"Kau yakin suamimu yang bodoh itu tidak akan pulang cepat malam ini?" Suara berat seorang pria terdengar samar dari balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Suara yang asing. Bukan suara dari televisi, bukan pula suara tamu yang diundang secara resmi. Itu adalah jenis suara yang seharusnya tidak ada di dalam kamar utama sebuah rumah tangga; rendah, serak, dan penuh nafsu. Randy terpaku di ujung tangga. Buket bunga mawar merah yang ia genggam erat, simbol perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, kini terasa seperti duri yang menusuk telapak tangannya. Jam tangan mahalnya baru menunjukkan pukul sembilan malam. Ia sengaja membatalkan rapat penting, memacu mobilnya menembus hujan deras Jakarta, hanya demi melihat senyum Siska, istrinya. Namun, yang menyambutnya bukanlah senyum. Melainkan desahan. "Jangan bahas dia, Bram... Ahh, sial. Fokus saja padaku," sahut suara wanita yang sangat Randy kenal. Suara Siska. Tapi nadanya berbeda. Bukan nada manja yang biasa Siska gunakan saat meminta kartu kredit baru, melainkan nada liar yang belum pernah Randy dengar selama tiga tahun pernikahan mereka. "Lagipula, si 'dompet berjalan' itu bilang dia lembur sampai pagi." Dompet berjalan. Dua kata itu menghantam dada Randy lebih keras daripada palu godam. Jantungnya berhenti berdetak sesaat, lalu memacu gila-gilaan, memompa darah panas naik ke kepalanya. Kakinya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba mencekik. Takut menghadapi kenyataan yang ada di balik pintu itu. Dengan langkah seringan kapas namun seberat timah, Randy mendekat. Lantai marmer yang dingin seolah membekukan nyawanya. Ia tidak langsung mendobrak. Ada bagian masokis dalam dirinya yang butuh bukti. Matanya. Mata yang sebentar lagi akan kehilangan cahayanya, mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Pemandangan di depannya menghancurkan dunianya dalam satu kedipan mata. Lampu tidur temaram memberikan sorot keemasan pada dua tubuh yang bergumul di atas ranjang king size miliknya. Sprei satin abu-abu yang ia beli bulan lalu kini kusut masai. Di sana, istrinya, wanita yang ia puja bak ratu, sedang berada di atas tubuh pria lain. Siska terlihat begitu lepas. Rambut panjangnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, menempel pada punggungnya yang berkeringat. Gaun tidur sutra merahnya sudah teronggok menyedihkan di lantai, berserakan bersama kemeja pria dan celana panjang Randy yang belum sempat dimasukkan ke laundry. "Ya Tuhan, Siska... kau sempit sekali..." pria di bawahnya mengerang, tangannya mencengkeram pinggul Siska dengan kasar, meninggalkan bekas merah di kulit putih itu. "Lebih cepat, Bram! Jangan berhenti!" Siska mendongak, matanya terpejam nikmat, bibirnya mendesah panjang saat pria itu menyentakkan pinggulnya ke atas, menyatukan tubuh mereka semakin dalam. Randy merasa mual. Perutnya bergejolak hebat. Ia melihat bagaimana Siska bergerak, naik dan turun dengan ritme yang memabukkan, dua melon sintalnya berguncang mengikuti irama dosa yang mereka ciptakan. Keringat menetes dari pelipis Siska, jatuh ke dada pria itu—cairan hina yang menyegel pengkhianatan mereka. Aroma di udara mencekik Randy. Campuran parfum vanilla Siska, musk maskulin yang asing, dan bau menyengat dari aktivitas seksual mereka memenuhi lorong. Itu bau pengkhianatan. Randy ingin berteriak. Ia ingin masuk ke sana, menarik rambut Siska, dan menghajar pria bernama Bram itu sampai mati. Tapi tubuhnya menolak perintah otaknya. Rasa sakit di dadanya terlalu nyata, terlalu melumpuhkan. Ia merasa kerdil. Ia merasa telanjang dan bodoh. Di tengah penyatuan tubuh mereka, pria itu bertanya lagi dengan napas tersengal, "Apa kau... ngh... mencintainya?" Siska tertawa kecil, tawa yang terdengar jahat di telinga Randy. Ia menunduk, mencium bibir pria itu dengan lapar sebelum berbisik, namun cukup keras untuk merobek sisa harga diri Randy yang masih tersisa. "Cinta? Jangan bercanda. Aku jijik setiap kali dia menyentuhku. Tangannya kasar, obrolannya membosankan. Satu-satunya yang aku cintai darinya adalah saldo rekeningnya yang tidak pernah habis. Asal dia terus mentransfer uang, aku akan terus berpura-pura mendesah di bawahnya. Tapi malam ini... malam ini aku butuh pria sungguhan, bukan banci yang sibuk bekerja itu." Brak! Buket mawar di tangan Randy jatuh ke lantai. Suara jatuhnya tidak keras, tapi di keheningan lorong, itu terdengar seperti ledakan. Gerakan di atas ranjang terhenti seketika. Siska menoleh cepat ke arah pintu, matanya membelalak lebar. Wajah yang tadi penuh gairah kini pucat pasi saat melihat sosok suaminya berdiri di ambang pintu, wajahnya basah oleh air mata dan keringat dingin. "Ran... Randy?" Siska tergagap. Dia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, sebuah gerakan refleks yang sia-sia. Randy sudah melihat semuanya. Setiap inci kulitnya, setiap tetes keringat dosanya. Pria bernama Bram itu mendorong Siska ke samping dan panik mencari celananya. "Sialan! Kau bilang dia tidak akan pulang!" Randy tidak mengatakan apa-apa. Tenggorokannya tercekat oleh gumpalan emosi yang siap meledak. Ia menatap Siska—tatapan terakhir yang penuh dengan kehancuran, kecewa, dan luka yang menganga lebar. Tatapan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa rumah yang ia bangun selama ini hanyalah istana pasir. "Sayang, dengar... ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" Siska mulai meracau, suara paniknya terdengar palsu dan menjijikkan. Dia mencoba turun dari ranjang, tapi kakinya tersangkut selimut. Randy mundur selangkah. Lalu berbalik. Ia lari. "Randy! Tunggu! Jangan pergi!" Siska berteriak di belakangnya. "Randy, dengarkan aku!" Tapi Randy tidak peduli. Ia menuruni tangga dua demi dua, nyaris tergelincir. Napasnya memburu seperti orang yang baru lolos dari kebakaran. Ia harus pergi. Ia harus keluar dari rumah neraka ini sebelum ia melakukan sesuatu yang akan ia sesali—seperti membunuh mereka berdua dengan tangan kosongnya. Ia membanting pintu depan hingga kaca jendelanya bergetar. Hujan deras langsung menyambutnya, membasahi kemeja kerjanya dalam sekejap, menyamarkan air mata yang mengalir deras di pipinya. Randy melompat masuk ke dalam mobil sedan sport hitamnya. Tangannya gemetar hebat saat memasukkan kunci. Mesin menderu, seolah ikut merasakan amarah tuannya. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat keluar dari pekarangan rumah mewah itu, meninggalkan jejak ban yang berdecit di aspal basah. Jalanan Jakarta malam itu sepi dan licin. Tapi Randy tidak peduli. Jarum speedometer terus merangkak naik. 80... 100... 120 km/jam. Lampu jalanan hanya menjadi garis-garis cahaya buram yang menyakitkan mata. Di dalam kepalanya, suara desahan Siska terus berputar seperti kaset rusak. Aku jijik padanya. Hanya butuh uangnya. Pria sungguhan. "ARGHHHH!" Randy berteriak sekeras-kerasnya di dalam kabin mobil yang sempit, memukul setir kemudi hingga klakson berbunyi panjang. Sakit sekali. Rasanya jantungnya ditarik paksa keluar dari rongga dadanya. Wanita yang ia cintai setengah mati, wanita yang ia berikan segalanya, ternyata hanyalah seorang pelacur yang pandai bersandiwara. Tiga tahun kebohongan. Setiap ciuman, setiap pelukan, setiap kata 'aku sayang kamu'—semuanya palsu. Air mata mengaburkan pandangannya. Wiper mobil yang bergerak cepat tak mampu menghapus derasnya hujan dan kepedihan di matanya. Ia tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Dunia di depannya hanyalah campuran cahaya silau dan kegelapan pekat. Tiba-tiba, di tikungan tajam di bawah jembatan layang, Randy melihat sesuatu. Bukan, bukan sesuatu. Seseorang. Seorang pria berdiri tepat di tengah jalan. Sosok itu mengenakan jubah hujan hitam, berdiri diam seolah menantang maut. Randy menyipitkan mata, mencoba fokus di antara bias air hujan di kaca depan. Wajah pria itu tidak terlihat, tertutup kegelapan malam, tapi tangannya terangkat lurus ke arah mobil Randy. Apakah dia nyata? Atau hanya halusinasi pikiran Randy yang kacau? "Minggir!" teriak Randy, refleks membanting setir ke kiri untuk menghindari sosok itu. Keputusan fatal. Ban mobil kehilangan cengkeraman pada aspal yang licin. Mobil itu tergelincir liar, berputar di luar kendali. Dunia Randy berjungkir balik. Suara decit ban yang memekakkan telinga bercampur dengan suara benturan logam yang mengerikan. BRAKKK! Mobil sport itu menghantam pembatas beton jembatan dengan kecepatan tinggi. Kaca depan pecah berhamburan menjadi ribuan kristal tajam. Airbag meledak, menghantam wajah Randy dengan keras. Dunia menjadi sunyi sesaat. Hanya ada suara hujan yang mengetuk atap mobil yang penyok, dan suara desis mesin yang berasap. Randy merasakan cairan hangat mengalir di wajahnya. Darah. Ia mencoba membuka matanya, tapi yang ia lihat hanyalah merah. Merah yang pekat dan menyakitkan. Ada serpihan kaca yang menancap dalam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari kedua bola matanya, menusuk langsung ke otak. "Sakit..." rintihnya lemah. Suaranya tercekat darah. Kesadarannya mulai memudar. Pandangannya menggelap dengan cepat, bukan karena malam, tapi karena cahaya di matanya telah padam. Gelap. Gelap total. Di detik-detik terakhir sebelum ia pingsan, di tengah kegelapan yang mulai memeluknya, Randy mendengar suara langkah kaki mendekat. Bukan langkah kaki orang yang ingin menolong. Langkah kaki itu tenang, teratur, dan berat. Sepatu bot menginjak pecahan kaca. Seseorang berhenti tepat di samping jendela mobilnya yang hancur. Randy bisa merasakan hawa keberadaan orang itu. Ia ingin meminta tolong, tapi lidahnya kelu. Lalu, sebuah suara berbisik, sangat dekat, menembus deru hujan dan dengung di telinga Randy. Suara yang dingin, tanpa emosi, namun membawa ancaman yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. "Tidurlah, Randy. Saat kau bangun nanti, kau akan melihat dunia yang sebenarnya." Dan kemudian, semuanya menjadi hening.
Bukan Sekedar Istri Kedua-Sebuah Pengkhianatan-Bab 1
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026