Horor

Suro Dlemok - Kedatangan Dua Orang - Bab 23

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

“Duar ...!” ucap pria itu membohongi Revan untuk kedua kalinya. Rupanya, yang dia pegang adalah pistol mainan yang tidak ada pelurunya. Suara ledakan itu berasal dari mulutnya sendiri. Dia tidak tertawa, tapi tersenyum dingin meledek Revan yang penakut.

“Revan ....”

“Siapa kau sebenarnya?”

“Panggil saja aku, Dony. Senang bisa bertemu kembali dengan pria yang takut mati.”

“Kamu mau ngapain lagi mencariku?!”

“Terserah aku dong, itu urusanku.”

Revan pun emosi dan berusaha menyerang Dony. Dengan sigap, dia menahan serangan Revan dengan menangkis menggunakan tangannya.

“Rupanya kau hanyalah murid baru. Kemampuan bela dirimu masih payah, levelmu bela dirimu lebih buruk dari seorang amatir.”

“Sial kau!” seru Revan, meskipun Dony mendominasi, Revan masih berusaha mengalahkannya. Di dalam benaknya, dia ingin menguji kemampuan yang dia miliki setelah berlatih di perguruan Sepuh.

Setelah sekian lamanya mereka bertarung, akhirnya Revan tidak berkutik melawannya, karena kedua tangan dan kakinya dikunci oleh Dony. Revan coba melepaskan belenggunya, tapi malah sendinya sendiri yang tertarik, dia pun mengerang kesakitan.

“Kamu masih harus giat berlatih lagi, anak muda,” ledek Dony.

“Jangan bilang kau akan membunuhku.”

“Membunuhmu? Ngapain membunuh seorang pria yang takut mati, tidak ada gunanya. Kamu bukanlah target incaranku. Aku hanya mau bilang, menjauhlah dari Nanda, atau kau akan ...,” suruh Dony belum selesai bicara.

“Mau menjauh, atau mendekat, itu hakku. Kenapa kamu memerintahku?” cetus Revan memotong pembicaraannya.

“Lebih baik kamu turuti kataku, hubunganku dengan dia hanya pura-pura saja. Niatku sebenarnya ingin balas dendam,” ungkapnya dengan sorot mata tajam.

“Siapa juga yang sedang mendekati Nanda, dia sendiri yang bersikeras mendekatiku, meskipun aku menolaknya.”

“Baguslah kalau seperti itu, aku hanya memperingatkanmu saja. Aku tidak ingin pria penakut sepertimu mati konyol,” sindir Dony. Kemudian dia kembali meletakkan pistol mainan itu ke sakunya. Sementara itu, Revan menatapnya dengan melongo.

“Memangnya kenapa kalau aku mendekatinya?” tanya Revan penasaran.

“Kamu akan bernasib buruk seperti kakakku. Dulunya kakakku menjalin hubungan dengannya, tapi meninggal tanpa ada kejelasan,” ungkapnya.

“Aku tidak akan mempercayai omonganmu kalau kamu tidak memberiku bukti.”

“Kalau begitu, buktikanlah sendiri,” ucap Dony berjalan menjauhi Revan.

“Woy, tunggu! Aku masih ingin bertanya lagi!”

“Aku ingin mengetahui Nanda itu siapa?!”

Dony pun pergi begitu saja, Revan sebenarnya ingin mengejarnya, tapi lengan dan kakinya sakit karena tadi dikunci oleh Dony.

“Dasar pria tak berotak, beraninya kabur begitu saja!” umpat Revan.

Dia menuju ke kamarnya dengan berjalan sempoyongan karena sakit setelah bertarung dengan Dony. Dia menyadari kalau dirinya belumlah kuat untuk melawan pria tadi.

“Sayang, kenapa kamu cemberut begitu?” tanya Putri Eliza yang sudah menunggu Revan pulang. Dia sedang merebahkan dirinya di kasur yang empuk sambil membaca sebuah buku tebal milik Revan.

“Badanku sakit lagi,” kata Revan mengeluh sambil memegangi pundaknya.

“Makanya, kamu jangan sok-sokan jadi pria kuat. Pasti kamu minta dipijit sama aku lagi kan?”

“Iyalah, kamu kan istriku. Harus patuh dong, sama suami.”

“Iya, iya,” ucap Putri dengan terpaksa menghentikan aktivitas membacanya.

Revan pun menikmati setiap sentuhan tangan halus milik Putri Eliza. Meskipun dia bukan manusia, tapi sentuhan itu sangat nyata dirasakan oleh Revan.

“Pijatanmu sangat enak, Sayang,” ucap Revan sambil merem melek.

“Iya dong.”

“Aduh, di situ pas banget, kamu sentuh bagian yang sakit,” rintih Revan, tapi dia masih menikmatinya.

Putri Eliza yang seorang hantu, dengan patuh pun memijit suaminya yang dari kalangan manusia biasa. Hal itu bisa terjadi karena keduanya punya rasa cinta yang teramat sangat.

“Kalau boleh tahu, Dicky itu seperti apa?”

“Dia orangnya sepertimu, baik, penyayang, tapi kadang juga dingin,” jawab Putri.

“Dia kerjanya apa?” 

“Dia adalah pewaris perusahaan milik ayahnya, asal kau tahu juga, dia ikut organisasi Aster Putih.”

“Aster Putih? Tapi semenjak aku berlatih di sana, aku tak sekalipun melihatnya.”

“Dia sudah lulus dan tidak pernah lagi ke pondok.”

Revan mengangguk setelah mendengar fakta itu, dia ingin bertanya agar mendapatkan titik terang  tentang Putri.

“Apakah semasa hidupmu, kau punya sahabat dekat?”

“Tidak, selain kedua orang tuaku, hanya Dicky saja orang yang menurutku paling baik. Aku pernah berteman dengan seseorang, tapi kebanyakan mereka pergi saat aku dalam keadaan sulit. Itulah kenapa aku lebih berteman dengan bonekaku yang bernama Lulu,” ujar Putri mengingat masa lalunya.

“Sepertinya menarik, coba ceritakan tentang masa kecilmu dulu, aku masih ingin tahu tentang kehidupanmu.”

“Baik, aku ceritakan.”

Putri adalah anak semata wayang yang lahir di keluarga yang ada. Sebelum ibunya mengandung Putri, dia sempat dinyatakan mandul, karena usia pernikahan sudah lama, tapi tak kunjung mengandung juga.

Hingga pada akhirnya, ibunya pergi ke orang pintar agar segera diberi momongan.

Setelah satu tahun, dia pun mengandung Putri. Lalu, beberapa bulan kemudian, Putri lahir dengan sehat.

Dari anak kecil, hingga usianya menginjak Gadis, dia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya karena anak satu-satunya yang dimiliki.

Dengan keadaan yang seperti itu, sifat Putri menjadi introvert dan tidak mau bergaul dengan teman sebayanya. Dia hanya berteman dengan boneka yang dia miliki, menganggapnya kalau boneka itu hidup.

Setelah mendengar cerita Putri, Revan pun turut sedih karena hanyut pada bayang-bayang kisah Putri saat dia masih hidup.

"Putri ...," ucap Revan lirih sambil menggenggam tangan putih mulusnya.

"Iya, Revan. Kenapa?"

"Aku mencintaimu.”

"Benarkah? Meskipun beda alam?"

"Iya, benar. Sebenarnya aku ingin kamu menjadi manusia seutuhnya agar kita bisa bersama selamanya," pinta Revan berharap Putri bisa hidup lagi.

"Aku juga ingin hidup kembali, tapi tidaklah mungkin. Karena orang yang sudah mati, nyawanya tak akan kembali ke dunia. Kecuali jika Tuhan berkehendak lain," tutur Putri.

"Iya, aku tahu itu. Mungkin saja aku ber-ekspektasi terlalu tinggi," ucap Revan.

"Tak apa, manusia itu pasti punya mimpi yang ingin diraih."

"Putri ...."

"Iya, Revan. Ada apa lagi?"

"Malam ini kamu cantik sekali, meskipun kau bukan manusia," goda Revan.

Setelah mengatakan hal itu, Revan ingin meraih bibirnya yang merona. Putri pun tidak menolaknya karena sudah tenggelam ke dalam rayuannya. Namun, saat bibir mereka sudah mendekat dan akan bersentuhan, ada suara ketukan pintu dari luar yang mengganggu aktivitas malam mereka berdua.

“Sepertinya Amira kemari lagi, dia mungkin mendengar suaramu.”

“Wanita itu emang ga ada kerjaan lain lagi apa? Mengganggu saja!” gerutu Putri, lalu dengan segera, menghilang dari kamar Revan.

Setelah itu, Revan menuju ke pintunya, lalu membukanya dengan kesal. Dia berpikir, mungkin Amira yang mengetok pintu itu.

“Sudah kukatakan beberapa kali, jangan ganggu ...,” seru Revan, tapi dia terbelalak kaget setelah melihat ada dua orang yang berada di depan pintu.

Mereka berdua adalah ....