Aris membetot tuas gas Honda Beat-nya hingga batas maksimal, memaksa mesin tua itu menjerit dalam nada tinggi yang menyakitkan. Ban motor berdecit nyaring, bukan mencengkram aspal kasar Jakarta, melainkan tergelincir liar di atas hamparan keramik putih licin yang membentang tanpa ujung. Dunia di sekelilingnya adalah mimpi buruk sanitasi; lorong rumah sakit yang memanjang seperti tenggorokan raksasa, diterangi lampu neon putih yang berdengung statis, menusuk retina hingga kepala terasa mau pecah.
Di belakangnya, suara langkah kaki itu bukan lagi sekadar tapak sepatu, melainkan dentuman beton menghantam bumi. BUM. BUM. BUM. Getarannya merambat naik melalui roda, sasis motor, hingga menggetarkan tulang ekor Aris. Ia tidak berani menoleh, tetapi sudut matanya menangkap bayangan Suster Ningsih yang melar memanjang di dinding, terdistorsi menjadi siluet hitam yang siap melahap cahaya. Suara "tik-tok" dari jam dinding raksasa yang dibawa makhluk itu terdengar seperti detak jantung monster purba, berpacu melawan raungan mesin motor matic yang kian panas.
Ponsel yang terpasang di stang motor terus bergetar hebat, layarnya menyala terang menampilkan nama "IBU". Dering telepon itu melengking, bersaing dengan bunyi bip-bip-bip ritmis dari mesin EKG yang entah dari mana asalnya, menggema di seluruh lorong seolah-olah udara itu sendiri adalah pasien yang sedang sekarat.
"Angkat, Ris..."
Suara itu datang dari belakang tengkuknya. Dingin, basah, dan berbau tanah kuburan yang baru digali. Si Penumpang.
"DIAM LO!" teriak Aris, suaranya parau, pecah di antara kepanikan dan adrenalin. Ia memiringkan badan tajam ke kiri saat sebuah tiang infus setinggi pohon kelapa tumbang melintang di depannya. Cairan bening dari botol infus yang pecah menciprat ke wajahnya, terasa panas melepuh seperti air keras. Aris mengerang, matanya berair, namun tangannya tetap kaku mencengkram kemudi. Ia tahu jika ia berhenti, jika ia mengerem barang sedetik saja untuk mengusap wajah, Suster Ningsih akan menangkapnya. Dan Aris tahu, makhluk itu tidak akan memberinya obat; ia akan menagih waktu yang selama ini Aris buang sia-sia.
Lorong itu seakan hidup. Pintu-pintu kamar pasien di kiri-kanan terbuka dan tertutup dengan ritme napas yang sesak. Dari celah-celah pintu itu, Aris melihat sekilas pemandangan yang membuat perutnya mual: sosok-sosok tanpa wajah yang terbaring kaku, selang-selang transparan menyedot cairan berwarna hitam pekat dari tubuh mereka. Salah satu sosok itu mengenakan kemeja batik lusuh—batik yang sama persis dengan yang dipakai Pak Mulyono di pangkalan tadi pagi.
"Tolong..." Sayup-sayup suara itu terdengar saat motor Aris melesat lewat.
Aris memejamkan mata sesaat, menekan rasa bersalah yang naik ke kerongkongan. "Itu cuma halusinasi. Gue cuma capek. Gue kurang tidur," gumamnya seperti mantra. Tapi bau amis darah dan obat-obatan kedaluwarsa itu terlalu nyata untuk disangkal.
Tiba-tiba, lantai keramik di depannya retak. Ubin-ubin putih meledak ke udara, menciptakan jurang gelap yang menganga. Aris tak punya pilihan. Ia menarik stang motornya ke atas, melakukan manuver putus asa yang tak pernah ia pelajari di jalanan Jakarta. Motor itu melayang sesaat di udara, sebuah momen hening di mana waktu terasa berhenti. Di titik tertinggi lompatan itu, Aris melihat ke bawah, ke dalam kegelapan jurang lantai rumah sakit. Di sana, di kedalaman yang tak terukur, ia melihat ribuan jam dinding melayang, jarum-jarumnya berputar mundur dengan kecepatan gila.
Motor itu mendarat dengan keras. BRAK! Shockbreaker depan mentok, mengirimkan rasa nyeri menjalar ke bahu Aris. Tapi landasannya bukan lagi keramik.
Aspal. Basah, kasar, berlubang.
Suara bising mesin EKG lenyap seketika, digantikan oleh desis hujan yang memukul helm. Lampu neon putih yang menyilaukan berganti menjadi pendar kuning suram lampu jalanan yang berkedip-kedip sekarat. Aris tersentak, napasnya memburu, dadanya naik turun seolah baru saja lolos dari tenggelam. Ia menoleh panik ke kiri dan kanan.
Ia kembali ke Jakarta. Atau setidaknya, versi Jakarta yang menyerupai ingatan buruknya.
Jalanan ini sepi, terlalu sepi untuk ukuran ibu kota. Gedung-gedung tinggi di sekitarnya tampak membungkuk, jendela-jendelanya gelap seperti mata yang buta. Tidak ada klakson, tidak ada pedagang nasi goreng tek-tek, tidak ada kehidupan. Hanya Aris, motornya yang berasap, dan Penumpang misterius di belakangnya.
Aris menepikan motornya di bawah sebuah halte bus yang atapnya bocor. Ia butuh jeda. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ia kesulitan melepaskan cengkramannya dari handle gas. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok yang sudah penyok, mencoba menyalakannya dengan korek api yang pemantiknya macet karena lembap.
"Sialan!" umpatnya, melempar rokok itu ke genangan air. Ia menatap spion, memberanikan diri melihat siapa yang ia bonceng.
Di pantulan kaca spion yang retak-retak itu, tidak ada siapa-siapa. Jok belakang kosong.
Tapi berat itu masih ada. Suspensi belakang motornya masih ambles, seolah menahan beban dua kuintal dosa.
"Ibu kamu masih menunggu di seberang, Ris," suara itu kini terdengar langsung di dalam kepalanya, bukan lewat telinga. "Tapi kamu malah sibuk ngerokok."
Aris berbalik badan dengan cepat, nyaris tergelincir. "Siapa sih lo sebenarnya?! Mau lo apa?!" teriaknya pada udara kosong. Hujan menderas, menyamarkan air mata frustrasi yang mulai bercampur di pipinya. "Gue narik buat Ibu! Gue cari duit buat bayar rumah sakit! Lo pikir gue seneng hidup kayak gini? Hah?!"
Hening. Hanya suara tetes air jatuh dari atap halte yang berkarat. Tes. Tes. Tes.
"Kamu narik buat Ibu..." suara Penumpang itu terdengar lagi, kali ini nadanya lebih rendah, penuh cemoohan halus yang menusuk ulu hati, "...atau buat membuktikan kalau kamu bukan pecundang seperti yang dibilang Sarah dulu?"
Nama itu. Sarah. Aris terdiam, mulutnya terkunci rapat. Giginya bergemeretak. Nama itu adalah luka lama yang ia jahit kasar dengan ambisi dan kerja keras yang tidak sehat. Sarah yang meninggalkannya karena Aris "tidak punya masa depan". Sarah yang membuatnya bersumpah akan menjadi sukses, sekecil apapun definisinya, bahkan jika sukses itu hanya diukur dari pencapaian poin harian di aplikasi ojek online.
Aris kembali menatap ponselnya. Panggilan dari "IBU" sudah berhenti. Layar kini kembali menampilkan peta navigasi. Namun, titik tujuannya berubah. Bukan lagi koordinat acak, melainkan sebuah persimpangan yang sangat spesifik. Garis rute berwarna merah darah menunjuk lurus ke arah Slipi.
Jarak: 0 km.
Aris menelan ludah. Ia tahu persimpangan itu. Itu adalah "Stop 2".
Dengan tangan yang masih gemetar, ia kembali menaiki motornya. Mesin Honda Beat itu menyala lagi dengan suara batuk kasar, seolah ikut kelelahan menanggung beban mental tuannya. Aris memutar gas perlahan, kali ini tanpa nafsu. Ia melaju menembus hujan yang terasa kian tajam, seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit jaket ojolnya yang tipis.
Lampu merah di persimpangan Slipi terlihat dari kejauhan. Warnanya merah menyala, membias di aspal basah, menciptakan kolam darah cahaya di tengah jalan. Tidak ada kendaraan lain. Lampu lalu lintas itu seolah hanya menyala untuk Aris seorang.
Ia memperlambat laju motornya. Angka di odometer digitalnya kembali berputar mundur dengan cepat. 10... 9... 8...
Ingatan itu datang tanpa diundang, menyerbu masuk seperti banjir bandang.
Enam bulan lalu. Siang hari bolong yang terik. Aris sedang mengejar target tutup poin. Kurang satu orderan lagi untuk mendapatkan bonus insentif harian. Ia memacu motornya gila-gilaan, menyalip angkot, menerobos trotoar. Di persimpangan ini, saat lampu baru saja berubah hijau, seorang bocah penjual tisu menyeberang dengan langkah gontai.
Aris mengerem mendadak. Ban motornya mencium betis kurus bocah itu. Tidak sampai jatuh, tapi cukup membuat si bocah kaget dan menjatuhkan dagangannya. Tisu-tisu itu berserakan di aspal yang kotor.
Bukannya minta maaf, Aris malah meledak. Tekanan utang pinjol dan target aplikasi membuatnya buta.
"Heh! Punya mata nggak lo?! Jalan tuh pake otak! Minggir, gembel!"
Caci maki itu keluar begitu saja. Bocah itu—Rio namanya, Aris baru tahu belakangan dari obrolan warung kopi—hanya diam, memunguti tisu-tisunya dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca menahan takut. Aris meninggalkannya begitu saja, mengejar orderan kakap yang akhirnya dibatalkan oleh pelanggan karena ia telat lima menit.
Sekarang, di persimpangan yang sama, di dimensi yang salah ini, Aris melihat sosok kecil itu lagi.
Berdiri tepat di bawah tiang lampu merah, sosok Rio tampak mematung. Hujan mengguyur tubuhnya yang ringkih, membuat kaos oblong kedodoran yang dipakainya mencetak tulang rusuk. Ia tidak membawa kotak tisu kali ini. Tangan kanannya memegang sesuatu yang lain—sebuah helm ojol yang pecah terbelah dua.
Aris menghentikan motornya sepuluh meter dari garis berhenti. Napasnya tercekat. Rasa dingin yang tidak wajar merambati punggungnya, bukan dari hujan, tapi dari tatapan kosong bocah itu.
Rio perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru kedinginan. Namun yang membuat darah Aris membeku adalah matanya. Tidak ada bola mata di sana. Hanya dua lubang hitam pekat yang mengalirkan cairan hitam seperti oli bekas.
"Om Aris..." panggil Rio. Suaranya bukan suara anak kecil. Itu suara serak, parau, gabungan dari suara klakson yang macet dan rem yang blong. "Tisu Rio kotor semua, Om. Nggak ada yang mau beli."
Aris ingin memutar balik. Ia ingin kabur. Tapi roda motornya seolah dipaku ke aspal. Kaki-kakinya lemas, kehilangan kendali atas saraf motoriknya sendiri.
"Om Aris buru-buru ya?" Rio melangkah maju satu tapak. Air genangan di bawah kakinya berubah warna menjadi merah pekat. "Mau kejar bonus ya, Om? Bonusnya seharga nyawa Rio nggak?"
"Itu... itu kecelakaan, Rio. Gue nggak sengaja," Aris mencoba berdalih, suaranya bergetar hebat. Ia berbicara pada hantu, pada memori, pada rasa bersalah yang kini punya wujud fisik. "Gue lagi pusing waktu itu. Gue minta maaf..."
"Minta maaf?" Rio memiringkan kepalanya dengan sudut yang tidak wajar—terlalu miring hingga terdengar bunyi krak tulang leher yang patah. "Tapi Om nggak berhenti waktu itu. Om lari. Sama kayak sekarang. Om selalu lari."
Penumpang di belakang Aris tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang kering, seperti suara daun kering diremas. "Benar kan, Ris? Kamu ahli melarikan diri. Lari dari Sarah, lari dari tagihan, lari dari tanggung jawab. Sekarang, mau lari kemana lagi? Lampunya masih merah."
Aris menatap lampu lalu lintas di atasnya. Masih merah. Dan anehnya, lampu hitung mundurnya tidak menunjukkan angka, melainkan simbol infinity ∞. Simbol ketidakterhinggaan.
"Gue nggak mau mati di sini," bisik Aris, tangannya meraba saku jaket, mencari ponselnya, mencari jalan keluar, mencari apa saja.
"Siapa bilang kamu akan mati?" sosok Rio kini sudah berada tepat di samping motor, wajahnya yang rusak hanya berjarak beberapa senti dari helm Aris. Bau anyir darah segar menusuk hidung Aris, begitu kuat hingga ia ingin muntah. "Mati itu gampang, Om. Membayar utang rasa bersalah... itu yang lama."
Rio mengulurkan tangannya yang kurus dan kotor. Di telapak tangannya, terdapat sekeping koin logam. Koin yang sama yang pernah Aris lempar ke muka pengamen lain karena kesal tidak punya uang kembalian.
"Bayar, Om. Ongkosnya naik."
Sebelum Aris sempat bereaksi, ponselnya kembali berdering. Bukan "IBU". Kali ini layar ponselnya menampilkan caller ID yang membuat jantung Aris berhenti berdetak sesaat.
PANGGILAN MASUK: SARAH (3 TAHUN YANG LALU)
Hujan turun semakin deras, seolah langit Jakarta ingin menenggelamkan Aris bersama seluruh dosa-dosanya malam ini.