Suro Dlemok - Bekas Galian Mencurigakan - Bab 21

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Maman. Dia tahu betul, siapa pemilik mobil yang diparkir di halaman rumahnya.

“Baru saja dibicarakan, orangnya datang juga.”

Maman membuka pintu rumahnya dan menyambut mereka dengan senyuman. Namun, senyuman itu pun perlahan luntur setelah melihat Asep dan Dicky yang keluar mobil dengan wajah yang murung.

“Kalian berdua kenapa?” tanya Maman yang berdiri di depan pintu.

“Ada kabar buruk,” jawab Asep.

“Kabar buruk apa?”

“Dukun Pardi dan mahasiswa itu hilang,” ujar Asep.

“Apa?” seru Maman kaget.

“Iya, mereka berdua hilang sejak tadi malam,” lanjut Dicky.

“Bagaimana bisa hilang, bukankah mereka berdua bersama kalian?” Meskipun mereka berdua bukan orang asli kampungnya, tapi Maman merasa bersalah karena tidak sanggup melindungi mereka.

“Tadinya memang begitu, saat mereka berdua berjalan di belakang kami, tiba-tiba hilang tanpa ada jejak,” jelas Dicky.

“Desa kita semakin tidak aman!” celetuk Maman kesal dengan teror itu. Dia mengira kalau semua itu perbuatan dari hantu dan boneka setan itu.

“Kita harus cepat bertindak. Ayo kita ke Kepala Desa saja, kita jelaskan semuanya mengenai masalah teror ini kepadanya!”

“Percuma, Kepala Desa tidak akan percaya dengan hantu itu,” kata Bejo yang tiba-tiba datang.

“Oh iya, Kang. Tadi saat kami sedang kembali mencari kedua orang yang hilang itu, kami sempat melihat Kepala Desa menuju kuburan Mbah Suro Dlemok,” ungkap Asep.

“Apakah itu benar? Mana mungkin dia melakukan pesugihan atau semacamnya,” sangkal Maman yang tidak percaya.

“Entahlah, Kang. Tapi aku lihat dari mata kepalaku sendiri, dan itu memanglah Kepala Desa, bukan orang lain,” lanjut Asep.

“Dia bersama siapa? Apa yang dia bawa?”

“Dia seorang diri, tapi entah apa yang dia bawa.”

“Ini semakin tidak masuk akal,” ujar Maman.

“Kepala Desa kita sudah tersesat dan bersekutu dengan Jin!” tuduh Bejo marah. Firasat Bejo memang hanya kepala desalah yang bisa melakukan itu semua.

“Kamu jangan sembarangan menuduhnya tanpa adanya bukti yang relevan!” sangkal Maman.

“Jadi, kamu membela dia, Kang?!” seru Bejo.

“Aku bukan membela! Melainkan, kita tidak boleh asal tuduh!”

“Betul kata Pak Maman. Kita harus mencari bukti terlebih dahulu, jangan asal menuduh,” cetus Dicky.

“Mumpung ini masih siang hari, bagaimana kalau kita kembali ke kawasan tanjakan Suro Dlemok untuk mencari bukti lagi?” ajak Maman.

Semua orang pun menganggukkan kepalanya tanda kalau setuju. Lalu, mereka naik ke mobil milik Dicky untuk menuju ke tanjakan Suro Dlemok.

“Pertama ke mana dulu, Pak?” tanya Dicky.

“Langsung ke kuburan keramat aja, Mas.” Jawab Maman.

“Baik, kalau begitu.”

Dicky membawa mereka semua ke puncak tanjakan Suro Dlemok. Di dalam perjalanan ke tempat tujuan, semua orang diam karena hanyut dalam pikiran masing-masing.

Setelah sampai di tempat yang dimaksud, dia berhenti di sana dan memarkir mobilnya di tempat yang cukup tersembunyi agar aman.

Di puncak tanjakan itu, ada sungai kecil yang mengalir tidak terlalu deras, tapi airnya sangat jernih. Air tersebut belum tercemar apa pun, sehingga bisa untuk minum kalau sedang haus.

Dicky merasakan embusan angin yang hangat pada kedua telinganya. Seakan-akan membisikkan sesuatu padanya. Bisikkan itu, semakin lama mengusik pikiran Dicky.

“Tunggu saya, Pak. Saya kebelet, mau pipis sebentar,” ucap Dicky.

“Oke, santai saja, kami akan menunggumu,” kata Maman.

Dicky pun turun menuju sungai kecil itu yang tempatnya tepat di bawah jalan. Dia pun membuang air seninya yang sudah sampai pucuk, karena sudah lama dia tahan.

Seketika angin itu kembali berembus di telinga Dicky, membuatnya semakin merinding dan bulu kuduknya seketika berdiri. Setelah itu, dia seperti melihat bayangan Putri yang duduk di sebuah batu di tengah sungai kecil itu. Kedua kakinya sedang memainkan air.

“Putri!” seru Dicky sambil mendekatinya. Namun, setelah dia mendekat, bayangan itu pun menghilang.

‘Sepertinya aku melihat dia di sini, tapi mengapa hilang? Putri, apakah kamu sebenarnya masih hidup?’ pikir Dicky.

Setelah dia mengatakan hal tersebut, ada sesuatu yang berkilauan di dalam air. Benda itu menimbulkan cahaya kecil yang gemerlapan. Dia dengan penasaran mengambilnya, rupanya adalah sebuah cincin tunangan.

Setelah diperiksa secara mendetail, cincin itu adalah pemberian darinya kepada Putri sebagai tanda kalau mereka berdua sudah bertunangan.

Kemudian, Dicky kembali ke rombongannya, menceritakan kalau dia menemukan cincin milik tunangannya.

“Kalau menurutku, jasad tunanganmu tidak jauh dari sini,” kata Asep memprediksi.

“Sebentar, kau menemukan cincin itu di mana?” tanya Maman.

“Di tengah sungai itu, tepatnya di bawah jalan,” jawab Dicky.

“Katamu dulu, jasad tunanganmu dulu sempat di buang oleh seseorang, kan?”

“Benar, Pak.”

Maman berlalu menuju tempat ditemukannya cincin itu. Dicky pun mengikuti di belakangnya.

Meskipun Maman bukan detektif, dia merasa ada sesuatu yang janggal pada tempat itu.

Setelah di teliti lebih cermat lagi, ada sobekan kain kecil yang masih tersangkut pada batu. Dia juga teringat dengan jasad dukun Paijo yang sudah tewas di makan belatung yang tempat tinggalnya tidak jauh dari sana. Batu di sekitar situ pun sempat ada bekas tekanan. Kemungkinan besar, ada sesuatu yang jatuh di atas batu tersebut.

“Bejo, apa kamu masih ingat dengan mayat dukun Paijo?!” tanya Maman dengan suara yang lantang.

“Benar, Kang. Saat itu baunya menyengat sekali.”

“Kita akan cari petunjuk lagi di sana,” kata Maman dengan penuh harap. Dia ingin segera mengungkap misteri boneka melayang yang meneror desanya, sehingga dia bisa mengetahui akar permasalahannya, mengapa boneka itu meminta tumbal? Sebelum korban bertambah banyak.

“Bukankah tempat itu sangat bau, Kang?” sela Bejo.

“Tenang saja, mungkin saja mayat dukun Paijo sudah tinggal tulangnya saja. Sehingga tidak akan ada bau lagi. Aku merasa ada bukti lagi di sana, kalau kita telisik lebih lanjut,” ucap Maman.

Mereka berjalan menyusuri jalanan kecil pinggir sungai itu. Hingga sampai di pondok kecil di tengah hutan.

Bau menyengat masih ada, tapi sudah tidak menyengat seperti dulu mayat itu ditemukan mereka berdua.

Maman masuk ke dalam rumah itu dengan berani, lalu diikuti oleh Dicky yang berusaha mencari tahu keberadaan jasad tunangannya.

Maman baru menyadari, kalau di dalam pondok itu ada sebuah bak mandi besar, sebuah tali, kursi yang roboh dan ada potongan benda kecil yang sudah mengering.

Awalnya Maman berpikir. Setelah menemukan benda-benda itu, mungkin saja dukun Paijo bunuh diri dengan menggunakan parang yang menyobek perutnya.

Mengapa dia melakukan hal itu untuk merenggut nyawanya sendiri? Mengapa tidak memilih menggantungkan dirinya saja dengan seutas tali? Cara tersebut lebih cepat mati daripada menusuk perutnya sendiri, malahan akan terasa lebih sakit saat sakaratul maut.

“Pak, ada bekas pakaian wanita,” ujar Dicky kepada Maman dengan sedih. Dia tahu, kalau pakaian itu milik Putri, yang tertinggal di pondok ini.

“Apakah kamu mengenal pakaian ini?” tanya Maman.

“Sepertinya adalah pakaian milik tunanganku, Pak.” Jawab Dicky.

“Jadi, apakah mungkin, yang membuang jasad tunanganmu adalah Dukun Paijo? Lalu dia bunuh diri?” ungkap Maman berspekulasi.

“Entah, Pak. Kalau benar seperti itu, apa gunanya benda-benda ini?” sangkal Dicky.

“Aku pun tadinya berpikir seperti itu, tapi ....”

“Kang Maman, ada bekas galian,” teriak Bejo dari luar pondok.

“Galian?” sahut Maman dengan penasaran, lalu memeriksanya. Kemudian dia keluar dari pondok untuk menyusul Bejo. Lalu memeriksa bekas galian itu.

Maman menganalisis kalau galian itu mencurigakan, bagian atasnya tidak ditutup dengan benar.

“Mungkin kita harus menggalinya!”

“Memangnya kenapa, Kang?” tanya Bejo.

“Sepertinya ada orang yang terkubur di situ,” kata Maman berspekulasi.

“Kang, ada cangkul dan sekop di sini,” sahut Asep.

“Kebetulan sekali, ayo kita gali bergantian. Siapa tahu kita dapat petunjuk,” ajak Maman.

Mereka berempat bergantian menggalinya. Tidak butuh waktu lama, mereka menemukan sesuatu di dalamnya ....