"Serahkan." Satu kata itu memecah keheningan pagi di ruang makan, lebih tajam dari bunyi garpu perak yang beradu dengan piring porselen. Elara membeku, tangannya yang sedang memegang ponsel erat-erat gemetar di bawah meja. Itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan dunia luar, satu-satunya jalannya untuk mengetahui kondisi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit jiwa pasca percobaan bunuh diri. Dante tidak menoleh dari tabletnya. Ia sedang membaca laporan saham harian sambil menyesap espresso pekatnya. Namun, tangan kirinya terulur ke samping, telapaknya terbuka, menunggu dengan kesabaran yang mengerikan. "Dante, tolong," suara Elara bergetar, kecil dan putus asa. "Hanya ini satu-satunya cara suster mengabari aku jika terjadi sesuatu pada Ayah. Aku tidak akan memakainya untuk menelepon orang lain, aku janji. Aku bahkan tidak punya kuota untuk membuka media sosial..." Dante meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi klenting halus saat porselen bertemu tatakan gelas terdengar seperti lonceng kematian di telinga Elara. Ia menoleh perlahan, menatap Elara dengan mata yang segelap lubang hitam. "Apakah aku terlihat seperti sedang bernegosiasi, Elara?" tanyanya datar. "Kau adalah istriku. Kau tinggal di rumahku. Kau makan makananku. Kau tidak membutuhkan dunia luar. Duniamu sekarang adalah empat dinding ini." Ia menggerakkan jari-jarinya, isyarat memerintah yang tak terbantahkan. "Serahkan. Atau aku akan memblokir akses rumah sakit untuk menerima kunjungan siapa pun selamanya." Ancaman itu menghantam ulu hati Elara. Ia tahu Dante tidak pernah menggertak. Pria itu memiliki kekuasaan untuk memutus napas kehidupan ayahnya hanya dengan satu panggilan telepon. Dengan berat hati, Elara mengeluarkan ponsel pintar tua dengan layar retak itu dari saku apronnya. Ia meletakkannya di telapak tangan Dante yang besar. Rasanya seperti menyerahkan sepotong jiwanya. Dante menggenggam ponsel itu, lalu tanpa ragu, ia menjatuhkannya ke dalam teko berisi air es di meja makan. Plung. Elara terkesiap, matanya membelalak horor melihat gelembung udara naik dari dasar teko, menandakan matinya satu-satunya harapan komunikasinya. "Ups," kata Dante tanpa sedikit pun rasa bersalah. Ia mengambil serbet dan mengelap tangannya yang basah. "Sepertinya tanganku licin." Ia berdiri, menjulang tinggi di atas Elara yang masih menatap nanar ke arah teko air. "Malam ini aku mengadakan makan malam bisnis di sini," ujar Dante, mengubah topik seolah ia tidak baru saja melakukan kekejaman kecil yang menyakitkan. "Enam orang. Investor asing dan beberapa pejabat lokal. Aku tidak memesan katering." Elara mendongak, matanya berkaca-kaca namun ia menahan air matanya sekuat tenaga. "Kau ingin aku memasak?" "Memasak, menyajikan, dan menuang anggur," koreksi Dante dingin. "Aku ingin kau mengenakan seragam pelayan hitam-putih yang sudah kusiapkan di kamarmu. Jangan berani-berani muncul sebagai Nyonya Rumah. Kau di sana untuk melayani, bukan untuk berbincang." Dante membungkuk sedikit, seringai kejam menghiasi wajah tampannya. "Aku ingin dunia tahu posisi barumu, Elara. Bahwa Putri Winata yang sombong kini hanyalah pelayan yang menuangkan wine untuk orang-orang yang dulu tidak layak menyemir sepatunya."
Malam itu, Penthouse Ragnor berubah menjadi arena pertunjukan kekuasaan. Elara berdiri di sudut ruang makan, mengenakan seragam pelayan klasik—rok hitam selutut, kemeja putih kaku, dan apron kecil. Rambutnya diikat rapi ke belakang, tanpa riasan. Ia tampak sederhana, namun aura keanggunan alaminya tidak bisa disembunyikan oleh kain murah sekalipun. Punggungnya tetap tegak, dagunya terangkat dengan wibawa yang tersisa, meski hatinya hancur lebur. Enam tamu pria duduk mengelilingi meja makan mahoni panjang itu. Asap cerutu mengepul, bercampur dengan aroma steak dan wine mahal. Di antara mereka, duduk Tuan Prasetyo, seorang pengusaha tambang yang dulu sering memohon proyek pada ayah Elara. Kini, pria gemuk itu duduk di sana dengan tawa yang terlalu keras, sesekali melirik Elara dengan tatapan melecehkan yang terselubung. "Anggur, pelayan!" seru Prasetyo sambil mengangkat gelas kosongnya tanpa menoleh. Elara melangkah maju. Tangannya memegang botol Château Margaux tahun 1995 dengan teknik yang sempurna. Ia menuangkan cairan merah gelap itu ke gelas Prasetyo tanpa menumpahkan setetes pun. "Terima kasih," gumam Prasetyo. Lalu, seolah baru menyadari, ia menoleh dramatis. "Astaga! Elara? Elara Winata?" Ruangan itu hening seketika. Semua mata tertuju pada Elara. Dante, yang duduk di ujung meja sebagai tuan rumah, tersenyum tipis sambil memutar gelas anggurnya. Ia menikmati momen ini. Ini adalah panggung yang ia siapkan. "Selamat malam, Tuan Prasetyo," jawab Elara sopan, suaranya datar dan profesional. Prasetyo tertawa terbahak-bahak, menepuk meja. "Luar biasa! Dulu kau bahkan tidak mau menjabat tanganku di pesta ayahmu karena takut tertular kuman, kan? Dan sekarang lihat dirimu... Menuangkan minumanku." Prasetyo menoleh pada Dante. "Kau benar-benar tahu cara menundukkan kuda liar, Pak Ragnor. Aku salut padamu." Wajah Dante tetap datar, namun matanya berkilat. Ada kepuasan di sana, tapi juga ada sesuatu yang lain—kekesalan yang aneh melihat pria lain menyebut nama Elara dengan nada seakrab itu. "Dia istri yang sangat berbakti," jawab Dante penuh sarkasme. "Lanjutkan, Elara. Tuan Dufour belum mendapatkan minumannya." Elara bergerak ke arah Monsieur Dufour, investor asal Prancis yang tampak bosan dengan percakapan kasar Prasetyo. Pria tua itu sedang berdebat pelan dengan asistennya dalam bahasa Prancis, tampak frustrasi karena kendala bahasa. "Dia tidak mengerti istilah 'ROI jangka panjang' yang kumaksud," gerutu Dufour dalam bahasa Prancis pada asistennya. "Orang-orang ini hanya peduli keuntungan cepat." Tanpa sadar, saat menuangkan anggur, Elara menjawab dalam bahasa Prancis yang fasih dan halus, aksen Parisian-nya sempurna. "Maaf menyela, Monsieur. Tuan Ragnor menawarkan skema investasi progresif, di mana dividen akan dilipatgandakan setelah tahun kelima untuk menjamin stabilitas jangka panjang. Itu tercantum di halaman dua belas proposal." Dufour terkejut. Ia menatap pelayan di sampingnya dengan mata berbinar. "Kau bisa bahasa Prancis? Dan kau mengerti bisnis?" "Saya pernah kuliah di Sorbonne, Monsieur," jawab Elara singkat, matanya tetap tertunduk hormat. "Dan saya pernah membaca draf proposal ini saat membersihkan ruang kerja." Suasana di meja makan berubah drastis. Prasetyo yang tadi tertawa kini terdiam bodoh. Para tamu lain memandang Elara dengan rasa hormat baru. Dufour tersenyum lebar, mengabaikan Dante sejenak. "Luar biasa. Jarang sekali menemukan kecerdasan seperti ini di meja makan Jakarta," puji Dufour. Ia menoleh pada Dante. "Istrimu permata yang tersembunyi, Ragnor. Mengapa kau mendandaninya seperti pelayan?" Dante tidak tersenyum. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. Gelas kristal di tangannya retak sedikit karena cengkeraman yang terlalu kuat. Rencananya menjadi bumerang. Ia ingin mempermalukan Elara, menunjukkan betapa rendahnya wanita itu sekarang. Namun Elara, dengan segala ketenangannya, justru bersinar lebih terang daripada dirinya. Elara mengubah seragam pelayan itu menjadi jubah kehormatan, membuktikan bahwa kelas dan martabat tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan oleh isi kepala dan jiwa. Dan Dante membencinya. Ia membenci fakta bahwa ia masih merasa bangga melihat kecerdasan Elara, sekaligus marah karena Elara tidak hancur sesuai keinginannya. "Cukup," potong Dante tajam, suaranya sedingin es. "Elara, kembali ke dapur. Bawa hidangan penutup." "Tapi Tuan Ragnor, kami sedang—" Dufour mencoba memprotes. "Ke dapur!" bentak Dante, matanya menyala menatap Elara. "Sekarang." Elara membungkuk sedikit pada Dufour. "Bon appétit, Monsieur." Ia berbalik dan berjalan menuju dapur dengan langkah terukur. Ia tidak lari. Ia tidak menangis. Tapi begitu pintu dapur tertutup di belakangnya, Elara bersandar pada dinding dingin, napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Adrenalin dan rasa takut bercampur menjadi satu. Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan fatal: ia membuat Dante terlihat kehilangan kendali.
Pesta berakhir dua jam kemudian. Elara sedang mencuci tumpukan piring kotor di wastafel ketika ia mendengar langkah kaki berat mendekat. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aura kemarahan Dante memenuhi ruangan dapur yang luas itu, mencekik udara. Dante mencengkeram lengan Elara, memaksanya berbalik. Pria itu sudah melepas jasnya, kemeja putihnya terbuka di bagian leher, dan wajahnya merah padam karena alkohol dan amarah. "Kau menikmatinya, bukan?" desis Dante, mendorong tubuh Elara hingga punggungnya menabrak pinggiran wastafel yang keras. "Kau menikmati pamer di depan tamu-tamuku? Berlagak seolah kau masih Putri Mahkota Winata yang pintar dan berpendidikan?" "Aku hanya membantu menerjemahkan, Dante," jawab Elara, berusaha tetap tenang meski jantungnya berpacu cepat. "Tuan Dufour salah paham tentang proposalmu. Jika dia membatalkan investasi, kau yang rugi." "Jangan berlagak kau peduli pada bisnisku!" Dante membanting tangan ke meja di samping pinggang Elara, mengurungnya. "Tugasmu adalah menuang anggur dan diam! Kau bukan mitra bisnisku. Kau bukan penerjemahku. Kau adalah..." Dante terhenti. Matanya menelusuri wajah Elara yang pucat namun menantang. Mata cokelat itu... mata yang tujuh tahun lalu menatapnya dengan jijik, kini menatapnya dengan keberanian yang membuatnya gila. "Apa?" tantang Elara lirih. "Aku adalah apa, Dante? Pelayanmu? Budakmu? Atau... wanita yang masih kau cintai sampai kau tidak sanggup melihatnya dipuji orang lain?" Hening. Pertanyaan itu menggantung di udara, berbahaya dan terlarang. Napas Dante tersentak. Keberanian Elara menamparnya. Bagaimana bisa wanita yang sudah ia hancurkan ini masih bisa melihat menembus jiwanya? Kemarahan Dante berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih primal. Ia menunduk, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Elara. Elara bisa mencium aroma anggur mahal di napasnya. "Cinta?" bisik Dante serak, matanya berkilat buas. "Kau pikir ini cinta? Tidak, Elara. Ini hukuman." Tanpa peringatan, Dante menunduk dan mencium Elara. Bukan ciuman lembut. Itu adalah ciuman yang menghukum, kasar, dan menuntut. Bibir Dante melumat bibir Elara dengan rasa lapar yang menyakitkan, seolah ingin menghapus setiap kata Prancis yang tadi diucapkan wanita itu, seolah ingin menyerap setiap desah napasnya. Elara membeku sesaat, syok. Tapi kemudian, tubuhnya mengkhianatinya. Rasa sakit di hatinya berbaur dengan kerinduan yang telah ia pendam selama tujuh tahun. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram kemeja Dante. Namun, tepat ketika Elara hendak membalas ciuman itu, Dante melepaskannya dengan kasar. Ia mendorong Elara menjauh seolah baru saja mencium racun. Dante mundur, napasnya memburu, mengusap bibirnya dengan punggung tangan dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Jangan pernah berpikir kau bisa memanipulasiku dengan tubuhmu," kata Dante dingin, meski suaranya sedikit parau. "Ciuman itu tidak ada artinya. Hanya pembuktian bahwa kau memang murahan. Kau mencium pria yang baru saja menyiksamu." Elara menyentuh bibirnya yang bengkak dan berdenyut. Sakit. Tapi kata-kata Dante lebih menyakitkan. "Pergilah ke kamarmu," perintah Dante tanpa menatapnya. Ia memunggungi Elara, tangannya terkepal di samping tubuh. "Dan mulai besok, kau dilarang masuk ke perpustakaan atau membaca buku apa pun di rumah ini. Jika kau ingin menjadi pelayan, jadilah pelayan yang bodoh. Kecerdasan tidak berguna bagimu di sini." Elara menatap punggung lebar itu. Ia melihat ketegangan di bahu Dante. Ia tahu Dante berbohong. Ciuman tadi bukan sekadar hukuman. Ada keputusasaan di sana. "Selamat malam, Suamiku," bisik Elara dengan suara pecah. Ia meninggalkan dapur, meninggalkan Dante yang berdiri sendirian di bawah lampu neon yang berdengung, bertarung dengan iblis di dalam kepalanya sendiri. Dante menyentuh bibirnya lagi, merasakan sisa rasa Elara di sana. Manis, lembut, dan mematikan. Ia membencinya. Ia membenci betapa ia masih menginginkannya.