Mereka berempat bergantian menggalinya. Tidak butuh waktu lama, mereka menemukan sesuatu di dalamnya.
Rupanya ada kain yang berwarna putih yang dilipat sedemikian rupa.
Bejo mengambilnya dan langsung diserahkan ke Maman. Lalu dia membuka lipatan kain putih itu dengan hati-hati.
Ternyata berisikan jarum besar dan benang putih yang tebal. Ada juga selembar kertas yang bertuliskan Aksara Jawa. Maman coba untuk membaca tulisan itu, tapi tidak bisa karena sudah lupa.
“Apa ada yang bisa baca tulisan Aksara Jawa?” tanya Maman.
“Saya bisa, Pak,” sahut Dicky sambil mengangkat tangannya.
Maman menyerahkan selembar kertas itu kepada Dicky, dia pun memeriksa tulisan itu sebelum membacanya.
“Ini lebih seperti surat wasiat yang memakai kode,” ujar Dicky.
Dicky mulai membacanya, dan yang lain bersiap mendengarkan.
“Disini tertulis, ‘perawan di guak ning kali cilik, awake ora ono tatune babar blas, nanging nyowone wes ilang mboh neng di. Perawan kuwi arep aku bangkitke. Nanging, golek mabur iku ganggu ritualku. Golek mabur iku ora iso dipateni. Kajaba, ngeluru bocah lanang seng duwe khodam macan geni gadhahane Ki Maung Jolosekti. Golek mabur kuwi mateni akeh wong mergo dikon majikane,’ Cuma itu saja yang tertulis,” ujar Dicky setelah membacanya.
“Menurutku, tulisan itu adalah petunjuk yang ditulis Dukun Paijo sebelum menemui ajalnya,” ungkap Maman sambil memegang dagunya. Dia rasa kalau pendapatnya sudah benar.
“Mungkin sungai kecil tempat ditemukan cincin itu adalah tempat di mana pembuangan jasadnya,” imbuh Bejo.
“Ada sesuatu yang menurutku aneh. Jasad itu katanya akan dibangkitkan lagi, tapi entah mengapa tidak ada penjelasan lebih lanjut,” kata Asep.
“Apa ada kemungkinan kalau jasad itu masih hidup, ya? Kalau sudah mati, pasti ada bekas kuburan di sekitar sini,” jelas Maman.
“Kalau dia masih hidup, mungkin dia sudah pulang ke kota, Pak,” sangkal Dicky.
“Betul juga, lihatlah kalimat terakhir, kita harus mencari seorang laki-laki yang punya kodam harimau api, tapi siapa ya?” ujar Maman.
“Dari sekian ribu orang, meskipun kita hanya mencari satu orang saja, tapi menurutku sangat susah mendapatkannya,” cetus Bejo.
Mereka tidak menemukan jalan terang setelah menemukan beberapa barang yang diduga sebagai bukti. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.
“Ayo, sekarang kita cari keberadaan Dukun Pardi dan Mahasiswa itu sebelum petang,” ajak Maman.
“Baik,” sahut mereka.
‘Putri, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu meninggal dengan tiba-tiba,’ gumam Dicky dalam hati sambil mendongak ke atas.
“Ayo mas. Kita harus cepat keburu gelap,” kata Bejo yang mengagetkan Dicky dari lamunannya.
“Oh iya, Pak,” jawab Dicky baru tersadar dari lamunannya, lalu bergegas berjalan ikut rombongannya.
Mereka berempat mencari keberadaan kedua orang yang hilang itu, sudah dua jam belum ada tanda-tanda ditemukannya kedua orang yang hilang.
“Kita harus mencari mereka berdua ke mana lagi, Kang?” tanya Bejo.
“Entah, mungkin saja kita harus ke kuburan keramat. Barangkali ada petunjuk di sana,” ajak Maman.
Setelah mereka sampai di kuburan keramat, mereka menemukan dupa yang belum lama dinyalakan oleh seseorang.
“Sepertinya baru saja ada yang sampai di sini,” kata Bejo.
“Betul, dia bukan hanya ziarah mendoakan Mbah Suro Dlemok. Melainkan menginginkan sebuah kekayaan,” ungkap Maman.
“Bagaimana Bapak bisa tahu?” tanya Dicky bingung.
“Aku bisa lihat dari bentuk dupa itu. Terus dari baunya yang khas, pasti dupa tersebut dibeli dengan harga yang mahal,” jelas Maman.
Sekian lamanya mereka mencari petunjuk, dan kedua orang yang itu, tapi belum membuahkan hasil lagi.
“Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita pulang terlebih dahulu. Nanti malam berkumpul di rumahku lagi. Kita diskusikan tentang cara membasmi teror hantu itu,” suruh Maman.
Kembali ke Revan
“Eko ke mana sih, di telepon tidak diangkat, di kirimi pesan tidak di balas,” kata Revan bermonolog dengan nada cemas.
“Sepertinya dia dalam situasi yang gawat,” ucap Putri yang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan.
“Mungkin saja. Putri, apakah kamu bisa terbang ke sana untuk memeriksanya?”
“Aku tidak berani, di sana banyak makhluk sejenisku yang jahat, bisa menyerang dan membunuhku kapan saja.”
“Lantas, kenapa kamu dulu tinggal di pohon yang tidak jauh dari sana? Bukankah hal itu sangat berbahaya?”
“Justru di tempat itulah aku merasa aman, karena ada yang menjagaku. Namun, aku tidak berani keluar dari sana karena takut dengan makhluk lain.”
“Kalau begitu, kenapa kamu malah ikut denganku? Tidak tinggal di sana saja?”
“Jawabannya sangat sederhana, tidak mungkin aku meninggalkan suamiku seorang di sini, ya kan?”
“Benar juga, ya. Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Memangnya pikiranmu ke mana? Ke wanita lain, kah?”
“Mana mungkin ada wanita lain dihatiku.”
Putri mencubit Revan dengan lembut, dia pun membalasnya, kemudian berbaring bersama menikmati malam di dalam kamar kontrakan. Di sebelah pintu kamar, ada bayangan orang yang sedang mengintainya, kemudian dia pergi dari tempat itu tanpa sepengetahuan Revan.
Hari-hari dia jalani seperti biasa, setiap sore, dia berlatih untuk memperkuat dirinya. Latihan intens dia lakukan demi dirinya sendiri, dan Putri.
Di tempat pelatihan, Nanda yang sering bertemu Revan pun mulai memendam perasaan dengan Revan. Namun, Revan hanya menganggap dia adalah teman perempuannya saja. Cintanya hanya milik Putri Eliza seorang, tidak ada yang lain.
“Revan, kamu mau ke mana?” tanya Nanda.
“Aku mau pulang. Memangnya kenapa?”
“Boleh aku ikut bersamamu?” pinta Nanda sambil menggandeng lengan Revan.
“Boleh saja, tapi lain kali ya. Aku mau istirahat, karena aktivitas hari ini melelahkan,” ucap Revan melepas pegangan Nanda dengan pelan.
“Maksudku, aku ingin main ke tempatmu, boleh kan?”
“Lebih baik jangan dulu, kamarku berantakan. Apalagi di komplekku banyak orang. Nanti dikira mau ngapa-ngapain lho. Berduaan di kamar itu tidak baik kalau belum muhrim,” ujar Revan meninggalkan Nanda pergi.
“Ih, Revan ...,” ucap Nanda yang mau mengejar Revan, tapi dihentikan oleh Revan.
Dia menyuruh Nanda untuk kembali pulang saja dan tidak usah mengikutinya. Hal itu membuat raut wajah Nanda pun cemberut dan dalam hatinya menyimpan amarah kepadanya.
Di dalam perjalanan kembali ke kontrakannya, dia sempat bertemu dengan pria yang pernah berdebat dengan Nanda.
Dia menghadang Revan di depannya, lalu menodongkan pistol di kening Revan.
Dengan spontan, Revan mengangkat kedua tangannya, lalu mundur beberapa langkah. Namun, Revan menabrak tembok yang membuatnya tidak bisa melangkah lagi.
‘Gawat! Aku pasti mati,’ gumam Revan dalam hatinya.
Pria itu menarik pelatuknya bersiap menembak kening Revan. Dia sengaja mengarahkan ke kepalanya agar pelurunya langsung mengenai otaknya.
Revan hanya bisa pasrah setelah pria itu menarik pelatuknya mentok.
“Duar ...!”