"Apa kau pikir aku sedang mencari pelacur murahan?" Suara Randy memecah keheningan ruang kerjanya yang luas dan dingin. Ia duduk di balik meja mahoni besar, memutar gelas scotch di tangannya dengan gerakan lambat namun mengancam. Matanya—sepasang mata asing yang kini menjadi miliknya—menatap tajam wanita muda berbaju merah ketat yang duduk gemetar di hadapannya. Wanita itu, kandidat nomor dua belas hari ini, menelan ludah susah payah. "Ta... tapi Pak, di iklan tertulis Bapak mencari teman hidup yang 'fleksibel'. Saya pikir..." "Kau pikir fleksibel itu berarti kau bisa memamerkan dadamu begitu masuk ke ruangan ini?" potong Randy kasar. Ia membanting gelasnya ke meja. Bunyi tak yang keras membuat wanita itu terlonjak. "Aku mencari istri, bukan wanita panggilan yang bisa kubayar per jam. Keluar. Parfummu membuatku mual." Wanita itu langsung menyambar tasnya dan berlari keluar sambil menahan tangis. Pintu tertutup. Randy memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Sejak operasi itu, setiap kali ia marah, ada rasa sakit aneh yang menjalar di belakang bola matanya. Seolah-olah mata barunya menolak emosi negatif yang ia rasakan. "Budi!" teriak Randy. Pintu kembali terbuka. Asisten pribadinya yang setia, Budi, masuk dengan wajah pucat. Di belakang Budi, terdengar suara teriakan histeris Siska yang sedang ditahan oleh sekuriti di lobi kantor. "Berapa banyak lagi sampah yang kau kumpulkan di luar sana?" tanya Randy dingin. "Masih ada tiga kandidat, Pak. Tapi... Bu Siska terus mengamuk di bawah. Dia mengancam akan memanggil wartawan jika Bapak tidak menemuinya," lapor Budi hati-hati. Randy menyeringai sinis. "Biarkan dia berteriak sampai pita suaranya putus. Itu hiburan gratis. Panggil kandidat berikutnya. Dan Budi... kalau yang masuk kali ini hanya modal tampang dan otak kosong lagi, kau yang kupecat." "B... baik, Pak. Tapi kandidat nomor tiga belas ini sedikit... berbeda." "Berbeda bagaimana?" "Dia tidak mendaftar lewat agen. Dia datang sendiri dan memaksa masuk. Katanya dia tahu apa yang Bapak butuhkan." Randy mengangkat alis. Menarik. "Suruh dia masuk." Beberapa detik kemudian, pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru atau gugup. Hanya ketukan sepatu hak tinggi yang ritmis, tenang, dan percaya diri di atas lantai marmer. Seorang wanita melangkah masuk. Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah. Jika kandidat sebelumnya membawa hawa nafsu yang murah, wanita ini membawa hawa dingin yang menusuk, seolah ia membawa badai hujan bersamanya. Ia mengenakan gaun hitam sederhana selutut, tanpa perhiasan mencolok, tanpa riasan tebal. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, membingkai wajah yang pucat namun mempesona. Cantik, tapi bukan kecantikan boneka seperti Siska. Ini kecantikan yang menyimpan luka. Namun, saat mata Randy bertemu dengan mata wanita itu, dunia sekelilingnya melambat. Deg. Jantung Randy tersentak. Rasa sakit di kepalanya lenyap seketika, digantikan oleh sensasi hangat yang aneh. Mata cangkokannya berkedut, seolah mengenali sosok di depannya. Wanita itu tidak menunduk takut. Dia menatap lurus ke arah Randy. Tidak, lebih tepatnya, dia menatap mata Randy. Ada kerinduan yang mendalam di sorot mata wanita itu, kerinduan yang membuat dada Randy sesak tanpa alasan. "Siapa namamu?" tanya Randy. Suaranya tidak lagi membentak, tapi rendah dan waspada. Wanita itu berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di depan meja Randy tanpa dipersilakan. Gerakannya anggun, namun tegas. "Elena," jawabnya. Suaranya lembut, serak-serak basah, seperti suara musik jazz di tengah malam yang sepi. "Kau tidak membawa berkas lamaran, Elena?" Randy menyindir, mencoba mengembalikan dominasinya. "Untuk apa kertas?" Elena meletakkan tas tangannya di pangkuan. "Kau tidak mencari karyawan. Kau mencari senjata untuk balas dendammu." Randy terdiam. Kalimat itu tepat sasaran. Ia memajukan tubuhnya, menatap Elena dengan intensitas penuh. "Kau tahu apa yang aku cari?" "Seorang istri gadungan," jawab Elena tenang. Matanya tak lepas menatap mata Randy, seolah sedang membaca buku yang terbuka. "Kau butuh seseorang untuk berdiri di sampingmu, terlihat cantik, patuh, dan yang paling penting... seseorang yang bisa membuat istri pertamamu gila karena cemburu. Soal pernikahan, aku yatim piatu tanpa saudara. Pernikahan siri ini aman dari gangguan apapun." Randy tertawa kecil, tawa yang kering. "Kau cerdas. Atau mungkin kau cuma pengintai yang dibayar Siska?" "Istrimu terlalu bodoh untuk menyewa orang sepertiku," balas Elena datar. Jawaban itu membuat sudut bibir Randy terangkat. Wanita ini punya nyali. "Oke, anggaplah aku tertarik," ujar Randy sambil bersandar santai di kursi kulitnya, matanya menelanjangi penampilan Elena dari atas ke bawah. "Tapi apa yang membuatmu berpikir kau pantas? Di luar sana ada puluhan model yang rela antre." Elena berdiri perlahan. Dia tidak berjalan keluar, melainkan berjalan memutar menuju sisi meja Randy. Aroma tubuhnya tercium saat ia mendekat. Bukan parfum mahal. Itu aroma... hujan. Aroma tanah basah dan bunga melati yang samar. Aroma yang sama persis dengan mimpi Randy saat operasi. Randy terpaku di kursinya, tangannya mencengkeram lengan kursi. Kenapa aroma ini terasa begitu familiar? Kenapa mataku terasa basah? Elena berhenti tepat di samping kursi Randy. Dia membungkuk sedikit, wajahnya kini sejajar dengan wajah Randy. Jarak mereka begitu dekat hingga Randy bisa melihat pori-pori halus di kulit wajah Elena dan bulu matanya yang lentik alami. "Model-model itu hanya menginginkan uangmu, Randy," bisik Elena. Napas hangatnya menerpa telinga Randy, mengirimkan getaran listrik ke sepanjang tulang belakangnya. "Mereka akan lari saat melihat sisi gelapmu. Mereka akan takut saat kau berteriak di tengah malam karena mimpi buruk. Mereka tidak akan tahan dengan amarahmu." Randy menoleh cepat, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. "Dan kau? Kau pikir kau tahan?" "Aku berteman akrab dengan hal-hal gila seperti ini," jawab Elena misterius. Tangannya terulur, jari telunjuknya yang dingin menyentuh punggung tangan Randy yang ada di atas meja. Sentuhan itu seringan bulu, tapi efeknya seperti ledakan. Randy merasakan dorongan impulsif yang gila. Dia ingin menarik wanita ini ke pangkuannya. Bukan hanya nafsu seksual, tapi ada dorongan insting dari dalam tubuhnya—atau mungkin dari mata barunya—yang berteriak bahwa wanita ini adalah miliknya. Tanpa sadar, Randy menangkap pergelangan tangan Elena. Cengkeramannya kuat. "Apa yang kau inginkan?" tanya Randy parau. "Uang? Berlian? Apartemen?" Elena menggeleng pelan. Tatapannya turun ke bibir Randy, lalu kembali naik ke matanya. Tatapan itu begitu sedih, begitu hancur, namun juga begitu penuh cinta yang salah tempat. "Aku butuh perlindungan," jawab Elena jujur. "Dan sebagai gantinya... aku akan menjadi apa pun yang kau minta. Istri, pelayan, atau monster yang kau butuhkan untuk menghancurkan wanita itu." "Kau tahu aku masih punya istri sah?" "Status di atas kertas tidak berarti apa-apa saat hatinya sudah kau buang ke tempat sampah," balas Elena tajam. Randy melepaskan tangan Elena, lalu berdiri. Tingginya menjulang di atas Elena. Dia berjalan mengelilingi wanita itu, menilainya seperti kuda pacuan yang akan dibeli. "Tugasmu tidak mudah, Elena. Kau harus tinggal di rumahku. Satu atap dengan Siska. Dia akan mencoba meracunimu, menjambakmu, atau memfitnahmu setiap hari." "Aku sudah pernah menghadapi yang lebih buruk dari sekadar wanita manja yang takut kehilangan kartu kredit," sahut Elena tanpa ragu. Randy berhenti di depan Elena. Dia menatap mata wanita itu lagi. Ada misteri besar di sana. Siapa dia? Kenapa dia tahu tentang mimpi buruk Randy? Dan kenapa... demi Tuhan, kenapa Randy merasa begitu nyaman di dekat orang asing ini? "Tes terakhir," ujar Randy tiba-tiba. "Apa?" "Cium aku." Elena terdiam sesaat. Matanya sedikit melebar, tapi tidak ada penolakan di sana. "Kenapa?" tanya Elena pelan. "Aku ingin tahu," Randy melangkah maju, mempersempit jarak hingga tubuh mereka bersentuhan. Ia bisa merasakan dada Elena yang naik turun. "Aku ingin tahu apakah kau hanya pandai bicara, atau kau benar-benar bisa memerankan sandiwara ini." Sebenarnya, itu alasan palsu. Alasan sebenarnya adalah tubuh Randy—genetika mata itu—menjerit meminta kedekatan ini. Elena tidak mundur. Dia mengangkat wajahnya. Tangan halusnya naik, menyentuh pipi Randy dengan kelembutan yang menyakitkan. Saat jari Elena menyentuh kulit di sekitar mata Randy, wanita itu gemetar. "Matamu..." bisik Elena, suaranya pecah. "Indah sekali." Lalu, Elena berjinjit. Dia menempelkan bibirnya ke bibir Randy. Bukan ciuman yang agresif. Bukan ciuman penuh nafsu seperti yang biasa dilakukan Siska. Ini ciuman yang lembut, ragu-ragu, dan asin. Asin? Randy membuka matanya sedikit dan melihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Elena yang tertutup. Wanita ini menangis saat menciumnya. Namun, rasa di bibir itu... rasanya seperti rumah. Randy kehilangan kendali. Dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Elena, menarik tubuh wanita itu menempel padanya, dan membalas ciuman itu dengan lapar. Dia melumat bibir Elena, menuntut, mencari jawaban dari rasa familiar yang membingungkan ini. Lidahnya mendesak masuk, dan Elena menyambutnya dengan pasrah, seolah dia juga sedang melampiaskan kerinduan yang sudah tertahan ribuan tahun. Ciuman itu semakin dalam, semakin panas. Tangan Elena meremas kemeja di punggung Randy. Napas mereka bercampur menjadi satu, menciptakan kabut gairah di ruangan ber-AC itu. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Randy tidak melihat bayangan Siska dan selingkuhannya. Yang ia lihat hanyalah warna-warna cerah di balik kelopak matanya yang terpejam. Brak! Pintu ruangan didobrak paksa. Randy dan Elena melepaskan ciuman mereka, namun Randy tidak melepaskan pelukannya di pinggang Elena. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan rambut acak-acakan dan maskara yang luntur karena air mata. Dia menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. Suaminya, yang baru sembuh, sedang memeluk wanita asing berbaju hitam. "Randy!" jerit Siska, suaranya melengking tinggi. "Apa-apaan ini?! Siapa jalang ini?!" Randy menoleh perlahan ke arah Siska. Bibirnya basah dan sedikit bengkak. Dia tidak terlihat bersalah. Dia terlihat... puas. Randy tersenyum. Senyuman iblis yang baru saja menemukan ratu kegelapannya. "Perkenalkan, Siska," kata Randy tenang, sambil mengeratkan pelukannya pada Elena yang berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun. Randy menatap Siska dengan tatapan menghina, lalu kembali menatap Elena dengan kepuasan yang sengaja ia pamerkan. "Ini Elena," lanjut Randy, suaranya menggema di ruangan itu sebagai vonis hukuman mati bagi pernikahan pertamanya. "Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita. Siapkan kamar utama, Siska. Karena mulai malam ini, kamar itu milik kami." "Kau gila!" teriak Siska, tubuhnya gemetar hebat. "Aku istrimu!" "Dan dia," potong Randy tajam, menunjuk Elena, "Adalah masa depanmu yang buruk. Biasakan dirimu, Sayang. Nerakamu baru saja kedatangan penghuni baru." Elena menatap Siska. Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Hanya tatapan dingin dan datar. Namun, di dalam hati Elena, ada badai yang berkecamuk. Ia melirik Randy—pria yang memiliki mata tunangannya yang telah mati. Maafkan aku, Arya, batin Elena pedih. Aku harus melakukan ini. Aku harus berada di dekat matamu, meski itu berarti aku harus menjual jiwaku pada iblis ini. "Senang bertemu denganmu, Siska," ucap Elena halus, penuh racun yang terbungkus madu. "Mohon bimbingannya."
Bukan Sekedar Istri Kedua-Dia Istri Baruku-Bab 5
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026