Hujan di Jakarta malam ini bukan sekadar air yang jatuh dari langit; ia terasa seperti ludah kota yang muak pada penghuninya.
Aris menyeka kaca helmnya yang berembun dengan punggung sarung tangan yang sudah dekil. Baunya apek, campuran antara keringat kering, asap knalpot Metromini, dan sisa hujan kemarin yang tak sempat dijemur. Di layar ponsel yang retak di ujung kanan atas, angka performa berkedip-kedip seolah mengejek: 85%. Kurang sedikit lagi untuk tutup poin. Kurang sedikit lagi untuk bonus insentif yang nilainya bahkan tak cukup untuk menambal harga dirinya yang bocor.
Ia memarkir motor matic-nya di bawah flyover, bergabung dengan barisan "pasukan hijau" lain yang sedang berteduh. Suara mesin menderu pelan, menciptakan harmoni yang sumbang dengan gemuruh petir di kejauhan. Aris tidak mematikan mesin. Ia membiarkannya tetap menyala stasioner, getarannya merambat naik dari stang ke lengan, lalu menjalar ke tulang selangka, seakan-akan tubuhnya adalah perpanjangan dari besi tua yang belum lunas cicilannya ini.
Baginya, diam berarti mati. Diam berarti orderan tidak masuk. Diam berarti algoritma akan melupakannya dan memberikannya pada bajingan lain yang pakai aplikasi "tuyul".
"Masih ngejar, Ris?"
Suara itu serak, berat, dan basah oleh dahak rokok kretek. Aris tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Pak Mulyono. Lelaki tua itu duduk bersila di atas trotoar beton yang dingin, dengan santai menyeruput kopi sachet dari gelas plastik. Jaketnya sudah pudar warnanya, dari hijau terang menjadi hijau lumut kusam, penuh dengan jahitan tangan yang kasar di bagian bahu.
"Masih, Pak," jawab Aris pendek, matanya tak lepas dari layar ponsel. Jari jempolnya mengusap layar, melakukan refresh berulang-ulang, sebuah ritual neurotik yang ia yakini bisa memancing sinyal.
"Istirahat dulu lah," Mulyono menggeser bungkusan gorengan yang sudah dingin ke arah Aris. "Rezeki itu kayak bayangan, Ris. Dikejar lari, didiamkan malah nempel. Muka kamu itu lho, udah kayak mayat kurang formalin."
Aris mendengus. Kalimat itu lagi. Filosofi nrimo khas orang yang sudah kalah. Aris benci cara Pak Mulyono memandang dunia. Orang tua itu menganggap aspal Jakarta adalah sajadah tempat mencari berkah, sementara bagi Aris, ini adalah medan perang. Medan perang di mana kau membunuh atau dibunuh oleh tagihan.
"Kalau saya istirahat, Pak," Aris akhirnya menoleh, menatap mata tua Mulyono yang sayu, "siapa yang bayar tagihan rumah sakit Ibu? Siapa yang bayar bunga pinjol yang tiap detik beranak pinak kayak tikus got? Rezeki nggak bisa buat bayar administrasi, Pak. Duit yang bisa."
Mulyono terdiam sejenak, mengunyah tahu isi dengan lambat. Ia tidak tersinggung. Justru ketenangan itulah yang membuat darah Aris mendidih. Seolah-olah kemarahan Aris adalah lelucon anak kecil yang belum paham hidup.
"Duit emang perlu, Ris," kata Mulyono pelan, menghembuskan asap rokok ke udara yang lembap. "Tapi kalau caramu ngejar sampai lupa napas, lupa orang, lupa... rasa, nanti yang kamu dapet bukan duit. Tapi capek yang nggak ada obatnya."
"Bapak ngomong gitu karena Bapak nggak punya target," balas Aris tajam. Ia tahu itu kalimat yang jahat. Ia tahu Mulyono hidup sebatang kara di kontrakan petak, makan seadanya demi menabung untuk umroh yang entah kapan terlaksana. Tapi Aris butuh melukai orang lain untuk merasa sedikit lebih kuat.
Ponsel Aris bergetar. Bukan orderan. Hanya notifikasi dari grup WhatsApp komunitas ojol. Bambang memposting screenshot pendapatan hariannya: tiga kali lipat dari yang didapat Aris. Di bawahnya ada caption provokatif: “Yang murni minggir dulu, yang tuyul mau lewat. Wkwkwk.”
Rahang Aris mengeras. Ia membanting ponselnya ke holder di stang motor. Ia benci Bambang. Ia benci curang. Tapi lebih dari itu, ia benci karena kejujurannya terasa seperti kebodohan yang dipelihara. Ia adalah mantan staf administrasi di sebuah perusahaan logistik, seseorang yang pernah punya kartu nama dan meja kerja. Sekarang? Ia harus bersaing dengan preman pasar dan anak putus sekolah hanya untuk mendapatkan orderan mengantar ayam geprek.
"Saya cabut dulu, Pak. Di sini anyep," kata Aris, menarik gas tanpa menunggu jawaban.
Motornya melesat membelah genangan air, mencipratkan lumpur hitam ke arah trotoar, nyaris mengenai celana Pak Mulyono. Aris tidak peduli. Ia tidak menoleh. Ia hanya ingin lari dari tatapan mata tua yang seolah bisa menelanjangi semua ketakutan di dadanya.
Lampu merah di perempatan Slipi menyala seperti mata iblis yang melotot. Aris mengerem mendadak, ban motornya sedikit selip di aspal licin. Ia mengumpat kasar. Waktu terbuang lagi. Detik demi detik yang berlalu di lampu merah ini adalah nominal rupiah yang hangus dari dompetnya.
Hujan mulai mereda, menyisakan gerimis halus yang menusuk tulang. Di tengah kemacetan yang mulai terurai karena jam malam, sesosok tubuh kecil berjalan tertatih-tatih di antara celah mobil dan motor.
Itu Rio. Bocah penjual tisu yang biasa mangkal di sini. Usianya mungkin baru sepuluh tahun, tapi wajahnya sudah tua sebelum waktunya, digerogoti oleh polusi dan gizi buruk. Rio tidak memakai payung. Plastik transparan yang membungkus dagangannya adalah satu-satunya perisai dia dari air.
Aris memalingkan wajah, berpura-pura sibuk membenarkan letak spion. Ia tahu Rio akan mendekat. Ia tahu bocah itu akan menyodorkan tisu dengan tatapan memelas yang sudah dilatih.
"Om, tisunya Om... buat bantu ibu..."
Suara itu terdengar di samping kirinya. Lirih, hampir hilang ditelan deru mesin truk di sebelah kanan.
Aris tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah angka hitung mundur lampu lalu lintas. 45 detik lagi.
"Om..." Tangan kecil Rio yang kotor menyentuh ujung jaket Aris.
Sentuhan itu seperti sengatan listrik. Bukan karena kaget, tapi karena rasa jijik bercampur panik. Aris sedang menunggu bid masuk. Sentuhan Rio terasa seperti gangguan sinyal.
"Jangan pegang-pegang!" bentak Aris, menepis tangan bocah itu dengan kasar. Tenaganya terlalu besar. Rio terhuyung ke belakang, kakinya tersandung trotoar pembatas jalan, dan ia jatuh terduduk di genangan air keruh.
Bungkusan tisu di tangannya terlepas, jatuh ke aspal basah. Plastiknya robek. Air kotor dengan cepat meresap ke dalam tisu putih itu, mengubahnya menjadi bubur kertas yang tak berharga.
Aris terdiam. Napasnya memburu. Ia melihat Rio menatap tisunya yang hancur, lalu menatap Aris. Tidak ada kemarahan di mata bocah itu. Hanya ada ketakutan murni dan kepasrahan yang menyedihkan. Rio tidak menangis meraung-raung. Ia hanya diam, bibirnya gemetar, dan air mata meleleh bercampur dengan air hujan di pipinya yang dekil.
"Salah sendiri ngalangin jalan," gumam Aris, mencoba membenarkan tindakannya di hadapan pengadilan nuraninya sendiri. "Udah tau orang lagi kerja."
Lampu berubah hijau.
Tanpa menolong Rio, tanpa meminta maaf, Aris memutar gas dalam-dalam. Motornya melompat ke depan, meninggalkan bocah itu yang masih terduduk di aspal, memunguti sampah tisu basah yang tak mungkin lagi dijual.
Aris memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah angin malam yang semakin dingin. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena adrenalin, tapi karena rasa bersalah yang ia coba tekan kuat-kuat ke dasar perutnya. Aku nggak salah, batinnya berteriak. Dunia yang keras. Kalau aku lembek, aku yang mati. Rio harus belajar itu.
Tiba-tiba, ponselnya berdering panjang. Bukan notifikasi aplikasi, tapi panggilan telepon. Nama yang muncul di layar membuat nyali Aris ciut seketika: Suster Ningsih - RS.
Ia menepikan motor di halte sepi yang gelap. Tangannya gemetar saat menggeser tombol hijau.
"Halo, Sus?" suaranya terdengar parau.
"Malam, Pak Aris," suara Suster Ningsih terdengar datar, formal, namun menyimpan ketegasan yang menakutkan. "Maaf mengganggu malam-malam. Saya hanya mau mengingatkan, tunggakan obat Ibu belum dilunasi sejak tiga hari lalu. Pihak administrasi sudah menanyakan. Kalau besok pagi belum ada pembayaran, kami terpaksa menghentikan suplai obat penunjang jantungnya."
Dunia Aris rasanya berhenti berputar. Langit Jakarta runtuh menimpa pundaknya.
"Ja, jangan, Sus. Tolong. Besok pagi saya bayar. Pasti saya bayar. Saya... saya lagi narik ini. Lagi rame kok, Sus. Beneran." Aris berbohong. Malam ini sepi. Orderan anyep.
"Pak Aris," nada suara Suster Ningsih melunak sedikit, tapi justru itu yang membuat Aris semakin tertekan. "Ibu kondisinya menurun. Tadi beliau ngigau, manggil-manggil nama Bapak. Bukan minta obat, Pak. Ibu minta Bapak pulang. Beliau bilang kangen."
Aris menggigit bibirnya sampai terasa amis darah. "Bilang sama Ibu, saya lagi kerja. Ini semua demi Ibu. Nanti kalau duitnya udah kumpul, saya langsung ke sana."
"Baik, Pak. Saya tunggu sampai jam 9 pagi."
Sambungan terputus.
Aris menatap layar ponsel yang gelap. Bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah dengan selang-selang di hidung menari-nari di pelupuk matanya. Lalu bayangan Rio yang jatuh di aspal. Lalu wajah sinis Bambang. Semua berputar menjadi pusaran hitam yang memuakkan.
Ia butuh uang. Ia butuh banyak uang, malam ini juga. Persetan dengan istirahat. Persetan dengan etika.
Waktu menunjukkan pukul 01:58 pagi.
Jalanan Jakarta sudah benar-benar lengang. Gedung-gedung pencakar langit berdiri kaku seperti batu nisan raksasa. Angin malam berhembus membawa bau aneh, bukan lagi bau hujan, tapi bau tanah basah dan kembang kantil yang samar.
Aris menyalakan kembali layar ponselnya. Ia membuka aplikasi, menatap peta digital yang kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Titik-titik restoran sudah tutup. Perkantoran sudah mati.
"Ayo dong... satu aja. Satu yang kakap," bisiknya putus asa. Ia mengetuk-ngetuk layar dengan jari telunjuknya, seolah bisa memanggil jin pengabul permintaan.
Tepat saat jam digital di sudut layar berganti menjadi 02:00, ponselnya berdenting.
Bunyinya tidak seperti biasanya. Nadanya lebih rendah, lebih berat, dan entah kenapa, terdengar bergema. Sebuah notifikasi muncul dengan pop-up berwarna hitam pekat, bukan hijau seperti biasanya.
ORDERAN BARU Jemput: Gang Kamboja No. 13 (Titik tidak terdeteksi GPS) Tujuan: TPU Jeruk Purut Tarif: Rp 1.500.000,- (Tunai) Catatan: Jangan menoleh ke belakang.
Mata Aris membelalak. Satu setengah juta? Untuk satu kali antar? Ini gila. Ini pasti eror sistem. Atau mungkin orderan fiktif orang iseng? Tapi siapa yang iseng jam dua pagi dengan tarif sebesar itu? Aplikasi tidak pernah mengizinkan tarif setinggi itu untuk jarak dalam kota.
Logika Aris berteriak: Ini bahaya. Jangan diambil. Gang Kamboja itu daerah mati. Kuburan.
Tapi kemudian, suara Suster Ningsih terngiang lagi: "Kami terpaksa menghentikan suplai obat..."
Satu setengah juta bisa melunasi tunggakan obat minggu ini. Satu setengah juta bisa memberinya napas lega setidaknya untuk beberapa hari. Satu setengah juta adalah harga yang harus ia bayar untuk tetap menjadi anak yang berbakti, meski caranya salah.
Jari Aris bergerak sendiri, didorong oleh kepanikan dan keserakahan yang tak bisa dibendung.
Ia menekan tombol TERIMA.
Seketika itu juga, lampu jalan di atas kepalanya berkedip sekali, lalu mati total. Kegelapan menyergap halte itu. Suara bising kota yang sayup-sayup terdengar di kejauhan mendadak lenyap, digantikan oleh kesunyian yang absolut. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara angin. Hening yang menekan gendang telinga.
Hanya ada suara deru napas Aris yang memburu, dan getaran mesin motornya yang terdengar berbeda, lebih berat, seolah-olah mesin itu sedang menarik beban yang tak kasat mata.
Di layar ponselnya, garis rute penjemputan terbentuk. Garis itu tidak berwarna biru atau hijau, melainkan merah tua seperti darah kering. Ujung garis itu mengarah ke sebuah lorong gelap di seberang jalan, lorong yang seingat Aris, kemarin belum ada di sana.
Aris menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering dan pahit. Ia menurunkan kaca helm, mengunci jaketnya sampai ke leher.
"Demi Ibu," bisiknya, meyakinkan diri sendiri. "Cuma nganter. Habis itu pulang."
Ia menarik gas perlahan. Roda motor berputar di atas aspal yang kini terasa sangat dingin, membawa Aris meninggalkan logika dunia nyata, menuju kegelapan yang telah menunggunya dengan sabar di seberang sana. Ia tidak tahu bahwa tombol Terima yang ia tekan tadi bukan hanya menerima penumpang, tapi juga menerima sebuah pengadilan yang tak bisa ia hindari.
Motor melaju menembus kabut tipis yang tiba-tiba turun menyelimuti jalanan, menghapus jejak Jakarta yang ia kenal, menggantinya dengan labirin memori yang akan memaksanya muntah.
Di spion, bayangan Pak Mulyono dan Rio seolah melambai samar, bukan lambaian perpisahan, tapi peringatan. Namun Aris sudah terlalu jauh. Lampu depan motornya menyorot ke dalam kegelapan lorong Gang Kamboja, dan untuk pertama kalinya malam itu, Aris merasa bukan dia yang mengendarai motor, melainkan motor itu yang sedang membawanya ke suatu tempat yang tak tercatat di peta manapun.