Para warga pun penasaran dengan siapa orang di sana, karena tiba-tiba dia datang tak diundang. Semua pandangan mata pun tertuju padanya. Dia adalah orang yang memakai atribut dukun.
“Siapa kau?” tanya Kepala Desa.
“Aku Pardi, aku datang dari kota untuk membantu mengalahkan teror hantu di kampung ini.”
“Kenapa tadi kau mengatakan, bahwa kampungku terkena kutukan? Dari mana kau tahu?” tanya Kepala Desa.
“Kabar tentang teror boneka melayang sudah menyebar ke seluruh kampung hingga ke beberapa kecamatan dan kabupaten. Sehingga kalau kau mau aku menanganinya, kau harus bayar aku. Aku berjanji, akan membinasakan boneka itu dengan kekuatan yang kumiliki,” ujar Pardi dengan pasti.
“Aku tidak butuh bantuanmu, aku akan cari orang pintar lain yang lebih sakti,” tolak Kepala Desa yang meremehkan kemampuan Dukun Pardi.
“Apa kau yakin tidak memberiku kesempatan untuk membuktikan kekuatanku terlebih dahulu?” tantang Pardi yang ingin membuktikan kalau dirinya sakti.
“Ayolah Pak Kepala Desa, terima saja dia, daripada semakin banyak korban yang terkena teror boneka itu,” sela Bejo dari kerumunan.
“Iya pak, benar kata Pak RT. Mumpung ada kesempatan untuk kita,” kata orang lainnya bersahutan.
“Untuk membuktikan seberapa sakti kekuatanmu, coba sembuhkan anak saya, dan anak lain yang terkena imbas dari boneka setan itu,” ujar Maman yang secara tidak langsung mengujinya kalau dukun itu benar-benar sakti, atau hanya abal-abal saja.
“Aku terima tantangan untuk menyembuhkan para anak-anak terlebih dahulu. Namun, hal itu tidaklah mudah, aku butuh waktu sekitar beberapa hari sampai berhasil menyembuhkan semuanya.”
“Baiklah, aku akan memberi kesempatan untuk mengatasi teror di desaku, tapi untuk bayaran, akan aku berikan nanti setelah kamu berhasil. Kamu juga harus melindungi semua anak-anak di sini dengan kekuatanmu itu,” saran Kepala Desa.
Para Warga pun menyetujui pendapat Kepala Desa. Pada akhirnya, mereka semua bubar. Dengan kedatangan Dukun Pardi, sedikit membuat perasaan mereka senang, meskipun Pardi belum teruji klinis dengan ilmu yang dia miliki.
“Sebentar, untuk para warga, nanti malam kalian gunakan garam kasar, lalu letakkan di sudut rumah sebagai penangkal makhluk gaib yang masuk rumah,” saran Dukun Pardi.
“Apa dengan cara itu, kita semua akan aman?” tanya Bejo.
“Tidak sepenuhnya aman, tapi mengurangi kemungkinan datangnya makhluk gaib ke rumah kita, untuk sementara waktu, kita lakukan hal tersebut,” jelas Dukun Pardi.
Para warga yang mendengar saran Dukun Pardi pun menyetujuinya, lalu mereka semua bubar menuju ke rumah masing-masing.
Dukun Pardi melakukan tugasnya dengan baik, para korban yang kebanyakan anak-anak pun sembuh. Tingkah laku mereka kembali normal seperti sedia kala.
Siang pun berganti malam, dukun Pardi pergi ke rumah Maman untuk melakukan terapi agar anaknya bisa sembuh dari pengaruh gaib. Malam itu, giliran anak Maman yang dilakukan terapi, tapi kata Dukun Pardi, anak Maman berbeda dari anak lainnya.
“Ini memang sudah parah,” ungkap Dukun Pardi sambil memijat-mijat kepala Singgih.
“Apa anakku bisa sembuh?” tanya Maman.
Dukun itu tidak menjawab karena masih konsentrasi melakukan medium isasi. Tiba-tiba Singgih kesurupan, gerakannya tidak terkendali dan tertawa cekikikan.
“Keluarlah dari raga bocah ini!” bentak Dukun Pardi.
Singgih hanya tertawa cekikikan dan tidak menjawab pertanyaan dari dukun itu. Dia memasang wajah menantang kepada dukun itu untuk bersiap menyerangnya.
Dukun itu meletakkan tangan pada dada Singgih, lalu dengan ilmu batinnya menarik sesuatu di dalam raga Singgih.
Percobaan pertama gagal, dia terpental karena tidak kuat menahan kekuatan dari makhluk itu.
“Dia tidak seperti bocah yang lainnya, sepertinya sosok makhluk gaib di dalamnya menyukai anakmu. Sehingga, dia lebih suka berada di tubuh anakmu,” ungkap Dukun Pardi. Lalu dia melakukan percobaan yang kedua kalinya, namun tetap saja gagal.
Kedua orang tua Singgih melihat anaknya dengan sedih dan khawatir akan kondisi yang menimpanya.
Mereka semua ikut komat-kamit membaca doa dari dalam hati, agar anaknya bisa sembuh dari pengaruh gaib.
Setelah percobaan keduanya dirasa gagal, dia berkonsentrasi penuh dengan mengambil napas panjang setengah mendesah.
Dukun itu mencoba melakukan percobaan yang ketiga kalinya. Seperti sebelumnya, dia meletakkan tangannya di dada Singgih. Kemudian, dia menarik sesuatu ke atas sampai dukun itu sedikit menggeram.
Tarikannya sangat kuat, membuat dukun itu harus mengeluarkan tenaga lebih untuk melepas makhluk gaib yang bersarang pada raga Singgih.
Dukun itu melakukan tarikan ke atas dengan perlahan tapi pasti, hingga sampai di daerah kepala Singgih. Dengan sisa tenaga terakhirnya, dia menarik makhluk itu dengan kekuatan penuh.
Sontak, membuat Singgih pingsan tak berdaya. Orang tuanya melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, mereka tidak menyangka kalau memang ada anaknya dirasuki oleh makhluk gaib.
Tiba-tiba, sesosok hantu wanita berambut hitam panjang, dengan wajah yang menyeramkan dan lingkaran hitam pada kedua kelopaknya matanya tertawa cekikikan di bawah pintu rumah Maman.
Hantu itu sangat jelas terlihat hingga membuat istri Maman pingsan. Dia seperti menantang untuk berkelahi dengan Dukun Pardi. Lalu, hantu wanita itu terbang dengan tertawa cekikikan yang menggema.
“Lekas baringkan mereka berdua ke kasur dulu dan jaga mereka berdua, aku akan mengejar hantu itu,” pinta Dukun Pardi.
“Baik,” ucap Maman.
Maman membaringkan anak dan istrinya di kasur agar mereka beristirahat. Dia bingung, akankah ikut membantu dukun itu atau menjaga anak istrinya di rumah.
Setelah berpikir panjang, sesuai anjuran dukun itu, dia memutuskan untuk menjaga istri dan anaknya karena akan sangat berbahaya kalau meninggalkan mereka berdua dalam keadaan pingsan. Dia yakin, hantu itu pasti akan tertangkap dan teror pembunuhan akan segera berakhir.
Sementara itu, Dukun Pardi sedang mengejar hantu wanita itu. Hantu tadi berada di atas pohon sedang menimang bonekanya. Boneka itu dia anggap anaknya sendiri.
“Turun kau, hantu jahat!” seru Pardi Sambil mengambil batu kerikil yang berada di bawahnya.
Setelah mengambilnya, dia mengucapkan sebuah mantra, lalu ditiupkan ke batu kerikil itu.
Lalu dia melemparkannya ke hantu wanita itu. Namun, lemparannya tidak tepat sasaran.
Hantu wanita tertawa terkikik, hingga suaranya bergema. Kemudian dia melayang meninggalkan pohon itu menuju pohon lainnya.
Tak mau kehilangan jejak hantu tadi, Dukun Pardi dengan cekatan mengejarnya. Dia tidak ingin ada korban teror lain sebagai target selanjutnya.
Dia berlari sambil terus melihat hantu itu terbang. Karena tidak fokus di depannya, dia pun menabrak sesuatu ....