Sesampainya mereka di pos ronda, Bejo tiba-tiba kaget karena ada suara telepon yang berdering.
Dia mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang meneleponnya. Rupanya, ada panggilan dari Asep yang tinggal di kampung sebelah. Dengan rasa penasaran, dia mengangkat telepon itu.
“Halo! Ada apa ya?” tanya Bejo. Seperti biasanya, Bejo mengaktifkan mode loudspeaker.
“Bejo, ada suara gamelan yang sumber suaranya berasal dari tanjakan Suro Dlemok,” ujar Asep dari balik telepon.
“Mana mungkin malam-malam begini ada suara gamelan!”
“Maka dari itu, aku ingin bertanya padamu, apakah di kampung sebelah ada hajatan, atau ada kesenian yang sedang berlangsung?”
“Tidak ada. Mungkin telingamu yang bermasalah, dari sini tidak kedengaran.”
“Tadi aku bertanya pada beberapa tetanggaku, kebanyakan mereka juga mendengarnya. Padahal di kampung sini juga tidak ada hajatan atau semacamnya.”
“Aneh sekali, apa sampai sekarang suara gamelan itu masih terdengar?”
“Masih, suaranya sayup-sayup berasal dari tanjakan Suro Dlemok itu.”
“Asep, kau jangan membohongi kami, mana mungkin ada yang menyetel musik gamelan di kawasan Suro Dlemok?” sela Maman mendekat ke ponsel Bejo.
“Benar, Kang. Aku tidak berbohong,” ucap Asep dengan pasti.
Panggilan pun ditutup oleh Asep. Maman sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi. Dia menyuruh Bejo untuk meneleponnya untuk memastikan kabar tersebut, tapi apa daya, Asep ditelepon lagi tidak mengangkatnya.
“Bagaimana, Bejo?”
“Sudahlah, Kang. Asep tidak mengangkat telepon dariku lagi. Mungkin dia sedang takut, atau sedang memantau situasi di tanjakan Suro Dlemok.”
“Sebenarnya, aku juga ingin membuktikan sendiri ke sana, tapi situasi di kampung kita juga sedang tidak baik-baik saja. Kita tidak boleh meninggalkan kampung kita malam ini.”
“Mungkin besok saja kita ke tanjakan Suro Dlemok untuk mencarinya,” saran Wawan.
‘Gamelan ... gamelan ...,’ suara itu masih terngiang di telinga Maman. Setelah dia mendengar kata itu, ada yang selalu mengganggu di pikirannya.
Maman pun berpikir panjang, mungkin ada sesuatu yang sudah lupa dan terhapus di otak Maman.
“Kang! Kenapa melamun?” kata Bejo yang membuat Maman kaget, hingga tersadar dari lamunannya.
“Bukankah Kakang sendiri yang bilang, kalau tidak baik melamun saat malam hari, nanti kesambet,” sambung Bejo mengingat peristiwa dulu, setelah dia melihat hantu tanpa kepala.
Setelah Bejo mengatakan kata itu, otak Maman mulai bekerja dan kembali mengingat sesuatu.
“Bejo, coba kamu ulangi kata tadi,” perintah Maman.
“Kata apa? Kesambet?”
“Iya, coba katakan dari awal,” pinta Maman.
“Tidak baik melamun saat malam hari, nanti kesambet,” kata Bejo menuruti suruhan Maman.
“Oh iya. Bejo, apa kamu ingat bekas kecelakaan sebelum kita sampai di pondok Dukun Paijo?” tanya Maman.
“Iya, aku ingat, ada bekas darah yang sudah mengering.”
“Betul sekali, sebenarnya malam itu, sebelum aku bertemu kamu, aku juga sayup-sayup mendengar suara gamelan.”
“Apa? Benarkah itu?” sahut Bejo dan Wawan.
“Iya, benar. Tapi aku tidak menceritakan ke orang lain, karena mungkin ada orang yang sedang hajatan,” jelas Maman.
“Jadi, setelah Kakang mendengar suara gamelan itu di malam hari, besoknya ada kecelakaan?”
“Betul sekali.”
“Berarti ada kemungkinan besok ada yang kecelakaan di sana, begitu?” ucap Wawan menyimpulkan.
“Belum pasti sih. Manusia tidak bisa meramal kejadian besok,” ucap Maman mengakhiri obrolan, lalu dia meninggalkan Bejo dan Wawan untuk kembali ke rumahnya.
Malam itu, tidak ada teror lagi dari boneka setan. Hanya saja, suara gamelan yang membuat geger para warga sekitar yang mendengar. Namun, para warga tak menganggapnya serius karena Kepala Desa yang sudah mengklarifikasi kalau suara gamelan itu tidak benar-benar ada.
Esok harinya, keributan pun muncul kembali. Ada mayat yang ditemukan di hutan dengan kepalanya yang sudah putus.
Setelah di teliti lebih lanjut, rupanya mayat itu adalah Misno, pelaku pembacokan yang kabur ke hutan. Mungkin awalnya Misno berusaha sembunyi di hutan agar dirinya tidak di massa oleh warga.
Ada suatu tragedi yang terjadi lagi. Setelah tadi malam ada suara gamelan, petang itu ada kehebohan di tanjakan Suro Dlemok.
Benar saja, kecelakaan kembali terjadi. Kecelakaan itu menimpa mobil bak terbuka yang memuat rombongan orang akan pergi takziah. Menewaskan tiga orang perempuan yang tidak sigap menyelamatkan dirinya. Namun, anehnya bayi yang dibawa oleh salah satu korban itu, masih hidup dan tidak timbul luka satu pun.
Selain tiga korban itu, korban yang lain mengalami luka berat karena sempat melompat dari mobil tersebut.
Menurut penuturan ibu-ibu yang selamat, mobil bak terbuka itu tidak kuat menanjak. Mungkin karena kelebihan muatan.
Lain halnya yang dikatakan oleh sopir yang selamat di kejadian itu. Dia mengatakan ada dua anak kecil yang bermain di tengah jalan yang menghalanginya untuk menanjak.
Sopir itu tidak tega kalau dia menabrak dua anak kecil tadi. Hal itu menurut beberapa orang sangat aneh. Logikanya, mana mungkin ada anak kecil yang bermain di malam hari.
Semakin lama, masalah teror di desa itu semakin pelik. Setelah kepergian Pak Purnomo yang dituduh melakukan praktik pesugihan, teror itu pun muncul kembali.
Maman dan Bejo yang berada di kampung Suropati, dan Asep yang berada di kampung Surodadi masih berusaha untuk mengatasi teror itu. Tapi belum berhasil sampai saat itu juga.
Di sebuah tempat yang tersembunyi, Dukun Pardi dan Eko masih disekap di suatu tempat oleh seseorang, tempat itu sangat tersembunyi. Sehingga, tidak mungkin ada orang yang tahu. Mereka berdua berusaha lolos, tapi selalu saja tidak berhasil.
Kembali ke Revan
Revan setiap sore berlatih bela diri, hingga semakin lama semakin kuat. Namun, selama beberapa minggu, dia tidak mendapat kabar dari Eko. Dia pikir, Eko pulang ke rumahnya, atau kehilangan ponselnya di suatu tempat.
Sebenarnya Revan ada niat untuk ke Desa itu dengan tujuan mencari sahabatnya, tapi dia urungkan karena masih takut.
Saat itu, Revan pulang dari padepokan menuju ke kamar kontrakannya, rasa lelah dan mengantuk dia rasakan karena kurang beristirahat.
Revan tidak bisa membuka pintu kamarnya, karena dia kehilangan kunci yang seingatnya dia letakkan di tas.
Kemudian, Revan mencarinya dengan menggeledah isi tasnya. Namun, kunci kamarnya tidak ditemukan.
“Apa mungkin kuncinya ketinggalan di kampus ya?” kata Revan bermonolog mengingatnya.
“Mana mungkin ketinggalan, harusnya berada di tas,” bisiknya lirih.
“Tidak ada cara lain lagi, selain mendobrak pintu itu, daripada aku kembali ke kampus. Tidak mungkin juga kunciku ada di sana,” sambung Revan bermonolog.
Sementara itu, di dalam kamarnya, ada bayangan seseorang yang sudah berhasil masuk, lalu mengunci pintu itu kembali. Sepertinya dia sedang menunggu kedatangan Revan dari tadi.
Di luar kamar itu, Revan melakukan ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah, lalu bergerak maju untuk mendorong pintu kamarnya.
Setelah itu, pintunya pun terbuka. Revan merasa lega karena berhasil masuk ke kamarnya. Namun, setelah dia berhasil masuk, dia pun baru menyadari kalau ada ....