Jari Aris membeku di atas layar retak itu, namun suara tiit... tiiiit panjang yang menyayat hati itu bukan berasal dari speaker ponselnya, melainkan dari udara di sekelilingnya. Langit-langit tanpa atap di atasnya bergetar, memantulkan nada monoton elektrokardiogram yang menandakan ketiadaan detak jantung. Ponsel di genggamannya hanya menampilkan durasi panggilan yang terus berjalan: 00:00:00, seolah waktu telah menyerah untuk mencatat keberadaan ibunya.
"Angkat, Bu... tolong angkat," bisik Aris parau, suaranya pecah ditelan deru angin yang berbau amis darah bercampur karbol rumah sakit.
Ia tidak berada di jalan raya lagi. Honda Beat-nya melaju statis di atas lantai baja yang berkarat, bagian dari sebuah platform melayang yang bergerak dengan kecepatan gila. Di bawah sana, di tempat yang seharusnya menjadi aspal atau rel kereta, terhampar ribuan tulang belulang manusia yang tersusun rapi menjadi jalur lintasan. Bunyi krak... krak... krak terdengar berirama setiap kali gerbong tanpa dinding ini melindas sambungan tulang paha atau tengkorak yang menjadi bantalan rel. Getarannya merambat naik melalui ban motor, menjalar ke stang, hingga membuat gigi Aris beradu gemeretak.
Aris mencoba menekan tombol loudspeaker, tapi yang keluar hanyalah desis statis yang terdengar seperti napas orang tercekik. Klakson sumbang, bunyinya seperti terompet kematian yang ditiup dengan napas terakhir, suara itu kembali meraung dari lokomotif tak terlihat di depan sana. Suara itu bukan peringatan bagi pejalan kaki, melainkan proklamasi bahwa perjalanan ini tidak menerima pembatalan.
"Sinyal di sini agak susah, Mas," suara Si Penumpang terdengar tepat di telinga kirinya, dingin dan datar, mengalahkan deru angin. "Koneksi ke dunia orang hidup memang selalu putus-nyambung kalau kita sudah masuk Jalur Ekspres Penyesalan."
Aris menoleh cepat, lehernya kaku karena teror. Si Penumpang duduk dengan postur tegak sempurna di jok belakang, topi kondektur Belanda yang kusam itu menutupi separuh wajahnya yang gelap. Ia tidak memegang pinggang Aris, namun Aris bisa merasakan beban ribuan kilogram menekan suspensi motornya hingga titik maksimal. Shockbreaker belakang motor itu menjerit, berdecit ngilu seirama dengan guncangan gerbong.
"Ini di mana, Anjing?!" teriak Aris, kepanikan meruntuhkan sisa-sisa logikanya. Ia mencoba menurunkan kaki untuk menyeimbangkan motor, tapi lantai gerbong itu licin oleh lendir hitam yang menyerupai oli bekas bercampur darah. "Gue harus ke Harapan Bunda! Ibu gue..."
"Harapan Bunda adalah destinasi," potong Si Penumpang, jarinya yang pucat mengetuk-ngetuk helm Aris seolah sedang mengecek kualitas barang dagangan. "Tapi rutenya tidak linear, Mas Aris. Kamu tidak bisa memotong kompas hanya karena kamu sedang buru-buru. Ingat Rio? Ingat Sarah? Mereka juga pernah buru-buru, tapi kamu yang menahan mereka."
Gerbong itu miring tajam ke kiri, mengikuti kelokan rel tulang yang melayang di kehampaan gelap. Di kejauhan, Aris melihat jendela-jendela merah menyala melayang di udara, seperti mata raksasa yang mengawasi. Itu bukan bintang. Itu adalah jendela ruang perawatan rumah sakit, ratusan jumlahnya, dan di setiap jendela, Aris melihat siluet yang sama: seorang wanita tua yang duduk sendirian menatap pintu, menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
"Itu... Ibu?" Aris menyipitkan mata, air mata mulai mengaburkan pandangannya. Angin kencang menampar wajahnya, membawa serta abu kremasi yang menyesakkan dada.
"Itu adalah rekaman CCTV dari memori yang kamu hapus," jawab Si Penumpang santai. "Tanggal 12 bulan lalu. Kamu bilang sedang lembur mengejar insentif, padahal kamu sedang ngopi di warkop sambil main slot. Ibu menunggumu sampai jam besuk habis. Lihat, dia bahkan menyimpan potongan apel yang sudah berubah cokelat untukmu."
"DIAM!" Aris memacu gas motornya. Roda belakang berputar gila di atas lantai baja, menciptakan asap putih yang berbau karet terbakar, namun motor itu tetap terpaku di tempat karena gerbong itu sendiri bergerak lebih cepat dari ambisinya. Aris terjebak dalam paradoks: ia bergerak secepat kilat menuju kehancuran, namun tak beranjak satu inci pun dari masa lalunya.
Si Penumpang tertawa kecil. Suaranya kering, seperti gesekan kertas amplas. "Hemat bensinmu. Di sini, bahan bakarnya bukan Pertalite. Gerbong ini bergerak karena dorongan rasa bersalahmu. Semakin kamu menyangkal, semakin cepat kita melaju."
Aris melepaskan gas, napasnya memburu. Dadanya sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya. Suara monitor jantung di udara berubah tempo, dari flatline panjang menjadi detak yang sangat lambat dan berat. Dugg... ... ... dugg... Setiap detakan membuat lantai gerbong berdenyut.
"Kita hampir sampai di transit pertama," ujar Si Penumpang, merapikan kerah seragamnya yang berdebu. "Siapkan dokumen perjalananmu. Bukan KTP, bukan SIM. Tapi kejujuran."
Di depan sana, kabut hitam membelah. Sebuah bangunan kolosal muncul dari kegelapan. Arsitekturnya adalah perpaduan mengerikan antara stasiun kereta api tua zaman kolonial dan lobi rumah sakit modern yang steril. Pilar-pilarnya tinggi menjulang, dililit oleh selang infus raksasa yang mengalirkan cairan merah pekat. Papan nama stasiun itu tergantung miring dengan cat yang mengelupas, diterangi lampu neon yang berkedip sekarat:
STASIUN TRANSIT: RUANG TUNGGU PENYANGKALAN
Gerbong melambat dengan sentakan kasar. Roda-roda di bawah sana memekik, gesekan logam melawan tulang menciptakan percikan api biru yang menyilaukan. Aris terhuyung ke depan, helmnya membentur spion. Motor akhirnya berhenti total tepat di bibir peron. Tidak ada celah antara gerbong dan lantai stasiun, seolah keduanya menyatu dalam satu dimensi penderitaan.
"Turun," perintah Si Penumpang. Nada suaranya tidak lagi menyarankan, tapi mutlak.
Aris turun dari motor dengan kaki gemetar. Ia menstandarkan motornya, merasa aneh karena gravitasi di sini terasa dua kali lebih berat. Ia masih menggenggam ponselnya. Layarnya kini gelap total, mati kehabisan daya, atau mungkin mati karena putus asa.
"Gue... gue cuma mau ke ICU," gumam Aris, suaranya mengecil. Keangkuhan yang biasa ia pamerkan di aspal Jakarta kini menguap, digantikan oleh kekerdilan bocah kecil yang tersesat di pasar malam.
Suasana stasiun itu sunyi, namun ramai. Ratusan "orang" duduk di kursi-kursi tunggu yang terbuat dari besi dingin. Mereka semua mengenakan baju pasien berwarna hijau pucat, wajah mereka rata, tanpa mata, hidung, atau mulut. Mereka hanya duduk diam, menunduk, memegang nomor antrean yang kertasnya menjuntai panjang hingga ke lantai.
"Jangan tatap mereka," bisik Si Penumpang yang kini sudah berdiri di samping Aris. Tingginya tampak bertambah, bayangannya memanjang menelan cahaya lampu neon. "Mereka adalah 'Alasan'. Semua alasan yang pernah kamu buat untuk membenarkan tindakanmu. 'Macet', 'Ban bocor', 'Aplikasi error', 'Lagi nggak enak badan'. Mereka menunggu validasi yang tidak akan pernah datang."
Aris menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. Sambil menekan rasa takut yang luar biasa, ia mendorong motornya menelusuri peron, mengikuti langkah Si Penumpang menuju sebuah gerbang turnstile otomatis, mirip gerbang tap-in di stasiun KRL, namun palangnya terbuat dari tulang rusuk yang melengkung tajam.
Di atas gerbang itu, sebuah layar LED merah menyala menampilkan tulisan berjalan: MASUKKAN TIKET PENGAKUAN.
Aris merogoh sakunya secara refleks, mencari kartu uang elektronik. Kebiasaan lama sebagai warga urban Jakarta yang terotomatisasi. Ia menempelkan kartu itu ke sensor.
BEEP-BEEP-BEEP! Suara penolakan yang nyaring menggema di seluruh aula stasiun.
Layar berubah tulisan: SALDO MAAF TIDAK MENCUKUPI. TRANSAKSI DITOLAK.
"Sialan!" Aris memukul mesin itu. "Kartu gue masih ada isinya lima puluh ribu! Ini rusak apa gimana?!"
"Saldo uang tidak berlaku di sini, Aris," kata Si Penumpang, kini berdiri di seberang gerbang, seolah ia bisa menembus materi padat begitu saja. Ia tersenyum, sebuah senyuman mengerikan yang merobek wajah ratanya. "Saya sudah bilang, mata uangnya berbeda. Kamu mau lewat? Kamu harus membayar dengan sesuatu yang riil."
"Apa?! Gue nggak punya apa-apa lagi!"
"Kamu punya," Si Penumpang menunjuk ke saku jaket Aris, tempat ia menyimpan struk-struk belanjaan dan kertas bukti transfer palsu yang pernah ia tunjukkan ke penagih hutang. "Keluarkan 'Kebenaran' tentang Rio. Keluarkan 'Kebenaran' tentang Sarah. Dan yang paling mahal... 'Kebenaran' tentang kenapa kamu tidak mengangkat telepon Ibumu tadi siang, sebelum kejadian ini dimulai."
Aris terdiam. Ingatan itu menghantamnya seperti truk tronton. Tadi siang. Pukul 12:00. Telepon dari Suster Ningsih. Aris melihatnya. Ia sadar sepenuhnya. Tapi ia sedang dalam posisi bid untuk orderan kakap pengiriman dokumen rahasia yang menjanjikan tip besar. Ia me-reject panggilan itu dan mengirim pesan template: "Lagi di jalan, Bu. Nanti dikabarin."
Padahal ia sedang berhenti merokok.
"Itu..." Aris tergagap, keringat dingin mengucur deras di punggungnya. "Gue... gue lagi kerja. Itu demi Ibu juga! Biar bisa bayar biaya rumah sakit!"
BEEP-BEEP-BEEP!
Mesin itu kembali berbunyi, lebih keras, lebih marah. Lantai di bawah kaki Aris mulai retak. Dari celah-celah keramik, asap hitam mulai membumbung. Para pasien tanpa wajah di ruang tunggu mulai berdiri serentak. Kepala mereka berputar perlahan ke arah Aris.
"Kebohongan terdeteksi," ujar Si Penumpang, nadanya kini penuh ancaman. "Sistem keamanan stasiun tidak menyukai pembohong, Mas Aris. Mereka lapar."
Aris mundur selangkah, menarik stang motornya. Tapi di belakangnya, rel tulang tempat ia datang tadi sudah hilang, digantikan oleh tembok daging yang berdenyut. Ia terperangkap.
Di hadapannya, palang tulang rusuk di gerbang itu mulai bergerak, bukan membuka, melainkan merapat, tumbuh menjadi jeruji yang runcing. Dan dari speaker stasiun, suara Suster Ningsih terdengar, bergema di seluruh ruangan dengan nada datar yang mengerikan:
"Panggilan untuk wali pasien atas nama Aris... Pasien mengalami gagal nurani stadium akhir. Mohon segera menuju ruang eksekusi."
Aris menatap Si Penumpang, memohon petunjuk. Tapi sosok bertopi kondektur itu hanya mengangkat bahu, lalu menunjuk ke arah jam dinding raksasa di atas stasiun. Jarum jam itu tidak berputar ke kanan atau ke kiri, melainkan meleleh ke bawah seperti lilin panas.
"Waktu tunggu habis," kata Si Penumpang. "Selamat menikmati transitmu."