Undangan Nikah

22 January 2026

"Undangan nikah," batin Arema.

Kalimat itu bergaung di kepala Arema, berulang-ulang, seperti gema yang sengaja menyiksa batinnya.

Tangannya gemetar hebat saat membaca nama yang tercetak tebal di bagian depan undangan itu.

Nama yang pernah ia sebut dalam doa, nama yang pernah ia jaga dengan sepenuh hati, kini berdampingan dengan nama perempuan lain.

Tanpa sadar, bulir bening meluncur di pipi tirusnya. Satu, dua, lalu semakin deras. Arema menutup undangan itu, seolah dengan begitu kenyataan bisa ikut tertutup. Namun rasa sesak di dadanya justru semakin menekan.

"Dua minggu lagi," bisiknya lirih.

Tanggal akad yang tercantum jelas di sana seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke jantungnya.

Dua minggu. Waktu yang singkat, namun cukup untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan hatinya.

"Brengsek … kalian berdua benar-benar brengsek," ucapnya parau.

Arema melangkah sempoyongan hingga punggungnya bersandar pada pintu apartemen. Tubuhnya perlahan melorot, lalu terduduk di lantai dingin.

Undangan itu terjatuh dari genggamannya, meluncur pelan ke lantai, tepat di depan kakinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.

Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.

"Kenapa harus begini, Rin?" isaknya. "Kenapa kamu tega, setelah semua yang kamu lakuin ke aku?"

Bayangan masa lalu berkelebat begitu saja. Wajah Rino yang dulu selalu tersenyum lembut padanya. Janji-janji sederhana yang dulu terdengar begitu meyakinkan.

Kata-kata manis yang membuat Arema percaya bahwa ia adalah satu-satunya.

"Katanya kamu cinta aku," lirihnya. "Katanya aku yang mau kamu nikahin."

Arema tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa pahit yang lebih terdengar seperti jeritan.

"Lucu, ya, ternyata aku cuma cadangan. Cuma persinggahan."

Tangannya mengepal kuat, kukunya menancap di telapak tangan sendiri. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek.

Rasa marah, kecewa, sakit hati, semuanya bercampur menjadi satu, membuat kepalanya pening.

Ia meraih kembali undangan itu. Matanya kembali menelusuri tulisan rapi di dalamnya. Nama Vheronika tertera jelas sebagai calon pengantin perempuan.

"Pantesan," gumam Arema. "Pantesan kamu berani pamer, pantesan kamu sok menang."

Ia teringat pesan-pesan kasar yang pernah dikirim Vheronika. Ancaman, ejekan, dan rasa superior seolah ia telah memenangkan sebuah perlombaan.

Kini semuanya terasa masuk akal ....

"Jadi, ini yang kamu banggakan?" Suara Arema bergetar. "Cowok yang kamu rebut dari perempuan lain?"

Air mata kembali mengalir. Namun kali ini bukan hanya kesedihan yang ia rasakan, melainkan juga kemarahan yang mendidih.

"Semoga kamu puas, Vhero," desisnya. "Semoga kamu benar-benar bahagia sama cowok yang hobi bohong dan lari dari tanggung jawab."

Arema menegakkan punggungnya perlahan. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar.

Meski dadanya masih terasa nyeri, ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya. Sesuatu yang keras, pahit, namun perlahan membentuk tekad.

"Aku nggak boleh hancur gara-gara kalian," katanya pada diri sendiri. "Aku udah terlalu banyak nangis."

Ia berdiri, lalu melangkah ke arah jendela apartemen.

Dari sana, lampu-lampu kota terlihat berkelip indah, seolah dunia tetap berjalan normal meski hatinya sedang porak-poranda.

"Mereka nikah, terus kenapa?" gumamnya getir. "Hidupku nggak akan hancur hanya karena masalah ini."

Namun begitu pikirannya mencoba tegar, hatinya kembali berontak. Rasa sakit itu belum hilang, belum bisa ditepis hanya dengan kata-kata penyemangat.

Arema merosot kembali ke sofa. Undangan itu kini tergeletak di atas meja kecil di depannya, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Dua minggu," ucapnya pelan. "Aku harus kuat selama dua minggu ini."

Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Bayangan Jordi tiba-tiba terlintas di kepalanya. Cara pria itu menatapnya dengan tulus, sikapnya yang menghargai kerja keras Arema tanpa mengungkit masa lalunya.

"Fokus kerja, Rema," bisiknya pada diri sendiri. "Kamu sekarang punya hidup baru."

Namun, tepat saat ia mencoba berdiri, ponselnya bergetar di atas meja. Satu notifikasi masuk. Nama pengirimnya membuat jantung Arema kembali mencelos.

Rino.

Arema menatap layar ponsel itu lama. Sangat lama. Jarinya gemetar, ragu untuk menyentuhnya. Pesan itu belum dibuka, namun kehadirannya saja sudah cukup membuat luka di dadanya kembali terbuka.

"Apa lagi yang kamu mau?" gumamnya getir.

Ia menelan ludah, lalu mematikan layar ponsel tanpa membaca pesan itu. Dengan tangan bergetar, Arema mengambil undangan nikah tersebut, melipatnya pelan, lalu memasukkannya kembali ke amplop.

"Cukup," katanya tegas, meski suaranya masih bergetar. "Aku nggak mau jadi penonton kebahagiaan palsu kalian."

Namun jauh di lubuk hatinya, Arema tahu, dua minggu ke depan bukanlah waktu yang mudah. Karena luka lama baru saja disiram garam. Dan badai perasaan di hatinya belum benar-benar reda.

**

Sore hari, setelah tangisnya benar-benar reda dan dadanya terasa sedikit lebih ringan, Arema kembali meraih ponsel yang sejak tadi ia biarkan tergeletak di atas meja.

Ia menarik napas panjang sebelum menyalakan layar. Jari-jarinya masih sedikit gemetar, namun kali ini ia merasa lebih siap menghadapi apa pun.

Beberapa notifikasi masuk muncul, namun satu pesan membuat alisnya langsung berkerut. Nomor tak dikenal.

Arema membuka pesan itu.

"Halo, Rema, jangan lupa datang ke pesta pernikahan aku sama Rino ya."

Sekejap, darah Arema terasa mendidih. Tangannya mengepal kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Rahangnya mengeras, matanya menyipit menahan amarah yang kembali naik ke permukaan.

"Pasti si Vhero sialan itu," geramnya lirih.

Ia tertawa kecil, tawa dingin tanpa humor. "Kurang puas apa sih kamu?" gumamnya. "Udah ngerebut, udah pamer, sekarang masih ngajak aku datang?"

Arema menggeleng pelan. Dada yang tadi sempat tenang kini kembali terasa sesak, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena muak.

"Datang ke pernikahan kalian?" katanya pada diri sendiri. "Buat apa? Biar kamu makin merasa menang?"

Ia membaca ulang pesan itu sekali lagi. Tidak ada sapaan sopan, tidak ada rasa sungkan. Kalimatnya singkat, dingin, dan terasa seperti ejekan telanjang.

Arema menekan layar ponselnya, lalu tanpa ragu memblokir nomor tersebut. Satu ketukan. Selesai.

"Cukup," ucapnya tegas. "Aku nggak mau hidupku terus kamu ganggu."

Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja, lalu berdiri menuju dapur kecil apartemennya. Segelas air putih diteguknya perlahan, seolah ingin membilas rasa pahit yang tertinggal di mulut dan hatinya.

"Orang-orang kayak kalian memang nggak pernah puas," gumamnya. "Kalau aku hancur, baru senang."

Arema menatap bayangannya sendiri di kaca. Matanya masih sedikit sembab, namun sorotnya kini berbeda, lebih keras, lebih berani.

"Aku nggak akan datang," katanya mantap pada pantulan dirinya. "Aku juga nggak akan jatuh lagi."

Ia kembali ke ruang tengah, mengambil undangan nikah itu, lalu menyimpannya jauh ke dalam laci. Kali ini bukan dengan tangis, melainkan dengan keputusan.

Di luar, matahari mulai condong ke barat, sinarnya menembus jendela apartemen. Arema berdiri tegak, menghirup udara dalam-dalam.

"Mulai sekarang," bisiknya, "aku hidup buat diriku sendiri."

Dan untuk pertama kalinya sejak undangan itu datang, Arema merasa ia tidak lagi selemah tadi.