Pada akhirnya, Joko memutuskan untuk mengantarnya, karena kesempatan mendapatkan rezeki tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Lagian waktu itu masih siang menjelang sore, bukan malam hari. Mana mungkin ada hantu yang berseliweran di siang bolong?
Joko pun mulai melakukan profesinya sebagai tukang ojek dengan profesionalitas. Dia meletakkan barang belanjaan ibu itu di depan, lalu mulai menjalankan sepeda motornya.
Di dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan ibu tadi, Joko hanya terdiam, dia masih mengingat jalan yang pernah dia lalui dulu. Di mana, malam itu dia dikejar oleh hantu. Setelah memasuki hutan lebih ke dalam, ingatannya semakin jelas, membuatnya merinding dan mencoba melupakannya.
“Dengar-dengar, desa Ibu sedang ada teror ya?” tanya Joko memecah kesunyian.
“Benar, Bang. Para warga desa tidak berani keluar malam-malam”
“Memangnya kenapa, Bu?”
“Ada teror boneka melayang yang membunuh anak-anak, dan hantu yang kepalanya putus.”
“Hantu kepala putus?” ucap Joko lirih. Dia teringat kembali dengan pengalaman yang dialaminya dulu. Ternyata benar, ada hantu yang kepalanya putus. Diia pun bergidik ngeri, karena dulu sempat dikejar oleh hantu sampai hampir saja mati dibunuh olehnya.
“Iya, memangnya kenapa, Bang?”
“Tidak apa-apa, Bu. Hanya takut sedikit.”
“Maka dari itu, setelah aku selesai belanja, aku buru-buru pulang sebelum hari mulai petang.”
“Betul, Bu. Mending cari aman saja, daripada diserang oleh hantu itu.”
Setelah itu, Joko memasuki sebuah kampung yang area persawahannya berjajar luas. Tanaman padi yang berjejer membuatnya enak dipandang. Ditambah dengan langit yang cerah dan gunung yang samar-samar terlihat dari kejauhan membuat desa itu semakin asri.
“Apa ini kampung Anda?” tanya Joko.
“Bukan, ini kampung Surodadi, kampungku setelah tanjakan yang di depan itu.”
“Oh, jadi begitu. Lantas, apa nama tanjakan itu, Bu?”
“Tanjakan itu, namanya Suro Dlemok.”
“Kok namanya persis nama desa ya?”
“Iya, nama desaku diambil dari nama tanjakan itu, karena untuk mengenang ulama yang bernama Mbah Suro Dlemok yang gugur dalam membela penjajah Belanda.”
“Sepertinya ulama’ itu sangat disanjung oleh warga desa, ya?”
“Iya, benar.”
Perjalanan pun berlanjut, hingga dia memasuki sebuah kampung lagi setelah melewati turunan curam. Di atas tanjakan tadi ada sungai kecil yang mengalirkan air yang jernih, sedangkan di bawah tanjakan itu, ada sungai dengan bebatuan yang indah.
Ibu itu memberikan arah menuju rumahnya. Joko pun mengangguk memahami apa yang disuruhnya.
‘Untung saja, aku mendapatkan penumpang asli, bukan hantu lagi seperti malam itu,’ gumam Joko dalam hati.
Ibu itu menunjuk sebuah rumah yang di depannya ada mobil yang sedang parkir.
“Apa mobil itu milik suamimu?”
“Bukan, itu milik tamu suamiku.”
Joko pun berhenti di depan rumahnya, lalu membantu membawa barang belanjaannya ke depan pintu.
“Berapa, Bang?”
“Seperti biasanya.”
Dia memberi selembar hijau untuk Joko. Tarif tersebut sudah harga normal untuk ojek dari pasar menuju kampung itu jika dilakukan siang hari.
Dia adalah istri Maman yang baru saja belanja dari pasar. Sementara itu, Maman sedang duduk di dalam rumah bersama Dicky. Mereka sepertinya mengobrol serius, masih membahas teror yang menimpa desanya.
Dicky yang tujuan awalnya hanya mencari jasad tunangannya pun ingin segera mengakhiri teror itu, karena dia sudah kehilangan Dukun Pardi.
Mereka berdua masih berpikir, bagaimana bisa kedua orang itu hilang? Padahal saat Dicky pergi mencari jasad tunangannya, jarak kedua tidak terlalu jauh di belakangnya.
“Dek, kamu pulang dari pasar, diantar siapa?” tanya Maman.
“Tukang ojek yang mangkal di daerah pasar, Kang.”
“Tukang ojek?” ucap Maman lirih.
Dia pun teringat dengan cerita bahwa ada tukang ojek yang dihantui oleh wanita yang kepalanya terputus, dan orang itu pun berhasil selamat. Dia pikir, mungkin saja dia orangnya. Maman pun ingin bertemu sebentar dengannya untuk mendengarkan ceritanya.
“Pak, tunggu sebentar! Jangan pulang dulu!” panggil Maman.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Joko yang sudah bersiap untuk jalan.
Maman pun mendekatinya dan mengajak untuk mampir sebentar ke rumahnya. Joko pun menyanggupi ajakan Maman dan masuk ke rumahnya.
Di dalam rumah itu, ada Dicky yang sedang duduk. Joko pun bersalaman dengan mereka berdua.
“Aku mendengar, ada tukang ojek yang mengantar wanita malam-malam, lalu dihantui oleh wanita yang kepalanya putus. Apakah Bapak tahu itu?” tanya Maman.
“Sebenarnya yang mengalami kejadian itu adalah saya sendiri,” ungkap Joko.
“Apa?” ucap Maman dan Dicky bersahutan.
“Iya memang aku. Ada apa ya, Pak?” tanya Joko.
“Begini, saya mohon ceritakan kejadian itu yang sebenarnya, mengapa Bapak bisa selamat?” tanya Dicky
“Baik, akan kuceritakan,” ucap Joko.
Dia pun mulai menceritakan pengalaman mistisnya dari awal mengantar wanita berbaju minim, sampai dia dikejar oleh sosok hantu wanita yang kepalanya putus.
Dia mengakhiri cerita itu dengan bersyukur, karena bisa terhindar dari hantu itu, dan berhasil menyelamatkan nyawanya sendiri.
“Lantas, bagaimana kau bisa selamat?” tanya Maman.
“Entah, tapi mungkin saja karena aku memakai kalung keberuntungan ini,” tutur Joko sambil memperlihatkan kalung itu kepada Maman dan Dicky.
“Apa aku boleh melihat kalungmu?” pinta Dicky.
“Boleh saja,” sahut Joko sambil melepas kalung itu dari lehernya.
“Sepertinya bukanlah kalung sembarangan!” cetus Maman dengan sorot mata tajam.
“Benar, sepertinya kalung ini memiliki kekuatan gaib yang bisa menjaga pemakai dari serangan makhluk mistis yang jahat,” lanjut Dicky.
“Kamu dapatkan kalung ini dari mana?” tanya Maman.
“Kalung ini adalah warisan dari mendiang Bapakku yang telah tiada,” jawab Joko.
“Mungkin bapakmu dulu bukan orang sembarangan,” kata Maman.
“Boleh saya minta identitasmu?” pinta Dicky.
“Boleh saja, Mas. Tapi buat apa?” tanya Joko.
“Bapak adalah orang yang terpilih untuk ikut ke kelompok saya.”
“Kelompok apa, Mas?”
Dicky pun menjelaskan kalau dia punya kelompok yang bernama Aster Putih yang tugasnya adalah memburu para dukun-dukun yang merugikan orang yang menangkap makhluk gaib yang meneror orang-orang.
Sungguh disayangkan, beberapa anggota kelompoknya sudah bubar, justru ada sebagian yang menghianati kelompok itu dan membela organisasi Mawar Biru.
“Jadi, apakah Bapak bersedia ikut kelompok saya?”
Joko pun berpikir panjang untuk memutuskan pilihannya. Di sisi lain, dia harus terus bekerja demi keluarganya, tapi di sisi lain dia juga sebenarnya ingin ikut ke kelompok itu.
“Aku kok baru tahu kalau kamu punya kelompok itu,” ujar Maman.
“Iya, Pak. Hanya kelompok kecil warisan ayahku yang sudah tiada. Aku hanya melanjutkan dan merekrut anggota baru yang bersedia ikut,” ucap Dicky.
“Sementara ada beberapa orang yang ikut?”
“Hanya beberapa saja, aku ingin mencari orang yang mampu melawan makhluk gaib untuk melumpuhkan organisasi Mawar Biru.”
“Organisasi Mawar Biru itu apa?”
“Organisasi yang mendukung praktik perdukunan dan suka bermain dengan hal gaib. Tak hanya itu saja, kadang mereka juga melakukan tindakan kriminal yang dibantu oleh sosok jin peliharaan mereka.”
Maman mengiyakan dan paham dengan penjelasan dari Dicky. Dia pun berkata, kalau dia tidak ada tanggungan keluarga, sebenarnya ingin ikut kelompok Dicky.
“Bagaimana, Pak? Apakah Bapak bersedia ikut?” tanya Dicky mengulangi pertanyaannya.
“Mungkin aku akan pikirkan dulu matang-matang, aku belum bisa menentukan pilihanku sekarang.”
“Baik, Pak. Lain kali kalau Bapak berubah pikiran, bisa hubungi saya. Tenang saja, kalau Bapak ikut kelompok saya, akan ada bayaran setiap bulannya, hanya saja lawan yang dihadapi adalah organisasi Mawar Biru yang kuat,” ujar Dicky.
Setelah dia mendengar kalau ikut kelompok itu ada bayaran, dia pun kembali berpikir panjang untuk mengambil keputusannya.
“Begini, Mas. Saya sebenarnya ....”