Horor

Suro Dlemok - Sejarah Suro Dlemok - Bab 10

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

Dia berlari sambil terus melihat hantu itu terbang. Karena tidak fokus di depannya, dia pun menabrak sesuatu. Rupanya, ada orang lain yang berjalan dari arah yang berlawanan. Minim penerangan, dukun Pardi tidak tahu kalau ada orang lain yang berlari ke arahnya.

“Maafkan aku.”

“Oh, rupanya kamu. Aku jadi kehilangan jejak hantu wanita yang tadi kukejar, dong!” gerutu Dukun Pardi menyalahkan Bejo.

“Aku pun sama, tadi sempat melihat hantu itu, tapi aku kehilangan jejaknya,” ungkap Bejo.

“Kalau begitu, ayo kita cari bersama-sama,” ajak Dukun Pardi.

“Oke.”

Sementara itu, di rumah Maman, dia masih mondar-mandir kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Anak dan istrinya belum sadar dari pingsan mereka.

“Aku harus bagaimana?” ujarnya kebingungan.

Setelah dia bergumam, ada suara langkah kaki dari luar rumahnya. Dengan perasaan yang lega, dia mendekat ke pintu. Dia pikir kalau Dukun Pardi sudah kembali, mungkin saja sudah berhasil menangkap hantu wanita itu. Namun, setelah dia membuka pintu rumahnya, tidak ada seorang pun di sana. Hanya pohon-pohon dan tanaman yang bergerak karena tertiup oleh angin malam.

Dia menutup pintu karena takut, apabila hantu itu kembali ke rumahnya. Dia kembali memeriksa istri dan anaknya yang berada dikamar. Rupanya, mereka masih pingsan dan belum sadarkan diri.

Ada suara seseorang yang mengetuk pintu rumahnya lagi untuk yang kedua kalinya.

Dia tidak mau membuka pintu karena takut. Dia pikir mungkin saja hantu yang mengetok rumahnya.

Bisa jadi, di saat dia membuka pintu, tidak akan ada orang di sana lagi. Namun, suara ketukan pintu itu terulang lagi membuat Maman terusik. Dia memberanikan dirinya untuk membuka pintu tanpa memikirkan siapa yang ada di depan rumahnya.

Sebuah sosok yang berdiri di depan pintu mulai terlihat dari dalam rumah. Semakin lebar Maman membuka pintu rumahnya, semakin terlihat jelas sosok itu. Rupanya ada dua sosok yang berada di bawah pintu rumah Maman.

“Asep! Kenapa malam-malam kesini?” tanya Maman.

“Aku ada perlu dengan dukun itu, apa dia masih di sini?”

“Dia sedang keluar memburu hantu. Lantas siapa laki-laki yang berada di sampingmu?”

“Oh iya, saya Eko pak, dari UGD,” jawab Eko memperkenalkan diri.

“UGD? Apa itu, namanya kok aneh,” ledek Maman.

“Memang agak aneh, Pak. UGD itu Universitas Gajah Duduk,” sahut Eko.

“Ada perlu apa kau datang ke kampung ini? Di sini sangat berbahaya. Lebih baik kamu pulang saja!” perintah Maman.

“Aku menyukai hal gaib, sehingga penasaran dengan kampung ini, sekalian untuk mengisi tugas kuliah.”

“Oh iya pak. Saya ke sini tidak akan merepotkan Bapak. Saya sudah meminta izin untuk menginap di rumah Pak Asep untuk beberapa hari.”

“Benar itu, Asep?”

“Benar, Kang.”

“Baiklah, silakan duduk dulu sembari aku buatkan minum.”

Sebenarnya Eko ingin menolak untuk dibuatkan, karena dia merasa direpotkan oleh tuan rumah, tapi apa daya, dia saat itu sedang kehausan setelah melakukan perjalanan ke kampung tersebut.

Asep dan Eko duduk tanpa bicara sepatah kata pun. Eko sendiri sedang melihat-lihat rumah Maman yang sederhana ala orang kampung.

“Silakan diminum tehnya, cuman adanya itu saja,” ucap Maman yang sudah kembali ke ruang tamu sambil membawa minum.

“Terima kasih.”

Eko dan Asep menyeruputnya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kampungmu, Surodadi?” tanya Maman.

“Sama saja, Kang. Di kampungku juga diteror oleh hantu wanita itu beserta bonekanya sampai sekarang.”

“Lantas, tadi saat kamu melewati Jalan Suro Dlemok, apakah ada keanehan?”

“Tidak ada, Kang. Hanya saja, suasana sangat sepi, tidak ada orang yang melintas, mungkin saja karena takut dihantui.”

“Ini benar-benar aneh,” ucap Maman.

“Aneh kenapa, Kang?”

“Sebenarnya makhluk gaib tidak akan meneror kita kalau tidak ada yang memacunya.”

“Maksudmu, ada melakukan pesugihan, dan sekarang mencari tumbal?”

“Mungkin saja, soalnya beberapa bulan yang lalu, desa kita aman-aman saja dari teror. Namun sekarang, teror muncul secara tiba-tiba.”

“Benar juga katamu, Kang. Aku pun sependapat.”

“Namun, aku belum mau su’udzon dulu sebelum ada buktinya kalau ada orang yang sedang melakukan pesugihan.”

Maman kembali mempersilahkan keduanya untuk minum. Mereka berdua pun akhirnya minum kopi yang disediakan oleh Maman di tegukan kedua.

“Ngomong-ngomong, Bapak tinggal sendiri?” tanya Eko membuka percakapan.

“Aku tinggal di rumah ini bersama anak dan istriku, keduanya masih pingsan karena belum lama ini, rumahku diserang oleh makhluk gaib.”

“Makhluk gaib?” tanya Asep dan Eko bersahutan.

“Iya, lebih tepatnya seorang hantu wanita berambut panjang.”

“Kebetulan sekali, tujuan saya kesini untuk mencari informasi tentang makhluk tersebut. Lalu, saya masih penasaran dengan yang namanya Suro Dlemok, adakah sejarah kelam di tempat itu?” tanya Eko.

“Sebelum aku menjelaskan, kau harus tahu satu hal. Setiap orang dari luar desa yang mengetahui tentang sejarah itu, kehidupannya akan selalu dilanda kesialan. Selain itu, umurnya tidak akan lama.”

Eko kaget setelah mendengar penuturan dari Maman. Dia hanya diam dengan waktu yang lama karena memikirkan sesuatu.

“Terangkan saja padaku, Pak!" pinta Eko kepadanya. Maman tersentak kaget setelah mendengar penuturannya. Baru kali ini, dia bertemu dengan seseorang yang rasa ingin tahunya cukup tinggi dengan hal gaib.

“Apa kau mau menanggung akibatnya?” tanya Maman.

“Lebih baik, jangan gegabah,” sela Asep melarang Eko untuk mengetahui hal itu.

“Aku sanggup menanggung akibatnya, selain itu, aku butuh referensi untuk mengerjakan tugas mata kuliah yang mengharuskan observasi satu desa yang menarik dikaji,” ucap Eko dengan pasti.

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menceritakan semua yang aku tahu. Namun, aku tidak mau bertanggung jawab apabila ada suatu hal yang menimpamu,” kata Maman, kemudian dia menceritakan semuanya kepada Eko, yang sudah bersikukuh untuk mengetahui semuanya.

Cerita pun bermula, pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang ulama sakti mandraguna yang disebut Ki Mbah Suro Dlemok. Dia menjalani kehidupannya seorang diri dengan bersembunyi di daerah tanjakan, yang sekarang orang menyebutnya tanjakan Suro Dlemok. Penggunaan nama itu tujuannya untuk mengenang jerih payahnya dulu dalam melawan Belanda.

Dia punya kekuatan mistis yang mampu melawan para penjajah Belanda, sehingga mereka tidak berani menginvasi desanya.

Dengan kemampuan yang ia miliki, dia sangat disegani oleh orang-orang desa. Hingga pada akhirnya, dengan kelicikan para penjajah Belanda. Ada seorang penghianat yang bersekongkol dengan orang Belanda. Ada juga orang Belanda yang menyamar menjadi penduduk desa.

Mereka melakukan rencana besar-besaran untuk membunuh Mbah Suro Dlemok. Seorang penghianat itu sudah tahu dengan kelemahan pada dirinya.

Serangan dilakukan secara tiba-tiba yang membuat Mbah Suro Dlemok yang hidup seorang diri pun kaget, karena tidak ada persiapan untuk melawan.

Orang-orang itu menyerang Mbah Suro Dlemok dengan bersenjatakan parang yang sudah diolesi darah babi. Selain itu, mereka menyerang saat waktu siang hari, karena kekuatan gaib Mbah Suro Dlemok masih dalam titik terendahnya.

Berhubung dia lengah, hari itu pun dia wafat dan dikuburkan tidak jauh dari kediamannya. Kuburan itu sekarang dikeramatkan, tapi anehnya, banyak yang menyalahgunakan kuburan keramat itu untuk mencari pesugihan dan mencari jodoh.

Dengan hal itu, sosok makhluk gaib pun bermunculan. Sosok yang paling menyeramkan adalah ular berkepala manusia dengan panjang badan sekitar sepuluh meter. Pengikut gaibnya semakin banyak, sehingga pada saat tertentu mencari tumbal dengan cara mengganggu orang yang lewat si tanjakan itu.

Selain itu, Suro Dlemok adalah ....

Pak Maman tidak melanjutkan ceritanya karena ada sebuah mobil yang parkir di depan rumahnya. Suara klakson tiga kali dibunyikan dari mobil tersebut.

“Asep, coba lihat siapa orang itu!” suruh Maman.

“Baik, Kang,” sahut Asep sambil berjalan ke pintu.

Asep pun membuka pintu, dan rupanya ....