Bukan Sekedar Istri Kedua-Mencari Istri Baru-Bab 4

22 January 2026

"Kau sudah mengganti spreinya, Siska?" Pertanyaan itu meluncur dingin dari bibir Randy, memecah keheningan kamar utama yang terasa mencekik. Ia berdiri di ambang pintu, tongkat lipatnya—yang sebenarnya sudah tidak ia butuhkan—tergenggam erat di tangan kanan. Matanya, mata asing yang kini menjadi miliknya, menyapu seluruh penjuru ruangan dengan detail yang menakutkan. Siska terlonjak kecil. Ia sedang sibuk menyemprotkan pengharum ruangan beraroma lavender, berusaha mati-matian menutupi jejak dosa yang mungkin masih tertinggal di udara. "Tentu saja, Sayang," jawab Siska dengan nada riang yang dipaksakan. Ia berbalik, gaun tidur sutra hitamnya melambai lembut, memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda. "Aku menggantinya dengan warna putih bersih. Supaya kamu merasa lebih tenang. Dokter bilang kamu butuh suasana yang damai, kan?" Randy melangkah masuk. Setiap inci ruangan ini berteriak padanya. Karpet bulu tempat ia dulu sering duduk berdua dengan Siska sambil minum anggur, kini terlihat seperti hamparan debu. Meja rias yang penuh dengan botol parfum mahal—yang dibeli dengan uang hasil keringatnya—kini tampak seperti altar keserakahan. Namun, matanya terpaku pada satu titik: ranjang king size di tengah ruangan. Ranjang itu terlihat rapi. Sprei putih licin tanpa kerutan. Bantal-bantal tersusun simetris. Tapi bagi Randy, di atas kain putih suci itu, ia masih bisa melihat bayangan Siska yang mengerang nikmat di bawah tubuh pria lain. Ia bisa melihat hantu-hantu masa lalu yang menjijikkan menari-nari di sana. "Putih..." gumam Randy, mendekat ke sisi ranjang. Ia mengusap kain sprei itu dengan ujung jarinya. "Warna kesukaanmu. Warna kepolosan. Ironis sekali." Siska meletakkan botol pengharum di meja, lalu berjalan mendekat dengan langkah pelan, seperti kucing yang mengincar mangsa. Ia memeluk lengan Randy, menempelkan payudaranya di lengan kekar suaminya itu. "Kenapa bicara begitu?" bisik Siska manja. Jemarinya mulai bermain di kancing kemeja Randy. "Kamu masih marah soal kesalahpahaman malam itu? Itu bukan seperti yang kamu lihat, Ran. Matamu waktu itu sakit, kan? Kamu pasti salah lihat. Bram cuma teman lama yang mampir." "Salah lihat?" Randy tertawa hambar. Ia menoleh, menatap tajam ke dalam manik mata istrinya. Jarak mereka begitu dekat hingga Randy bisa mencium aroma mint dari napas Siska. "Iya, Sayang. Kamu capek, kamu stres," Siska terus membual, tangannya semakin berani merayap turun ke dada Randy, membuka kancing kemeja itu satu per satu. "Lupakan soal itu. Sekarang kamu sudah pulang. Kamu sudah bisa melihat lagi. Ayo kita rayakan kesembuhanmu." Randy membiarkan Siska melucuti kemejanya. Ia berdiri diam seperti patung, membiarkan tangan halus wanita itu menyentuh kulitnya. Dulu, sentuhan ini akan membakar gairahnya dalam seketika. Dulu, ia akan langsung menyambar bibir itu dan membawanya ke surga dunia. Tapi sekarang, sentuhan Siska terasa seperti lumut basah yang menempel di kulit. Dingin. Berlendir. "Merayakan?" tanya Randy datar. "Dengan cara apa?" Siska tersenyum nakal. Ia mendorong tubuh Randy pelan hingga punggung lutut Randy menabrak tepi kasur. "Dengan cara kita biasa merayakannya. Aku kangen kamu, Ran. Sudah lama kita tidak... bersenang-senang." Tanpa menunggu jawaban, Siska berlutut di depan Randy. Tangannya dengan cekatan membuka gesper ikat pinggang suaminya. Napas wanita itu mulai memburu, sebuah pertunjukan nafsu yang sudah sering ia mainkan untuk memanipulasi Randy agar membelikan mobil baru atau perhiasan berlian. Siska mendongak, matanya sayu penuh undangan. "Biar aku buat kamu lupa sama semua rasa sakit itu." Tangan Siska menyusup masuk, menyentuh bagian paling pribadi Randy. Di detik itu juga, rasa mual yang hebat menghantam ulu hati Randy. Bayangan pria bernama Bram yang melakukan hal yang sama pada Siska melintas di kepalanya seperti kilat. Jijik. "Cukup!" Randy mencengkeram bahu Siska dengan kasar, menarik wanita itu berdiri dan melemparnya ke atas kasur. "Ahh!" Siska memekik kaget saat tubuhnya terhempas di atas sprei putih itu. Gaun tidurnya tersingkap hingga paha, memperlihatkan kulit mulusnya. Ia menatap Randy dengan bingung, campuran antara takut dan terangsang. "Ran? Kamu kenapa kasar sekali?" Randy tidak menjawab. Ia naik ke atas ranjang, merangkak di atas tubuh Siska, mengurung wanita itu di bawah kungkungannya. Wajah Siska berubah lega. Dia pikir Randy sedang bermain dominan. "Oh, kamu suka yang kasar sekarang? Boleh... lakukan apa saja yang kamu mau, Sayang." Siska merentangkan kakinya, pasrah dan mengundang. Randy menatap wajah di bawahnya. Cantik. Sempurna. Tapi kosong. Ia mendekatkan wajahnya, seolah hendak mencium bibir merah merekah itu. Siska memejamkan mata, bibirnya sedikit terbuka menunggu ciuman. Tapi Randy tidak menciumnya. Ia berhenti tepat satu sentimeter di depan bibir Siska, lalu mengendus pelan leher wanita itu. "Kau sudah mandi?" tanya Randy berbisik. "Sudah... dua kali," desah Siska, tangannya mencoba meraih tengkuk Randy. Randy menahan tangan itu, menekannya kuat ke bantal. "Sayang sekali." Siska membuka mata, bingung. "Kenapa?" "Karena seberapa banyak pun kau mandi, seberapa mahal pun parfum yang kau pakai..." Randy menekan kalimatnya, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang menakutkan. "...aku masih bisa mencium bau pria itu di kulitmu. Bau keringatnya. Bau air liurnya. Bau pengkhianatanmu." Mata Siska terbelalak lebar. Wajahnya yang tadi merah padam karena gairah, kini memucat seketika. "Ran, demi Tuhan, itu tidak benar..." "Jangan sebut nama Tuhan di ranjang zina ini!" bentak Randy. Suaranya menggelegar, membuat Siska tersentak ketakutan. Randy bangkit dari atas tubuh Siska seolah baru saja menyentuh bangkai tikus. Ia berdiri di sisi ranjang, membenarkan celananya dengan gerakan kasar. Napasnya memburu, tapi bukan karena nafsu. Karena amarah yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak mencekik leher wanita itu sekarang juga. "Kau pikir aku bodoh, Siska?" Randy menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Kau pikir karena aku diam di rumah sakit, aku lupa apa yang kulihat malam itu? Aku melihatmu mendesah. Aku melihatmu menikmati setiap detiknya." Siska duduk, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang gemetar. Air mata buaya mulai menggenang di pelupuk matanya. Strategi pertahanan terakhir: menjadi korban. "Kamu jahat, Ran," isak Siska. "Aku istrimu. Aku merawatmu selama di rumah sakit. Aku mengurus segalanya. Kenapa kamu tega menuduhku terus? Mungkin matamu itu yang salah! Mungkin donor mata itu membawa halusinasi!" "Mataku melihat kebenaran," potong Randy dingin. Ia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil kemeja baru dan memakainya dengan cepat. Ia tidak tahan berlama-lama melihat kulit Siska yang terekspos. Rasanya kotor. "Mau ke mana kamu?" tanya Siska panik melihat Randy bersiap pergi. "Ini sudah malam! Kamu baru pulang!" "Tidur di kamar tamu," jawab Randy tanpa menoleh. "Aku tidak sudi tidur di bekas tempat sampah orang lain." "Randy!" jerit Siska, harga dirinya terluka parah. "Aku ini istrimu! Kamu punya kewajiban!" Randy berbalik di ambang pintu. Tatapannya begitu tajam hingga Siska merasa seperti dikuliti hidup-hidup. "Kewajiban?" Randy terkekeh sinis. "Kau bicara soal kewajiban setelah apa yang kau lakukan? Dengar baik-baik, Siska. Aku tidak menceraikanmu sekarang karena satu alasan: itu terlalu mudah bagimu. Kau akan lari dengan harta gono-gini dan hidup bahagia dengan selingkuhanmu itu. Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Siska terdiam, mencerna ancaman itu. "Lalu... apa maumu?" Randy menyeringai. Seringai yang tidak sampai ke matanya. "Aku butuh seseorang untuk mengurusku. Seseorang yang bersih. Seseorang yang telaten. Seseorang yang... setia." "Aku bisa mengurusmu!" sergah Siska cepat. "Aku akan buktikan kalau aku setia!" "Tidak," Randy menggeleng pelan. "Kau sudah gagal. Kau dipecat dari tugas itu." Randy melangkah maju satu langkah, memberikan pukulan terakhir malam itu. "Besok, aku akan mulai mencari istri baru." Siska ternganga. Napasnya tercekat. "A... apa? Kamu gila? Poligami? Aku tidak akan setuju! Hukum tidak akan mengizinkan kalau aku tidak tanda tangan!" "Oh, kau akan tanda tangan, Sayang," ujar Randy dengan nada santai yang mengerikan. "Atau kau lebih memilih aku menyebarkan rekaman CCTV rumah ini ke semua teman sosialitamu? Ke keluargamu? Ke media? Bayangkan judul beritanya: Istri Pengusaha Sukses Tertangkap Basah Bergumul dengan Pria Pengangguran Saat Suami Kecelakaan." Wajah Siska berubah menjadi abu-abu. Ia tahu Randy tidak main-main. CCTV. Ia lupa mematikan CCTV lorong malam itu. "Kamu... kamu merekamnya?" cicit Siska lemah. "Setiap detiknya," bohong Randy. Ia sebenarnya belum memeriksa server CCTV, tapi melihat reaksi Siska, ia tahu tebakannya benar. Siska termakan gertakannya. Randy kembali memegang gagang pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Siapkan kamar tamu untukku. Dan jangan pernah berani masuk ke sana tanpa izinku. Mulai malam ini, statusmu di rumah ini bukan lagi nyonya besar." "Lalu apa?" tanya Siska dengan air mata yang kini benar-benar nyata karena ketakutan kehilangan hartanya. "Hanya pajangan," jawab Randy dingin. "Pajangan cantik yang sudah retak dan tidak berharga." Blam! Pintu kamar ditutup keras. Randy bersandar di balik pintu yang tertutup, dadanya naik turun dengan cepat. Kakinya lemas seketika. Ia merosot duduk di lantai lorong yang dingin, membenamkan wajah di kedua telapak tangannya. Berpura-pura kuat itu melelahkan. Jantungnya sakit sekali. Betapa ia berharap semua ini hanya mimpi buruk. Betapa ia berharap bisa kembali ke masa lalu, saat ia pulang kerja dan disambut pelukan hangat Siska yang tulus—atau setidaknya, yang ia pikir tulus. Tiba-tiba, rasa panas menjalar di kedua matanya. Bukan rasa sakit pasca operasi, tapi sensasi hangat yang aneh. Di kegelapan pelupuk matanya yang terpejam, Randy melihat sebuah visual yang bukan memori miliknya. Ia melihat sepasang tangan. Tangan seorang pria yang sedang memegang sebuah foto. Foto seorang wanita yang sedang tertawa di bawah hujan. Wanita yang sama dengan yang ia lihat di mimpi saat operasi. Dia... siapa dia? batin Randy bertanya-tanya. Sensasi itu begitu kuat, seolah pemilik mata ini sedang mencoba memberitahunya sesuatu. Seolah ada rindu yang tertinggal di dalam kornea itu, rindu yang menuntut untuk dituntaskan. "Siapa yang kau cari?" bisik Randy pada ruang kosong. "Siapa wanita ini?" Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang mengisi keheningan rumah besar yang kini terasa seperti kuburan itu. Randy bangkit berdiri. Ia menghapus air mata di sudut matanya. Air mata itu bukan untuk Siska. "Baiklah," gumamnya, tekadnya kembali membara. "Kita cari mainan baru. Kita buat Siska merasakan neraka yang sebenarnya." Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan menekan nomor asisten pribadinya. "Halo, Pak Randy? Malam-malam begini?" suara di seberang terdengar kaget. "Budi, pasang iklan besok pagi," perintah Randy tegas, tanpa basa-basi. "Cari kandidat untuk posisi asisten rumah tangga khusus. Syaratnya: muda, cerdas, berpenampilan menarik, dan bersedia terikat kontrak eksklusif." "Kontrak eksklusif, Pak? Maksudnya seperti... nikah kontrak?" "Sebut saja begitu. Dan satu lagi, Bud." "Ya, Pak?" Randy menatap lukisan pernikahannya dengan Siska yang tergantung di dinding lorong, lalu tersenyum miris. "Pastikan dia wanita yang punya nyali. Karena dia akan masuk ke kandang singa."