Roda depan motor matic itu melindas genangan air bercampur oli, memecah kesunyian Gang Kamboja dengan suara cipratan yang terdengar tidak wajar, seolah-olah cairan itu lebih kental daripada air hujan biasa. Aris menahan napas. Bau tanah basah yang menyengat rongga hidungnya kini bercampur dengan aroma lain, sesuatu yang manis namun menusuk, seperti kembang kantil yang sudah membusuk selama berhari-hari di pekarangan yang tak terurus. Pukul dua pagi itu tidak hanya membawa kegelapan, tetapi juga membawa gravitasi yang berbeda, seakan-akan atmosfer di lorong sempit ini menekan pundaknya dengan beban ribuan atmosfer.
Genggaman tangannya pada setang motor mengeras hingga buku-buku jarinya memutih di balik sarung tangan kain yang sudah brudul ujungnya. Ia ingin memutar balik. Logikanya, sisa-sisa kewarasan yang ia miliki sebagai manusia modern yang hidup dari algoritma dan data, berteriak bahwa ini adalah kesalahan. Tidak ada rute di peta digital manapun yang mengarah ke lorong buntu ini. Tidak ada perumahan, tidak ada perkantoran, hanya deretan tembok kusam berlumut dan pagar-pagar rumah tua yang tertutup rapat, seolah penghuninya sudah lama meninggalkan peradaban. Namun, motor itu terus melaju pelan, ditarik oleh benang merah digital yang terpampang di layar ponselnya yang retak.
Layar itu kini menjadi satu-satunya sumber cahaya yang ia percayai, meskipun kian meredup. Garis merah penunjuk arah itu berhenti tepat lima puluh meter di depan, di sebuah titik di mana lampu penerangan jalan berkedip-kedip sekarat. Aris menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan berpasir. Di kepalanya, bayangan tagihan rumah sakit ibunya berkejar-kejaran dengan peringatan Pak Mulyono tadi sore.
"Rezeki itu bukan soal angka, Ris. Itu soal berkah," suara serak lelaki tua itu terngiang, beradu dengan desing mesin motornya.
Aris mendengus kasar, mencoba mengusir suara itu. Berkah tidak bisa membayar obat hipertensi. Berkah tidak bisa melunasi bunga pinjaman online yang menggulung lehernya setiap tanggal jatuh tempo. Ia butuh poin. Ia butuh insentif performa malam ini. Dan orderan ganjil dengan tarif tak masuk akal ini adalah satu-satunya jalan pintas untuk keluar dari lubang neraka finansialnya, setidaknya untuk bulan ini.
Motornya berhenti tepat di bawah tiang listrik yang miring. Mesin motor menderu halus dalam posisi idle, getarannya merambat naik ke lengan Aris, membuatnya sadar betapa dinginnya keringat yang mengalir di punggungnya. Ia melirik spion. Kosong. Hanya kegelapan pekat yang seolah menelan cahaya lampu rem merahnya. Tidak ada siapapun di sini.
"Halo?" suaranya keluar parau, tertelan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti aspal. "Ojek online..."
Hening.
Aris merogoh saku jaketnya, hendak mengambil ponsel untuk membatalkan pesanan. Persetan dengan performa. Insting naluriahnya, insting yang diwariskan nenek moyang untuk menghindari predator di malam hari, kini meraung-raung menyuruhnya lari. Namun, belum sempat jempolnya menyentuh layar, sebuah suara gesekan halus terdengar dari sisi kiri.
Bukan suara langkah kaki. Itu suara kain yang bergesekan, berat dan lambat.
Dari balik bayang-bayang pagar tembok yang tinggi, sesosok tubuh muncul. Aris tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sosok itu mengenakan jaket hoodie gelap yang tudungnya ditarik rendah menutupi kepala, dan celana bahan yang terlihat lusuh. Posturnya membungkuk, bukan karena tua, melainkan seolah menanggung beban yang tak kasat mata di punggungnya. Tidak ada sapaan, tidak ada konfirmasi nama, tidak ada basa-basi standar "sesuai aplikasi ya, Mas?".
Sosok itu hanya berdiri di samping motor, diam mematung.
Jantung Aris memukul-mukul rongga dadanya. Ia ingin bertanya, memastikan tujuan, tapi lidahnya kelu. Ada aura dingin yang memancar dari sosok itu, dingin yang berbeda dengan angin malam Jakarta. Ini adalah dingin yang merayap di bawah kulit, membekukan sumsum tulang.
Tanpa sepatah kata pun, sosok itu naik ke boncengan.
Bruk.
Aris tersentak. Motornya ambles. Suspensi belakang Honda Beat miliknya menjerit, ditekan oleh bobot yang tidak masuk akal. Aris adalah driver berpengalaman; ia tahu rasanya membonceng penumpang berbadan besar, bahkan yang obesitas sekalipun. Tapi ini berbeda. Berat ini bukan sekadar massa otot dan tulang. Ini terasa seberat beton, seberat dosa, seberat penyesalan yang ditumpuk bertahun-tahun. Keseimbangan motor goyah seketika, memaksa Aris menahan stang dengan sekuat tenaga agar mereka tidak jatuh ke aspal basah.
"Tujuannya... sesuai maps ya, Pak?" tanya Aris, suaranya bergetar, berusaha terdengar profesional meski nyalinya sudah ciut menjadi sebutir debu.
Tidak ada jawaban verbal. Hanya sebuah tepukan pelan di bahu kanan Aris. Dingin. Tangan itu terasa sedingin es batu yang baru keluar dari freezer. Tepukan itu bukan isyarat persahabatan, melainkan perintah mutlak: Jalan.
Aris menarik gas perlahan. Mesin motor meraung berat, seolah protes karena dipaksa menarik beban yang menyalahi hukum fisika. Roda belakang berputar lambat sebelum akhirnya mendapatkan traksi di aspal yang licin. Mereka bergerak. Meninggalkan titik penjemputan yang sunyi itu, kembali menuju mulut gang.
Anehnya, saat Aris memacu motor keluar dari Gang Kamboja, Jakarta yang ia kenal sepertinya telah berubah rupa.
Biasanya, jalan raya utama di jam dua pagi masih memiliki denyut nadi. Truk-truk ekspedisi yang melintas, pedagang nasi goreng yang mendorong gerobak pulang, atau sesama pejuang aspal yang sedang mencari orderan fiktif. Tapi kali ini, Jalan Raya Fatmawati yang membentang di depannya kosong melompong. Lampu-lampu jalan menyala kuning suram, menciptakan lorong cahaya yang tak berujung. Gedung-gedung tinggi di kiri kanan jalan tampak menjulang seperti raksasa tidur yang acuh tak acuh, jendela-jendelanya gelap tanpa kehidupan.
Kabut tipis menyelimuti jalanan, membiaskan cahaya lampu motor Aris menjadi pendaran yang menyakitkan mata. Ia melirik indikator bensin; satu bar turun drastis hanya dalam jarak lima ratus meter.
"Lewat mana ini, Pak?" Aris mencoba bertanya lagi, matanya melirik sekilas ke spion.
Apa yang ia lihat di cermin kecil itu membuatnya hampir membanting stang ke kiri.
Tidak ada pantulan wajah di sana. Di posisi di mana seharusnya wajah penumpang terlihat di balik bahu kirinya, hanya ada gumpalan bayangan hitam yang pekat. Namun, Aris bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang menusuk punggungnya, menelanjangi setiap lapisan jaket ojol hijau-hitam kebanggaannya, menembus kulit, hingga ke ulu hati.
Ponsel di setang motor tiba-tiba menyala terang, menampilkan rute baru. Bukan Google Maps, bukan Waze. Tampilannya sederhana, hanya garis putih di atas latar hitam, tanpa nama jalan, tanpa estimasi waktu. Garis itu lurus, membelah kota, mengabaikan aturan lalu lintas, mengabaikan arah jalan satu arah.
Motor itu melaju semakin kencang, seolah dikendalikan oleh keinginan penumpang di belakangnya. Aris merasa tangannya hanya menempel di setang sebagai formalitas. Kakinya yang seharusnya sigap di rem belakang terasa kaku. Ia menjadi sandera di atas kendaraannya sendiri.
Tiba-tiba, pemandangan di sekitarnya mulai bergeser. Kabut menebal, dan ketika kabut itu tersibak sedikit oleh angin, Aris tidak melihat ruko-ruko Fatmawati. Ia melihat trotoar yang sangat ia kenal.
Itu adalah perempatan lampu merah Mampang.
Tapi ada yang salah. Lampu lalu lintas itu mati total, namun di sudut trotoar, di bawah guyuran hujan yang entah datang dari mana, karena langit di atasnya tidak mendung, berdiri seorang anak kecil.
Aris menyipitkan mata. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Itu Rio.
Anak penjual tisu yang dikenalnya. Rio mengenakan kaos partai yang kebesaran, basah kuyup, memegang kotak tisu plastik yang sudah penyok. Wajah anak itu lebam, matanya bengkak. Aris ingat betul momen itu. Tiga hari yang lalu. Saat ia sedang mengejar poin insentif, ia menerobos lampu merah dan hampir menabrak Rio. Alih-alih minta maaf, Aris turun dari motor dan memaki anak itu habis-habisan di depan kerumunan, menuduh Rio sengaja menghalangi jalan demi memeras uang. Ia melihat Rio menangis, ketakutan, tapi Aris tidak peduli. Baginya saat itu, Rio hanyalah "hambatan operasional".
Kini, di dunia yang sunyi ini, sosok Rio di trotoar itu menoleh perlahan ke arah Aris yang melaju kencang. Tatapan anak itu kosong, namun mulutnya bergerak-gerak merapalkan sesuatu. Aris tidak bisa mendengarnya, tapi ia tahu kata-kata itu. Itu adalah sumpah serapah yang Aris lontarkan sendiri.
Dasar gembel! Nyusahin orang kerja aja!
Suara itu meledak di dalam helm Aris, bukan dari luar, tapi bergema langsung di dalam tengkoraknya. Keras, menyakitkan, seperti umpatan yang dipantulkan kembali oleh dinding gua.
"Ampun..." desis Aris tanpa sadar. Motornya tidak melambat sedikitpun meski ia sudah meremas tuas rem. Justru, motor itu semakin mendekat ke arah Rio, seolah ingin memaksa Aris melihat lebih jelas detail air mata yang bercampur air hujan di pipi bocah itu.
Begitu motor melewatinya, Rio tidak menghilang. Aris merasakan guncangan hebat, seolah ia baru saja melindas sesuatu yang besar.
Dug.
Bukan polisi tidur. Itu suara tulang yang beradu dengan karet ban.
Napas Aris memburu. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia melihat ke spion lagi. Bayangan hitam di belakangnya tampak sedikit membesar, seolah menyerap rasa bersalah yang baru saja meledak di dada Aris. Beban di jok belakang terasa semakin berat, menekan ban motor hingga batas maksimalnya.
"Kita mau ke mana sebenarnya?" Aris berteriak, kali ini kepanikan mengambil alih sopan santunnya. "Gue nggak mau lanjut! Turun lo!"
Hening sejenak. Lalu, sebuah suara berbisik tepat di telinga kirinya. Suara itu bukan suara manusia. Itu adalah suara desau angin, suara gemersik kertas tagihan, suara mesin ATM yang menghitung uang, dan suara tangis ibunya, yang semuanya diaduk menjadi satu frasa yang mengerikan.
"Lanjut, Aris. Poinmu belum cukup."
Aris merinding hebat. Itu adalah kalimat yang sering ia ucapkan pada dirinya sendiri setiap kali ia merasa lelah dan ingin pulang. Poin belum cukup. Mantra kapitalisme yang ia gunakan untuk membenarkan ketidakpeduliannya pada kesehatan, pada keluarga, pada etika. Kini, mantra itu digunakan untuk menyiksanya.
Jalanan kembali berubah. Aspal di bawahnya kini bukan lagi aspal jalan raya, melainkan ubin keramik putih yang dingin dan steril. Motor itu melaju di lorong yang sempit dan panjang. Bau karbol dan obat-obatan menyeruak menggantikan bau tanah.
Aris mengenali tempat ini. Lorong Rumah Sakit tempat ibunya dirawat.
Di sisi kiri dan kanan, pintu-pintu kamar pasien terbuka lebar. Namun tidak ada pasien di dalamnya. Yang ada hanya tumpukan struk pembayaran, bon utang, dan notifikasi aplikasi pinjaman online yang dicetak dalam ukuran raksasa, menggantung seperti tirai. Angka-angka merah menyala di mana-mana: Rp 5.000.000, Jatuh Tempo Besok, Bunga Berjalan, Denda Keterlambatan.
Di ujung lorong, berdiri sosok Suster Ningsih. Perawat paruh baya yang sabar itu kini terlihat mengerikan. Tubuhnya menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit lorong, seragam putihnya bernoda tinta merah yang menyerupai darah. Wajahnya datar, tanpa emosi, memegang sebuah papan jalan raksasa.
Motor Aris meluncur lurus ke arah kaki raksasa Suster Ningsih. Aris memejamkan mata, pasrah akan tabrakan yang tak terelakkan. Ia teringat bagaimana ia mematikan ponselnya dua hari lalu saat Suster Ningsih menelepon untuk mengabarkan kondisi kritis ibunya, hanya karena Aris sedang mendapatkan orderan kakap ke bandara.
"Ibu butuh kamu, Ris, bukan uangmu," suara Suster Ningsih menggema, memecahkan kaca-kaca jendela di sepanjang lorong imajiner itu.
Aris membuka mata tepat saat motornya menembus tubuh Suster Ningsih seperti menembus asap. Tidak ada tabrakan fisik, tapi ada benturan batin yang membuat dada Aris sesak napas. Rasa bersalah itu kini bermanifestasi menjadi rasa sakit fisik yang nyata, seolah paru-parunya diperas oleh tangan tak terlihat.
Ia terbatuk keras di balik helm. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sedih, tapi karena rasa takut yang teramat sangat. Ia sadar, perjalanan ini bukan perjalanan antar titik koordinat di peta Jakarta. Ini adalah perjalanan menelusuri peta jiwanya yang sudah rusak.
Penumpang di belakangnya bergerak sedikit, menyesuaikan posisi duduk. Beban itu bertambah lagi. Kini motor Honda Beat itu nyaris tak memiliki jarak antara bodi dan aspal. Percikan api mulai terlihat di bawah dek motor setiap kali mereka melewati jalan yang tidak rata.
"Gue... gue cuma mau kerja," Aris meracau, mencoba membela diri di hadapan pengadilan jalanan ini. "Gue butuh duit buat Ibu. Apa salahnya gue ambisius? Apa salahnya gue ngejar target?"
"Salahnya adalah kamu lupa apa yang kamu jual," bisik penumpang itu lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih jelas. Suara itu mirip suara Aris sendiri, tapi versi yang lebih tua, lebih hancur, dan lebih putus asa.
Motor itu berbelok tajam ke kanan tanpa Aris memutar setang. Mereka memasuki sebuah area yang gelap gulita. Tidak ada lampu jalan sama sekali. Hanya sorot lampu motor yang menembus kegelapan, menyinari nisan-nisan tua yang berjejer tidak rapi.
Aris mengenali tempat ini juga. TPU Karet Bivak. Tapi bukan bagian depan yang terawat. Ini adalah blok belakang, tempat makam-makam tua yang jarang dikunjungi, tempat ilalang tumbuh setinggi pinggang orang dewasa.
Motor itu melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi berkarat yang setengah terbuka. Di balik gerbang itu, kabut berputar-putar membentuk pusaran.
Mesin motor mati mendadak. Kesunyian kembali menyergap, lebih berat dari sebelumnya.
Aris mencoba turun, tapi kakinya lemas. Ia terjatuh, lututnya menghantam aspal yang basah dan dingin. Ia merangkak menjauhi motor, napasnya tersengal-sengal. Ia menoleh ke belakang, ke arah motornya.
Sosok penumpang itu masih duduk di sana. Diam. Tenang.
Perlahan, sosok itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah gerbang makam. Di sana, di antara kabut, berdiri seseorang. Bukan hantu, bukan monster.
Itu Sarah.
Wanita yang ia tinggalkan tiga tahun lalu demi mengejar promosi di kantor lamanya—promosi yang akhirnya tidak pernah ia dapatkan karena perusahaan bangkrut. Sarah berdiri di sana, mengenakan gaun yang sama saat terakhir kali Aris melihatnya: gaun biru muda yang basah karena hujan, saat Aris meninggalkannya di pinggir jalan karena Sarah memintanya memilih antara karir atau hubungan mereka.
Sarah tidak melihat ke arah Aris. Ia melihat ke sebuah lubang kubur yang baru digali di sampingnya.
"Masuk, Ris," suara Sarah terdengar lembut namun memerintah. "Orderanmu belum selesai. Kamu harus mengantar penumpangmu sampai ke liang lahat."
Aris menggeleng kuat-kuat. "Nggak... nggak mungkin. Gue masih hidup. Ini mimpi."
Ia mencoba berdiri, mencoba lari kembali ke arah jalan raya, tapi kakinya seolah tertanam di aspal. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Di saku celananya, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk.
Bukan dari aplikasi ojek online. Tapi dari kontak yang ia namai "Ibu".
Aris dengan tangan gemetar membuka ponselnya. Layarnya retak, tapi pesannya terbaca jelas:
Ris, Ibu sudah nggak sakit lagi. Kamu kapan pulang?
Waktu di pojok layar ponsel menunjukkan pukul 02:45 AM. Namun tanggalnya bukan hari ini. Tanggal itu menunjukkan hari esok.
Aris mendongak, menatap penumpang yang masih duduk di motornya. Penumpang itu perlahan membuka tudung hoodie-nya. Cahaya bulan yang samar menyinari wajah di balik tudung itu.
Aris menjerit tertahan. Wajah itu rata. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya permukaan kulit pucat yang halus seperti manekin. Tapi kemudian, permukaan itu mulai retak, membentuk sebuah seringai lebar yang mengerikan.
Dan dari balik seringai itu, keluar suara Pak Mulyono, tegas dan menghukum:
"Tagihan sudah jatuh tempo, Nak Aris. Mau bayar pakai apa? Nyawa atau Nurani?"
Aris terbelalak. Di hadapannya, jalanan aspal mulai mencair, berubah menjadi lumpur hisap hitam yang perlahan menarik kakinya ke bawah. Ia harus memilih sekarang. Menyerah pada kegelapan ini dan membiarkan dirinya menjadi satu lagi cerita urban legend Jakarta, atau melawan egonya sendiri untuk pertama kalinya seumur hidup.
Namun sebelum ia sempat memutuskan, tanah di bawahnya runtuh. Aris terperosok ke dalam kegelapan, ditarik masuk ke dalam labirin memori yang lebih dalam, meninggalkan motor dan penumpang misterius itu di atas sana, di tepi kewarasan yang semakin menipis.