Suro Dlemok - Cinta Antara Manusia dan Makhluk Gaib - Bab 30

Penulis Yuan_bee
21 January 2026

Namun, setelah dia masuk, dia pun baru menyadari kalau ada orang yang menyusup ke kamarnya. Di dalam kamar itu gelap, karena lampu dimatikan oleh seseorang. Revan berjalan perlahan untuk menuju ke sakelar lampu.

Karena sudah hafal, dia tahu betul posisinya ada di mana. Setelah dia berhasil menyalakan lampu, dia kaget setelah melihat seseorang yang ada di kamarnya.

“Nanda, kenapa kamu bisa di kamarku?”

“Aku hanya ingin memberi kejutan buat kamu,” cetus Nanda sambil tersenyum kepada Revan.

“Kejutan apa, aku ga berulang tahun hari ini!”

“Bukan perkara ulang tahun, tapi ....”

“Heh! bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Revan memotong pembicaraannya.

“Aku mencuri kunci kamarmu saat masih di kampus.”

“Pantas saja kunci kamarku yang kuletakkan di tas hilang. Rupanya diambil sama kamu!”

“Maaf Revan, aku hanya ingin bersamamu di kamarmu,” dalih Nanda sambil mendekat, lalu meraih tangan Revan. Tatapan mata Nanda sayu, seperti sudah bersiap untuk di eksekusi oleh Revan.

Sementara itu, Revan bingung harus melakukan apa, dia sebenarnya tidak menyukai Nanda. Sebab, kalau dia mendekati Nanda, mungkin saja hantu Putri Eliza akan marah padanya.

Akan tetapi, bujuk rayu Nanda membuat Revan mabuk kepayang. Nanda mendorongnya menuju ke kasur, lalu menindihnya. Setelah itu, dia melepas kancing bajunya hingga terlihat garis dadanya yang indah. Revan hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan di depannya.

“Eh, Nanda ... sebaiknya kita keluar dari kamarku dan bicara baik-baik di luar, deh.”

Tubuh mereka saling menempel satu sama lain, membuat mereka saling nyaman. Nanda semakin agresif seperti lebih berpengalaman darinya. Wajah Nanda dan Revan lambat laun mendekat, lalu kedua mata mereka saling memandang. Sepertinya akan terjadi pertukaran kelenjar ludah.

Waktu seakan berjalan lambat saat mereka berdua berpandangan. Wajah Nanda sebenarnya cantik, tapi entah kenapa Revan tidak menyukainya. Mungkin saja, dia ingin setia dengan Putri Eliza. Namun, dengan kondisi nyaman seperti itu, mana mungkin Revan dapat menahan hasratnya?

Perlahan tapi pasti, kedua wajah itu semakin mendekat, kedua bibir itu jaraknya hanya beberapa mili saja untuk saling bersentuhan. Sampai-sampai, Nanda mencondongkan bibir manisnya untuk meraih bibi Revan.

“Maafkan aku, Nanda. Kita belum boleh melakukan ini karena belum resmi,” ucap Revan mendorong pelan Nanda. Dia tidak mau tergoda oleh Nanda, perempuan yang tidak disukai olehnya. Sebab, hatinya hanya satu, untuk Putri Eliza saja.

“Kenapa begitu, Revan?” tanya Nanda cemberut, dia kecewa dengan perlakuan Revan yang menolak ajakan Nanda. Padahal dia sudah bersiap untuk memadu kasih.

“Kamu masih milik Dony, kalau aku merebut kamu darinya, pasti dia akan marah,” dalih Revan sambil memegang kedua pundak Nanda dengan telapak tangannya.

“Revan, hubunganku dengan Dony ‘kan sudah putus, aku tidak akan bersamanya lagi mulai saat ini.”

“Iya, aku tahu itu. Tapi kan ....”

“Tapi apa? Aku menyukaimu, Revan. Apa kamu tidak tahu, kalau aku menyukaimu?”

“Aku tidak melarang kamu menyukaiku. Hanya saja ....”

“Hanya saja apa?”

Revan tidak berbicara, dia masih memikirkan cara agar Nanda tidak terus-menerus mengejarnya. Alasan apa yang harus dia keluarkan agar Nanda berhenti mendekatinya?

“Revan, dari awal aku suka dengan dirimu, wajahmu yang ganteng, sifatmu juga baik. Jadi, aku ingin berpacaran sama kamu. Kau harus mau!”

“Eh, Nanda, jangan bicara keras-keras, nanti kamar sebelah mendengar,” ucap Revan menutup mulut Nanda dengan jari telunjuknya.

“Pokoknya kamu harus mau!”

“Dengarkan aku dulu! Cinta itu tidak bisa dipaksakan! Aku belum siap untuk mencintai wanita, karena aku masih ingin fokus kuliah, aku pun belum bisa menata hidupku yang masih berantakan. Jadi, untuk saat ini, aku belum bisa pacaran denganmu, tapi jangan khawatir, kita masih bisa berteman!”

“Kamu kenapa, Revan? Apa karena dijodohkan oleh kedua orang tuamu?”

“Em ... enggak sih. Sekarang kamu pulang aja ya, ini udah malam,” usir Revan dengan halus.

“Mengapa kau mengusirku?”

“Karena kamarku angker, setiap malam ada benda yang bergerak sendiri, lho.”

“Hih, serem. Tapi kenapa kamu tidak takut? Lalu, kenapa masih betah tinggal di sini?”

“Yah ... karena sudah nyaman aja. Harga sewanya juga murah. Ya sudah, sekarang kamu pulang ya, nanti kedua orang tuamu mencarimu.”

Dengan terpaksa, Nanda pun keluar dari kamarnya. Revan mengantarkannya menuju teras depan. Ada beberapa pasang mata yang melihat kedekatan Revan dan Nanda dengan tersenyum cabul setelah melihat mereka keluar dari kamar. Revan melepas rangkulannya dan memintanya untuk segera pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah, Nanda pun berbalik badan dan melipat kedua tangannya, lalu memasang wajah jelek.

Revan menanggapinya dengan melambaikan tangan kepadanya.

‘Nanda, andai saja kamu datang lebih dulu di kehidupanku, mungkin saja aku akan menerimamu,’ batin Revan dalam hatinya. Dia tidak mau Putri Eliza yang merupakan istri gaibnya marah.

Setelah bayangan Nanda lenyap, dia pun kembali ke kamarnya, tapi setelah dia berbalik badan, ada Amira yang sudah mengawasi dari belakangnya. Dia melipat kedua tangannya sambil mengerutkan keningnya.

“Kisah cinta yang tragis. Ternyata kamu baru saja putus dengannya, ya?” ledek Amira.

“Begitulah, mungkin saja Tuhan belum memberiku jodoh yang terbaik.”

“Kamu tidak boleh patah hati, karena banyak wanita di luar sana yang mungkin suka padamu,” sambung Amira. Lalu dia pergi meninggalkan Revan. Amira menganggap Revan baru saja putus, tapi kejadian sebenarnya bukanlah itu.

Setelah semuanya aman, dia kembali masuk ke kamarnya. Revan membuka pintu kamarnya, lalu bergegas masuk sambil menutup kembali pintunya.

Revan kaget karena tiba-tiba Putri Eliza berada di atas kasurnya. Tidak seperti biasanya, ekspresi Putri seperti ada rasa kecewa. Revan menganggapnya kalau kejadian bersama Nanda tadi sempat dilihat oleh Putri, dan dia cemburu padanya.

“Hei, ini jam berapa, kok kamu sudah bisa muncul?” tanya Revan.

“Kamu terlalu asyik dengan wanita tadi sehingga lupa waktu,” cecar Putri.

Revan memeriksa waktu dengan melihat jam di ponsel. Memang sudah pukul 18.30. Waktu itu sudah saatnya Putri Eliza muncul.

“Wanita tadi siapa?” tanya Putri dengan ekspresi yang mungkin akan menghakimi Revan.

Revan pun bingung, dia harus menjawab apa agar Putri yakin, kalau dia sebenarnya tidak menduakan cintanya. Apalagi, Putri sudah melihat adegan tindih-menindih antara Revan dan Nanda.

Revan pun perlahan membuka mulutnya dengan sedikit gugup.

“Dia ....”