Boneka itu masih belum menemukannya. Lalu, yang terjadi selanjutnya adalah boneka tadi merasakan bau manusia tak jauh dari persembunyiannya. Kemudian, ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon kelapa. Suara yang ditimbulkan terdengar aneh, kemungkinan benda bulat dengan bobot yang berat.
Kebetulan, jatuh tepat berada di depan bocah tersebut. Lalu, dengan penasaran, dia memeriksanya.
Akan tetapi, dia kaget, karena benda jatuh tersebut adalah kepala manusia. Kepala itu milik temannya sendiri yang sudah terputus dari badannya. Matanya yang melotot, serta mulutnya yang menganga membuat bocah itu ketakutan. Entah kenapa kepala milik temannya bisa jatuh tepat di depannya.
Sontak, dia kaget, lalu berlari dari tempat persembunyiannya menuju rumahnya, dia berusaha lari dengan cepat agar hidupnya bisa selamat.
Sungguh sialnya, boneka setan tadi mengetahui keberadaannya, dia mengejarnya dengan melayang. Lalu, langsung menerkam lehernya dari arah belakang hingga putus, seperti korban awal. Kepala dan tubuhnya terpisah, menggelinding seperti bola ke permukaan yang lebih rendah. Darah dari lehernya pun bercucuran membanjiri tubuhnya.
Kejadian malam tersebut sangat tragis, karena kedua bocah itu mati mengenaskan akibat serangan dari boneka setan. Makhluk itu membunuh siapa pun yang dia temui tanpa ampun, tujuannya untuk membalaskan dendam majikannya yang terbunuh.
Setelah mendapatkan tumbal incarannya, boneka itu melayang menuju sosok hantu wanita berambut panjang yang duduk di atas pohon nangka. Kemudian, dia terbang dengan tertawa cekikikan yang mengerikan.
Suara hantu itu sangat menyeramkan. Kemungkinan dia akan mengincar tumbal lagi di malam berikutnya.
Keesokan paginya, jasad kedua bocah itu ditemukan oleh warga kampung, mereka bergidik ngeri karena melihat jasad kedua bocah itu yang kepalanya putus. Apalagi untuk bocah yang satunya kepalanya hilang entah ke mana.
Setelah dicari, akhirnya ditemukan di bawah pohon kelapa dengan kondisi mata yang melotot, mulut menganga dan darah yang sudah mengering. Bau yang tidak sedap pun dirasakan oleh para warga kampung.
Kedua orang tuanya menangis meratapi nasib anaknya yang sudah tak bernyawa. Mereka tidak tahu kalau anaknya keluar rumah tadi malam. Kalaupun mereka tahu, pasti akan melarangnya untuk keluar malam-malam.
Kabar kematian kedua bocah itu di dengar oleh Kepala Desa, dia tidak percaya akan keanehan itu dan berusaha untuk membuktikannya sendiri. Tak hanya Kepala Desa, beberapa pelosok desa pun sudah mengetahui kabar itu dan tidak memperbolehkan keluar malam apa pun urusannya.
Di tempat lain, Maman sedang berusaha menyembuhkan anaknya yang sudah lama bertingkah aneh akibat serangan boneka setan. Dia membawa anaknya berobat ke Supranatural agar sikapnya kembali normal seperti sedia kala.
Sebenarnya Maman bersyukur karena nasib anaknya tidak seperti nasib kedua bocah itu yang mati mengenaskan.
Praktisi itu melakukan aksinya, dengan kekuatan supranaturalnya, dia mengusap-usap kening bocah itu untuk menerawang apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kondisi bocah itu selalu bertingkah aneh. Setelah Praktisi itu selesai menerawang, kondisi bocah itu cukup membaik.
“Bagaimana dengan anak saya?” tanya Maman kepada praktisi supranatural.
“Jiwa anakmu sudah hilang separuh akibat terkena serangan boneka siluman itu,” katanya setelah melakukan penerawangan ke dunia gaib.
“Lantas, bagaimana caranya agar jiwa anakku bisa kembali?”
“Tidak ada cara lain lagi, kau harus menangkap dan memusnahkan boneka itu secepatnya, sebelum terlambat dan dia akan mencari tumbal selanjutnya, korban lain pun akan segera menyusul anakmu dan bernasib sama, malahan ada yang akan mati seketika. Target utamanya adalah anak-anak dan remaja, tapi tidak menutup kemungkinan menyerang orang dewasa juga.”
“Anak-anak dan remaja? Kenapa boneka itu mengincar mereka?”
“Entah ... aku tidak tahu sepenuhnya, kondisi anakmu sudah cukup membaik, kau harus berikan air ini kepada anakmu. Sebagian letakkan pada sudut rumah agar hantu itu tidak masuk ke rumah," kata Praktisi itu. Maman pun mengambil air itu untuk dibawanya pulang. Lalu memberikan amplop kepada Praktisi itu.
“Saya butuh bantuan untuk mengatasi teror boneka itu, apakah kau bisa melakukannya?”
“Maaf, aku tidak bisa. Ilmuku tidak mungkin bisa mengalahkannya. Aku hanya praktisi penyembuhan, bukan seorang dukun yang sakti. Lebih baik kau cari orang pintar lain yang lebih sakti lagi,” ujarnya memberi saran.
“Baiklah, aku akan melakukannya sebelum terlambat,” jawab Maman, lalu pamit untuk kembali ke rumahnya.
Maman pun kembali ke kampungnya bersama anak laki-lakinya, dia membawa sebuah air yang dibungkus dengan plastik yang tujuannya untuk pengobatan anaknya. Tidak hanya itu saja, air itu pun harus di letakkan di sudut rumah agar dijauhkan dari hal gaib.
Setelah sampai di kampungnya, dia kaget melihat keramaian, karena banyak orang sedang berdemo. Di depan rumah Kepala Desa, banyak orang yang sedang berkerumun sambil teriak-teriak ke Kepala Desa.
“Ada apa ini?” tanya Maman kepada salah seorang warga.
“Banyak anak-anak bertingkah aneh seperti orang gila,” jawab salah seorang temannya.
“Ada juga yang tewas dengan kepala terputus seperti kejadian sebelumnya,” ungkap warga lainnya.
“Di kampung Surodadi pun ada kejadian seperti itu?” tanya Maman tidak percaya, rupanya teror itu tidak hanya menyerang kampungnya saja, melainkan kampung tetangga juga.
Sehingga, para warga protes kepada Kepala Desa karena teror dari boneka terbang itu. Mereka mengusulkan kalau Kepala Desa harus turun tangan ikut ronda malam. Dia harus menyaksikan sendiri boneka yang terbang mencari mangsa selanjutnya.
“Tenang dulu wahai wargaku. Boneka setan itu tidaklah ada. Anak-anak bapak-ibu bertingkah aneh karena takut, ada yang menyebarkan isu boneka setan itu. Mengakibatkan anak-anak ketakutan dan mengalami trauma berkepanjangan,” dalih Kepala Desa yang tidak percaya dengan hal gaib.
“Kami tidak setuju dengan pendapat Kepala Desa!” seru salah satu warga.
“Lantas bagaimana? Kampung yang kami tinggali sudah tidak aman. Pak Ustaz satu-satunya orang yang bisa menangani teror itu masih belum kembali. Demikian pula, dukun Paijo yang tinggal di tengah hutan sudah tewas.” Tiba-tiba Pak RT Bejo memasuki kerumunan orang itu. Rupanya dia ikut melakukan protes agar Kepala Desa secepatnya melakukan tindakan.
Banyak orang-orang yang kaget setelah mengetahui fakta kalau dukun itu sudah binasa.
“Pak RT, dari mana kau tahu dia telah tewas?” tanya salah seorang warga dari kampung Surodadi.
“Aku dan Kang Maman sempat ingin menemuinya untuk mengatasi teror ini. Namun, setelah sampai di kediamannya, tubuhnya sudah dikerumuni lalat dan belatung. Kalau tidak percaya, tanya saja sama dia?” suruh Bejo melirik ke arah Maman.
Perhatian pun tertuju ke Maman yang sedang menuntun anaknya.
“Apakah itu benar, Kang Maman?” tanya orang itu memastikan.
“Iya, benar kata Pak RT,” ujar Maman sepihak dengan Bejo.
“Lantas bagaimana Pak Kepala Desa? Kami ingin kampung kita aman,” kata salah seorang warga dari kampung Surodadi.
“Desamu terkena kutukan,” ucap salah seorang dari kerumunan.
Para warga pun penasaran dengan siapa orang di sana, karena tiba-tiba dia datang tak diundang. Semua pandangan mata pun tertuju padanya. Dia adalah ....