Horor #horor #ojol

Peron Penyesalan

Penulis djoedo
22 January 2026

Napas itu tidak hangat, melainkan sedingin embun kuburan yang membeku di ujung daun telinga. Aris tersentak hebat, tubuhnya mengejang seolah dialiri listrik bertegangan tinggi, namun kakinya terpaku di lantai peron yang retak. Aroma itu, campuran manis vanila murahan yang dulu selalu Sarah pakai saat kencan hemat mereka, kini terdistorsi bau tanah basah dan formaldehida yang menyengat, menusuk hidung Aris, memaksanya menahan muntah.

Ia tidak berani menoleh. Ia tahu apa yang ada di sana. Layar ponselnya yang retak masih menyala, menampilkan wajah Sarah yang terdistorsi digital, namun kehadiran fisik di sampingnya jauh lebih nyata dan jauh lebih mengerikan. Suara bisikan itu tidak hilang; ia merayap masuk ke dalam gendang telinga, meliuk-liuk di dalam kepalanya seperti cacing parasit mencari inang.

"Kenapa diam, Ris?" suara itu bertanya lagi, kali ini nadanya bergeser. Bukan lagi bisikan rindu, tapi geraman rendah yang terdengar seperti gesekan dua batu nisan. "Dulu kamu paling jago bikin alasan. 'Lagi macet', 'lagi meeting', 'lagi ngejar bonus'. Sekarang? Kamu punya semua waktu di dunia."

Aris memejamkan mata, berharap ini hanya halusinasi akibat kelelahan kronis. Tapi, rasa dingin itu menjalar ke lehernya. Sebuah tangan atau sesuatu yang menyerupai tangan, menyentuh bahunya. Jari-jarinya terasa terlalu panjang, dengan kuku-kuku setajam silet yang menekan jaket ojol hijaunya. Tekstur kulit yang menyentuhnya terasa lembek, seperti buah yang busuk dari dalam.

Dengan sisa tenaga yang dipacu adrenalin, Aris membanting tubuhnya ke depan, jatuh berguling di atas aspal peron yang kasar. Ia merangkak menjauh, napasnya memburu, matanya liar mencari perlindungan.

Di sana, di bawah sorot lampu neon stasiun yang berkedip-kedip sekarat, makhluk itu berdiri.

Itu bukan Sarah. Atau setidaknya, bukan Sarah yang ia ingat. Sosok itu mengenakan gaun floral yang sama seperti tiga tahun lalu, namun gaun itu kini kusam, penuh bercak lumpur dan darah kering. Tubuhnya tampak patah di beberapa bagian, seolah-olah ia adalah boneka yang dibuang paksa dari ketinggian. Lehernya miring dalam sudut yang tidak wajar, tulang selangkanya menonjol tajam menembus kulit yang abu-abu pucat.

Namun, wajahnya yang membuat Aris ingin mencungkil matanya sendiri. Wajah itu adalah topeng penderitaan. Mulutnya sobek melebar hingga ke pipi, membentuk senyum abadi yang grotesk. Matanya... tidak ada putih mata di sana. Hanya dua rongga hitam pekat yang meneteskan cairan hitam kental, menangis tanpa suara.

"Orderan belum selesai, Mas," makhluk itu melangkah maju. Gerakannya patah-patah, disertai bunyi krak tulang yang beradu setiap kali ia menggeser kaki. "Tujuan kita belum sampai."

Aris mundur, tumit sepatunya bergesekan dengan kerikil. "Pergi! Lu bukan Sarah! Sarah masih hidup!" teriak Aris, suaranya pecah di tenggorokan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski ia tahu di dunia gila ini, hidup dan mati hanyalah masalah perspektif.

Dari atas motor Honda Beat yang terparkir statis di tengah rel, yang entah bagaimana bisa ada di sana Si Penumpang tertawa. Tawa itu kering, tanpa humor, seperti suara daun kering yang diremas.

"Hidup?" Si Penumpang bertanya, suaranya bergema di seluruh stasiun yang kosong. Ia tidak menoleh, tetap menatap lurus ke lorong gelap di depan. "Dia hidup, Aris. Tapi bagian dirinya yang mencintaimu? Bagian yang menunggu kamu di stasiun ini tiga tahun lalu sampai hujan reda? Bagian itu sudah mati. Kamu yang membunuhnya. Dan sekarang, bangkainya datang menagih ongkos."

Aris menatap Si Penumpang dengan nyalang. "Tolong gua, bangsat! Lu yang bawa gua ke sini!"

"Aku cuma GPS, Aris. Kamu supirnya," jawab Si Penumpang santai, jemarinya mengetuk-ngetuk helm. "Kamu yang memilih rute ini. Ingat? Saat dia meneleponmu menangis minta dijemput karena ada preman yang mengganggunya, kamu matikan hp. Kamu pilih egois, kamu pilih karirmu, egomu kenyang. Tapi kamu lupa, setiap pilihan ada 'biaya admin'-nya."

Aris terdiam. Ingatan itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Malam itu. Hujan deras. Notifikasi 'Reject' yang ia tekan tanpa ragu. Aris ingat bagaimana ia mementingkan urusan kantor sementara hati nuraninya ia setel ke mode hening.

Makhluk yang dulunya Sarah itu semakin dekat. Bau anyir darah kini mendominasi udara, mengalahkan bau vanila. Ia mengulurkan tangannya yang cacat.

"Gendong aku, Ris," rengek makhluk itu, suaranya berubah menjadi suara anak kecil yang manja namun mengerikan. "Kakiku sakit. Nunggu kamu lama banget. Capek berdiri..."

Aris melompat bangkit. Nalurinya mengambil alih. Lari. Ia harus lari. Persetan dengan misi, persetan dengan dosa. Ia berbalik dan memacu kakinya secepat mungkin, menjauhi makhluk itu, menjauhi bangku panjang, menjauhi kebenaran yang membusuk itu.

Stasiun Manggarai dalam dimensi ini adalah labirin mimpi buruk. Aris berlari menaiki tangga eskalator yang mati, namun tangga itu terasa tak berujung. Dinding-dinding stasiun tidak lagi ditempeli iklan provider atau layanan masyarakat, melainkan dipenuhi oleh cetakan foto-foto polaroid raksasa.

Aris mencoba memalingkan wajah, tapi matanya dipaksa melihat. Foto-foto itu adalah rekam jejak hubungannya. Foto saat mereka makan di pinggir jalan, foto saat Sarah memberinya kemeja baru dari tabungannya. Foto saat Aris membentak Sarah di depan teman-temannya karena merasa malu dengan kedekatan mereka.

Setiap langkah adalah pameran kekejamannya.

"Lihat, Aris," suara Si Penumpang terdengar tepat di samping telinganya, meski sosok itu tidak terlihat berlari di sebelahnya. "Galeri kesuksesanmu. Kamu sukses menjadi brengsek sejati."

"DIAM!" Aris berteriak, napasnya tersengal. Dadanya terasa terbakar, paru-parunya seperti diisi serbuk kaca.

Ia sampai di lantai atas, berharap menemukan pintu keluar atau setidaknya cahaya matahari. Namun yang ia temukan hanyalah koridor panjang yang melengkung aneh, seolah arsitekturnya didesain oleh orang gila. Lantai keramik putih itu becek, bukan oleh air hujan, tapi oleh cairan hitam yang merembes dari sela-sela nat.

Di ujung koridor, ia melihat gerbang tap-out. Pintu keluar. Cahaya remang-remang berwarna merah berasal dari mesin gate tersebut. Itu satu-satunya jalan.

Aris memacu langkahnya. Di belakangnya, suara seretan kaki terdengar semakin cepat. Srek... srek... srek... Disertai suara tulang yang beradu. Sarah mengejarnya. Bukan dengan berlari, tapi dengan merayap cepat seperti laba-laba, menggunakan tangan dan kakinya yang patah.

"Jangan pergi lagi, Ris! JANGAN TINGGALIN AKU!" Jeritan itu melengking, memecahkan kaca-kaca jendela stasiun. Pecahan kaca berhamburan, melayang dalam gerak lambat sebelum jatuh menghujam lantai.

Aris sampai di depan gerbang tap-out. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh saku celananya, mencari kartu uang elektronik. Ia menemukannya. Kartu kusam dengan stiker pudar.

Ia menempelkan kartu itu ke sensor.

BIP.

Lampu indikator menyala merah. Palang besi tidak terbuka.

Layar kecil di mesin itu tidak menampilkan sisa saldo rupiah. Tulisan di sana berkedip-kedip dengan font pixel merah yang menyakitkan mata:

SALDO MAAF: 0 (NOL) TRANSAKSI DITOLAK. SILAKAN ISI ULANG DENGAN KETULUSAN.

"Sialan! Buka! BUKA!" Aris memukul mesin itu dengan kepalan tangannya hingga kulit buku jarinya lecet. Ia menempelkan kartunya lagi berulang kali, panik setengah mati. Bip. Bip. Bip. Merah. Merah. Merah.

Ia terperangkap.

Aris menoleh ke belakang. Koridor itu menyempit. Dinding-dindingnya berdenyut seperti daging hidup. Dan di sana, hanya berjarak sepuluh meter, makhluk Sarah berhenti merayap. Ia berdiri perlahan, tubuhnya yang tinggi menjulang hampir menyentuh langit-langit koridor.

Makhluk itu tidak menyerang. Ia hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang runcing dan hitam. Tangan kirinya terangkat, menunjuk ke arah Aris, lalu menunjuk ke arah lantai di bawah kaki Aris.

"Keretanya sudah datang, Sayang," bisiknya, suaranya menggema dari segala arah.

Tiba-tiba, lantai di bawah Aris bergetar hebat. Bukan getaran kereta lewat, melainkan gempa lokal yang berpusat tepat di bawah kakinya. Suara klakson kereta terdengar—bukan bunyi tuuut yang familiar, melainkan suara terompet sangkakala yang sumbang dan memekakkan telinga.

Lantai keramik retak dan amblas.

Aris tidak sempat berteriak saat pijakannya runtuh. Ia terperosok ke bawah, bukan jatuh ke rel kereta api biasa, melainkan jatuh ke dalam kegelapan yang berbau hangus.

Ia mendarat keras di atas sesuatu yang empuk namun padat. Jok motor.

Ia kembali duduk di atas motornya. Tangannya otomatis mencengkeram setang. Tapi ia tidak lagi di stasiun.

Pemandangan di sekelilingnya berubah drastis. Ia berada di dalam sebuah gerbong kereta, tapi gerbong ini tidak memiliki dinding. Kiri dan kanannya adalah kegelapan abadi yang melesat cepat, menampilkan garis-garis cahaya yang menyilaukan.

Aris melihat ke spion. Si Penumpang masih duduk di boncengan, kini mengenakan topi kondektur kereta api zaman Belanda yang kusam.

"Selamat datang di Gerbong Eksekutif Penyesalan," kata Si Penumpang, menepuk bahu Aris pelan. "Tujuan selanjutnya: Rumah Sakit Harapan Bunda. Tapi ingat, Aris... di jalur ini, tidak ada rem."

Aris menatap ke depan. Jalur rel di hadapannya bukan terbuat dari besi dan bantalan kayu. Rel itu terbuat dari tulang belulang manusia yang tersusun rapi, dan kerikil di sekitarnya adalah gigi-gigi yang berserakan.

Motornya melaju sendiri tanpa ia gas. Speedometer berputar gila-gilaan, jarumnya menunjuk angka yang mustahil. Dan di kejauhan, di ujung terowongan gelap itu, ia melihat siluet bangunan rumah sakit yang menjulang tinggi, dengan jendela-jendela yang menyala merah seperti mata iblis yang sedang mengawasi mangsanya.

Ponsel di holder motor bergetar. Sebuah panggilan masuk. Layar menampilkan nama yang membuat darah Aris berhenti mengalir.

PANGGILAN MASUK: IBU (DARI RUANG ICU)

Aris menatap layar itu dengan horor. Ibunya. Apakah ini juga ilusi? Atau kenyataan yang sedang diputarbalikkan?

"Angkat, Ris," perintah Si Penumpang, suaranya dingin dan mutlak. "Jangan jadi anak durhaka untuk kedua kalinya."

Aris mengulurkan tangan yang gemetar ke arah layar ponsel. Sebelum jarinya menyentuh ikon hijau, suara monitor detak jantung—tiit... tiit... tiiiit panjang—terdengar memekakkan telinga dari speaker ponselnya, seolah-olah kematian baru saja terjadi tepat di genggamannya.