“Begini, Mas. Aku sebenarnya ingin ikut, tapi aku belum siap,” tutur Joko.
“Baiklah, Pak.”
“Maaf ya, Mas. Saat ini jujur saja, saya belum bisa ikut.”
“Aku tidak memaksa Bapak untuk ikut, tapi kalaupun Bapak bersedia ikut, saya sangat berterima kasih,” ujar Dicky.
“Berikan aku waktu untuk berpikir terlebih dahulu untuk menentukan keputusanku, ya Mas?”
“Baik, Pak.”
Joko pamit untuk kembali ke rumahnya, dia berterima kasih kepada Maman yang sudah mengajaknya untuk mampir, serta sudah menyuguhi minuman untuknya.
Dalam perjalanan ke rumahnya, dia masih bimbang dalam mengambil keputusannya, sebenarnya tergiur dengan bayaran setiap bulannya, tapi sangat berisiko jika ikut kelompok itu.
Kalau dia ikut ke kelompok Dicky, mungkin nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.
Saat berjalan kembali ke rumahnya, dia kembali mengingat jalan yang pernah di lalui saat tragedi dikejar hantu kepala. Di dalam benaknya masih teringat jelas peristiwa itu.
Pada akhirnya, Joko sampai di rumahnya dengan di sambut oleh istrinya.
“Tumben sekali masih siang sudah pulang, Mas,” sambut istrinya.
“Iya, Dek. Karena aku sudah dapat hasil, he-he-he.”
Joko memberikan uang hasil ojeknya hari itu kepada istrinya. Sementara istrinya menerima hasil jerih payah suaminya dengan senang hati, meskipun hasilnya tidaklah banyak.
Lalu dia membuatkan kopi ke suaminya sebagai wujud bakti istri kepada suami, Joko pun menyeruput kopi yang dibuat oleh istrinya.
“Alhamdulillah, Mas. Hari ini kamu dapat cukup banyak,” ucap istrinya bersyukur setelah menghitung uang tersebut.
“Iya, Dek. Hari ini banyak orang yang aku antar pulang dari pasar.”
“Pantas saja ramai tidak seperti biasanya.”
Joko kembali menyeruput kopinya sampai habis.
“Tadi aku mengantar seorang ibu-ibu pulang dari pasar, rumahnya di Desa Suro Dlemok.”
“Siapa, Mas? Jangan-jangan kamu mengantar hantu lagi ya?”
“Enggak mungkin siang bolong mana ada hantu berkeliaran!”
Joko pun menceritakan kejadian tadi kepada istrinya, saat dia mengantar ibu-ibu itu pulang dari pasar, dia sempat bertemu dengan seorang pemuda yang bernama, Dicky.
Dia sempat menawarkan untuk ikut bergabung ke kelompoknya untuk melawan organisasi Mawar Biru yang merupakan musuhnya. Namun, Joko bingung dan butuh pendapat dari istrinya, apakah dia harus ikut kelompok itu, atau menolak ajakan dari Dicky.
“Semua itu keputusanmu, Mas. Aku hanya bisa mendukung. Boleh saja kalau kamu ikut dengan mereka, asal hati-hati dan lindungi dirimu sendiri,” ujar istrinya penuh kasih sayang.
“Aku masih mempertimbangkan pilihan yang terbaik, maka dari itu, aku minta pendapatmu dalam mengambil keputusan.”
Setelah itu, Joko pamit untuk narik ojek lagi mumpung hari belum gelap, siapa tahu dia akan mendapatkan rezeki lagi yang tidak terduga.
Saat di pangkalan ojek, dia kembali bertemu dengan temannya, Cipto.
“Kalungmu bagus juga, boleh aku melihatnya?”
“Boleh saja,” ucap Joko melepas kalung itu dari lehernya.
“Boleh tidak, kalau kalung ini kubeli?”
“Maaf, kalung ini adalah benda keberuntunganku dan tidak pernah aku jual kepada siapa pun,” timpal Joko sambil kembali mengambil kalungnya.
“Kenapa tidak boleh? Akan aku bayar mahal.”
“Dibayar mahal?”
Joko pun berpikir, apakah dia akan melepas kalung itu demi uang?
Sementara itu, di waktu yang sama, di rumah Maman. Dicky dan Maman masih berdiskusi tentang cara untuk mengakhiri teror itu.
“Apa kamu yakin mau merekrut orang itu?” tanya Maman.
“Iya, kalau dia mau.”
“Apa alasanmu untuk mengajaknya bergabung di kelompokmu?”
“Aku merasakan kalau dia punya kekuatan yang bisa membantuku untuk melawan organisasi. Selain itu, aku ingin memperkuat kelompokku dengan menambah anggotaku yang jumlahnya masih minim.”
“Kenapa bisa sedikit?”
“Banyak yang keluar sejak aku yang menjadi pemimpinnya. Dulu pemimpinnya adalah ayahku, tapi dia meninggal saat berseteru dengan musuhnya, yaitu organisasi Mawar Biru, mereka tak segan untuk membunuh dengan kekerasan atau dengan media gaib, seperti santet.”
“Lantas, apa rencanamu selanjutnya?”
“Untuk sementara, aku akan kembali ke kota menemui Sepuh. Aku akan minta pendapat dan solusi yang terbaik.”
“Baiklah kalau begitu. Semoga kau berhasil mewujudkan keinginanmu.”
“Semoga saja. Mungkin aku harus pamit sekarang, Pak.”
“Tidakkah lebih lama lagi di sini?
“Tidak lama lagi, aku akan kembali ke kampung ini. Terima kasih atas semuanya. Aku ke kota tidak akan lama, karena tujuanku ke kampung Bapak belum selesai.”
“Hati-hati di jalan, dan usahakan kamu cepat ke kota sebelum hari gelap!”
“Baik, Pak. Kalau kedua orang itu sudah ditemukan, kabari aku ya, Pak,” pinta Dicky.
“Baik, aku akan mengabarimu,” kata Maman mengantar dia menuju mobilnya.
Dicky pergi mengendarai mobilnya untuk kembali ke kota. Dia mengemudi mobil dengan santai menyusuri jalanan di pedesaan. Pemandangan indah dan suasana yang asri membuatnya nyaman dalam perjalanannya kembali ke kota.
“Aku sudah yakin kalau jasad Putri ada di daerah kampung ini, tapi di mana?” kata Dicky bermonolog, “sial! Aku belum bisa menemukannya. Mawar Biru, aku akan membalas kebejatan kalian. Tunggu saja!”
Mobil yang ditumpangi Dicky melaju meninggalkan desa itu. Dia kembali ke kota untuk sementara, dan akan kembali desa itu lagi setelah mendapatkan orang yang mampu membantunya. Serta saat tujuannya telah tercapai.
Sementara itu, di sebuah tempat. Ada dua orang diikat badannya menggunakan tali yang menggantung rendah di atas tanah. Mereka adalah Dukun Pardi dan Eko yang sedang disekap.
Seseorang mendekati mereka berdua, lalu melepas selotip yang menempel pada kedua mulut mereka.
Dia melepas selotip itu dengan kuat, hingga membuat mulut mereka berdua sakit.
“Kamu akan mendapatkan balasan atas semua perbuatanmu,” umpat Dukun Pardi.
“Awalnya aku tak mengira kalau kaulah pelakunya, rupanya kau dalang dari semua teror ini!” seru Eko kepadanya.
“Biarkan saja, yang penting aku bisa kaya dan bisa mendapatkan apa pun yang aku inginkan,” katanya dengan arogan.
“Dasar manusia laknat! Azab akan menanti menjelang kematianmu. Kamu akan ....”
“Cukup! Tidak usah mengoceh lagi. Sekarang nikmatilah masa hidup kalian, karena sebentar lagi kalian akan mati menjadi santapan makhluk halus untuk kujadikan tumbal pesugihan,” tuturnya dengan sombong, dia kembali memakaikan selotip itu kepada mereka berdua, “dua minggu lagi adalah tahun baru Suro, waktu di mana kalian berdua akan menemui ajalnya.”
Kemudian, pria itu meninggalkan Dukun Pardi dan Eko yang masih diikat. Langkah kakinya lambat laun mulai menjauh dari tempat itu.
Di sebuah kampung, Maman sedang berjalan seorang diri menuju ke warung untuk membeli rokok. Namun, ada sebuah keributan yang membuatnya tertarik untuk melihatnya. Maman pun mendekat menuju ke kerumunan itu.
“Ayo cepat bawa dia ke kepala desa untuk di interogasi!” seru salah seorang warga.
“Ada apa ini?” tanya Maman kepada salah seorang pemuda.
“Pak Purnomo membeli mobil baru, dia juga mampu membangun rumah tingkat dua, sehingga dituduh melakukan pesugihan,” ujar Wawan menjelaskan situasinya.
“Jadi, mereka semua mencuriganya karena Pak Purnomo yang kaya mendadak?”
“Iya, seperti itulah.”
Setelah mendengar ucapan dari Wawan, Maman pun berpikir panjang, dia menyentuh dagunya menggunakan tangan kanan.
‘Kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Dulunya dia orang tak punya, makan pun hanya nasi sama garam, kenapa bisa langsung menjadi orang kaya dengan waktu yang singkat?’ batin Maman dalam hatinya.
“Dengarkan saya dulu, Bapak-bapak. Saya bersumpah, tidak melakukan pesugihan apa pun itu,” teriak Purnomo yang membela dirinya atas tuduhan itu.
“Buktinya sudah ada, kamu mampu membangun rumah semewah itu dan mampu membeli mobil dengan harga yang mahal. Kalau bukan dari jalan pesugihan, mana mungkin bisa?” sangkal salah satu warga.
“Memang dulu saya orang tidak punya, tapi semenjak istriku menjadi TKW di Hongkong, hidupku berubah drastis,” jelas Purnomo.
“Lah! Itu cuma alasan saja. Mana mungkin bisa kaya dengan waktu sesingkat itu?!” teriak warga itu.
“Ayo cepat, bawa ke kepala desa saja!” teriak yang lainnya.
Tiba-tiba Maman melihat seseorang yang berlari sambil membawa celurit ....