Tiba-tiba, Maman melihat seseorang yang berlari sambil membawa celurit. Dia memakai topi dan masker, membuat Maman tidak mengenali wajahnya.
Larinya begitu cepat seperti ada sesuatu yang merasukinya, dia datang dari kejauhan menuju kerumunan itu. Orang-orang yang tahu kalau dia membawa senjata pun minggir. Mereka takut, apabila akan dibacok olehnya. Rupanya, orang itu akan menyerang Purnomo. Kerumunan orang itu pun bubar untuk menyelamatkan diri. Banyak dari mereka yang teriak, membuat suasana kian tak terkendali.
“Minggir! Minggir!” teriaknya sambil mendorong orang-orang yang berkerumun.
Maman pikir, dia akan menebas siapa saja yang berada di depannya, tapi rupanya tidak, dia hanya menargetkan Pak Purnomo saja. Maman yang melihat orang itu berlari pun berusaha mencegahnya dengan melindungi Purnomo yang saat itu tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia sedang ditahan oleh seseorang yang akan membawanya ke Kepala Desa.
Akan tetapi, jarak Maman dan Purnomo masih jauh, sedangkan orang yang membawa celurit itu sudah mendekat. Seketika, orang yang menahan Purnomo pun menjauh untuk menyelamatkan dirinya.
“Pak Purnomo, awas!” teriak Maman.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Maman pun gagal menyelamatkannya. Purnomo yang tidak tahu kalau dirinya diserang pun tak sempat menyelamatkan dirinya.
Orang yang membawa celurit itu menyerang Purnomo dengan membacok punggungnya dari belakang. Tidak hanya satu kali, dia melakukan beberapa kali seperti ada dendam pribadi padanya.
Setelah orang itu melancarkan aksinya, dia langsung kabur dari tempat itu dengan berlari cepat.
“Woi! Jangan lari kamu!” teriak Bejo yang rupanya berada di belakang kerumunan.
“Bejo, kamu kejar dia! Aku akan mengurus Pak Purnomo!” perintah Maman.
“Baik, Kang,” ucap Bejo, lalu dia berlari untuk mengejar tersangka pembacokan itu.
Bejo mengajak beberapa teman yang berada di kerumunan untuk ikut mengejarnya.
Sementara itu, Maman sangat panik dengan kondisi yang dialami oleh Purnomo. Setelah menerima beberapa bacokan, kondisinya kian parah. Andai saja Maman tidak terlalu jauh, pasti dia sudah tertolong.
Semakin lama, darah yang mengalir semakin banyak. Darah itu mengucur, hingga tergenang di bawah tubuh Purnomo. Kalau dibiarkan seperti itu, dia akan kehilangan banyak darah, dan mungkin saja nyawanya akan melayang.
“Cepat bawa dia ke rumah sakit!” seru Maman.
Kebetulan, ada sebuah mobil bak terbuka yang sedang lewat di dekatnya. Untung saja, mobil itu tidak sedang membawa muatan.
Salah satu orang menghentikan mobil tersebut dan menyuruhnya mengantar Purnomo ke Rumah sakit terdekat, agar nyawanya tertolong.
Anak Purnomo yang masih kecil melihat keadaan ayahnya yang bersimbah darah. Saat itu, dia di gendong oleh tetangganya. Lalu, dibawa pergi dari rumahnya agar tidak melihat kondisi ayahnya yang mengenaskan.
Kondisi Purnomo semakin kritis karena darah yang mengalir sudah banyak. Maman meminta seseorang untuk mengambil salah satu bajunya.
Setelah mendapatkan baju itu, dia merobeknya dan meletakkan ke punggung Purnomo untuk mencegah darah tidak keluar banyak. Itu adalah pertolongan pertama untuk Purnomo sebelum dia sampai di rumah sakit.
Sementara itu, kondisi Purnomo tidak sadarkan diri dan dibopong menuju ke mobil. Matanya masih terbuka dan mulutnya menganga, hanya saja, dia masih bernapas.
“Wawan, aku serahkan padamu. Maaf, aku tidak bisa ikut ke rumah sakit, karena harus membantu Bejo mengejar pelaku pembacokan itu,” ujar Maman.
“Baik, Pak. Kamu juga harus hati-hati, apabila psikopat itu bertindak semaunya,” tutur Wawan.
Mobil bak terbuka itu pun mulai berjalan, hanya Wawan yang menemaninya pergi ke rumah sakit, sementara orang lain tidak memedulikannya.
Mereka pikir, orang yang melakukan pesugihan itu pantas untuk mati. Purnomo yang dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil bak terbuka menjadi tontonan banyak orang di sana.
Saat Maman berjalan menyusul Bejo, dia melirik ke salah seorang pria yang memakai caping gunung dan masker yang menutupi mulutnya.
Rupanya, dia sudah dari tadi ikut di kerumunan itu. Maman sebenarnya ingin tahu kalau dia itu siapa? Tapi Maman tak menghiraukannya, dia lebih memilih untuk mencari Bejo, takutnya Bejo dalam situasi yang pelik, tak mampu melawan psikopat tadi.
Orang misterius itu berjalan semakin menjauh. Sementara itu, Maman sedang mencari keberadaan Bejo.
Pada akhirnya, Maman pun menemukan Bejo bersama temannya.
“Rupanya kalian berdua di sini,” ujar Maman.
“Iya, Kang. Tapi kami kehilangan dia,” ujar Bejo dengan napas terengah-engah.
“Memangnya dia pergi ke mana?” tanya Maman.
“Sepertinya dia masuk ke hutan, Kang,” jawab Bejo sambil mengacungkan jari telunjuknya pada suatu tempat.
“Oh, apa kau tahu dia itu siapa? Atau kamu sempat melihat wajahnya?” tanya Maman.
“Aku sudah melihat wajahnya dengan jelas, karena sudah berhasil melepas masker dan topinya. Namun sayangnya, dia kembali bisa kabur,” ungkap Bejo.
“Dia siapa?” tanya Maman.
“Misno.”
“Misno?” sahut Maman berpikir panjang, ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran Maman saat itu.
“Memangnya kenapa, Kang?” tanya Bejo.
“Teka-teki teror di desa kita semakin membingungkan. Namun, aku sudah paham, mengapa hantu itu membunuh orang di desa kita,” ungkap Maman.
“Benarkah?” tanya Bejo dengan rasa ingin tahu.
“Mari kita diskusikan di rumahku saja, tidak baik menjelaskannya di sini," saran Maman, “cemasnya, kalau ada orang yang salah sangka.”
“Aku mau pulang ya, Pak RT,” ucap Rahmat, salah satu pemuda di kampungnya.
“Baik, kalau Misno membuat ulah lagi, jangan sungkan untuk mengadukannya padaku!” perintah Bejo.
“Baik, Pak RT.”
Mereka berdua pun berjalan menuju rumah Maman tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mereka berdua tak bisa berkata-kata setelah tragedi mengenaskan tadi.
“Pak Ustaz kok lama sekali belum pulang ya. Kalau dia ada di rumah, pasti masalah ini akan segera beres,” ucap Bejo masuk ke rumah Maman, lalu duduk di ruang tamu.
“Kita tidak harus mengandalkan Pak Ustaz, kemungkinan pulangnya masih lama, yakni dua minggu lagi. Kalau kita hanya menunggunya kembali, teror semakin parah dan korban akan semakin banyak berjatuhan.”
“Benar juga, ya Kang. Lantas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”
“Aku pernah mendengar sebuah teori. Jin dan manusia itu sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Hanya saja, hidup di alam yang berbeda. Jin itu tidak mungkin bisa masuk ke alam manusia kecuali dua hal.”
“Dua hal? Apa itu kang?”
“Apa kamu tidak tahu? Memang kamu itu kurang siraman rohani, makanya kalau ada pengajian ya ikutilah, biar mendapatkan ilmu agama!”
“Baik, Kang. Lanjutkan penjelasannya, aku masih penasaran!”
“Menurutku pribadi, Jin itu melakukan teror ke desa kita, karena ada pesuruhnya, atau majikannya. Bisa kupastikan kalau desa kita memang ada yang melakukan pesugihan.”
“Bukannya sudah jelas kalau pelakunya adalah Pak Purnomo?”
“Entah. Aku tidak tahu siapa pelakunya, tapi kalau istrinya menjadi TKW dan dia mendadak menjadi kaya itu masuk akal juga.”
“Jadi, Kakang membela Purnomo yang melakukan pesugihan itu?”
“Bukan membela. Lantas, apa kau sudah punya bukti kalau dia melakukan pesugihan? Atau kamu sudah menemukan ada benda aneh di dalam rumahnya?”
“Belum aku selidiki, Kang. Tapi bisa saja dia menyembunyikan benda itu di suatu tempat, di mana orang lain tidak bisa menemukannya.”
“Tadi aku melihat orang misterius, sepertinya bukan warga kampung sini, dia memakai caping gunung dan masker, sehingga, aku tidak bisa melihat wajahnya. Hanya saja, dia melakukan sesuatu yang mencurigakan.”
“Lalu, untuk Misno, kita harus bagaimana? Apakah kita harus mencari dan menangkapnya, agar warga kampung bisa tenang?” tanya Bejo bingung.
“Tidak usah,” sangkal Maman yang membuat Bejo mengerutkan keningnya.
“Kalau kita tidak menindak lanjutinya, dia akan membunuh orang lain, seperti hantu itu!”
“Aku sudah mengenal dekat Misno, dia adalah pribadi yang introvert yang tidak mau bergaul dengan orang lain, hidupnya juga serba kekurangan. Sehingga kesimpulanku, dia melakukan tindakan ceroboh itu atas dasar disuruh oleh seseorang,” ungkap Maman.
“Mengapa bisa begitu?”
“Logikanya begini, ....”