Om CEO, Lepaskan Aku!-Akal-Akalan Arion-Bab 37

21 January 2026

“Baik, Pa.” Astrid segera melangkah ke dapur bersih yang menyatu dengan ruang bar di bagian belakang rumah.

“Papa!”

Krishna menoleh dan langsung tersenyum. Melihat kedatangan putri kesayangan dengan senyum merekah di wajah cantiknya.

“Hai Sayang.” Kedua tangan Krishna langsung membentang. Pelukan manja dari Zara membuat lelahnya hilang seketika.

“Selamat sore, Pak Krishna.” Suara bariton khas itu membuat keduanya menoleh. Suara yang sudah dihapal Zara bahkan tanpa harus melihat wajah pemiliknya.

Krishna langsung tersenyum hangat sedangkan Zara justru sebaliknya. Wajah sumringahnya berubah merengut. BIbir merah muda mengerucut lalu mendengkus malas.

“Om Arion! Ngapain kesini?! Tadi katanya kan abis anterin aku mau langsung pulang. Aku kan mau libur les piano hari ini, Om!” Sungguh, Zara tidak bisa berbasa-basi atau mencoba sedikit manis di depan lelaki ini.

Krishna geleng-geleng kepala. “Kamu ini gimana sih, Ra! Sudah dianterin pulang bukannya ditawari masuk dulu kok malah diusir begitu. Nggak sopan dong, Nak.”

“Bukan salah Zara juga, Pak. Tadi saya memang berniar mau langsung pulang karena sehabis dari sini ada meeting penting lagi dengan pejabat daerah, mau membahas acara sosial yang akan disponsori oleh Nawasena. Tapi ya ini loh ... mobil saya malah nggak mau hidup tadi.”

“Hah?!” Zara dan Krishna sama-sama terkejut. Tapi tidak dengan Astrid yang sedang berjalan dari arah dapur, dia ikut mendengar ucapan konyol Arion dan dia tahu pria itu sedang berbohong. Hanya supaya dia bisa lebih lama di sini.

“Bagaimana bisa mobil bagus begitu tiba-tiba mogok?! Tadi baik-baik saja kok di jalan!” Zara menatap penuh curiga pada Arion.

“Yang namanya musibah siapa yang tahu sih, Ra. Mas Arion ini pasti sangat sibuk sehingga nggak sempat sevice mobilnya, kan bisa saja begitu. Kasihan loh Ra, sudah antar kamu malah sekarang nggak bisa pulang.” Astrid memberikan gelas minuman hangat pada Krishna lalu dia beralih pada Arion. “Duduk saja dulu, Mas. Ada minuman hangat, bisa dinikmati sambil mengobrol santai.”

Arion mengangguk dengan gayanya yang dibuat begitu berwibawa. “Yahh sebenarnya saya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Tapi kalau memang dipaksa, saya tidak bisa menolak. Pantang bagi saya menolak satu kebaikan.” Kemudian dia duduk di salah satu sofa.

"Siapa juga yang maksa," desis Zara pelan.

“Oh ya ampun, jadi mobilmu mogok? Faris pasti punya tekhnisi langganan, nanti biar diurus oleh Faris. Ya benar kata Astrid, sekarang lebih baik kita ngobrol-ngobrol santai dulu sambil menikmati minuman hangat.”

Mendengar ucapan sang papa, Zara langsung memutar kedua bola mata dengan malas. “Aku ke kamar dulu, Pa. Mau mandi.” Tanpa menunggu jawaban papanya, Zara langsung beranjak dari sana menuju lantai dua.

Di tangga dia bertemu dengan Faris yang akan turun.

“Baru pulang Zara?”

“Iya, Mas.” Dia terus melangkah tapi kemudian berhenti dan membalik badan. “Mas!”

Faris ikut menghentikan langkah. “Iya?”

“Di bawah ada Om Arion. Kata dia sih mobilnya mogok, tapi aku nggak yakin, kayaknya dia bohong deh. Kata papa, Mas Faris punya kenalan tekhnisi yang bisa betulin mobilnya Om Arion. Umm kalau bisa cepat ya, Mas. Supaya om-om itu cepat pulang dari sini.”

Faris terkekeh pelan. “Iya, Ra.”

Zara tersenyum senang, dia kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Faris masih menatap punggung Zara beberapa saat, lalu dia berjalan kembali.

“Pa, Mas Arion,” sapa Faris hangat. Lalu ikut duduk bersama mereka.

Tidak lama kemudian seorang pelayan tampak meletakkan gelas minuman untuk Arion dan Faris. Tadi memang Astrid memerintahkan pada pelayan untuk membuatkan minuman itu. Sekarang Astrid sendiri sedang di dapur mengawasi chef dan pelayan yang sedang menyiapkan menu makan malam.

Dari ruang tengah terdengar obrolan seru yang disertai canda tawa. Seraya menikmati minuman yang sudah hampir tandas di gelas masing-masing.

“Oh ya Faris, sampai lupa kan, coba kamu telepon tekhnisi langgananmu. Suruh dia kesini untuk bantu cek mobilnya Arion. Kasihan kalau sampai tidak bisa pulang.”

Faris mengangguk menurut. Dia agak menjauh dari sana, mengeluarkan handphone dari saku celananya. Lalu berpura-pura seperti sedang menelepon seseorang, padahal tidak.

Lalu Faris membuat ekspresi putus asa di wajahnya. Dia kembali ke sofa. Duduk di sana seraya mendengkus pelan.

Obrolan Krishna dengan Arion langsung terhenti. Faris mendongak, menatap mereka lalu menggeleng perlahan. “Sayang sekali, terkhnisi langgananku kebetulan sedang ada di luar kota. Dan aku tidak percaya pada tekhnisi lain. Dia yang paling berpengalaman dan teliti. Setidaknya hemm ... kita harus menunggu sampai besok.”

“Besok? Aduh, kasihan sekali Nak Arion. Pasti akan banyak pekerjaan tertunda karena ini?” Krishna menatap iba pada Arion yang justru terlihat santai saja.

Arion tersenyum. “Umm sebenarnya, sisa pekerjaan sore ini bisa terhandle oleh wakil saya di kantor. Saat ini saya hanya khawatir pada mobilnya saja kalau sampai harus ditinggal.” Arion melirik sebentar pada Faris.

Faris menaikkan kedua alis. Dia langsung mengerti ke arah mana maksud kalimat Arion. Bibirnya tersenyum tipis. “Nah! Kalau begitu menginap saja di sini. Besok aku minta tekhnisiku datang pagi-pagi kesini, bagaimana?” Faris menatap Arion dan Krishna bergantian.

Krishna mengangguk-angguk. “Ah, benar juga yang dikatakan Faris. Nak Arion, menginap saja di sini malam ini, ya? Nanti akan disiapkan kamar tamunya.”

Arion berdeham pelan. “Hemm bagaimana, yaa ... sebenarnya saya tidak enak hati selalu merepotkan Pak Krishna tapi yaa sekali lagi, kalau memang dipaksa, saya tidak bisa menolak.”

Krishna terkekeh, lalu dia memanggil pelayan dan minta disiapkan kamar tamu utama. Kamar yang sebelumnya sudah pernah juga ditempati oleh Arion.

Kepala pelayan datang, memberitahukan pada semuanya bahwa makan malam telah siap.

“Baiklah. Oh ya, jangan lupa panggilkan Zara untuk turun makan malam bersama. Saya tunggu di ruang makan.”

“Baik, Tuan.” Kepala pelayan beranjak dari sana dan memerintahkan pada anak buahnya untuk memanggil sang nona muda.

“Nah, Nak Arion, kita makan malam sebentar lagi, ya. Sekarang habiskan dulu minumannya, sambil menunggu Zara turun. Anak itu mandinya sih cepat, tapi setelah mandi malah malas-malasan di kasur.” Krishna kembali terkekeh mengingat kebiasaan sang putri tunggal.

“Papa, aku mau ke kamar mandi sebentar.” Faris segera meninggalkan ruang tengah. Dia terus berjalan ke arah ruang belakang, tapi bukannya terus ke kamar mandi yang letaknya di lorong menuju taman, tapi Faris justru berbelok ke arah dapur bersih yang menyatu dengan bar.

Faris celingukan, tidak ada siapapun di ruangan itu. Diambilnya satu gelas kaca, dia membuat teh manis hangat. Namun setelah siap, dia menuangkan sesuatu ke dalam gelas itu.

Faris tersenyum tipis, menatap gelas di atas baki. “Pelayan!”