Benar saja. Tampak orang yang tadi mengintip, keluar dari persembunyiannya. Rumah sebesar ini akan terlihat sepi meskipun banyak penghuninya. Para pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Atau bisa juga sudah beristirahat karena sekarang sudah hampir jam sembilan malam.

Arion masih terus mengawasi orang itu. Keningnya mengernyit ketika melihat si penguntit telah benar-benar keluar dari persembunyiannya. Tidak salah lagi, dari belakang saja Arion sudah tahu, kalau itu adalah Faris. Mau apa Faris mengendap-endap begitu? Kalau memang mau bertemu papanya kan tinggal ketuk pintu saja, mungkin papanya akan terbangun.

Dan Faris terlihat perlahan membuka pintu kamar Krishna. Dia masih celingukan sebelum masuk dan menutup pintunya kembali rapat-rapat. Arion tidak pergi, dia menunggu di sana, di persembunyiannya.

Sepuluh menit menunggu, Arion melihat Faris keluar kamar, tapi tidak dilihatnya Faris memegang sesuatu, hanya salah satu tangannya dimasukkan ke saku celana.

Masih penasaran. Arion memutuskan untuk terus mengikuti Faris. Dia ingin tahu apa alasan Faris mengendap seperti tadi? Mengintip seperti maling yang akan mencuri sesuatu? Padahal jika butuh sesuatu pada papany, tinggal bilang atau minta saja, itu yang ada dalam pikiran Arion.

Faris menaiki anak tangga. Sudah tentu dia akan menuju kamarnya. Arion masih mengikuti dengan berjalan perlahan, juga menaiki anak tangga. Dilihatnya Faris masuk ke dalam kamarnya. Arion masih terus melangkah sambil berpikir keras.

Tiba-tiba dilihatnya satu kamar di sana, yang letaknya setelah kamar Faris, terbuka pintunya. Arion yang tanpa sadar baru saja berjalan melewati kamar Faris, terdiam seketika.

Begitupun dengan Zara yang baru keluar dari kamarnya. Bahkan tangannya masih memegang knop pintu, dia juga tertegun melihat Arion di sana.

“Mau apa?” tanyanya pelan dengan kedua mata melotot. Arion memang selalu mengikutinya, tapi tidak sampai ke kamar juga. Makanya Zara sangat kaget melihat om-om itu ada di lantai dua, di dekat kamarnya.

Belum lagi keduanya selesai dengan rasa terkejutnya masing-masing, Arion mendengar suara pintu terbuka. Dia menoleh dan benar saja, pintu kamar Faris sedikit terbuka. Secepat yang dia bisa, Arion berlari menuju kamar Zara dan langsung menarik tangan gadis itu. Keduanya masuk ke kamar dan Arion langsung menutup pintunya rapat-rapat.

Faris keluar dari kamarnya dengan handphone di tangan. Dia melihat ke kanan dan kiri lorong, sepertinya tadi dia mendengar sesuatu, tapi semua terlihat sepi. Tidak ada satu orangpun di lorong kamar, hanya dirinya. Dia mengendikkan kedua bahu lalu berjalan ke lantai bawah sambil serius membaca pesan di layar handphone. Faris ingin membuat kopi di dapur, sebab dia tidak langsung tidur. Sejak kembali dari kamar Krishna, Faris sibuk mengirim pesan pada seorang temannya yang berprofesi sebagai dokter.

“Om Arion ngapain sih?” Zara menepis tangan Arion dengan kasar. Dia marah bercampur panik karena Arion dengan lancangnya berani masuk ke kamarnya, bahkan tadi menarik tangannya begitu saja.

“Ssttt!” Arion meletakkan jari telunjuk di bibir.

Zara tidak peduli. Dia tetap tidak terima dengan sikap Arion yang menurutnya sangat kurang ajar ini. “Om Arion nggak sopan ya berani masuk ke kamarku!” serunya galak.

Takut terdengar keluar kamar, Arion langsung membekap mulut Zara dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memeluk tubuh Zara dengan erat. Tubuh mereka menempel saling berhadapan dengan begitu rapat. Dia terpaksa melakukan itu sebab dia yakin Zara tidak bisa diajak bicara baik-baik. Nanti bukannya menurut justru bisa-bisa gadis itu semakin kencang berteriak, pikir Arion.

“Emh! Emh!” Zara berontak. Berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Arion. Dia semakin panik karena mulutnya dibekap. Ingin rasanya dia berteriak memanggil Faris dan Astrid di kamar sebelah. Namun dia tidak berdaya dibandingkan dengan tenaga Arion.

“Oke. Oke, Zara. Aku akan melepaskanmu tapi kamu harus berjanji jangan berteriak, bisa?” bisik Arion di telinga Zara.

Zara mengangguk cepat, berulang. Perlahan Arion melepaskan bekapan tangannya. “Aaa—hemp!” Baru saja dilepas Zara langsung berteriak kencang dan kembali terhenti karena tangan Arin langsung membekapnya kembali.

“Zara, tolonglah kali ini saja bisa bekerja sama. Aku sama sekali nggak ada niat jahat padamu, Zara. Aku justru mencurigai Faris.”

Zara melotot. Dia mendongak dan menatap Arion penuh tanda tanya. Curiga apa maksudnya? Memangnya Mas Faris kenapa?

Arion mengangkat sebelah alisnya. “Nahh penasaran, kan? Akan kuberitahu asalkan kamu janji nggak akan teriak? Hem?” Arion semakin menunduk dan memicing pada Zara. Dia tidak percaya pada gadis itu. Pun demikian Zara yang belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Arion.

Namun rasa penasaran mengalahkan rasa kesal, Zara mengangguk. Dia ingin mendengar dulu penjelasan Arion.

Arion tersenyum tipis. “Bagus. Jadilah anak baik.” Arion melepaskan bekapannya tapi langsung memencet ujung hidung bangir Zara. Membuat gadis itu sontak melotot lagi.

“Eits! Mau dengar cerita, kan? Ayo duduk manis di sini.” Arion duduk di tepian tempat tidur, terpaksa Zara mengikutinya. Duduk di samping Arion dengan waspada, kalau-kalau Arion akan menerkamnya tiba-tiba atau semacam itu. Bayangkan saja sekamar berdua dengan seorang om-om random!

"Jadi Zara, tadi aku melihat Faris masuk ke kamar Pak Krishna, papa kalian!” Ya, Arion belum tahu kalau Faris bukanlah anak kandung Krishna, hanya keponakannya saja. Dia menunggu reaksi Zara.

Zara mendengkus malas. Cerita macam apa ini? “Lalu? Apanya yang aneh?” Sekarang kedua bola mata Zara memutar. Malas sekali rasanya.

“Yang aneh itu adalah ... Faris masuk ke kamar Pak Krishna dengan mengendap. Dan tanpa mengetuk pintu kamar, dia seperti ... masuk diam-diam.” Lagi. Arion menunggu reaksi Zara. Tapi gadis itu masih tidak tertarik.

“Masih belum aneh. Bisa saja kan karena papa sudah tidur, tapi Mas Faris butuh sesuatu yang mau diambil dari kamar papa. Tapi Mas Faris nggak mau ganggu papa, jadinya masuk diam-diam. Begitu? Jadi, anehnya di mana?” Kedua alis Zara terangkat. Rasanya dia sudah gemas sekali ingin meraup wajah Arion yang masih menatapnya datar.

Arion mengangkat tangannya. “Tapi kan—hemm yaa bisa juga sih. Tapi ....” Arion berpikir keras. Mencari sesuatu yang bisa mendeskripsikan isi kepalanya. Sebab rasanya memang benar ada yang tidak beres. Arion bisa merasakan itu, tapi apa yang dikatakan oleh Zara tidak salah juga.

Zara melotot, lalu berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tidak sabar lagi. “Sudah membualnya? Sekarang sebaiknya Om keluar ya dari kamar aku. Selagi aku masih bisa bicara baik-baik nih.” Zara menunjuk ke pintu kamar.

“Ah, tapi Zara—“

“Tidak ada tapi-tapian. Ayo keluar sekarang, Om!” Zara menarik tangan Arion supaya berdiri lalu mendorongnya ke arah pintu.

Zara membuka pintu kamar dan mendorong Arion sekuat tenaga, untung saja Arion dapat menahan dengan kedua kaki sehingga dia tidak sampai jatuh ke lantai.

Baru saja Zara akan menutup pintu, dia mendengar suara langkah lalu menoleh. Bola matanya sontak membulat dan mulut menganga. Dilihatnya Faris berjalan dari arah anak tangga dan sudah akan membelok ke lorong kamar.

Dengan cepat Zara menarik Arion kembali masuk ke kamar lalu menutup pintu dengan kencang karena panik.

Faris tersentak mendengar suara dibanting. Dia menatap curiga ke arah pintu kamar Zara. Langkahnya dipercepat, melewati kamarnya sendiri. Faris berdiri di depan pintu kamar Zara, dia mengetuk beberapa kali.

“Zara! Zara kamu di dalam, kan?” Faris kembali mengetuk.

Diam. Zara menyuruh Arion untuk diam. Keadaan berbalik sekarang. Zara yang takut ketahuan sekamar dengan Arion. Meskipun ini hanya salah paham tapi tetap saja dia takut dituduh macam-macam.

“Zara! Kamu kenapa?!” Faris mengetuk lagi.

Zara berdeham pelan. “Hem? Kenapa sih, Mas Faris? Aku lagi tidur kok, ganggu aja deh!” Nada suara dibuat lemas.

Faris terdiam sebentar. “Ohh ya sudah.” Dia berjalan menuju kamarnya, dan masih sempat menoleh sekali sebelum benar-benar masuk ke kamarnya.

“Fiuhhh!” Zara menarik napas lega.

Namun tidak dengan Arion. Dia justru menahan napas sejak tadi.