"Pak Randy? Bisa dengar suara saya? Kalau Bapak bisa mendengar, tolong gerakkan jari Bapak." Suara itu datang dari tempat yang jauh, menembus kabut tebal yang menyelimuti otak Randy. Rasanya seperti ditarik paksa dari dasar samudra yang dalam. Ada dengungan menyakitkan di telinganya, seirama dengan bunyi monoton dari mesin di samping kepalanya. Randy mencoba membuka mata. Ia ingin melihat siapa yang memanggilnya. Ia ingat hujan deras, ingat cahaya lampu jalan yang menyilaukan, dan ingat rasa sakit yang meledak di wajahnya. Ia mengerjap. Sekali. Dua kali. Tapi tidak ada yang berubah. "Dokter! Pasien sudah sadar!" seru suara lain, kali ini suara wanita yang terdengar panik. "Tenang, Sus. Biar saya periksa." Randy merasakan sentuhan dingin di kelopak matanya. Seseorang sedang membuka matanya secara paksa, mungkin menyorotkan lampu senter medis ke arah pupilnya. "Pak Randy," suara dokter itu terdengar lebih dekat sekarang, nadanya berat dan penuh kehati-hatian. "Bapak bisa melihat cahaya senter saya?" Randy terdiam. Jantungnya mulai berdegup kencang, menabrak rusuknya dengan ritme ketakutan murni. "Cahaya?" bisik Randy. Suaranya parau, seperti gesekan kertas pasir. Tenggorokannya kering kerontang. "Dokter... kenapa lampunya dimatikan? Kenapa ruangan ini gelap sekali?" Hening. Keheningan yang mencekik itu menjawab segalanya lebih cepat daripada kata-kata medis apa pun. Udara di ruangan itu mendadak terasa berat, berbau alkohol menyengat dan obat-obatan yang membuat perut Randy mual. "Pak Randy," dokter itu menghela napas panjang. Ada nada penyesalan yang tertahan di sana. "Lampu ruangan menyala terang. Senter saya tepat di depan pupil Bapak." "Jangan bercanda!" Randy mencoba bangkit, tapi rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya, memaksanya kembali terhempas ke bantal. Tangannya meraba-raba udara kosong dengan panik. "Ini gelap! Gelap total! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Nyalakan lampunya, brengsek!" "Pegang tangannya! Tahan dia!" Beberapa tangan memegangi bahu dan lengan Randy, menahannya di atas ranjang. Randy memberontak, berteriak, meluapkan rasa frustrasi yang meledak bersamaan dengan memori terakhir yang ia miliki—wajah istrinya yang mendesah nikmat di pelukan pria lain. "Serpihan kaca dari kecelakaan itu merusak kedua kornea Bapak secara fatal," jelas dokter itu dengan nada tegas namun simpatik. "Saraf optik Bapak mengalami trauma berat. Untuk saat ini... Bapak mengalami kebutaan total." Buta. Kata itu menggema di kepala Randy, mematikan seluruh amarahnya dalam sekejap, menggantinya dengan kehampaan yang dingin. Dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam satu malam. Pertama hatinya, kini matanya. "Sayang! Ya Tuhan, Randy!" Pintu ruangan terbanting terbuka. Aroma itu langsung menyerbu indra penciuman Randy yang kini menjadi lebih sensitif. Vanilla. Parfum itu. Aroma yang sama yang memenuhi kamar tidur mereka saat pengkhianatan itu terjadi. Siska. "Minggir! Biarkan aku melihat suamiku!" Isak tangis Siska terdengar begitu memilukan, begitu dramatis. Langkah kaki hak tingginya beradu cepat dengan lantai keramik, mendekat ke arah ranjang. "Bu Siska, mohon tenang. Pasien baru saja siuman dan masih syok," tegur dokter. "Bagaimana aku bisa tenang, Dok?! Suamiku kecelakaan! Lihat dia... Ya Tuhan, wajahnya..." Tangan halus Siska menyentuh pipi Randy. Sentuhan itu membuat Randy tersentak hebat, seolah kulitnya baru saja disiram air keras. Ia ingin menepis tangan itu, ingin meludahi wajah pemiliknya, tapi tubuhnya terlalu lemah. Rasa jijik merayap di punggungnya. "Jangan sentuh aku," desis Randy, giginya gemeretuk menahan murka. Namun, Siska justru memeluk leher Randy, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Bagi orang-orang di ruangan itu—dokter dan perawat—ini adalah pemandangan mengharukan dari seorang istri yang setia mendampingi suaminya yang malang. Tapi bagi Randy, ini adalah siksaan. "Maafkan aku, Dok. Suami saya pasti masih trauma. Dia tidak bermaksud kasar," ucap Siska di sela tangisnya, lalu ia menempelkan bibirnya di telinga Randy. "Sstt... tenanglah, Sayang. Aku di sini. Istrimu yang paling kamu cintai akan selalu ada di sisimu." Dokter itu berdehem canggung. "Baiklah, kami akan memberi waktu sebentar untuk keluarga. Tapi tolong jangan buat pasien stres. Kondisinya masih kritis. Saya akan kembali untuk membicarakan opsi operasi, meskipun kemungkinannya tipis." Pintu tertutup. Suara langkah kaki dokter dan perawat menjauh. Dan seketika itu juga, tangisan Siska berhenti. Seperti saklar lampu yang dimatikan, isak tangis yang memilukan itu lenyap tanpa sisa. Siska tidak melepaskan pelukannya, tapi nuansa tubuhnya berubah. Tidak ada lagi getaran kesedihan. Tubuhnya menjadi kaku, dominan, dan dingin. Perlahan, Siska mengangkat kepalanya dari dada Randy. Jari-jemarinya yang lentik, yang tadi mengelus pipi Randy dengan lembut, kini turun ke leher Randy. Kuku-kukunya yang tajam menekan sedikit di sana, tepat di atas nadi carotis, memberikan ancaman tersirat. "Aktingmu bagus sekali di depan mereka," Randy berkata datar, matanya menatap kosong ke langit-langit gelap. Siska tertawa kecil. Tawa yang kering dan meremehkan. Aroma napasnya menerpa wajah Randy, manis tapi beracun. "Terima kasih. Aku memang berbakat, kan? Sayangnya, kau tidak bisa melihat betapa cantiknya aku saat menangisi tubuhmu yang cacat ini." "Keluar, Siska. Pergi dari sini sebelum aku membunuhmu," ancam Randy, meski ia tahu ancaman itu kosong. Dia tidak bisa melihat apapun. Dia hanyalah singa ompong yang terperangkap dalam sangkar gelap. "Membunuhku?" Siska mendengus geli. Ia duduk di tepi ranjang, jarinya bermain-main dengan selang infus yang menancap di tangan Randy. "Bagaimana kau mau membunuhku, Randy? Berjalan ke kamar mandi saja kau butuh tongkat dan harus ditemani sekarang. Kau itu tidak berguna. Sekarang kau hanya sebuah mesin ATM yang rusak." "Kenapa kau tidak menceraikanku saja? Kau sudah punya bajingan itu, kan?" "Bram?" Siska menyebut nama itu dengan nada sayang yang membuat perut Randy mual. "Tentu saja aku punya dia. Tapi Bram tidak punya hartamu, Sayang. Dan sekarang... dengan kondisimu yang buta begini, akan jauh lebih mudah bagiku untuk menguasai aset-asetmu. Siapa yang akan percaya pada orang buta yang emosional?" Randy mengepalkan tangannya hingga jarum infus menusuk makin dalam, membuat darah naik ke selang. Rasa sakit fisik itu membantunya tetap sadar. Siska mencondongkan tubuhnya lagi, kali ini sangat dekat. Bibirnya menyapu daun telinga Randy, memberikan sensasi hangat yang kontras dengan kalimat kejam yang ia bisikkan. "Kau tahu, Randy? Sebenarnya aku bersyukur kau buta." "Apa maksudmu?" "Karena sekarang..." Siska menjilat cuping telinga Randy pelan, sebuah gestur intim yang terasa seperti penghinaan terbesar. "Kau tidak akan pernah melihat betapa bahagianya aku saat Bram menyentuhku. Kau tidak akan melihat tanda merah yang dia tinggalkan di leherku malam ini, tepat setelah kau pergi. Kau akan hidup dalam kegelapan, membayangkan kami bercinta di rumahmu, di ranjangmu, menggunakan uangmu, sementara kau hanya bisa duduk diam seperti patung." Air mata kemarahan menetes dari sudut mata Randy yang terbalut perban. Bukan air mata sedih, tapi air mata kebencian murni. Siska sedang menikmati ini. Wanita ini sedang menikmati kehancurannya. "Kau akan membayar ini semua, Siska. Aku bersumpah demi Tuhan, aku akan menghancurkanmu," suara Randy bergetar hebat. Siska menepuk pipi Randy pelan, seolah menenangkan anak kecil. "Simpan sumpah serapahmu. Kau tidak bisa apa-apa tanpa matamu. Kau butuh aku, Randy. Kau butuh aku untuk menuntunmu makan, menuntunmu berjalan. Mulai sekarang, akulah satu-satunya matamu. Dan aku akan menuntunmu langsung ke neraka." Sebelum Randy sempat membalas, pintu ruangan kembali terbuka. Siska langsung melompat berdiri, menarik jarak. Dalam sekejap, suaranya kembali berubah menjadi getaran penuh kekhawatiran. "Dokter? Ada apa? Kenapa terburu-buru?" Suara napas dokter terdengar memburu, seolah ia baru saja berlari dari bangsal lain. Langkah kakinya mendekat cepat ke sisi ranjang Randy. "Ada kabar baik, Pak Randy. Sangat baik, dan sejujurnya... ini sebuah keajaiban di tengah tragedi." Randy tidak menjawab. Ia masih sibuk menata napasnya, mencoba meredam gejolak emosi akibat siksaan verbal Siska barusan. "Apa maksud Dokter?" tanya Siska, nadanya terdengar waspada. "Kami baru saja menerima konfirmasi dari kamar jenazah," jelas dokter itu dengan nada antusias yang tak bisa disembunyikan. "Ada korban kecelakaan beruntun di jalan tol yang meninggal malam ini, hampir bersamaan dengan waktu masuknya Pak Randy. Seorang pria muda. Dia terdaftar sebagai pendonor organ penuh." Jantung Randy berhenti berdetak sesaat. Harapan. Sebuah kata yang nyaris punah lima menit yang lalu, kini muncul kembali secercah cahaya. "Kornea matanya..." dokter itu melanjutkan, membolak-balik kertas di tangannya. "Kondisinya sempurna. Golongan darah dan jaringan cocok seratus persen dengan Pak Randy. Kita bisa melakukan transplantasi malam ini juga. Ini kesempatan satu banding sejuta." Hening sejenak. Randy tidak bisa melihat wajah Siska, tapi ia bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh wanita itu. Siska tidak senang. Kabar ini adalah ancaman bagi rencana jahatnya. "Malam ini?" suara Siska terdengar ragu, sedikit terlalu tinggi. "Tapi, Dok... suami saya baru saja sadar. Apa tidak terlalu berisiko? Mungkin sebaiknya kita tunggu sampai kondisinya stabil dulu... mungkin minggu depan, atau bulan depan?" "Tidak bisa, Bu," potong dokter tegas. "Kornea harus dicangkokkan segera setelah pendonor meninggal untuk hasil terbaik. Kalau kita tunda, kornea itu akan rusak dan Pak Randy akan buta permanen selamanya." Dokter beralih menatap Randy, atau setidaknya Randy merasa tatapan itu tertuju padanya. "Keputusan ada di tangan Bapak. Operasi ini berisiko, tapi ini satu-satunya jalan untuk melihat kembali. Bagaimana, Pak Randy?" Randy menarik napas panjang, menghirup aroma antiseptik yang kini terasa seperti aroma perang. Ia membayangkan wajah Siska yang panik. Ia membayangkan ketakutan di balik topeng manis istrinya. Jika ia buta, ia kalah. Siska menang. Tapi jika ia bisa melihat... jika ia bisa mengambil mata orang mati itu dan menjadikannya miliknya... maka permainan akan berubah. Randy menyeringai tipis di balik perbannya. Sebuah seringai dingin yang membuat Siska, yang berdiri di sudut ruangan, merinding tanpa sebab. "Lakukan, Dok," jawab Randy mantap, suaranya tak lagi parau. Ada kekuatan baru yang tumbuh dari dendamnya. "Tapi Sayang..." sela Siska, mencoba memegang tangan Randy lagi. Randy menepis tangan itu kasar, kali ini tanpa ragu. Di depan dokter, ia tidak peduli lagi. "Aku bilang lakukan!" bentak Randy, wajahnya menengadah ke arah suara Siska, seolah ia bisa menatap langsung ke dalam jiwa busuk wanita itu meski dalam kegelapan. "Siapkan ruang operasi," perintah Randy pada dokter, suaranya rendah dan penuh ancaman yang hanya dimengerti oleh istrinya. "Aku ingin mataku kembali. Aku ingin melihat semuanya dengan jelas. Terutama... melihat wajah istriku tercinta." Randy mendengar Siska menelan ludah dengan susah payah. Ketakutan itu nyata. Dan bagi Randy, suara ketakutan Siska adalah musik pengantar tidur yang paling indah malam ini. "Baik, Pak. Kita masuk ruang operasi dalam tiga puluh menit."
Bukan Sekedar Istri Kedua-Donor Mata-Bab 2
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026