Diagnosa Tenggat Waktu

Penulis djoedo
22 January 2026

Motor Honda Beat itu meluncur semakin cepat, bukan karena gas, tapi karena lantai lorong yang kini miring curam ke bawah, menyeret Aris jatuh ke dalam perut rumah sakit terkutuk itu. Ban karet motornya berdecit nyaring, menciptakan harmoni sumbang dengan suara mesin yang meraung dalam rpm tinggi namun tak menghasilkan daya dorong. Aris menekan rem tangan sekuat tenaga, jari-jarinya memutih kaku mencengkeram tuas, tapi ubin putih di bawahnya licin seolah dilumuri lendir, menolak segala upaya fisika untuk menghentikan kejatuhan ini.

Gravitasi di tempat ini terasa salah. Aris tidak sekadar merosot; ia sedang ditelan.

Di depannya, sosok Suster Ningsih yang menjulang setinggi tiga meter tidak bergerak mengejar. Ia hanya berdiri mematung di puncak kemiringan, siluet putih raksasa dengan topi perawat yang menyerupai mahkota duri. Wajahnya yang tertutup masker bedah raksasa tidak menunjukkan ekspresi, namun dari mata hitam pekat tanpa sklera itu, Aris tahu ia sedang diamati seperti bakteri di bawah mikroskop. Tangan raksasanya mengangkat jarum suntik sebesar tiang infus, dan dengan gerakan lambat yang menyiksa, ibu jarinya menekan plunger.

Crat.

Cairan hitam mendidih menyembur dari ujung jarum, melesat membelah udara lorong seperti proyektil mortir. Cairan itu menghantam dinding di samping kiri Aris, dan seketika cat putih tembok itu melepuh, mendesis, dan meleleh, memperlihatkan lapisan daging merah yang berdenyut di balik semen.

"Bangsat!" Aris memaki, refleks membanting setang ke kanan. Motornya oleng, hampir terbalik. Bau karbol yang menyengat kini bercampur dengan aroma daging terbakar dan amis darah yang kental. Ini bukan rumah sakit. Ini adalah organisme hidup yang sedang sakit parah, dan Aris adalah virus asing yang terjebak di kerongkongannya.

Luncuran itu membawanya melewati pintu-pintu bangsal yang terbuka-tutup sendiri dengan ritme napas yang tersengal. Setiap kali ia melewati sebuah pintu, kilasan cahaya lampu kilat yang menyambar matanya. Di dalam kamar-kamar itu, ia melihat bayangan-bayangan surealis: pasien yang tubuhnya terdiri dari tumpukan koin receh yang runtuh, ranjang rumah sakit yang memiliki gigi, dan dokter-dokter tanpa wajah yang sedang mengoperasi mesin motor, menarik usus berupa kabel busi yang berlumuran oli.

Kecepatan motor semakin gila. Aris merasa angin dingin menampar wajahnya, membawa serta aroma bunga sedap malam yang begitu kuat hingga rasanya mencekik, seolah-olah ia sedang dikubur hidup-hidup di bawah tumpukan karangan bunga duka cita.

"Remnya blong, Ris? Atau niat lo yang emang nggak pernah bisa ngerem?"

Suara itu. Berat, serak, dan tepat di telinga kanannya. Si Penumpang.

Aris ingin berteriak menyuruhnya diam, tapi lidahnya kelu. Beban di jok belakang mendadak bertambah berkali-kali lipat. Suspensi belakang motornya menjerit, besi beradu besi. Motor itu tidak lagi meluncur lurus, tapi mulai terseret ke samping, berat sebelah, seakan ada jangkar raksasa yang dilempar dari boncengan.

"Lo selalu ngerasa kurang cepet, kan?" bisik Penumpang itu lagi, nadanya dingin menusuk, kontras dengan keringat panas yang membanjiri leher Aris. "Kejar poin. Kejar bonus. Terobos lampu merah. Gilas orang lain. Sekarang, giliran lo yang digilas waktu."

BRAKK!

Lorong itu berakhir mendadak. Bukan pada dinding buntu, melainkan pada sepasang pintu ganda dari kaca buram bertuliskan "RUANG TUNGGU - AREA STERIL". Aris tak sempat menghindar. Motornya menghantam pintu kaca itu hingga hancur berkeping-keping.

Pecahan kaca berhamburan seperti hujan berlian di bawah lampu neon yang berkedip sekarat. Aris terlempar dari motornya, berguling di atas lantai vinil yang dingin, sementara Honda Beat-nya terseret beberapa meter jauhnya dengan suara gesekan logam yang memilukan, sebelum akhirnya berhenti menabrak deretan kursi tunggu besi.

Hening.

Hanya ada suara napas Aris yang memburu, terdengar kasar dan basah di ruangan yang sunyi itu. Ia terbatuk, merasakan rasa besi di mulutnya, darah akibat giginya yang tak sengaja menggigit bibir saat benturan.

Perlahan, dengan tubuh yang terasa remuk redam, Aris mencoba bangkit. Ia menyeka matanya yang pedih. Ruangan ini... normal. Terlalu normal.

Lantai vinil berwarna krem kusam. Deretan kursi tunggu besi berwarna perak yang dingin. Dinding berwarna hijau telur asin yang catnya mulai mengelupas di bagian bawah. Di sudut ruangan, sebuah dispenser air galon berdiri miring, meneteskan air: tes... tes... tes... tes... tes... tes... Iramanya lambat, menyakitkan, seperti hitungan mundur yang enggan berakhir.

"Halo?" suara Aris terdengar parau, memantul di dinding-dinding kosong.

Tidak ada jawaban. Tidak ada Suster Ningsih raksasa. Tidak ada lorong yang miring.

Aris menoleh ke arah motornya yang tergeletak miring. Mesinnya sudah mati, tapi lampu depannya masih menyala redup, menyorot ke arah sebuah loket pendaftaran yang tertutup kaca tebal. Di jok belakang, tidak ada siapa-siapa. Si Penumpang menghilang lagi, atau mungkin, ia tak pernah benar-benar turun.

Aris merogoh saku jaketnya, menarik keluar ponselnya. Layarnya retak seribu, tapi masih menyala. Aplikasi ojol itu masih terbuka. Peta digital di layar menunjukkan sesuatu yang membuatnya merinding. Titik biru (posisinya) dan titik merah (tujuan) kini bertumpuk menjadi satu.

Status orderan berubah: TIBA DI LOKASI.

Tapi di mana? Tidak ada nama tempat. Kolom alamat hanya berisi deretan angka biner yang berubah-ubah dengan cepat, lalu berhenti pada satu kata yang dicetak tebal: RUANG ADMINISTRASI DOSA.

"Gila..." desis Aris. Ia berjalan tertatih mendekati loket kaca itu. Kakinya gemetar, bukan hanya karena sisa adrenalin, tapi karena rasa takut yang mulai merambat naik dari tulang ekornya. Ia merasa seperti anak kecil yang dipanggil ke ruang kepala sekolah, namun kali ini kesalahannya bukan karena lupa mengerjakan PR, melainkan karena lupa menjadi manusia.

Di balik kaca loket yang kotor oleh debu dan bekas jari berminyak, ruangan itu tampak gelap gulita. Namun, Aris bisa melihat sebuah papan nama di atas meja: LOKET PEMBAYARAN.

"Misi... Ada orang?" Aris mengetuk kaca. Tuk. Tuk.

Suara ketukannya bergema aneh, seolah ruangan di balik kaca itu luasnya tak terhingga.

Tiba-tiba, lampu di balik loket menyala. Cahayanya kuning suram, berasal dari sebuah lampu belajar tua yang berkarat. Di bawah sorotan lampu itu, tidak ada manusia. Hanya ada sebuah mesin ketik kuno yang tuts-tutsnya bergerak sendiri, menghantam pita tinta dengan kecepatan yang mustahil.

Ctak. Ctak. Ctak-ctak-ctak.

Kertas panjang, seperti struk belanja yang tak ada habisnya, mulai keluar dari gulungan mesin ketik itu. Kertas itu menjulur, terus memanjang, jatuh ke lantai di balik kaca, lalu menumpuk seperti ular putih yang melingkar.

Aris menempelkan wajahnya ke kaca, berusaha membaca tulisan di kertas itu. Matanya membelalak. Itu bukan struk belanja. Itu daftar.

12 FEBRUARI 2023 - 08.00: MENOLAK ORDERAN NENEK SAKIT KARENA JARAK PENDEK (POIN TIDAK SEPADAN). 14 MARET 2023 - 17.30: MEMAKI RIO DI LAMPU MERAH SLIPI. MENYEBABKAN TRAUMA PSIKIS. 20 APRIL 2024 - 10.00: BERBOHONG PADA IBU TENTANG GAJI DEMI GENGSI. HARI INI - 02.15: MENGABAIKAN PERINGATAN PAK MULYONO.

Daftar itu terus tercetak, memuntahkan setiap dosa kecil, setiap kebohongan remeh, setiap momen di mana Aris memilih menjadi apatis demi efisiensi. Rasanya seperti ditelanjangi. Aris mundur selangkah, napasnya tercekat. Ini bukan sekadar memori; ini adalah audit forensik atas jiwanya.

"Ini nggak bener... Gue cuma kerja... Gue cuma mau sukses..." gumam Aris, mencoba membela diri pada ruangan kosong. "Semua orang juga gitu! Kenapa cuma gue yang diginiin?!"

TING!

Bunyi bel loket berbunyi nyaring, memotong racauan Aris. Sebuah celah kecil di bawah kaca loket terbuka perlahan, menyodorkan sebuah nampan besi. Di atas nampan itu, tergeletak sebuah kartu antrian berwarna merah darah.

Aris ragu. Tangannya gemetar hebat saat meraih kartu itu. Kertasnya terasa hangat, seperti kulit manusia yang demam.

Ia membaliknya. Tidak ada nomor antrian di sana. Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang masih basah:

PASIEN SELANJUTNYA: ARIS PRATAMA. DIAGNOSA: KANKER EGO STADIUM AKHIR. TINDAKAN: AMPUTASI HARGA DIRI.

Jantung Aris serasa berhenti berdetak.

Sebelum ia sempat memproses makna tulisan itu, suara speaker di langit-langit berkeresek, menyemburkan statis yang memekakkan telinga. Suara yang keluar kali ini bukan lagi suara Suster Ningsih yang dingin, melainkan suara yang sangat familiar. Suara yang selama ini ia hindari. Suara yang ia kubur dalam-dalam di memori teleponnya tiga tahun lalu.

"Sayang... kamu di mana? Aku nungguin kamu di stasiun... Hujan deres banget, Ris..."

Itu suara Sarah. Tapi bukan suara Sarah yang marah seperti di telepon tadi. Ini adalah suara Sarah dari masa lalu, suara Sarah yang lembut, penuh harap, dan cemas. Suara dari malam di mana Aris memutuskan untuk mematikan ponselnya dan pergi minum dengan bos barunya demi promosi jabatan, membiarkan Sarah menunggu sendirian kedinginan di stasiun hingga tengah malam.

Aris mematung. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan dengan ambisi dan kesibukan, kini meledak keluar seperti nanah dari luka yang tak pernah diobati.

"Ris... tolong angkat... aku takut sendirian di sini..." suara Sarah di speaker mulai bergetar, lalu berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati.

Bersamaan dengan isak tangis itu, dinding di sebelah kiri Aris, dinding yang seharusnya kokoh, mulai melunak. Cat hijau telur asin itu mencair, berubah menjadi cairan kental yang menetes ke lantai. Dari balik dinding yang meleleh itu, sebuah lorong baru terbentuk. Lorong yang gelap, basah, dan berbau hujan.

Di ujung lorong gelap itu, Aris bisa melihat siluet seseorang. Seorang wanita berdiri di bawah guyuran hujan yang hanya turun di dalam lorong itu, memegang payung merah yang patah.

Layar ponsel Aris berkedip lagi. Sebuah notifikasi baru muncul, berkedip-kedip agresif dengan warna merah menyala.

MISI TAMBAHAN TERDETEKSI: JEMPUT PENUMPANG YANG TERTINGGAL. LOKASI: STASIUN KENANGAN (3 TAHUN YANG LALU). WAKTU TERSISA: 00:00:00

Aris menatap lorong hujan itu, lalu menatap motornya. Kakinya terasa berat, seolah lantai vinil ini telah berubah menjadi lumpur hisap. Ia ingin lari kembali ke pintu kaca yang pecah, kembali ke Suster Ningsih raksasa, karena setidaknya monster itu nyata. Tapi menghadapi hantu Sarah? Menghadapi dosanya yang paling pengecut? Itu adalah teror yang jauh lebih intim.

"Mas Aris?"

Suara itu tidak datang dari speaker. Itu datang langsung dari ujung lorong hujan. Nyata. Dekat.

Aris menelan ludah yang terasa seperti pasir. Ia tidak punya pilihan. Jalan di belakangnya sudah tertutup oleh tumpukan kertas dosa yang kini mulai terbakar dengan api biru dingin. Satu-satunya jalan adalah ke depan, menuju hujan yang tak pernah berhenti itu.

Ia menegakkan motornya dengan tangan gemetar. Mesin Honda Beat menyala lagi, suaranya terdengar lemah dan lelah, persis seperti pemiliknya.

"Oke..." bisik Aris, suaranya pecah. "Gue jemput. Gue jemput sekarang."

Ia memutar gas pelan. Motor itu bergerak masuk ke dalam lorong dinding yang meleleh. Udara di sekitarnya berubah drastis dari dingin AC rumah sakit menjadi lembap dan basah. Suara tetesan air dari dispenser kini berganti menjadi suara deras hujan yang memukul aspal.

Namun, tepat saat roda depannya menyentuh kegelapan lorong itu, sebuah tangan dingin, sangat dingin, mencengkeram bahu kirinya dari belakang. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Aris bisa merasakan kuku-kuku tajam menembus jaket ojolnya.

"Jangan lupa, Ris," bisik Si Penumpang, suaranya kini terdengar tepat di samping daun telinganya, basah dan mendesis. "Di stasiun itu, nggak ada tiket pulang."

Aris menoleh cepat, tapi yang ia lihat di kaca spion hanyalah kegelapan yang menatap balik, sepasang mata merah yang menyala samar di balik helm yang kosong.

Dan motor itu pun melaju, bukan menuju jalan raya, melainkan masuk ke dalam lubang waktu yang menganga, membawa Aris menemui hantu yang paling ia takuti: dirinya sendiri di masa lalu.