Om CEO, Lepaskan Aku-Apakah Aku Jatuh Cinta?-Bab 40

21 January 2026

Saat sorot mata Zara tidak lagi tertuju pada pintu kamar, sekarang dia menatap Arion di hadapannya. Dekat sekali. Tadi dia yang menarik Arion tapi sekarang dia juga yang tertegun.

Untuk beberapa detik mereka berdua saling bertatapan tanpa bicara. Terbawa suasana, Arion menikmati menatap wajah cantik natural Zara. Bola mata yang indah yang sering melotot galak padanya, sekarang terlihat begitu bersahabat. Hidung mancungnya, lalu bibirnya ... Arion menatap bibir Zara, tidak tipis tapi juga tidak terlalu tebal.

Perlahan wajah Arion menunduk. Tatapan sendunya masih hanya pada satu titik. Bibir Zara yang seakan sedang memanggilnya untuk terus mendekat.

Bahkan sekarang aroma hangat mint napas Zara terasa di wajahnya. Kelopak mata Arion semakin turun. Hanya tinggal satu senti lagi bibir mereka bertemu tapi dengan cepat Zara melengos. Membuang pandangan ke arah lain.

“Om mau apa sih?” Zara tanpa memandang Arion. Dan nada suaranya juga tidak tinggi seperti tadi.

Arion menarik napas dalam. “Maaf Zara.” Baru kali ini Arion canggung di depan seorang wanita. Terlebih wanita ini adalah seorang gadis remaja. Padahal biasanya dia paling bisa mengatur emosi dan selalu tenang menghadapi wanita model apapun.

Canggung. Arion membalik badan. Membuka pintu kamar perlahan. Dilihatnya di luar aman, Arion menoleh ke belakang sekali, sontak Zara melengos, dia malu kepergok sedang memperhatikan Arion dari baling punggungnya.

Arion keluar dari kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Dengan cepat dan tanpa suara, Arion menuruni anak tangga. Di lantai bawah tampak sepi. Arion mengambil minuman di ruang makan. Lalu berjalan menuju kamar tamu utama.

Sudah di dalam kamar, tapi Arion malah tidak mengantuk sama sekali. Dia meneguk minuman dingin, untuk membasahi tenggorokan. Terasa lega, tapi tidak dengan isi kepalanya.

Kembali terbayang saat tadi di kamar Zara. Bahkan tadi jantungnya bisa dibuat berdegup begitu kencang oleh tatapan gadis ingusan itu. Bagaikan anak SMA yang sedang jatuh cinta, Arion terbaring terlentang di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar, melamun. Membayangkan andai saja tadi dia bisa mencium bibir ranum Zara. Seperti malam itu ....

“Ah, gila! Sadarlah Arion, dia itu hanya gadis kecil, anak kemarin sore!" Arion mengusap wajah dengan kasar.

Semakin tidak mengantuk, Arion memutuskan untuk ke luar kamar saja. Mungkin dengan berjalan-jalan sebentar bisa membuatnya lelah lalu mengantuk.

Arion berjalan begitu saja, dengan isi kepalanya yang tidak bisa diajak kompromi. Hanya ada Zara dan Zara. Meskipun Arion sudah mneggelengkan kepala beberapa kali, tetap saja wajah Zara menari-ari meledeknya tidak henti. Tidak di alam nyata, tidak di alam pikirannya, Zara memang selalu membuatnya gemas.

“Huft!” Arion menarik napas dalam. Berusaha mengisi rongga tubuhnya dengan oksigen yang baru. Berharap itu bisa membuatnya normal kembali. Tidak melulu membayangkan gadis 20 tahun itu.

Pantas saja udara terasa lebih dingin dan sejuk, ternyata dia sudah berjalan sampai ke taman samping rumah. Yang indah dengan gemerlapnya lampu-lampu kuning.

“Zara?” Deg! Arion ragu. Sosok Zara di sana, beberapa meter di depannya, apakah nyata atau hanya halusinasi yang berlebihan. Gawat! Sepertinya ini parah sampai aku berhalusinasi! Bagaimana caranya aku bisa normal kembali?

Arion menepuk-nepuk kedua pipinya perlahan. Tapi sosok Zara di sana, yang sedang duduk sendirian sambil minum dari gelas kaca, tidak juga hilang.

“Zara!”

Zara menoleh. Dia langsung berdiri tegak melihat Arion di sana. Seperti tidak percaya. Saat Arion berjalan mendekat, Zara masih hanya diam. Namun ada yang lain dalam sorot mata Zara, Arion bisa merasakan itu.

Dengan langkah pasti Arion terus mendekat, bahkan sampai hampir menabraknya barulah Arion berhenti. Detik kemudian kedua tangannya terulur, memegang kedua sisi pipi Zara, dan tanpa ragu sedikitpun Arion melekatkan bibirnya pada bibir Zara.

Anehnya, Zara masih terdiam. Meskipun Arion dapat merasakan deru napas Zara yang seperti orang panik, tapi nyatanya Zara menerima. Sebelah tangan Arion turun, menggenggam tangan Zara yang tergantung lemas di samping badannya. Dingin. Rasanya dingin sekali.

Ini orang atau setan? Tangannya dingin banget? Dan kalau memang ini Zara betulan, kenapa anak ini nggak berontak? Minimal seharusnya aku kena tabok, kan?!

Merasa tidak ditolak, Arion mulai menyesap lebih dalam. Bibir ranum terasa manis membuatnya candu. Kedua mata Arion terpejam. Tapi bibirnya sibuk, melumat dalam dengan gerakan lembut. Dapat dirasakannya tangan dingin Zara mulai hangat. Bahkan Zara sekarang yang menggenggam kencang tangan Arion.

Sedangkan satu tangan Arion masih tetap di pipi Zara. Akan dia jaga tangan itu, tidak akan turun kemana-mana. Arion masih cukup sadar diri meskipun dia begitu menikmati bibir Zara saat ini. Dia berjanji kejadian malam itu tak kan pernah dia ulangi, kecuali ... gadis ini memang ditakdirkan menjadi miliknya.

Saat dirasakannya Zara mulai membalas ciuman itu, Arion membuka kedua mata. Dia sadar, harus berhenti sekarang juga atau tidak akan bisa berhenti hingga menuntut lebih. Apalagi dilihatnya kedua mata Zara yang terpejam sekarang.

Perlahan. Dengan lembut Arion mengurai ciuman. Tak ingin mengecewakan Zara tapi juga harus mengingatkannya. Saat bibir mereka telah benar-benar terpisah, butuh beberapa detik sampai Zara membuka mata. Dan tatapan Zara begitu terkejut, bercampur malu. Gadis itu menutup mulutnya. Bahkan di bawah cahaya lampu taman temaram, Arion bisa memastikan kedua pipi Zara sedang bersemu merah sekarang.

“Zara, maaf—“ Kedua tangan Arion sudah akan membelai lembut kepala Zara.

Tapi di luar dugaan, Zara telah kembali dari ruang halusinasi. Dia menepis tangan Arion dengan kasar. Lalu lari begitu saja, meninggalkan Arion.

Arion memutuskan untuk tidak mengejar gadis itu. Selain karena tidak ingin membuat keributan, Arion juga memberikan waktu untuk Zara. Supaya gadis itu bisa berpikir, apakah tadi hanya nafsu sesaat atau memang ada rasa pada pria ini yang jarak usia mereka sampai sepuluh tahun.

Angin malam berhembus, tengkuk Arion meremang. Entah sudah berapa lama dia sendirian di taman ini. Tadi dia terus membayangkan Zara. Tidak enak rasanya. Begitu dia melihat Zara, bagaikan menemukan obat penenang, berharap itulah penawar gundah hatinya.

Namun setelah merasakan sentuhan di bibir Zara, bukannya jadi obat penawar, justru otaknya bertambah sakit. Bayangan Zara yang tadinya agak blur, justru sekarang menjadi nyata. Memenuhi setiap rongga pikirannya.

“Huft!” Jangan bilang aku sedang jatuh cinta, Tuhan.

Arion memeluk tubuhnya sendiri yang mulau terasa dingin, dia berjalan kembali masuk ke rumah. Menuju kamar tamu utama. Terasa hangat. Arion berbaring terlentang. Menatap langit-langit kamar.

Dia tidak tahu, di atas, di lantai dua, Zara juga sedang berbaring, dengan posisi menyamping memeluk guling. Keningnya mengernyit. Sesekali jarinya mengusap bibirnya yang terasa dingin. Seperti masih terasa ada sentuhan bibir Arion di sana.

Oh Tuhan, apakah aku sedang jatuh cinta? Tapi Nathan ....