"Tunggu, Dokter. Biarkan aku menciumnya sekali lagi. Siapa tahu... ini terakhir kalinya aku melihat wajah suamiku dalam keadaan utuh." Suara Siska bergetar, terdengar begitu rapuh di bawah lampu neon ruang persiapan operasi yang berdengung rendah. Randy berbaring di atas brankar sempit, tubuhnya sudah terbalut baju operasi berwarna hijau pudar yang berbau klorin. Ia tidak bisa melihat wajah istrinya, tapi ia bisa merasakan hawa tubuh wanita itu mendekat. Aroma parfum vanilla yang dulu memabukkan, kini terasa seperti bau bangkai yang ditaburi gula. "Silakan, Bu. Tapi hanya sebentar. Anestesi sudah mulai masuk," jawab dokter anestesi dengan nada sopan namun mendesak. Randy merasakan bibir Siska menempel di keningnya. Basah dan dingin. Kecupan itu bukan tanda cinta, melainkan segel kematian. Di detik berikutnya, bibir itu turun ke telinganya, sangat dekat, hingga napas hangat Siska menggelitik kulit lehernya. "Semoga kau mati di meja operasi, Sayang," bisik Siska, suaranya begitu lirih hingga tak mungkin tertangkap oleh telinga dokter, namun terdengar sekeras halilintar bagi Randy. "Bram sudah menunggu di parkiran. Kami akan merayakan kematianmu malam ini." Darah Randy mendidih. Ia ingin berteriak, ingin mencekik leher wanita itu, tapi tubuhnya mulai terasa berat. Cairan dingin yang mengalir masuk lewat infus di punggung tangannya bekerja dengan cepat, melumpuhkan otot-ototnya satu per satu. Lidahnya kelu, seolah berubah menjadi batu. "Bajingan..." Randy mencoba mengumpat, tapi yang keluar hanya erangan tak berarti. "Sstt... tidurlah," Siska mengusap pipi Randy, lalu menegakkan tubuhnya dan berkata lantang pada dokter, "Tolong jaga dia, Dok. Dia segalanya bagiku." Kesadaran Randy ditarik paksa ke dalam pusaran hitam. Suara Siska menjauh, berganti dengan bunyi ritmis mesin jantung yang semakin lambat. Bip... bip... bip... Dan kemudian, sunyi.
Gelap. Tapi bukan gelap yang kosong. Ini adalah kegelapan yang ramai. Randy merasa dirinya melayang di ruang hampa, namun tiba-tiba, sebuah sentakan keras melemparnya ke tempat lain. Bukan ruang operasi. Bukan rumah sakit. Hujan. Ia merasakan hujan deras menghantam kulitnya. Dingin menusuk tulang. Ia sedang mengendarai sesuatu—bukan mobil, tapi motor. Angin menderu di telinganya. Adrenalin memacu jantungnya gila-gilaan. Ada rasa takut, tapi ada rasa cinta yang lebih besar yang mendesaknya untuk terus melaju. Aku harus sampai. Dia menungguku. Siapa? Siapa yang menungguku? Randy bertanya pada dirinya sendiri, tapi suara batinnya bukan suaranya. Itu suara pria lain. Tiba-tiba, bayangan seorang wanita muncul di kepalanya. Bukan Siska. Wanita ini memiliki rambut hitam panjang yang basah oleh hujan, matanya sendu namun memancarkan kehangatan yang membuat dada Randy sesak oleh kerinduan. Wanita itu menangis. "Jangan pergi..." suara wanita itu bergema di kepala Randy, bercampur dengan suara petir. Lalu, cahaya menyilaukan datang dari arah depan. Dua lampu sorot mobil yang melaju kencang di jalur yang salah. Randy—atau siapa pun yang tubuhnya ia tempati dalam mimpi ini—mencoba menghindar, tapi terlambat. Benturan itu terasa nyata. Rasa sakit merobek dada, tulang rusuk patah, dan rasa panas cairan logam yang meremukkan kaki. Tubuhnya terlempar ke aspal basah. Napasnya tersengal. Darah memenuhi mulutnya. Ia tidak bisa bergerak. Pandangannya mulai kabur, menyempit menjadi lorong kecil. Di ujung lorong cahaya itu, ia melihat wanita itu lagi. Wanita misterius itu membungkuk di atasnya, jemarinya yang halus menyentuh wajahnya yang hancur. Aroma tubuh wanita itu—bukan vanilla, tapi aroma bunga melati dan hujan—memenuhi paru-paru Randy yang sekarat. Matamu... aku suka matamu, bisik wanita itu dalam memori yang pecah. Rasa sakit itu memudar, digantikan oleh rasa dingin yang absolut. Rasa kehilangan yang begitu dalam hingga Randy ingin menangis dalam tidurnya. Ia merasa nyawanya dicabut, ditarik keluar lewat matanya. "KEMBALIKAN!" Randy tersentak bangun.
"Tahan! Pasien siuman! Dia memberontak!" Rasa sakit yang luar biasa meledak di kepala Randy, berpusat di kedua matanya. Rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang ditancapkan ke dalam bola matanya sekaligus. Ia mencoba mengangkat tangan untuk mencakar wajahnya sendiri, tapi pergelangan tangannya terikat kuat ke sisi ranjang. "Sakit! Panas!" teriak Randy parau. Tenggorokannya terasa seperti parutan kelapa. "Tenang, Pak Randy! Operasi selesai. Jangan bergerak atau jahitannya lepas!" Suara tegas seorang perawat terdengar di sampingnya. Randy terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat. Gelap. Masih gelap gulita. Tapi kali ini ada perban tebal yang menutupi matanya. Rasa sakit di matanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Perlahan, efek obat penenang mulai bekerja lagi, membuat tubuhnya lemas. Tapi telinganya, indra yang kini menjadi tumpuan hidupnya, menangkap suara percakapan pelan di sudut ruangan. Suara yang ia benci setengah mati. "Sus, apa dia benar-benar akan bisa melihat lagi?" Itu suara Siska. Nadanya terdengar cemas, tapi Randy tahu betul itu bukan kecemasan seorang istri yang takut suaminya buta. Itu kecemasan seorang penjahat yang takut saksinya selamat. "Kemungkinan besar, Bu. Operasinya lancar. Donornya sangat cocok, seolah mata itu memang jodohnya," jawab perawat itu sambil membereskan peralatan logam yang berdenting. Hening sejenak. Lalu terdengar suara langkah kaki hak tinggi mendekat ke arah perawat, diikuti suara gemerisik kertas—mungkin amplop. "Sus... saya dengar proses pemulihan pasca operasi kornea itu sangat menyakitkan," Siska berbisik, nadanya berubah menjadi manis dan konspiratif. "Suami saya orangnya tidak tahan sakit. Apa tidak ada obat... atau dosis tambahan yang bisa membuatnya tidur lebih lama? Mungkin tidur selama dua atau tiga hari? Biar dia tidak menderita." Randy menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Wanita ular itu mencoba menyuap perawat agar dia dibuat koma—atau lebih buruk, overdosis. "Maaf, Bu. Kami punya protokol dosis yang ketat," jawab perawat itu dengan nada bingung dan sedikit tersinggung. "Memberikan obat penenang berlebih bisa memicu gagal jantung. Saya tidak bisa menerima ini. Tolong simpan uang Ibu." "Saya hanya ingin dia istirahat, Sus! Jangan munafik. Ambil saja, ini cukup untuk gaji kamu setahun!" desak Siska, suaranya mulai panik dan agresif. "Bu, tolong keluar atau saya panggil keamanan. Pasien butuh ketenangan, bukan negosiasi obat ilegal!" Suara pintu terbuka dan tertutup dengan kasar. Siska diusir. Randy menghembuskan napas yang tak sadar ia tahan. Di balik kegelapan perbannya, ia bersumpah. Tunggu aku, Siska. Sedikit lagi. Mataku akan terbuka, dan kau tidak akan bisa bersembunyi lagi.
Tiga hari kemudian. Hari pelepasan perban. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas Randy yang berat. Dokter spesialis mata, Dr. Hendra, berdiri di depannya. Aroma alkohol medis menguar kuat saat gunting bedah memotong lapisan perban terakhir. "Siap, Pak Randy?" tanya Dr. Hendra lembut. "Jangan memaksakan diri. Buka pelan-pelan. Awalnya akan silau dan buram." Randy mengangguk kaku. Tangannya mencengkeram sprei ranjang hingga buku-bukunya memutih. Di sudut ruangan, ia tahu Siska berdiri di sana, mengawasi seperti burung nasar yang menunggu mangsanya mati. Lapisan kasa terakhir terangkat. Udara dingin menyentuh kulit kelopak mata Randy yang masih bengkak dan sensitif. "Buka matanya perlahan, Pak." Randy mematuhi. Kelopak matanya terasa berat dan lengket, seolah sudah direkatkan selama bertahun-tahun. Dengan usaha keras, ia memisahkan bulu matanya. Cahaya. Cahaya putih yang menyakitkan menusuk masuk. Randy mengerang, refleks menutup matanya lagi. Air mata refleks mengalir keluar, terasa panas di pipinya. "Sakit..." "Wajar. Coba lagi. Kedipkan pelan-pelan agar mata beradaptasi dengan cahaya," instruksi dokter. Randy mencoba lagi. Kali ini ia menahan rasa perih itu. Perlahan, cahaya putih yang menyilaukan itu mulai mereda, membentuk gradasi warna. Abu-abu. Lalu warna-warni buram. Fokus matanya mulai bekerja, lensa matanya—lensa mata milik orang mati itu—berkontraksi mencari titik fokus. Benda pertama yang ia lihat adalah jas putih dokter yang berdiri di depannya. Buram, lalu menajam. Wajah Dr. Hendra terlihat lelah namun tersenyum bangga. "Bagaimana, Pak? Bisa melihat jari saya?" Dokter mengacungkan dua jari. "Dua," jawab Randy parau. Suaranya bergetar. Dia bisa melihat. Ya Tuhan, dia bisa melihat lagi. Tapi ada yang aneh. Dunia terlihat... berbeda. Warnanya tampak lebih tajam, lebih dingin, lebih saturasi. Seolah filter kamera di otaknya telah diganti. Dan ada perasaan asing yang menjalar di tengkuknya. Perasaan bahwa dia tidak sendirian di dalam tubuhnya. Randy mengalihkan pandangannya melewati bahu dokter, mencari istrinya. Di sudut ruangan, dekat pintu, Siska berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak ngeri seolah melihat hantu. Dia mengenakan gaun merah mencolok—mungkin bersiap untuk pergi berkencan dengan Bram setelah dari sini. Saat mata Randy bertemu dengan mata Siska, waktu seolah berhenti. Randy tidak merasakan cinta yang dulu selalu ia rasakan saat melihat wajah cantik itu. Tidak ada lagi rasa kagum. Yang ada hanyalah kehampaan yang dingin dan tajam. Mata barunya seolah bisa menelanjangi jiwa Siska, melihat lapisan kebusukan di balik bedak mahalnya. Namun, bukan itu yang membuat Randy terpaku. Di belakang Siska, di sudut ruangan yang paling gelap di mana cahaya lampu tidak sampai, Randy melihat sesuatu. Sebuah bayangan. Sosok siluet hitam tinggi besar berdiri tepat di belakang Siska, seolah menjaga wanita itu—atau mungkin mengincarnya. Sosok itu samar, seperti asap rokok yang membentuk wujud manusia, tapi Randy bisa merasakan tatapan dari sosok tak berwajah itu. Tatapan yang penuh amarah dan kesedihan. Randy mengerjap. Sosok itu lenyap. "Randy?" suara Siska memecah keheningan. Nadanya ragu, ketakutan. "Kau... kau bisa melihatku?" Randy menatap istrinya lekat-lekat. Mata barunya terasa kering dan panas. Ia menyeringai, sebuah senyuman miring yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Senyuman predator. "Ya, Sayang. Aku bisa melihatmu," jawab Randy. Suaranya rendah, berbeda dari suaranya yang dulu. Lebih berat. Lebih berwibawa. "Dan kau terlihat sangat... mengecewakan." "Apa?" Siska mundur selangkah, kaget dengan serangan verbal yang tiba-tiba itu. "Apa maksudmu?" Randy turun dari ranjang, mengabaikan protes dokter. Kakinya terasa goyah, tapi tekadnya sekeras baja. Ia berjalan mendekati Siska. Setiap langkahnya membuat Siska semakin terpojok ke dinding. Randy berhenti tepat di depan wajah istrinya. Ia menatap leher Siska, melihat bekas merah samar yang coba ditutupi dengan concealer. Bekas ciuman Bram. Dulu, Randy mungkin akan menangis melihat itu. Sekarang? Ia hanya merasakan dorongan aneh untuk meremukkan leher itu. "Mataku sudah kembali, Siska," bisik Randy, mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Mata cangkokan itu menatap tajam, seolah mata orang mati yang sedang menghakimi orang hidup. "Dan mulai detik ini," lanjut Randy, suaranya dingin menusuk tulang, "Setiap inci tubuhmu, setiap gerak-gerikmu, bahkan setiap helaan napasmu... semuanya ada di bawah pengawasanku. Kau tidak akan bisa menyembunyikan dosamu lagi." Siska gemetar hebat. Ia menatap mata Randy dan menyadari satu hal yang mengerikan: Pria di depannya bukan lagi suami bodoh yang bisa ia setir. Ada jiwa lain yang mengintip dari balik pupil hitam pekat itu.