Roda Honda Beat itu tidak mencium aspal, melainkan tergelincir di atas lidah waktu yang basah dan berlendir, sebuah sensasi menjijikkan yang merambat naik dari setang motor hingga ke pangkal lengan Aris. Kegelapan di dalam lorong itu bukan sekadar absennya cahaya, tapi sebuah zat cair yang pekat, berbau amis seperti darah yang dibiarkan mengering di ruang operasi tertutup.
Cengkeraman tangan dingin di bahu kirinya semakin mengerat, seolah jemari Si Penumpang hendak menembus jaket ojol yang lusuh dan meremukkan tulang selangkanya menjadi serpihan kapur. Tidak ada angin yang menerpa wajah, hanya tekanan udara statis yang berat, berdengung rendah seperti suara kulkas rusak di kamar mayat, menekan gendang telinga Aris hingga nyaris pecah.
Dia mencoba menarik tuas rem, refleks putus asa dari seorang pengendara yang tahu ia sedang melaju menuju jurang, namun motor matic itu membangkang. Mesinnya tidak lagi bersuara brem-brem yang familiar; ia menderu seperti tarikan napas orang yang tercekik, sebuah ritme organik yang mengerikan seakan-akan Honda Beat itu telah bermutasi menjadi makhluk hidup yang sedang kesakitan.
Spidometer di hadapannya berputar gila-gilaan, jarum merahnya melesat melampaui angka 140, lalu terus berputar hingga patah, sementara odometer digitalnya menampilkan angka-angka yang bukan jarak, melainkan tanggal-tanggal acak yang mundur dengan cepat: 2023, 2022, 2021...
"Jangan tutup mata, Ris," bisikan itu datang lagi, basah dan mendesis tepat di lubang telinganya, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. "Kau sudah membayar tiket masuk dengan arogansimu. Sekarang nikmati perjalanannya."
Lorong itu tidak memiliki dinding. Di kiri dan kanan, kegelapan berputar membentuk pusaran visual yang memuakkan. Itu bukan sekadar warna hitam, melainkan kolase memori yang tercabik-cabik. Aris melihat kilasan wajah-wajah yang pernah ia abaikan.
Wajah ibunya yang menatap kosong ke jendela rumah sakit, wajah Rio yang terkejut saat Aris membentaknya, wajah Pak Mulyono yang tersenyum tulus meski giginya ompong—semua itu melesat cepat, terdistorsi seperti cat minyak yang luntur terkena hujan asam. Tetesan air yang menerpa helm Aris terasa aneh, lengket dan hangat. Saat ia mengusap kaca helmnya dengan sarung tangan yang gemetar, noda merah tertinggal di sana. Itu bukan hujan. Langit di dimensi ini menangis darah.
Rasa mual menghantam ulu hati Aris, bukan mabuk perjalanan biasa, melainkan vertigo eksistensial. Rasanya seperti seluruh organ dalamnya ditarik paksa keluar melalui pusar, lalu dimasukkan kembali dalam urutan yang salah. Ia merasa kecil, tidak berarti, sebutir debu di hadapan kosmos yang membencinya. Ego yang selama ini menjadi baju zirahnya, yang ia gunakan untuk membenarkan tindakan serakah mengejar bonus dan menendang orang lain, kini terasa seperti kulit tipis yang mengelupas, membiarkan saraf-saraf nuraninya telanjang disengat kenyataan.
Cahaya menyilaukan tiba-tiba meledak di ujung lorong, bukan cahaya matahari yang hangat, melainkan cahaya neon putih pucat yang menyakitkan mata, tipikal lampu fasilitas umum yang murah dan depresif. Motor itu terhempas keluar dari pusaran waktu, bannya mendarat keras di atas permukaan ubin keramik yang retak-retak.
Aris terengah-engah, paru-parunya berusaha menyaring oksigen dari udara yang kini berbau karbol, debu, dan aroma samar roti kopi yang gosong. Ia tidak lagi berada di rumah sakit surealis itu. Ia berada di sebuah peron stasiun.
"Selamat datang di Stasiun Kenangan," suara Si Penumpang terdengar lebih berat, bergema di seluruh penjuru ruangan yang sunyi itu. Aris membuka kaca helmnya dengan tangan gemetar. Ia mengenali tempat ini. Bukan karena papan penunjuk arah yang tulisannya meleleh seperti lilin, tapi karena atmosfer kesedihan yang mengendap di setiap sudutnya. Ini adalah Stasiun Manggarai, versi tiga tahun yang lalu, di sudut peron yang jarang disinggahi penumpang transit. Namun, tempat ini tampak sakit.
Dinding-dindingnya ditumbuhi jamur hitam yang berdenyut pelan, dan rel kereta di bawah sana tidak berisi kerikil dan besi, melainkan tumpukan bangkai jam dinding yang semuanya berhenti berdetak.
Langit-langit stasiun itu tinggi dan gelap, tanpa bintang, hanya ada satu lampu sorot yang menyorot ke sebuah bangku panjang di tengah peron. Di sana, di bawah sorotan cahaya yang dramatis itu, duduk dua sosok yang membuat jantung Aris berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Itu adalah Sarah. Dan dirinya sendiri.
Aris, versi masa lalu, berdiri dengan kemeja kerja yang lengan bajunya digulung berantakan, dasi yang sudah longgar, dan wajah yang memerah karena amarah yang tertahan. Di tangannya, sebuah ponsel pintar tergenggam erat, benda yang saat itu ia anggap sebagai pusat semestanya.
Sementara Sarah duduk di bangku, menunduk, bahunya terguncang pelan. Ia mengenakan gaun biru muda, gaun yang Aris ingat betul ia belikan dari gaji pertamanya sebagai staf marketing, sebelum ambisi mengubahnya menjadi monster.
"Kau ingat hari ini, Ris?" Si Penumpang bertanya, nadanya mengejek namun datar.
Aris ingat. Tentu saja ia ingat. Ini adalah hari di mana ia memilih "kesuksesan" semu di atas kemanusiaannya sendiri. Hari di mana ia meninggalkan Sarah menangis di stasiun karena ia harus mengejar meeting dadakan dengan klien besar yang menjanjikan komisi gila-gilaan, komisi yang pada akhirnya habis ia gunakan untuk gaya hidup hedonis.
"Sarah..." Aris berbisik, suaranya serak. Tanpa sadar ia turun dari motor, kakinya lemas seperti jeli. Si Penumpang tidak menahannya kali ini. Sosok berjaket itu hanya duduk diam di atas motor, sepasang mata merah di balik helmnya memantul di kaca spion, menikmati penderitaan yang akan tersaji.
Aris melangkah mendekat. Ia ingin berteriak, ingin memukul wajah masa lalunya yang tampak begitu sombong dan penuh alasan. Ia mendengar suara dari masa lalu itu, jernih seolah diputar melalui headphone kualitas tinggi langsung ke otaknya.
"Sar, tolong dong ngertiin posisi aku," suara Aris masa lalu terdengar tajam, memotong isak tangis Sarah. "Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kalau aku dapet deal ini, kita bisa nikah tahun depan. Kamu kok malah cengeng gini sih cuma gara-gara aku batalin nonton?"
"Bukan soal nontonnya, Ris!" Sarah mengangkat wajahnya. Mata itu bengkak, maskaranya luntur. "Ini soal kamu yang nggak pernah ada. Fisik kamu di sini, tapi pikiran kamu selalu di angka, di target, di bonus! Kapan terakhir kali kamu tanya kabar ibuku? Kapan terakhir kali kita ngobrol tanpa kamu ngecek HP tiap lima detik?"
Aris masa kini merasakan nyeri yang hebat di dadanya, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Ia berdiri hanya tiga meter dari adegan itu. Ia bisa melihat detail yang dulu ia lewatkan: tangan Sarah yang gemetar memegang ujung roknya, lecet di sepatu hak tingginya karena terlalu lama berdiri menunggunya, dan tatapan putus asa yang menyiratkan bahwa wanita itu sudah menyerah. "Jangan pergi, goblok!" teriak Aris masa kini kepada dirinya yang dulu. "Peluk dia! Batalkan meeting itu! Klien itu penipu! Uangnya bakal habis dalam sebulan!"
Namun suaranya tidak keluar. Tenggorokannya seperti disumbat oleh gumpalan aspal cair. Ia mencoba berlari, menerjang maju untuk menahan lengan dirinya yang dulu, tapi tubuhnya menabrak dinding tak terlihat. Sebuah barikade kaca tebal memisahkan Aris si penonton dari Aris si pelaku. Ia memukul-mukul udara kosong itu, namun pukulannya tidak menghasilkan bunyi. Ia hanya hantu di museum kehidupannya sendiri.
Aris masa lalu mendengus kesal, mengecek jam tangannya. "Terserah kamu lah, Sar. Aku capek berdebat soal hal sepele. Aku harus pergi. Kalau kamu mau pulang, pesen ojol aja sendiri."
Kalimat itu. Kalimat terkutuk itu. Aris ingat betul betapa mudahnya kata-kata itu meluncur dari lidahnya tiga tahun lalu. Ia mengatakannya sambil lalu, sambil mengetik balasan WhatsApp ke bosnya.
"JANGAN!" Aris masa kini menjerit dalam diam, air mata frustrasi mulai membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan. Ia melihat dirinya yang dulu membalikkan badan, berjalan angkuh meninggalkan Sarah sendirian di peron yang dingin. Punggung itu—punggung yang sama yang kini pegal karena membawa beban dosa setiap hari—terlihat begitu tegak dan yakin, tidak menyadari bahwa ia sedang berjalan menuju kehancuran.
Sarah masih duduk di sana, menangis dalam diam. Suara kereta api terdengar mendekat dari kejauhan, gemuruh besi yang bergesekan dengan besi, namun nadanya salah. Itu bukan suara kereta Commuter Line. Itu suara jeritan ribuan orang yang disatukan menjadi frekuensi rendah yang menggetarkan lantai.
Tiba-tiba, suasana berubah.
Sarah berhenti menangis. Bahunya berhenti terguncang. Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat kepalanya. Namun, ia tidak melihat ke arah Aris masa lalu yang sudah menghilang di pintu keluar.
Ia menoleh ke samping. Tepat ke arah Aris masa kini berdiri.
Darah Aris membeku. Ini tidak ada dalam ingatannya. Dalam memori aslinya, Sarah hanya menunduk sampai ia pergi. Tapi di sini, di dimensi yang dikuasai oleh entitas "Suster Ningsih" dan hukum waktu yang rusak ini, memori itu hidup dan bereaksi.
Wajah Sarah tampak pucat, lebih pucat dari yang seharusnya. Dan saat ia menatap mata Aris, Aris menyadari sesuatu yang mengerikan: mata Sarah tidak memiliki pupil. Hanya putih kosong yang berkabut. Mulutnya perlahan terbuka, bukan untuk berbicara, tapi rahangnya turun terlalu jauh, seolah engselnya lepas, membentuk lubang hitam yang menganga.
Suara Sarah terdengar, tapi tidak dari mulutnya, melainkan dari speaker stasiun yang berkarat di atas kepala Aris. Suaranya pecah, bercampur statis, dan berat.
"P e n u m p a n g ... d i h a r a p ... m e m b a y a r ... t a g i h a n ... n y a ..."
Lantai di bawah kaki Sarah mulai mencair. Ubin-ubin itu berubah menjadi lumpur hitam yang pekat, dan dari dalam lumpur itu, tangan-tangan pucat bermunculan. Tangan-tangan kecil, tangan anak-anak. Aris mengenali satu tangan yang memegang sebungkus tisu basah. Tangan Rio. Tangan-tangan itu meraih kaki Sarah, bukan untuk menariknya ke bawah, tapi seolah Sarah adalah inang mereka. Sarah perlahan bangkit, tubuhnya memanjang secara tidak wajar, persendiannya berbunyi krek keras yang memilukan. Ia bukan lagi Sarah sang mantan kekasih. Ia adalah monumen kegagalan Aris yang telah bermutasi.
Si Penumpang di belakang motor tertawa pelan. "Lihat, Ris? Kenangan itu tidak pernah mati. Mereka hanya menunggu di tempat gelap sampai kau datang memberi makan. Dan kau... kau baru saja menyajikan dirimu sendiri sebagai hidangan utama."
Aris mundur teratur, kembali ke arah Honda Beat-nya. Kakinya tersandung, dan ia jatuh terduduk di lantai peron yang dingin. Ponselnya di saku bergetar hebat, sebuah notifikasi masuk dengan nada dering yang melengking menyakitkan telinga.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku dan melihat layar ponselnya yang retak. Bukan aplikasi ojek online yang terbuka, melainkan kamera depan yang menyala otomatis. Di layar itu, Aris melihat wajahnya sendiri, tapi ada sosok Sarah yang berdiri tepat di belakang bahunya, membisikkan sesuatu yang membuat Aris sadar bahwa lari bukanlah opsi.
"Rating bintang satu... untuk hati yang batu."
Aris menoleh ke belakang dengan panik, tapi tidak ada siapa-siapa. Namun saat ia kembali menatap ke depan, sosok Sarah yang bermutasi itu sudah tidak ada di bangku. Jarak antara bangku dan dirinya kosong.
Hanya ada hembusan napas dingin yang kini terasa tepat di tengkuk lehernya, lebih dekat dari Si Penumpang, dan aroma parfum vanilla yang manis bercampur bau tanah kuburan menyeruak masuk ke hidungnya.
"Hai, Sayang," bisik suara itu di telinga kanannya. "Kamu telat tiga tahun."