Membutuhkan beberapa saat bagi Aurora untuk memutuskan keluar kamar. Meskipun sebenarnya ada perasaan enggan untuk melihat wajah Kael, tapi pria itu pasti butuh masuk kamar untuk menyiapkan diri sebelum berangkat kerja.
Bunyi klek pelan terdengar ketika Aurora memutar kunci. Hening. Tak ada suara sama sekali ketika ia melangkah. Sofa yang seharusnya menjadi tempat tidur Kael pun kosong. Kemana pria itu? Apa mungkin pria itu berada di ruang kerjanya?
Penasaran, langkah Aurora mendekat pada ruangan yang selalu tertutup itu. Namun pagi ini pintunya terbuka sedikit—tidak biasanya. Tangan wanita itu meraih gagang pintu tanpa banyak berpikir, namun napasnya tertahan saat menatap hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Kael?”
Suara Aurora bergetar, berhasil membuat Kael menoleh cepat, wajahnya terlihat panik. Sementara Celeste yang menindih pria itu menyeringai puas ketika Aurora membelalak di ambang pintu.
“Apa yang kalian lakukan?” Suara Aurora pecah, terdengar penuh luka.
Lengan Kael mendorong cepat tubuh Celeste ke sisi sofa. Selimut yang sepertinya dipakai semalaman teronggok di lantai—entah apa yang telah mereka lakukan.
“Rora!” Kael berdiri, dengan cepat menghampiri Aurora yang telah berbalik. “Sayang, tunggu. Dengarkan aku dulu!”
Kael berhasil meraih lengan Aurora, tapi segera ditepis kasar. “Aku lebih percaya dengan mataku ketimbang apa yang akan kau ucapkan, Tuan Vireaux!”
“Tidak ada yang terjadi. Aku baru bangun, dan Celeste sudah ada di atasku.” Mata Kael bergetar, tangannya kembali meraih tangan Aurora.
“Kau pikir aku akan percaya?” Air mata jatuh di pipi Aurora. “Aku tahu cepat atau lambat ini semua akan terjadi. Kau memang brengsek, Kael.”
“Apa maksudmu?” Kael menyentak tubuh Aurora, merapatkannya di dinding. Tak ada celah bagi wanita itu untuk menghindar.
“Lepas!” sentak Aurora.
“Diam!” bentak Kael. “Apa maksudmu dengan cepat atau lambat semuanya akan terjadi?”
Aurora terdiam sejenak. Sikap defensif yang ditunjukkan Kael saat ini, semakin mengusiknya. Bentakan dan gerakan kasar yang menyakitinya, seolah menunjukkan bahwa pria itu memang telah melakukan hal yang seharusnya tidak pernah dilakukan.
“Kau berbaring di sofa, dan Celeste menindihmu” Aurora berusaha untuk menegaskan suaranya. “Dan kau masih bisa bertanya apa yang kumaksud?!”
Mata Kael memerah. Marah? Untuk apa? Aurora tidak mengerti.
“Apa yang kau pikirkan itu tidak benar, Rora,” desis Kael.
Cengkeraman pada pergelangan tangan Aurora semakin kencang, membuatnya merintih. “Lepas… sakit…”
Bukannya melonggarkan tangan, Kael justru semakin mencengkeramnya, tak peduli pada rintihan Aurora. “Sudah kukatakan dari awal kalau aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Celeste! Bahkan semalam aku sudah menegaskan lagi! Tapi apa yang kudapat, Aurora?? Kau tidak pernah mempercayaiku!”
“Bagaimana aku bisa percaya padamu setelah baru saja melihat—” Aurora tak mampu meneruskan kalimatnya. “Lepaskan aku, sakit!”
Kael mengerjap beberapa kali. Sorot matanya melirik sekilas pada tangan Aurora, lalu ia segera menyadari apa yang telah dilakukan. Tangannya mengendur, tapi tidak benar-benar melepaskan. “Maafkan aku. Aku… tidak bermaksud melukaimu.”
“Tapi kau sudah melukaiku!” sentak Aurora lagi.
Ezra keluar dari kamar. Langkahnya refleks mendekat saat melihat Aurora dan Kael. Tangannya secara otomatis meraih pundak Kael dan menariknya cepat. Tak peduli nyeri yang dirasakan pada tangannya yang patah, Ezra berhasil membuat Kael terhuyung menjauh.
“Kau gila?!” sentak Ezra, lalu menatap Aurora dengan wajah cemas. “Kau baik-baik saja?”
Belum sempat Aurora menjawab, Kael telah mendorong Ezra dengan tinjunya. Pria itu terjungkal, matanya memejam dan mendesis karena tangannya yang patah menghantam dinding. Celeste, yang melihat hal itu segera berlari untuk membantu Ezra.
“Hei!” sentak Celeste. “Jangan usik Ezra. Kontrakku sebagai pelayannya akan bertambah kalau tangannya jadi lebih parah!”
“Diam kau!” sentak Kael. “Kalau kau tadi tidak masuk ke dalam ruang kerjaku, hal ini tidak akan pernah terjadi!”
Celeste mengerutkan keningnya. “Sayang, tapi kau menikmatinya, kan? Aku tahu kau merindukan ciumanku. Dan aku sudah menuntaskannya tadi. Atau… kau ingin lebih dari itu? Kupikir kau merindukan eranganku, sama seperti malam-malam kita dulu.”
Aurora tertunduk. Tak ada kata yang terlontar. Ternyata benar. Kael dan Celeste memang sering melakukannya—bahkan yang katanya tanpa cinta.
Tidak mungkin. Rasa cinta untuk Celeste pasti ada. Tak peduli berapa kali pun pria itu menyangkalnya. Namun dengan mengizinkan Celeste menindih tubuhnya tadi, jelas Kael masih memberikan ruang khusus bagi wanita itu untuk mendekat.
Air mata kembali jatuh. Aurora mengusapnya kasar, lalu berbalik dan melangkah kembali menuju kamarnya.
“Sayang, please… semua yang dikatakan Celeste tidak benar.” Kini suara kael terdengar memohon.
Aurora memberanikan diri untuk menatap mata cokelat itu lagi, namun tak ada kehangatan yang dirasakan. “Lepaskan tanganku. Aku mau sendiri.”
“Rora, please…”
“Lepas.”
Dengan enggan, Kael melepas tangan Aurora. Rahangnya mengetat ketika langkah sang istri menjauh. Sementara di belakangnya, Celeste kembali menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya pada Ezra.
“Bagaimana? Kau puas?” bisiknya.
Ezra menyeringai, lalu mengusap kepala Celeste lembut. “Good job. Teruskan peranmu, aku akan menemui Rora.”
Desir halus menyergap dada Celeste. Apa itu tadi? Kenapa elusan tangan Ezra membuat jantungnya berdebar?
Ezra berdiri, tak menyadari ada yang berubah pada rona wajah Celeste. Sorot matanya tajam menatap Kael. “Kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan padanya?” desisnya.
Kael menggertakkan giginya. Gerakannya refleks mendorong Ezra, mendaratkannya dengan kasar pada dinding, lengannya menekan leher Ezra tanpa peduli hampir mencekik pria itu.
“Aku tahu siapa kau sebenarnya,” desisnya.
Celeste bergerak cepat, mencoba menarik tangan Kael yang menahan leher Ezra, tapi jelas tenaganya tidak cukup kuat. “Kael! Lepaskan Ezra! Dia bisa mati kalau kau terus menekannya!”
Kael menoleh dengan tatapan membara. “Memang itu yang akan kulakukan! Dan kau… pergi sekarang juga sebelum aku berniat menghabisimu juga!”
Ezra memberikan gerakan dengan matanya pada Celeste, ‘Pergi!’, namun wanita itu terlihat ragu.
“KELUAR DARI RUMAHKU!” sentak Kael, dengan wajah memerah.
Celeste menatap Ezra cemas, tapi kemudian menghentakkan kakinya dan menjauh dari dua pria itu. Dan kael kembali pada mangsanya.
“Dari awal aku bersumpah. Kalau kau terbukti orang suruhan Bastien, aku sendiri yang akan membunuhmu!” geram Kael.
“A-apa mak—sudmu—”
“Masih mencoba menyangkal?” Kael semakin menekan lengannya pada leher Ezra. “Ezeriah Roux. Familiar dengan nama itu? Sebuah dokumen mendarat di mejaku, dan aku yakin itu semua ada kaitannya denganmu.”
Mata Ezra membelalak. Ezeriah Roux, nama aslinya yang tertulis pada semua dokumen legal. Darimana Kael mendapatkan data itu? Sialan!
Belum sempat Ezra membela diri, suara teriakan Aurora mengendurkan lengan Kael. Dua pria itu saling berpandangan.
“Rora,” desis Ezra.
Kael segera berlari menuju ke kamarnya. Ezra mengikuti dari belakang sambil terbatuk-batuk dan mengusap lehernya yang panas. Dan ketika pintu kamar terbuka, tetangga baru mereka menyeringai dengan mendekap tubuh Aurora dari belakang. Sebuah belati tajam telah menempel di leher wanita itu, siap menggores kapan saja, sementara jendela kaca lebar di belakang mereka telah pecah berserakan.
“Jangan ada yang bergerak!” sentak pria yang tengah mendekap Aurora. “Satu gerakan, belati ini dengan cepat memenggal kepalanya.”
Kael mengangkat kedua tangannya. Gerakannya tenang, tapi tatapan tajamnya sedang mempelajari situasi. Di sebelahnya, Ezra mengumpat kasar.
Belum sempat Kael mengambil tindakan, dari belakang, tetangga wanita menghantam tengkuk Kael dan Ezra dengan balok kayu. Gerakannya yang cepat dan tidak terlihat berhasil membuat kedua pria itu terjatuh.
“Sudah kubilang misi senyap, kan? Kenapa kau malah membuat semuanya menjadi jelas?” protes tetangga wanita itu pada si pria.
“Hah! Aku terlalu bersemangat pagi ini, Kira. Lagipula bayaran yang kita dapatkan dipotong tanpa alasan. Jadi, terserah aku mau mengakhiri misi ini seperti apa, kan?”
“Kau memang tidak pernah bisa diatur, Nick! Cepat selesaikan!”
Aurora menatap cemas pada Kael dan Ezra. Darah terlihat menjejak di balok kayu yang masih dibawa oleh Kira.
“Seret dan sekap di ruang sebelah. Aku masih ingin bermain-main sebelum menghabisi mereka semua.” perintah pria bernama Nick.