Mereka berdua adalah orang tua Revan yang datang jauh-jauh dari rumah. Raut wajah Revan yang tadinya kesal berubah jadi senyuman. Tadinya dia mengira Amira yang mengganggu, rupanya bukan.
“Ayah, ibu,” ucap Revan menyalaminya, lalu mempersilahkan masuk.
“Bagaimana kabarmu?” tanya ayahnya.
“Baik, Yah.”
“Sepertinya kau sudah bertambah dewasa, buktinya kau lebih baik dari sebelumnya dalam menata kamarmu, Revan,” puji ibunya. Revan mengernyit karena bukan dialah yang menata kamar itu, melainkan Putri Eliza. Revan orangnya pemalas, mana mungkin dia menata kamar serapi itu?
“Ya begitulah, Bu. Ngomong-ngomong ayah dan ibu ke sini dengan siapa?”
“Bersama Paman Rony, pulang dari kondangan, kami berdua menyempatkan untuk mampir ke tempatmu.”
“Ayah, ibu. Tapi mohon maaf, Revan tidak punya apa-apa, karena ayah dan ibu datang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.”
“Tidak usah merepotkanmu, Revan. Kami hanya ingin menengokmu sebentar saja, apakah anak semata wayangku sudah bisa menjalani hidupnya seorang diri?” jelas ayahnya.
“Revan baik-baik saja kok, Yah. Banyak pelajaran yang berharga semenjak aku berlatih hidup mandiri.”
“Baguslah kalau seperti itu. Semakin dewasa, harusnya kamu hilangkan sifat manja dan penakutmu, kamu harus jadi pria yang pemberani!”
“Baik, Ayah. Aku akan melakukan sesuai dengan keinginan Ayah. Aku akan mengubah diriku mulai dari serang.”
“Anak yang baik. Ngomong-ngomong, kami berdua mendengar ada teror hantu di sebuah perkampungan. Kami takutnya teror itu sampai ke tempatmu, Revan,” ujar ibunya.
“Tidak mungkin, Bu. Tempat itu kan jauh. Revan aman kok di sini dan bisa kuliah tanpa ada gangguan.”
“Maka dari itu, kamu harus bersungguh-sungguh dalam belajar untuk menggapai cita-citamu, kasihan kan, sama ayah ibumu yang sudah menyekolahkanmu sampai ke titik ini?”
“Iya, Bu. Itu pasti, Revan akan belajar dengan sungguh-sungguh, Revan janji tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu.”
“Ini ada titipan dari kakekmu, Revan,” kata ayahnya sambil memberikan sebuah cincin yang ada warna merah di mata kecilnya.
“Cincin apa ini, Yah. Wah, bagus sekali, berkilauan,” puji Revan menerima cincin itu dan melihat-lihatnya. Dia takjub dengan benda itu. Seumur-umur, dia tidak tahu kalau kakeknya mempunyai cincin yang seperti itu.
“Itu cincin kepunyaan kakekmu dulu. Sekarang kamu harus memakainya untuk melindungi dirimu dari berbagai hal gaib,” ujar ayahnya.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Revan sambil memakai cincin itu ke jari manisnya. Setelah dia memakai, ada suatu kekuatan yang tidak di jelaskan pada diri Revan. Tapi kekuatan itu belum bisa digunakan, karena seperti dikunci dengan gembok.
‘Mungkin aku menjadi titisan dari kakek,’ batinnya dalam hati.
“Ini juga ada beberapa uang, untuk biaya kuliahmu. Kamu pakai baik-baik dan jangan boros. Kamu juga jangan bermain wanita dulu, sebelum kamu sukses,” ujar ibunya sambil memberikan beberapa lembar merah untuk biaya kuliah dan bayar kontrakan.
‘Bermain wanita?’ gumam Revan dalam hati.
“Iya, Bu. Aku akan turuti kata ibu. Aku buatkan minum dulu ya sebentar,” ucap Revan menerima uang itu, lalu di letakkan di tempat yang aman.
“Tidak usah, kami di sini hanya sebentar, kami akan segera pergi,” kata ayahnya pamit sambil, ingin segera beranjak dari kamar Revan.
“Lho, kok cepat-cepat, Yah. Revan masih ingin bersama ayah dan ibu,” kata Revan sedih setelah mengetahui ayah ibunya akan pamit.
“Revan kan sudah besar. Mulai sekarang kamu harus mandiri, tidak boleh bergantung pada ayah dan ibumu lagi,” ujar ibunya mencium kening Revan seperti anak yang masih kecil.
“Lagian Paman Rony sudah menunggu kami dari tadi di luar,” sahut ayahnya.
Kedua orang tuanya pun pamit kepada Revan untuk kembali ke rumahnya. Revan mengantar mereka berdua keluar kamarnya menuju teras depan.
Mereka berdua membuka pintu mobil milik paman Rony, lalu masuk ke dalamnya.
“Ayah, Ibu. Hati-hati di jalan ya,” ucap Revan sedih karena dia harus kembali menjalani kehidupannya tanpa kedua orang tuanya lagi.
‘Aku tidak boleh sedih. Aku harus bisa mandiri dalam menjalani kehidupanku,’ gumam Revan dalam hati.
Ayah Revan yang melihat anaknya bersedih pun menghampirinya. Dia kembali keluar dari mobil itu, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Revan.
Revan pun mengangguk pelan tanda menyetujui perkataan ayahnya. Revan pun tersenyum setelah mendengar itu.
Paman Rony yang sedang berada di bangku pengemudi pun turut menyemangatinya.
“Revan, kamu bukan anak kecil lagi. Paman tunggu kamu punya cewek, ha-ha-ha,” ucapnya sambil tertawa.
Revan pun melambai kepada mereka semua, lalu kembali ke kamarnya dengan berat hati. Perasaannya bahagia setelah ibunya datang, tapi ada rasa sedih, karena mereka berdua tidak lama harus segera kembali ke rumah.
“Enak ya jadi kamu, masih punya orang tua lengkap,” ujar Putri yang sedang memakai krim milik Revan.
“Woy, itu kan krim milik manusia. Mengapa kau pakai?”
“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” tanya Putri berontak.
“Boleh saja, tapi lihat dirimu, aneh seperti itu,” ucap Revan sambil tertawa lirih.
“Aneh apanya? Tidak ada yang aneh kok!”
“Itu lho, aneh!”
“Mana yang aneh, coba kamu tunjukkan padaku keanehan itu.
Revan pun merangkul Putri dari belakang dan berbisik di telinga Putri.
“Yang aneh itu, saat kamu menggunakan krim itu terasa lebih cantik dari sebelumnya,” ujar Revan menggoda Putri.
“Kamu bisa saja, Revan.”
Dia pun menggendongnya menuju kasur, sepertinya biasanya mereka melakukan ritual malam. Setiap kali Putri menjenguk Revan di kamarnya, hasratnya pasti menggebu-gebu dan tidak bisa tertahankan lagi.
Kehidupan Joko
“Dek, maaf aku hanya bisa memberikan uang sedikit untukmu, karena ojek lagi sepi. Kemungkinan orang-orang sudah punya kendaraan sendiri,” keluh Joko.
“Tidak apa-apa, Mas. Yang penting masih bisa buat makan sehari-hari, kita syukuri saja.”
“Aku pamit narik lagi, Dek.”
“Baik, Mas. Hati-hati ya, dan pulang malam karena akhir-akhir sangat rawan hantu.”
Joko pun pergi menuju pangkalan ojek, di sana ada Cipto yang sedang duduk sambil mengisap sebatang rokok sambil menunggu pelanggan.
“Mau rokok?” ucap Cipto.
“Terima kasih,” sahut Joko menerima rokok itu, lalu menyalakannya dengan korek. Setelah itu, mengisapnya dengan ringan.
“Akhir-akhir kamu kok banyak diam? Apa ada masalah?” tanya Cipto.
“Ojek kita sangat sepi, sementara kebutuhan di rumah semakin banyak. Aku tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi?” keluh Joko meratapi nasib hidupnya yang malang.
“Kamu kan masih bisa mendapatkan uang dengan judi togel. Tebakanmu banyak yang benar, lho.”
“Aku sudah tidak main itu lagi, akhir-akhir ini tebakanku sering meleset, apalagi sekarang, pemasukan sangat minim.”
“Kenapa kamu tidak mencoba pesugihan aja?” saran Cipto.
“Iya sih, pengennya kaya gitu. Tapi ....”
“Kenapa emang? Kamu ga mau mencobanya?”
“Emang ada ya, pesugihan yang tidak pakai tumbal?”
“Pastinya ada, hanya saja kalau tidak pakai tumbal, resikonya lebih berat.”
“Kalau bisa, yang resikonya ringan.”
“Kalau itu sih belum tentu ada.”
Saat mereka berdua sedang asyik ngobrol, ada seseorang yang mendekat. Seorang pria baruh baya yang pulang dari pasar.
“Ojek, Bang!”
“Ke mana, Pak?” tanya Cipto.
“Pulang ke rumahku lah, ke mana lagi?” sungut pria tadi.
“Mari, Pak.”
“Aku mau narik dulu ya,” kata Cipto berpamitan.
“Iya.”
Setelah Cipto pergi, dia pun melamun sambil memikirkan jalan lain agar rezekinya mengalir.
Namun, dia tidak ingin melakukan pesugihan, karena risiko yang ditanggungnya sangat besar. Setiap orang punya jalan rezeki masing-masing, kalau dia melakukan pesugihan, sama saja masuk ke jurang kesesatan.
“Bang ... ojek bang!” kata seorang ibu-ibu yang mengagetkan Joko dari lamunannya.
“Mari, Bu. Mau kuantar ke mana?” tanya Joko sambil mempersiapkan motornya.
“Ke desa Suro Dlemok, Bang!”
Setelah mendengar tujuan ibu itu, Joko pun berpikir panjang.
Dia masih mengingat kalau malam-malam mengantar seorang wanita dengan tujuan yang sama.
Pada akhirnya, Joko memutuskan untuk ....