Horor #horor #ojol

Terminal Penyangkalan

Penulis djoedo
22 January 2026

Jemari Aris membeku di atas layar ponsel yang retak seribu itu, gemetar hebat bukan karena dinginnya angin malam, melainkan oleh teror yang merambat naik dari ulu hati. Cahaya layar yang berkedip-kedip memuntahkan satu kata perintah berwarna merah darah: AKUI. Tidak ada opsi "Tolak". Tidak ada tombol "Kembali". Tidak ada peta Google Maps yang biasa menuntunnya keluar dari jalan tikus Jakarta yang membingungkan. Hanya satu kata imperatif yang terasa seperti vonis hakim ketimbang notifikasi aplikasi.

Aris menelan ludah, namun tenggorokannya terasa kering dan kasar seolah ia baru saja menelan segenggam pasir. Ia mencoba menekan tombol power, berharap layar itu mati, berharap ini hanyalah bug sistem atau glitch karena ponsel kentang ini kehujanan. Namun, layar itu bergeming. Kata AKUI justru semakin terang, berpendar menyakitkan mata, seolah membakar retina dengan fosfor digitalnya.

"Sialan... hp rongsokan," umpat Aris dengan suara parau yang terdengar asing di telinganya sendiri. Suaranya tidak memantul di dinding gang sempit itu, melainkan terserap oleh lumut-lumut hitam yang melapisi tembok, seolah dinding itu adalah daging spons yang lapar akan suara.

Di belakangnya, beban di jok motor terasa kian berat. Shockbreaker Honda Beat miliknya berdecit menyedihkan, kandas menghantam dudukan besi, jedug, jedug, seirama dengan detak jantungnya yang memburu. Si Penumpang tidak bicara, tapi Aris bisa merasakan hawa dingin yang menusuk menembus jaket ojol hijaunya yang apek. Dingin itu bukan berasal dari es, melainkan kehampaan mutlak, sebuah vakum yang menyedot kehangatan tubuhnya.

Aris mencoba memutar setang motor, berniat putar balik. Persetan dengan performa akun, persetan dengan bonus harian. Ia ingin pulang. Ia ingin meringkuk di bawah selimut tipis di kamar kosnya yang sempit, mendengarkan dengkuran tetangga sebelah, dan melupakan mimpi buruk ini. Namun, stang motor itu kaku, terkunci mati mengarah lurus ke ujung gang.

Di sana, di ujung sorot lampu motor yang mulai meremang kuning, sosok itu masih berdiri. Sarah.

Atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai Sarah.

Wanita itu berdiri membelakangi Aris, bahunya terguncang-guncang dalam ritme tangis yang tak bersuara. Payung merah yang dipegangnya patah di satu sisi, kerangkanya mencuat keluar seperti tulang rusuk yang patah menembus kulit. Kain payung itu robek, membiarkan hujan cairan kental kemerahan yang berbau logam dan amis, menetesi rambut panjangnya yang lepek.

"Ini nggak nyata," bisik Aris, mencoba meyakinkan logika warasnya yang mulai retak. "Gue cuma capek. Gue cuma microsleep. Gue harus bangun. Bangun, Ris, bangun goblok!"

Ia menampar pipinya sendiri. Plak. Rasa perih itu nyata. Rasa lengket di tangannya nyata. Dan tawa pelan yang berdesis dari belakang telinganya juga nyata.

"Kau pikir kau bisa bangun dari kebenaran, Aris?" Suara Penumpang itu terdengar seperti gesekan piringan cakram rem yang habis kampasnya, logam menggerus logam, ngilu dan menyakitkan. "Klakson tidak akan membuatnya minggir. Poin tidak akan membayarnya pergi. Akui."

Aris mencengkeram grip gas kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak mau mengakui apa pun. Mengakui berarti kalah. Dalam kamus hidup Aris selama dua tahun terakhir, mengakui kesalahan adalah ciri pecundang. Orang sukses tidak minta maaf; mereka mencari alibi. Orang sukses tidak menoleh ke belakang; mereka menggilas apa pun yang menghalangi jalan. Itulah doktrin yang ia rapalkan setiap kali ia menyerobot antrean, setiap kali ia membatalkan pesanan sepihak, setiap kali ia membohongi ibunya tentang "proyek besar" yang sedang ia kerjakan.

Namun, gang ini tidak peduli pada doktrinnya. Gang ini berbau kenangan busuk.

Bau itu perlahan menyusup masuk ke dalam helm Aris, mengalahkan bau got dan sampah basah. Itu adalah bau parfum vanila murahan yang dulu sering dipakai Sarah. Parfum yang dulu Aris bilang "manis", tapi terakhir kali ia cium saat ia memutuskan hubungan mereka, ia sebut "bikin mual".

Ingatan itu menghantamnya tanpa permisi.

Tiga tahun lalu. Di gang yang sama, meski waktu itu aspalnya belum serusak ini. Hujan turun deras, air bening, bukan lendir merah seperti sekarang. Aris duduk di atas motor yang lebih bagus, motor sport cicilan yang akhirnya ditarik leasing. Sarah berdiri di tempat yang sama, menangis, memohon penjelasan.

"Kamu pilih promosi itu atau aku, Ris?"

Dan Aris, dengan setelan kemeja rapi yang kini terasa seperti kostum badut, hanya menyalakan mesin motor. "Jangan naif, Sar. Cinta nggak bisa buat bayar KPR. Minggir."

Ia meninggalkan Sarah di bawah hujan, tanpa helm, tanpa payung. Ia melaju membelah genangan, merasa gagah, merasa telah membuang beban yang menghambat kariernya. Ia tidak pernah menoleh lagi. Hingga malam ini.

Tiba-tiba, motor Honda Beat itu melaju sendiri. Pelan, tapi pasti. Roda ban yang botak menggilas aspal basah, memercikkan cairan merah ke celana kain Aris.

"Woy! Berhenti! Remnya blong, anjir!" Aris panik, menarik tuas rem kiri dan kanan sekuat tenaga. Tapi kampas rem itu seolah terbuat dari sabun licin. Motor itu terus merayap maju, mendekati sosok Sarah.

Jarak mereka kini tinggal lima meter.

Layar ponsel di stang motor berkedip makin cepat. AKUI. AKUI. AKUI.

"Apa yang harus gue akui?!" teriak Aris frustrasi, suaranya pecah menjadi jeritan histeris. "Bahwa gue bajingan? Oke, gue bajingan! Gue ninggalin dia! Gue jahat! Puas lo?!"

Motor itu tidak berhenti. Justru mesinnya menderu rendah, suara yang lebih mirip geraman binatang buas yang kelaparan daripada mesin pembakaran dalam 110cc.

Sosok Sarah di depan sana perlahan mulai berbalik. Gerakannya patah-patah, seperti video streaming dengan koneksi buruk. Frame by frame. Bahu kiri berputar, lalu pinggang, lalu leher.

Aris menahan napas, matanya terbelalak ngeri. Ia takut melihat wajah itu. Ia takut melihat mata sembab yang menuduhnya. Ia takut melihat kebencian.

Namun, saat Sarah akhirnya berbalik sepenuhnya, Aris menyadari bahwa ketakutannya terlalu sederhana. Realitas di hadapannya jauh lebih mengerikan daripada sekadar wajah mantan kekasih yang marah.

Wajah Sarah... rata.

Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya permukaan kulit pucat yang halus dan basah, seperti lilin yang baru meleleh. Namun, di tempat di mana seharusnya mulut berada, terdapat sebuah lubang hitam kecil yang terus membesar, seolah-olah kulit itu sedang ditarik ke dalam oleh gravitasi tak kasat mata.

Dari lubang itu, keluar suara. Bukan suara manusia. Itu adalah suara notifikasi pesan masuk ting-ting yang berulang-ulang, ditumpuk dengan suara Aris sendiri di masa lalu.

"...minggir..." "...beban..." "...gaji gue lebih gede..." "...nggak level..."

Kata-kata itu dimuntahkan dari wajah Sarah yang kosong, melayang di udara, bermanifestasi menjadi asap hitam yang berputar-putar.

Aris merasakan perutnya mual hebat. Ia ingin muntah, tapi rahangnya terkunci rapat. Ia menyadari satu hal mengerikan: ini bukan hantu Sarah. Sarah mungkin masih hidup di suatu tempat di Jakarta, mungkin sudah menikah, mungkin bahagia. Sosok di depannya ini adalah memori Aris sendiri yang telah membusuk. Ini adalah Sarah versi Aris, objek yang ia buang, yang ia hilangkan wajahnya, yang ia hilangkan kemanusiaannya demi ambisi.

"Ini... ini cuma ilusi..." rintih Aris. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, air mata ketakutan, bukan penyesalan. Belum.

"Kau menghapus wajahnya demi melihat wajahmu sendiri di cermin kesuksesan," bisik Penumpang itu tepat di telinga kanan Aris. Napasnya berbau tanah kuburan basah. "Tapi cermin itu pecah, Aris. Dan sekarang kau harus memungut belingnya."

Motor terus melaju, kini hanya berjarak satu meter dari Sarah tanpa wajah itu. Aris bisa melihat tekstur kulitnya yang tidak wajar, berpori-pori besar seperti batu karang. Payung merah yang patah itu teracung ke arah Aris, ujung besinya yang tajam mengarah tepat ke dada.

Aris memejamkan mata, pasrah akan benturan. Ia menanti rasa sakit besi menembus daging.

Namun, benturan fisik itu tidak terjadi.

Sebaliknya, ia merasakan sensasi dingin yang luar biasa saat tubuhnya, dan motornya, menembus sosok Sarah. Rasanya seperti menembus air terjun es. Seluruh tubuhnya mati rasa sesaat. Suara-suara cemoohan masa lalunya meledak di dalam kepalanya dengan volume maksimal, memekakkan telinga, menghancurkan sisa-sisa ego yang ia pertahankan.

Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di gang sempit.

Pemandangan di sekelilingnya telah berubah drastis, namun tetap mencekam dengan caranya sendiri. Aspal di bawah rodanya kini bukan lagi paving blok gang, melainkan lantai keramik putih yang dingin dan luas, membentang tanpa ujung. Di kiri dan kanannya, bukannya tembok rumah warga, melainkan deretan tiang infus yang menjulang tinggi seperti pohon-pohon di hutan mati.

Cahaya di sini steril, putih menyilaukan, berkedip-kedip dengan ritme beep... beep... beep... mesin EKG.

Aris masih duduk di atas motornya, mesin masih menyala, namun suaranya teredam, seolah ia berada di dalam akuarium raksasa.

Ponselnya kembali bergetar hebat. Tulisan AKUI telah hilang. Kini, layar itu menampilkan sebuah peta baru. Tidak ada nama jalan. Tidak ada estimasi waktu.

Hanya ada satu ikon lokasi tujuan yang berkedip di kejauhan lorong rumah sakit surealis ini. Ikon itu berbentuk tempat tidur pasien. Dan di bawahnya, tertulis tarif perjalanan yang membuat darah Aris berdesir ngeri:

TARIF: WAKTU YANG TERSISA.

Di kejauhan, di antara hutan tiang infus, Aris melihat sosok tinggi besar berjalan mendekat. Sosok itu mengenakan seragam putih perawat yang kotor oleh noda cokelat tua. Langkah kakinya berat, tap... tap... tap..., menggema di lantai keramik.

"Suster Ningsih?" gumam Aris, mengenali postur itu, namun instingnya berteriak untuk lari.

Sosok itu berhenti sepuluh meter di depan Aris. Wajahnya tertutup masker medis yang penuh darah. Ia tidak membawa jarum suntik atau obat, melainkan sebuah jam dinding besar yang jarumnya berputar mundur dengan kecepatan gila.

Penumpang di belakang Aris menepuk bahunya pelan. Sebuah tepukan yang terasa akrab sekaligus mengerikan.

"Meteran sudah jalan lagi, Mas," kekeh Penumpang itu. "Jangan bikin Ibu menunggu. Dia tidak suka kalau kamu telat bayar... apalagi bayar pakai nyawa."

Aris mencoba menoleh ke belakang, ingin melihat wajah si Penumpang untuk pertama kalinya, namun lehernya kaku. Ia dipaksa menatap ke depan, ke arah "Suster Ningsih" yang mulai berlari ke arahnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

Di panel speedometer motornya, angka di odometer yang menyala merah itu berkurang satu digit lagi.

5... 4... 3...

"Jalan, anjing! Jalan!" teriak Aris sambil membetot gas, bukan untuk menabrak sosok itu, tapi untuk mencari jalan keluar dari labirin rumah sakit ini. Tapi di mana pintu keluarnya? Di dunia yang dibangun dari dosa masa lalu, apakah ada pintu darurat?

Motor melonjak maju, bannya mencicit di atas keramik licin, membawa Aris masuk lebih dalam ke perut mimpi buruk yang baru saja dimulai. Di saku jaketnya, ponselnya berdering lagi. Bukan notifikasi aplikasi, melainkan panggilan telepon biasa.

Layar menampilkan nama penelepon: IBU.

Tapi Aris tahu, ibunya sedang koma di ICU yang asli. Siapa atau apa yang meneleponnya dari balik dunia ini?

Tangannya gemetar saat ia ragu-ragu untuk mengangkatnya, sementara bayangan Suster Ningsih raksasa itu semakin dekat, siap menelan segala alasan yang ia punya.