Om CEO, Lepaskan Aku!- Minuman Khusus Untuk Krishna-Bab 38

21 January 2026

“Iya Tuan Faris. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan terburu-buru mendatangi Faris.

“Bawa minuman ini untuk papa, ya. Pastikan untuk papa. Ini minuman kesehatan untuk orangtua.”

“Baik, Tuan Faris.” Pelayan itu mengangguk dan berbalik, segera menjalankan perintah.

Faris tersenyum puas. Dia sangat berharap rencananya kali ini harus berhasil. Ditambah lagi ada Arion yang akan menginap malam ini. Maka pikirnya, dia akan meminta Arion membuat Zara sibuk. Sehingga dia akan fokus mengurus Krishna nanti.

Faris berjalan perlahan menuju ruang makan. Di meja makan sudah duduk Krishna, Astrid, dan juga Arion. Faris menggeser kursi di samping Astrid. Sempat diliriknya gelas minuman yang tadi dia buat, ada di samping piring Krishna. Masih penuh isinya.

Berulang kali Krishna menoleh ke arah tangga. Menanti sang putri kesayangan tentu saja. Dan senyumnya langsung mengembang ketika melihat Zara turun dengan handuk putih terlilit di kepalanya.

“Sini Sayang. Ayo makan sama-sama.”

Langkah Zara sempat terhenti ketika melihat Arion sedang tersenyum padanya dari meja makan. Zara hanya membalas dengan senyuman miring. Terpaksa dia duduk di samping Arion. Karena sang papa duduk di kursi utama dan jika memilih kursi lain bukankah menjadi tak sopan? Karena dianggap ingin duduk menjauh dari yang lain.

Arion mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Zara. “Silakan duduk Zara, anggap saja di rumah sendiri.” Senyum tipis terbit ketika dia melirik ekspresi gadis itu. Bahagia sekali rasanya jika sudah berhasil menggoda dan membuat Zara cemberut.

Malas menjawab, Zara hanya menendang mata kaki Arion di kolong meja.

Arion nyaris teriak karena rasanya lumayan nyeri. Dia kembali bersikap tenang. Meneguk minumannya perlahan. Menarik napas dalam seraya mengatur strategi, untuk pembalasan berikutnya, pada gadis nakal ini.

“Silakan dinikmati makan malamnya, Nak Arion.” Dengan ramah dan sopan Krishna mempersilakan Arion untuk memilih menu di atas meja. Bahkan dia juga menyebutkan menu apa saja yang tersaji.

“Terima kasih, Pak Krishna.”

Krishna juga mulai menikmati makan malamnya. “Nak Arion, nanti kalau belum mengantuk, mungkin kita bisa mengobrol dulu di teras depan atau di taman samping, sambil menikmati kopi hangat. Kalau saya sih sudah tua, minumnya air rempah saja.” Krishna terkekeh kecil.

“Iya baik, Pak Krishna.”

Kemudian Krishna mengambil gelas minuman hangat di depannya. Meneguk perlahan, sempat mengernyitkan kening, kemudian meneguk lagi hingga tinggal tersisa setengahnya.

Faris melihat itu dan dia tersenyum senang. Hemm berhasil. Setelah ini aku akan mulai menjalankan rencana.

“Ohh Mas Arion, ditambah lagi makannya. Semua malam ini spesial loh, khas masakan Indoneia.” Faris menyodorkan mangkuk besar berisi rawon daging.

“Terima kasih.” Arion menerima mangkuk itu. Menyendokkan ke piringnya, lalu juga ke piring Zara. Arion tersenyum melihat Zara yang mendelik galak padanya. “Terima kasih kembali,” ucapnya lalu kembali beralih pada hidangan makan malam di depannya.

Zara juga mulai makan tapi tanpa bicara sepatah katapun. Sungguh dia semakin merasa sedang dteror oleh Arion. Tapi ini teror secara terang-terangan, di depan mata. Zara ingin sekali terlepas dari kungkungan Arion, juga sangat ingin melupakan ingatan pahitnya dengan Arion di malam itu.

Saat kepala pelayan melewati ruang makan, Krishna memanggilnya. “Bagaimana, kamar taku utama sudah disiapkan?”

“Sudah, Tuan Besar.”

Krishna mengangguk-angguk. “Baiklah.” Kepala pelayan itupun pamit dan beranjak dari sana.

Zara melirik curiga pada papanya. “Kamar tamu? Untuk siapa, Pa?” Dia sunggu penasaran dan perasaannya langsung tidak enak.

“Untuk Om Arion tentu saja. Mobilnya kan tadi mogok, dan sayangnya tekhnisi mas mu nggak bisa datang malam ini, katanya lagi di luar kota dan baru besok pagi bisa datang.”

Zara langsung mendengkus kesal. “Memangnya nggak ada tekhnisi lain, Pa? Kenapa harus bergantung pada satu orang aja sih?!” Sewot sekali Zara kelihatannya.

“Itu tekhnisi yang paling bisa dipercaya, Ra. Mas sudah pernah coba beberapa tekhnisi lain dan hasilnya memang kurang sempurna. Jadi yaa lebih baik tunggu tekhnisi langganan Mas saja lah, supaya puas.” Faris yang menjawab.

“Ck ah, kesempurnaan itu kan hanya milik Allah, Mas. Lagipula tekhnisi lain kalau nggak diberi kesempatan kasihan dong! Bagaimana dengan nasibnya nanti kalau nggak kepake, lalu dipecat sama bosnya dan jadi pengangguran. Akhirnya malah pada minjam ke ojol—“

“Pinjol.”

“Iya pinjol, ah!” Zara tidak suka ucapannya dipotong oleh Arion. “Kalau sudah terjerat utang ke pinjol, tekhnisi-tekhnisi itu bisa bunuh diri nanti, Mas! Berarti itu salahnya Mas Faris!”

Faris geleng-geleng kepala. “Ngomong apa kamu Ra, Ra.”

“Zara tenang saja, nggak serumit yang kamu bayangin kok. Ini cuma soal tekhnisi yang cocok menurut Mas Faris. Iya kan, Mas?” Astrid mencoba mengakhiri perdebatan.

Zara cemberut. Dia malas bicara lagi.

Selesai makan malam Zara memilih langsung ke kamarnya saja. Meskipun papanya mengajak ngobrol santai dulu di teras depan. Apalagi ada Arion juga di sana, makin malas saja Zara.

Secangkir kopi dan secangkir teh jahe hangat datang menemani Krishna dan Arion di teras depan. Keduanya sedang mengobrol santai, meskipun bahan pembicaraan seputar bisnis.

“Oh ya Pak Krishna, lalu apakah Zara sudah mulai diarahkan untuk nantinya melanjutkan bisnis perusahaan keluarga?” Arion menunggu beberapa detik, tapi pertanyaannya tidak juga dijawab. Dia menoleh dan begitu terkejut. Sebab dilihatnya Krishna telah tertidur dengan bersandar di kursi. Padahal tadi mereka masih asyik mengobrol.

Kening Arion mengernyit. “Pak Krishna?” Arion menepuk pelan pundak Krishna.

“Ohh ya ... aduh maaf, saya malah ketiduran. Hoahemm ....” Krishna menguap seraya menutup mulutnya. “Aduh tiba-tiba saya mengantuk sekali. Bagaimana kalau obrolannya kita lanjutkan besok saja Nak Arion?” Kedua mata Krishna tampak berat sekali.

Arion mengangguk. “Baik Pak, tidak masalah.” Lalu dia membantu Krishna untuk berdiri juga memberikan tongkatnya. Jalan Krishna terlihat agak oleng, tampaknya memang sangat mengantuk.

“Oh Pak Krishna, saya antarkan saja ke kamar, ya?”

Krishna terkekeh pelan lalu dia menguap lagi. “Ya boleh. Maaf merepotkanmu, Arion. Maklumlah orangtua ya, sering mengantuk tiba-tiba.”

Arion pun segera berdiri lalu mengantar Krishna ke kamarnya. Ditutupnya pintu kamar Krishna perlahan, dan ketika dia membalik badan. Dia seperti melihat seseorang di sana.

Ada siapa itu? Mencurigakan. Namun Axel langsung menoleh ke arah lain. Dia berpura-pura tidak melihat saja. Axel terus berjalan melewati lemari besar, lalu melewati tembok pembatas di mana dia yakin ada seseorang di balik tembok itu.

Axel tetap berjalan santai, tapi kemudian berbelok dan tidak melanjutkan langkahnya menuju teraas depan maupun kamar tamu utama. Tatapannya tajam ke arah tembok pembatas tadi. Sekarang, bukan orang itu yang sedang bersembunyi, tapi Arion yang bersembunyi sambil mengintip. Dia penasaran.