Air hujan tidak sekadar membasahi layar ponsel yang retak itu; air itu seperti minyak yang memperjelas mimpi buruk. Getaran di tangan Aris terasa menjalar hingga ke tulang selangka, sebuah ritme panik yang selaras dengan degup jantungnya yang mau pecah. Di depannya, di bawah siraman lampu lalu lintas yang memancarkan simbol infinity merah darah, Rio masih berdiri. Bocah itu tidak bergeming. Lubang matanya yang hitam pekat menatap lurus ke arah Aris, seolah menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar koin receh atau permintaan maaf basa-basi.
Namun, teror di depan mata itu sejenak kalah oleh teror di genggaman tangan.
Tulisan di layar itu berkedip-kedip, melawan tetesan air yang mengaburkan pandangan: SARAH (3 TAHUN YANG LALU).
Aris menahan napas, dadanya sesak oleh udara dingin Slipi yang berbau anyir. Logika di kepalanya berusaha memberontak, mencari celah rasional. Mungkin ini error sistem? Mungkin jam di ponselnya rusak? Tapi Aris tahu, jauh di sudut hati nuraninya yang paling gelap, di dimensi ini logika adalah barang rongsokan yang tidak laku dijual. Jempolnya gemetar hebat saat melayang di atas tombol hijau.
"Angkat, Ris," bisik Penumpang di belakangnya. Suaranya tidak lagi terdengar dari telinga, melainkan langsung bergema di dalam batok kepala, basah dan lengket. Berat tubuh makhluk itu menekan suspensi Honda Beat hingga kandas, membuat besi standar tengah berdecit menyakitkan di atas aspal. "Dia sudah nunggu lama, lho. Jangan jadi pengecut dua kali."
Kata "pengecut" itu menyengat. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, atau mungkin sekadar refleks putus asa—Aris menggeser tombol hijau ke kanan.
Klik.
Tidak ada suara. Hanya desis statis yang tajam, seperti suara radio rusak yang diputar di frekuensi kosong.
"Halo?" suara Aris parau, nyaris tak terdengar karena tertelan deru hujan.
Hening sejenak. Lalu, suara itu muncul. Jernih. Terlalu jernih untuk panggilan seluler di tengah badai.
"Kamu di mana, Ris? Hujannya makin deres nih..."
Darah Aris serasa berhenti mengalir. Itu suara Sarah. Nada bicaranya ringan, sedikit manja, namun menyiratkan kekhawatiran yang tulus. Itu adalah nada bicara Sarah tiga tahun lalu, tepat di malam ketika Aris memutuskan untuk tidak datang. Malam di mana ia mematikan ponselnya, memilih mengejar insentif bonus akhir pekan daripada menemui wanita itu di halte busway untuk membicarakan masa depan mereka.
"Sar..." Aris tercekat. Matanya melirik liar ke sekeliling. Bangunan-bangunan di sekitar Slipi tampak melengkung, seolah membungkuk untuk mendengarkan percakapan ini.
"Aku udah beli martabak kesukaan Ibu kamu," lanjut suara Sarah di telepon, riang namun menyakitkan. "Katanya kamu mau jemput jam tujuh? Ini udah jam sembilan lho. Ris? Sinyalnya jelek ya?"
Di depan motor, sosok Rio bergerak. Perlahan, bocah dengan wajah hancur itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang pucat dan kotor menunjuk ke arah ponsel di telinga Aris, lalu ke dadanya sendiri. Mulut Rio yang robek terbuka, namun suara yang keluar bukanlah kata-kata, melainkan bunyi klakson panjang yang menyayat hati, bunyi yang sama saat dia mendorong Rio ke trotoar beberapa bulan yang lalu.
Aris memejamkan mata, kepalanya pening luar biasa. Kenangan itu menghantamnya seperti truk tronton. Tiga tahun lalu, ia meninggalkan Sarah demi karirnya yang sedang menanjak.
"Maafin aku, Sar..." gumam Aris, air mata mulai bercampur dengan air hujan di pipinya yang tirus. "Gue... gue nggak bisa ke sana."
"Kenapa nggak bisa?" Suara Sarah berubah. Bukan lagi khawatir, tapi dingin. Datar. "Kenapa Ris? Kenapa?"
"Bukan gitu!" Aris berteriak, suaranya pecah. Ia membuka mata dan mendapati Rio kini sudah berdiri tepat di samping stang motornya. Bau busuk menyengat, bau daging terbakar dan nanah, menguar dari tubuh bocah itu. "Gue lakuin ini buat masa depan! Gue nggak mau jadi gembel!"
Penumpang di belakang tertawa. Tawanya berat, mengguncang rangka motor. "Masa depan? Lihat sekelilingmu, Aris. Ini masa depan yang kau beli dengan cicilan harga dirimu. Kau sendirian, basah kuyup, dikejar setan, dan masih saja berbohong."
Di telepon, suara Sarah berubah menjadi jeritan statis yang memekakkan telinga. "PENIPU! KAMU CUMA TAKUT KELIHATAN MISKIN!"
Krak!
Ponsel di tangan Aris terasa panas membara, seolah baterainya meledak dalam diam. Refleks, Aris melempar benda itu ke dashboard motor. Layarnya mati total, menyisakan kegelapan. Namun, suara Sarah masih terdengar, bukan dari speaker ponsel, melainkan dari mulut Rio yang menganga lebar di sampingnya.
"PENIPU..." suara itu keluar dari tenggorokan bocah mati itu, ganda dan terdistorsi.
Kepanikan Aris mencapai puncaknya. Adrenalin mengambil alih kendali tubuhnya yang gemetar. Persetan dengan penyesalan. Persetan dengan nostalgia. Ia harus pergi dari sini. Ia harus bergerak. Bagi seorang pengemudi ojol, diam berarti mati. Diam berarti orderan anyep. Diam berarti tenggelam.
Tangan kanannya memutar gas dalam-dalam. Mesin Honda Beat yang sudah tua itu meraung, batuk-batuk memuntahkan asap hitam pekat. Roda belakang berputar liar di atas aspal licin, mencari cengkeraman.
"Minggir lu!" teriak Aris, matanya melotot liar menatap Rio.
Bocah itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, memegang helm pecah itu seperti sebuah persembahan.
Aris nekat. Ia melepas rem. Motor itu melonjak ke depan. Bukan menghindar, Aris justru memacu motornya menembus sosok Rio. Ia memejamkan mata sesaat sebelum tabrakan terjadi, mengharapkan benturan keras, mengharapkan tulang patah atau setidaknya guncangan hebat.
Wush.
Tidak ada benturan. Hanya sensasi dingin luar biasa yang menusuk dada, seolah Aris baru saja melewati tirai yang terbuat dari balok es. Angin berhembus kencang, membawa aroma melati yang membusuk.
Saat Aris membuka mata, Rio sudah tidak ada. Simbol infinity di lampu merah pun lenyap. Ia kini melaju di jalanan lurus yang gelap gulita. Hujan masih turun, tapi tidak sederas tadi. Suara bising kota Jakarta, suara klakson, sirine, teriakan pedagang mendadak senyap total. Hanya ada suara mesin motornya sendiri yang terdengar ganjil, seolah bergema di dalam ruangan tertutup.
Aris menghembuskan napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia selamat. Ia berhasil kabur dari "Stop 2". Tangannya yang masih gemetar mencengkeram stang erat-erat, buku-buku jarinya memutih.
"Gila..." desisnya. "Mimpi gila apa ini?"
Ia melirik spion. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di belakang. Tapi ia tahu Penumpang itu masih ada. Ia bisa merasakan beratnya. Suspensi motor yang amblas adalah bukti fisik yang tak terbantahkan.
Aris mencoba fokus ke jalan. Ia harus menyelesaikan orderan ini. Kalau ia selesaikan, mungkin semuanya akan kembali normal. Ia akan bangun di kamar indekosnya yang sempit, disambut tagihan pinjol di WA, dan kembali mengaspal seperti biasa. Itu terdengar seperti surga dibandingkan kegilaan ini.
Namun, perlahan Aris menyadari ada yang salah dengan "jalan raya" yang ia lalui.
Aspal di bawah bannya terasa terlalu halus. Tidak ada lubang, tidak ada polisi tidur, tidak ada tekstur kasar batu kerikil. Dan garis putus-putus pembatas jalan itu... warnanya bukan putih pudar, melainkan putih mengkilap.
Aris memicingkan mata, menembus sorot lampu motor yang redup.
Itu bukan garis jalan. Itu celah nat keramik.
Ia menengadah. Langit malam Jakarta yang mendung telah hilang. Di atasnya, berjajar lampu neon panjang yang berkedip-kedip suram, memanjang tanpa ujung. Cahayanya pucat, menyakitkan mata, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
Dinding?
Jantung Aris kembali berpacu. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada trotoar, tidak ada ruko, tidak ada pohon. Di kiri kanannya kini berdiri tembok tinggi bercat putih kusam yang mengelupas di sana-sini. Pintu-pintu kayu dengan kaca buram berderet rapi di sepanjang dinding, masing-masing memiliki papan nama kecil yang tidak terbaca karena kecepatan motor.
Ini bukan jalan raya.
Aris sedang mengendarai motornya di dalam sebuah lorong rumah sakit raksasa.
Lorong itu lebarnya pas untuk dua mobil, tapi atapnya tinggi menjulang seolah tanpa batas. Bau di udara berubah drastis. Aroma hujan dan aspal basah berganti dengan bau karbol menyengat, dicampur dengan aroma alkohol murni dan sesuatu yang manis—bau bunga sedap malam yang biasa ditaruh di kamar jenazah.
"Kiri, Pak," suara Penumpang terdengar lagi, kali ini nadanya sopan, terlalu sopan, seperti keluarga pasien yang menahan tangis.
Aris ingin mengerem, tapi tangannya terasa kaku. Motor itu seolah berjalan sendiri, mengikuti rel tak kasat mata.
Di ujung lorong yang remang-remang, Aris melihat sesuatu. Sebuah meja resepsionis tua dari kayu jati, dan di belakangnya, sebuah jam dinding besar. Jarum jam itu berputar mundur dengan kecepatan gila. Tik-tik-tik-tik suaranya menggema seperti ketukan palu hakim.
Dan di tengah jalan, menghalangi lajunya, berdiri sosok tinggi besar berbalut seragam putih. Sosok itu memegang sebuah papan jalan medis (clipboard). Wajahnya tertutup masker bedah yang penuh bercak merah, tapi matanya... Aris kenal mata itu. Mata yang lelah, mata yang menghakimi, mata yang sering ia lihat saat menengok Ibunya di bangsal kelas 3 BPJS.
Itu Suster Ningsih. Tapi ukurannya tidak wajar. Dia menjulang setinggi tiga meter, menghalangi seluruh lorong.
Ponsel di dashboard tiba-tiba menyala sendiri, menampilkan aplikasi map yang rutenya berubah total. Garis biru itu kini mengarah lurus menembus sosok raksasa itu.
Tujuan Baru: RUANG ICU - WAKTU HABIS.
"Waktu kunjungan sudah selesai, Mas Aris," suara Suster Ningsih menggelegar, bukan dari mulutnya, tapi dari speaker pengumuman yang terpasang di langit-langit lorong. "Ibu sudah menunggu lama. Administrasi belum lunas. Kenapa anda malah keluyuran cari poin?"
Tangan raksasa Suster Ningsih terangkat, memegang sebuah jarum suntik sebesar lengan orang dewasa. Cairan di dalamnya berwarna hitam pekat, mendidih.
Aris ingin berteriak, ingin memutar balik, tapi spionnya hanya memantulkan kegelapan total. Tidak ada jalan kembali. Lorong di belakangnya telah runtuh menjadi jurang hitam. Satu-satunya jalan adalah maju, menyongsong monster birokrasi medis yang kini menatapnya dengan lapar.
"Tabrak atau bayar," bisik Penumpang di telinganya, kali ini dengan nada mengejek yang kejam. "Tapi saldomu tidak akan cukup untuk membayar nyawa, Ris."
Motor Honda Beat itu meluncur semakin cepat, bukan karena gas, tapi karena lantai lorong yang kini miring curam ke bawah, menyeret Aris jatuh ke dalam perut rumah sakit terkutuk itu.