Apartemen Aaren Baron berdiri megah di tengah kota. Dengan sistem keamanan tingkat tinggi dan fasilitas yang mewah, tempat itu jelas bukanlah hunian biasa. Namun, saat Chiara memasuki ruang tamu yang luas dan dingin itu sambil menggandeng tangan Lauren yang masih lemah, ia merasa seperti memasuki sangkar kaca indah, tapi tak bebas.
Aaren mengikuti dari belakang, meminta dua pengasuh yang sudah ia percayai untuk membantu membawa koper dan perlengkapan Lauren. Chiara menolak bantuan itu dengan halus dan tegas. Ia tidak nyaman. Bukan hanya karena situasi ini tiba-tiba, tetapi juga karena setiap langkahnya kini seperti berada di atas garis api yang tipis.
“Lauren akan tidur di kamar sebelah kamarku. Ruangannya sudah disiapkan,” kata Aaren datar.
Chiara hanya mengangguk dan menuntun Lauren masuk ke kamar yang dimaksud. Hatinya berat. Selama dua tahun ia membangun dinding antara dirinya dan laki-laki itu. Kini, dalam satu keputusan yang terpaksa, ia harus meruntuhkannya sedikit demi sedikit.
Beberapa jam berlalu dalam keheningan. Lauren sudah tertidur pulas setelah minum obat. Chiara keluar dari kamar putrinya, lalu berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara segar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Aaren berdiri di sana, menatap langit malam dengan gelisah.
“Sudah kubilang, ini hanya untuk sementara. Jangan khawatir, aku tidak akan menyulitkanmu,” kata Aaren, menyadari kehadirannya.
Chiara menghela napas, berdiri sejajar dengannya. “Bukan itu yang membuatku khawatir.”
Aaren menoleh. “Lalu?”
Chiara menatap matanya. “Aku takut, hidupku kembali dipenuhi oleh luka yang belum sembuh. Aku takut Lauren menyaksikan semuanya.”
Aaren terdiam. Kata-kata itu menamparnya pelan tapi dalam. Ia tahu, kehadirannya dalam hidup Chiara dulu telah menyisakan luka. Ia juga tahu, cinta yang pernah mereka miliki tak pernah benar-benar mati hanya terkubur oleh waktu, pengkhianatan dan ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitimu lagi, Chiara,” ucap Aaren pelan, nyaris seperti janji yang tak berani ia ikrarkan sepenuhnya. “Aku hanya ingin melindungi Lauren. Kalau kau mengizinkan, aku ingin memperbaiki semuanya.”
Chiara menoleh cepat, menahan gejolak dalam dadanya. “Kau tidak bisa memperbaiki masa lalu, Aaren. Kita bukan dua orang yang sama lagi.”
Aaren memejamkan mata sesaat. Hening menyelimuti mereka.
Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan suara berat. Seorang wanita paruh baya yang dikenal Chiara dari foto-foto lama muncul, Helena Baron, ibunda Aaren. Sikapnya angkuh, pandangannya tajam. Di belakangnya, seorang pria tua mengenakan setelan gelap berdiri, Leopold Baron, sang ayah.
“Kami dengar kabar menarik,” kata Helena dingin, menatap Chiara dari ujung kepala hingga kaki. “Kau membawa seorang wanita dan anak kecil ke apartemen ini, Aaren? Di saat keluargamu sedang terancam oleh musuh bisnis yang mengincar kelemahan kita?”
Chiara bergeming, tapi jelas merasa tidak nyaman.
“Ibu, Ayah.” Aaren maju beberapa langkah. “Chiara dan Lauren akan tinggal di sini untuk sementara. Ini bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.”
“Bukan dibesar-besarkan? Apa kau gila? Di tengah tekanan ini, kau justru semakin memperkeruh situasi! Media bisa saja mencium aroma skandal ini. Jangan lupa, keluarga Damian belum menghapus perjanjian pernikahan itu!” seru Leopold marah.
Chiara hendak mundur, tapi Aaren meraih tangannya cepat. “Mereka bukan urusan kalian. Chiara dan Lauren adalah bagian dari hidupku.”
“Apa maksudmu?” desak Helena dengan wajah mengeras.
Aaren menarik napas dalam. “Lauren adalah anakku.”
Seketika ruangan itu sunyi. Helena dan Leopold saling pandang dengan wajah murka.
“Lalu?” desis Leopold. “Kau berniat memutuskan ikatan dengan keluarga Damian demi mereka?”
Aaren tak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Chiara semakin erat, seolah mengatakan bahwa tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka sekarang bahkan darah dan kekuasaan.
Dua minggu berlalu.
Media mulai mencium kabar tentang Aaren dan Chiara. Berita itu meledak seperti bom di pagi hari. Judul-judul besar menghiasi portal berita bisnis dan gosip selebriti diantaranya, CEO Baron corp tinggal serumah dengan wanita misterius bersama seorang anak kecil. Siapakah Mereka? Judul berita lainnya, skandal baru keluarga Baron: pertunangan dengan Luna Damian terancam gagal?
Ponsel Aaren berdering tanpa henti sejak fajar menyingsing. Asisten pribadinya, Kevin bahkan nyaris tak mampu menangani banjir panggilan dari media, investor dan bahkan dewan direksi internal Baron Corp.
Di ruang makan apartemen yang kini tak lagi terasa damai, Chiara memandangi layar ponsel dengan tangan gemetar. Foto dirinya yang sedang menggandeng Lauren, diambil diam-diam saat mereka turun dari mobil Aaren, tersebar di mana-mana.
“Aku, bahkan tak tahu harus menjelaskan apa ini pada Lauren,” gumam Chiara dengan suara serak, mencoba menahan perasaan hancur.
Aaren menatapnya tajam. Namun, tenang. “Biarkan aku yang urus semuanya. Jangan buka sosial media, jangan dengarkan berita. Aku akan membuat pernyataan resmi, aku akan akui semuanya.”
Chiara menoleh cepat. “Aren’t you afraid? Bisnismu, reputasimu, semuanya akan hancur, Aaren.”
“Yang lebih aku takutkan adalah kehilangan kalian berdua lagi.” Mata Aaren menajam. “Biarkan mereka bicara. Tapi aku akan berdiri di depanmu, Chiara. Untuk pertama kalinya, aku tak akan sembunyi di balik nama keluarga.”
Tapi ancaman itu datang bukan hanya dari media.
Pukul sepuluh pagi, Helena Baron datang kembali. Kali ini bersama dua pengacara keluarga dan tiga anggota dewan internal Baron Corp. Wajahnya merah padam dan langkahnya penuh amarah.
“Kau membuat kekacauan, Aaren!” suaranya menggema keras. “Saham perusahaan turun tiga persen sejak pagi! Investor utama menuntut kejelasan. Ditambah Luna Damian membuat pernyataan bahwa dia dikhianati secara publik!”
Aaren berdiri dari sofa, menatap ibunya lurus. “Aku tak pernah mencintai Luna dan aku tidak akan menikahinya. Semua orang tahu itu hanya perjodohan bisnis. Kini, kalian harus tahu, aku telah memiliki keluarga kecilku sendiri.”
Helena menunjuk ke arah Chiara. “Kau memilih wanita ini? Seorang wanita yang menyembunyikan anak darimu selama dua tahun? Yang memutus semua komunikasi lalu muncul kembali membawa anak haram?”
Tamparan itu terasa meski tak fisik. Chiara mencengkeram tangan di pangkuannya, menahan diri agar tidak bereaksi. Tapi air matanya mulai menggenang.
“Jangan bicara seperti itu,” suara Aaren tiba-tiba rendah dan mengancam. “Jangan pernah menyebut Lauren begitu lagi.”
Helena mencibir. “Dan kau pikir kami akan membiarkan semua ini menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun selama tiga generasi?!”
Aaren menghela napas dalam. “Kalau perlu, aku akan mundur dari posisi CEO.”
Ruangan mendadak senyap. Semua orang membeku, termasuk Chiara.
“Ibu , Ayah, Dewan. Kalian selalu bicara soal warisan, kehormatan keluarga dan bisnis. Namun, tidak satu pun dari kalian peduli bahwa anakku terbaring sakit karena racun. Kalian tidak bertanya siapa yang melakukannya, yang kalian pikirkan hanya saham dan citra.”
Suara Aaren menggema, penuh keyakinan.
“Saya tidak akan memilih perusahaan di atas darah daging saya sendiri.”
Salah satu pengacara mencoba menenangkan, tapi suasana telah membara. Helena meninggalkan apartemen dengan langkah marah, meninggalkan ancaman samar.
“Kau pikir kau bisa hidup tenang setelah ini? Dunia bisnis tak seindah omong kosong romantismu.”
Setelah semua pergi, Chiara duduk dengan wajah pucat. Aaren menghampirinya, tapi Chiara menghindar.
“Kenapa kau rela kehilangan semuanya demi kami?” gumamnya lemah.
Aaren tak menjawab segera. Ia menatap Chiara dalam-dalam, lalu menjawab pelan tapi tegas.
“Karena kalian adalah segalanya yang selama ini tak pernah bisa kubeli.”