
Sementara di sebuah kampung
Boneka melayang masih terus membuat teror kedua kampung yang letaknya tidak jauh dari tanjakan Suro Dlemok.
Meskipun boneka itu muncul hanya malam hari, tapi sangat meresahkan warga Dukuh Suropati dan Dukuh Surodadi yang hampir setiap malam melihat penampakannya.
Tidak hanya itu saja, hantu yang hanya kepala pun ikut meresahkan para warga. Berbagai cara dilakukan, tapi belum bisa mengusir atau mengalahkan hantu tersebut.
Menjelang Magrib, ada dua anak kecil yang ingin bermain. Hal itu sebenarnya dilarang, karena anak kecil tidak diperbolehkan keluar rumah setelah petang, karena sangat berbahaya untuk keselamatan nyawanya.
Berhubung keduanya sudah ada janji, mereka tidak menghiraukan larangan orang tuanya. Sehingga, keluar diam-diam lewat pintu belakang, agar tidak ketahuan oleh orang tuanya. Pada akhirnya, mereka berdua bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati.
“Ayo, kita bermain kembang api, tadi sore aku sudah beli banyak,” ajak anak yang gendut.
“Asyik, kalau main kembang api dimalam hari kan lebih seru, daripada siang harinya,” sahut temannya.
Mereka berdua menyalakan kembang api mini dengan korek yang sudah disediakan dari rumah. Kembang api itu menyala terang
Dengan perasaan gembira, mereka pun memainkan kembang api itu tanpa menghiraukan akibat yang akan terjadi jika keluar saat malam hari.
Tidak ada orang yang melintas saat itu juga, karena para warga lebih memilih diam di rumah masing-masing, daripada menjadi santapan hantu yang meneror kampungnya.
Tiba-tiba, angin yang aneh pun berembus. Pohon kelapa yang tadinya diam pun menjadi bergoyang akibat angin itu.
Sementara itu, mereka berdua tidak merasakan keanehan dan masih asyik bermain kembang api.
Hingga pada akhirnya, sebuah boneka aneh berada di antara mereka tanpa disadari sebelumnya. Boneka tadi muncul di tengah-tengah mereka berdiri. Kedua matanya melotot dan rambutnya berwarna merah menyala. Lalu boneka itu tersenyum menyeringai, menandakan kalau kedua anak itu akan dijadikan santapan makan malamnya.
“Lari ...!”
Mereka berdua berlarian menyelamatkan dirinya. Namun, sudah terlambat. Boneka tersebut sudah berhasil mencegatnya, lalu menyerang leher anak itu dan seketika lehernya terputus. Tubuh dan kepala bocah tadi terpisah, membuat kepalanya menggelinding dengan bersimbah darah.
Serangan pun berlanjut, boneka itu mencari keberadaan anak satunya yang kemungkinan sedang bersembunyi.
Rupanya anak itu bersembunyi di bawah pohon yang rindang yang di kelilingi semak belukar.
Badannya bergetar akibat rasa takut yang luar biasa. Dia pun mengertakkan giginya akibat rasa takut pada dirinya. Karena sedang dicari oleh boneka setan, dia tidak mungkin dia berlari begitu saja, karena boneka itu bisa saja langsung membunuhnya.
“Ibu ... Ayah ... maafkan aku yang keluar rumah tanpa izin,” ucapnya dengan lirih.
Boneka itu masih belum menemukan keberadaannya. Lalu, yang terjadi selanjutnya adalah ....