Suro Dlemok - Pohon Kelapa Angker - Bab 28

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

“Logikanya begini, dia tidak mungkin melakukan pembacokan itu tanpa ada yang menyuruh. Ya, kan?” kata Maman.

“Benar juga, Kang. Dia cuma pekerja serabutan. Kalau tidak ada yang nyuruh kerja, dia tetap menganggur di rumah.”

“Nah, kamu paham.”

“Yang membuatku bingung, apa benar, Pak Purnomo pelaku pesugihan, ya?”

“Itu dia permasalahannya.”

“Apa kita geledah rumahnya saja, untuk mencari benda pesugihan itu?”

“Hus! Itu bukanlah solusi yang tepat, kita hanya orang biasa, bukan polisi maupun intel, kita tidak berhak untuk menggeledahnya. Lebih baik, tunggu sampai dia sembuh. Lalu, kita bicarakan baik-baik dengan dia. Apa benar dia menjadi kaya hanya karena istrinya saja yang merantau, atau ada tindakan lain?”

“Betul, kang. Sekarang aku paham dan setuju.”

Tiba-tiba ponsel Bejo berdering. Rupanya, ada panggilan telepon dari Wawan. Dia adalah teman Bejo yang mengantar Pak Purnomo ke rumah sakit.

“Siapa yang menelepon kamu?”

“Wawan, Kang,” jawab Bejo, lalu mengangkat telepon itu. Dia menggunakan mode loudspeaker, sehingga Maman pun mendengar pembicaraannya.

“Halo, Wan? Gimana?”

“Pak Purnomo, Pak RT. Pak Purnomo ...,” rintih Wawan mencurigakan.

“Dia kenapa?” tanya Bejo.

“Dia meninggal sebelum sampai rumah sakit,” ujar Wawan dari balik telepon.

Maman pun mendengar kata Wawan dari telepon Bejo pun kaget. Kemudian, Wawan langsung menutup teleponnya.

“Inalillahi!” Seru Maman, “ini tidak bisa di biarkan lagi, kampung kita sudah benar-benar tidak aman. Selain adanya teror boneka melayang, ada juga orang dibalik layar yang menghasut warga untuk memfitnah Pak Purnomo. Tujuannya, agar para warga menuduhnya melakukan pesugihan.”

“Kok bisa?”

“Dari analisisku, kalau dia melakukan pesugihan, tidak mungkin dia mati begitu saja. Namun, itu masih belum benar seutuhnya karena aku belum membuktikan.”

“Membuktikan bagaimana, Kang?”

“Kita buktikan nanti malam, kalau teror setan itu masih ada di kampung kita, bisa disimpulkan kalau Pak Purnomo bukanlah biang keladinya.”

“Oke, Kang. Nanti malam aku akan melakukannya.”

“Sekarang kita bagi tugas, kamu kerahkan para pemuda untuk mencari Misno, sebelum hari mulai gelap. Sementara itu, aku dan para warga lain melakukan tindakan mengurus jenazah Pak Purnomo.”

“Baik, Kang.”

Pak RT Bejo bergegas untuk mengerahkan beberapa pemuda untuk mencari keberadaan Misno di hutan. Maman pun mengganti pakaiannya dan bersiap untuk bertugas merawat jenazah sebelum dikebumikan. Berhubung Pak Ustaz belum pulang dari Tanah Suci, untuk sementara waktu, Maman yang menggantikannya.

Pak RT Bejo dengan usia yang masih muda, mengerahkan lima temannya untuk mencari Misno di hutan. Mereka berangkat dengan bekal peralatan yang mungkin di perlukan untuk jaga-jaga, apabila Misno melakukan tindakan di luar dugaan.

Tidak butuh waktu lama, jenazah Pak Purnomo sampai di rumahnya. Anaknya yang masih kecil menangis tak henti-hentinya, melihat ayahnya telah tiada. Dia digendong oleh bibinya yang rumahnya tidak jauh darinya.

Jenazah Purnomo yang belum sempat sampai ke rumah sakit pun dipulangkan ke rumah duka. Wawan beserta sopir mobil itu membopongnya menuju ke dalam rumah untuk segera dilakukan pemulasaran.

Sementara itu, istrinya yang berada di Hongkong sudah di beritahu, dan dia akan segera pulang.

Maman yang menggantikan peran dari Pak Ustaz, melakukan tugasnya dengan baik. Dari pemandian, memakaikan kain kafan, menyalati, sampai terakhir menguburnya.

Sementara itu, Pak RT Bejo bersama teman-temannya tidak berhasil menemukan Misno di hutan. Mereka pulang dengan tangan hampa.

Sore pun menjelang malam, Bejo kembali mengerahkan teman-temannya untuk melakukan pos ronda. Tujuannya untuk membuktikan, apakah teror hantu itu masih ada?

Kalau malam itu aman-aman saja, bisa jadi, memang Pak Purnomo yang melakukan pesugihan itu.

Untuk malam ini, Bejo rela merogoh koceknya untuk membayar para pemuda agar mereka mau melakukan ronda malam.

Di waktu yang sama, Maman beserta orang lainnya melakukan doa bersama untuk kepergian Pak Purnomo yang telah tiada.

Setelah Maman selesai membacakan Ummul Kitab, dia pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengganti pakaian, lalu pergi menemui Bejo di pos ronda, dia ingin membantunya, karena punya tujuan yang sama dengan Bejo.

“Kakang mau ke mana?” tanya istri Maman.

“Aku mau ronda, Dek.”

“Tapi, Kang. Kalau hantu itu menyerang rumah kita, bagaimana?”

“Tenang saja, yang melakukan pesugihan telah tiada. Sekarang kamu dan Singgih sudah aman,” dalih Maman. Dia terpaksa berbohong agar anak dan istrinya tidak cemas. Malam itu, dia ingin membuktikan kebenarannya, meskipun sebenarnya Maman tidak yakin kalau pelaku pesugihan itu adalah Pak Purnomo.

“Aku pergi dulu, ya. Tidak akan lama, kok. Aku juga akan memantau kalian dari pos ronda.”

“Baik, Kang. Hati-hati.”

Singgih sudah tertidur lelap, sedangkan istri Maman masih terjaga, karena takut apabila hantu itu tiba-tiba menyerangnya.

Maman pun pergi ke pos ronda yang dijaga Bejo.

Dikampung itu ada dua pos, yang pertama pos yang tidak jauh dari lokasi masjid dan rumah Pak Ustaz. Lalu pos yang kedua dekat rumah Maman.

Untuk pos yang pertama, dia menempatkan dua pemuda di sana, karena dia merasa di tempat itu sudah aman dari gangguan. Sedangkan, di pos kedua, dia berjaga bersama Wawan.

Setelah sampai di pos, Maman mendapati kalau Bejo sedang bercerita kepada Wawan, tentang pengalaman yang dialaminya melihat sosok kepala manusia.

Wawan pun bergidik ngeri, tapi Bejo meyakinkan Wawan agar jangan takut.

“Rupanya kalian berdua membahas hantu lagi,” cetus Maman yang baru datang.

“Iya, aku baru saja bercerita tentang pengalaman dulu saat melihat hantu.”

“Jadi begitu. Lalu, apa kamu berani ke bawah pohon kelapa itu lagi?” tantang Maman.

“Tidak berani, Kang. Aku kapok, karena di bawah pohon kelapa itu angker.”

“Mengapa kau berpikir seperti itu, bukankah kita pernah membuktikan, kalau yang jatuh adalah kelapa yang sudah tua?”

“Menurutku aneh, Kang. Suara jatuhnya ‘Bug’ seperti benda yang berat, kalau kelapa tua tidak mungkin berbunyi seperti itu.”

“Benar juga, rupanya kamu cerdas juga, mampu menganalisis sampai detail kecil seperti itu.”

Bejo pun memberikan kopi hangat kepada Maman. Lalu, dia kembali mengisap batang rokoknya. Mereka bertiga terdiam, karena sedang menikmati kopi dan rokoknya malam itu

Tiba-tiba ada suara benda jatuh lagi. Padahal, belum lama mereka bicarakan, hal itu pun terjadi lagi.

“Nah, seperti itu suaranya. Saat aku di sini sendiri, bunyinya sampai tiga kali lebih. Lalu, kuperiksa, rupanya adalah kepala manusia,” ujar Bejo.

“Ayo, kita periksa segera!” ajak Maman.

“Tapi, Kang?” kata Bejo takut.

“Ayolah Pak RT, aku juga penasaran suara apakah itu,” sahut Wawan yang duduk di samping Bejo.

“Jadi, kamu mau ikut kami melihat benda itu, atau berdiam di tempat ini seorang diri?” tanya Maman memberi pilihan.

“Ya sudah, aku ikut saja.”

Dia pun mengikuti mereka berdua yang akan mengecek benda yang jatuh.

Jantung Bejo berdegup kencang dan keringatnya mengalir deras. Meskipun dia mengikuti mereka berdua, tapi dari pose badannya, dia bersiap untuk berlari. Karena dia takut, apabila yang mereka temukan adalah kepala manusia.

Maman dengan membawa senternya mencari benda yang jatuh itu.

“Sudah kubilang, kalau ini kelapa tua, bukan kepala tua, Bejo!”

Maman pun mengambil kelapa itu, sementara Bejo tidak berani melihatnya. Berbeda dengan Wawan yang justru penasaran dengan buah kelapa tua itu.

“Pantas saja berbunyi ‘Bug!’ kelapa ini sangat berat,” ujar Maman sambil memainkan kelapa itu seperti bola.

“Coba aku lihat, Pak,” pinta Wawan yang penasaran. Wawan pun mengambil kelapa itu dan memang berat seperti bola boling.

“Kemungkinan kelapa itu mengandung air yang banyak,” ungkap Maman.

“Pak RT, apa kau tidak mau melihat kelapa unik ini?” ledek Wawan.

“Tidak! Buang kelapa itu!” seru Bejo karena trauma peristiwa dulu.

“Ayo! Kita kembali ke pos ronda,” ajak Maman.

Setelah mereka meninggalkan tempat itu dan berjalan ke pos ronda, kelapa itu menjadi kepala manusia tanpa sepengetahuan mereka bertiga. Dia tersenyum menyeringai di tempat gelap itu.

Sesampainya mereka di pos ronda, tiba-tiba ....