Horor #horor #ojol

Kota yang Tak Pernah Tidur

Penulis djoedo
22 January 2026

Jam dinding yang meleleh itu tidak sekadar menetes; ia meluncur jatuh seperti dahak kental yang menghantam lantai peron dengan suara plok basah yang menjijikkan. Gravitasi di Stasiun Transit: Ruang Tunggu Penyangkalan mendadak terasa berlipat ganda, menarik persendian Aris hingga lututnya gemetar hebat di samping Honda Beat-nya.

Suara Si Penumpang masih menggema, "Selamat menikmati transitmu," namun senyum di wajahnya yang sebagian tertutup hoodie itu kini merekah terlalu lebar, merobek batas anatomi wajar manusia.

Sebelum Aris sempat memacu motornya atau sekadar berteriak memaki, lantai keramik putih di bawah kakinya retak. Bukan retakan batu, melainkan sobekan pada kulit. Ubin-ubin itu mengelupas, memperlihatkan lapisan daging merah tua yang berdenyut di bawahnya. Aroma karet terbakar dari ban motornya lenyap seketika, digantikan oleh bau anyir darah segar dan tajamnya aroma antiseptik yang menusuk rongga hidung.

"Mundur!" Aris berteriak pada dirinya sendiri, menarik setang motor dengan panik.

Namun, "Alasan" makhluk-makhluk tanpa wajah yang tadinya duduk rapi di kursi tunggu, kini bergerak serentak. Mereka tidak berjalan. Mereka meluncur, terseret seolah kaki mereka menyatu dengan lantai daging itu. Kepala mereka yang rata, tanpa mata, hidung, atau mulut, menoleh ke arah Aris seperti bunga matahari yang mengikuti cahaya mematikan. Suara mereka bukan teriakan, tapi dengungan statis radio rusak yang menyakitkan telinga, bunyi kumpulan ribuan kata "tapi", "nanti", dan "sebentar" yang ditumpuk menjadi satu frekuensi bising.

Pagar pembatas yang terbuat dari tulang rusuk raksasa di sebelah kiri Aris mulai menyempit. Krak... Krak... Suara tulang patah terdengar berirama, mendorong Aris semakin dekat ke tepi peron yang kini bukan lagi rel kereta, melainkan sebuah lubang hitam menganga yang berlendir.

"Jangan diam saja, Bangsat!" Aris memaki motornya yang mesinnya tersendat, seolah besi tua itu pun ketakutan. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol starter berkali-kali. Ctek. Ctek. Brumm!

Mesin menyala, tapi terlambat. Lantai daging di bawah ban belakangnya menyentak hebat seperti lidah yang menelan makanan. Aris kehilangan keseimbangan. Dunia berputar. Langit-langit stasiun yang dipenuhi lampu neon berkedip menjauh dengan cepat. Ia jatuh. Aris, motornya, dan dosa-dosanya, terperosok ke dalam kegelapan eosofagus kota yang tak pernah tidur ini.


Jatuhnya tidak terasa seperti terjun bebas di udara, melainkan seperti meluncur di dalam seluncuran air yang kering dan berlendir. Dinding-dinding terowongan itu terasa lunak saat bahu Aris menghantamnya, memantulkan tubuhnya dan motornya ke sana kemari. Gelap gulita, kecuali sorot lampu depan motornya yang berputar liar, menyinari sekilas tekstur dinding yang menyerupai usus besar raksasa dengan vena-vena biru yang menyala redup.

"Aaaaaarrgh!" Teriakannya hilang ditelan kedapnya dinding organik itu.

Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Aris terhempas keras ke permukaan yang basah dan dingin. Dugg! Helmnya membentur sesuatu yang keras. Motornya tergelincir beberapa meter menjauh, roda belakangnya masih berputar di udara, menciptakan cipratan air hitam yang berbau got.

Aris terengah-engah, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kempes. Ia meraba dadanya, memastikan jantungnya masih berdetak. Sakit. Seluruh badannya remuk redam, tapi adrenalin memaksanya untuk segera bangkit. Ia berada di sebuah terowongan panjang yang mirip gorong-gorong raksasa di bawah jalan protokol Sudirman, namun air yang menggenang setinggi mata kaki ini bukan air hujan. Itu cairan hitam pekat, kental seperti oli bekas, dan di permukaannya mengapung benda-benda yang sangat ia kenal: struk belanja, botol infus kosong, dan sobekan kertas tilang.

"Sudah puas main perosotannya, Pak Driver?"

Suara itu. Tenang, mengejek, dan terlampau dekat.

Aris menoleh cepat. Si Penumpang sedang berdiri santai di atas sebuah gundukan sampah medis, tidak basah sedikit pun. Dia kini mengenakan seragam kondektur lengkap dengan topi yang miring dengan sempurna. Ia sedang membersihkan seragamnya yang kusam dari debu imajiner, seolah baru saja turun dari angkutan umum yang nyaman.

"Tempat apa ini?" desis Aris, suaranya parau. Ia mencengkeram jaket ojolnya erat-erat, satu-satunya identitas yang masih ia miliki. "Kenapa lo nggak bunuh gue aja sekalian?"

Si Penumpang tertawa kecil, suara yang terdengar seperti koin receh beradu di dalam kaleng. Ia melompat turun dengan ringan, kakinya tidak menimbulkan riak di air hitam itu.

"Bunuh? Wah, Mas Aris ini salah paham," katanya sambil berjalan memutari Aris. "Kematian itu terlalu mudah. Itu hadiah. Kamu belum punya cukup poin untuk menukarkan hadiah itu. Di sini, kita tidak bicara soal akhir, tapi soal proses. Ini adalah Jalur Lambung Penyesalan. Semua yang kamu telan mentah-mentah. Semua kebohongan, janji palsu, sumpah serapah, semuanya bermuara di sini untuk dicerna."

Aris mundur selangkah, tapi punggungnya menabrak dinding yang terasa dingin dan lembap. "Gue mau keluar. Gue mau pulang. Ibu gue nunggu di rumah sakit."

"Ibu..." Si Penumpang memiringkan kepalanya, matanya yang tertutup bayangan topi seolah menembus isi kepala Aris. "Justru karena Ibu kamu ada di sana, kamu ada di sini. Ingat tidak, tiga bulan lalu? Saat kamu dapat bonus insentif mingguan satu juta rupiah?"

Aris terdiam. Ingatannya berputar.

"Kamu bilang ke Suster Ningsih uangnya belum ada," lanjut Si Penumpang, suaranya berubah menjadi bisikan tajam tepat di telinga kiri Aris. "Padahal uang itu kamu pakai untuk modifikasi motor dan beli ponsel seken biar bisa pasang dua akun 'tuyul' sekaligus. Kamu makan uang obat Ibumu sendiri, Aris. Di sini, di lambung ini, kita akan lihat apakah kamu bisa mencerna fakta itu."

Rasa mual yang hebat menghantam ulu hati Aris. Bukan karena bau busuk tempat itu, tapi karena kebenaran yang ditampar tepat ke wajahnya. Ia ingat ponsel barunya yang mengkilap, rasa bangga semu saat pamer ke Bambang di pangkalan.

"Itu... itu investasi," Aris membela diri, suaranya lemah. "Biar orderan makin lancar. Biar gue bisa bayar lunas nantinya."

"Investasi," ulang Si Penumpang dengan nada datar. "Kata yang indah untuk menutupi keserakahan."

Ia menunjuk ke ujung terowongan yang gelap. "Jalan keluarmu ada di sana. Tapi ingat, Aris. Di sistem pencernaan ini, hanya yang murni yang bisa lewat. Sampah akan dimuntahkan kembali."

Tanpa menunggu jawaban, Si Penumpang berjalan menuju motor Aris, duduk di boncengan dengan santai. "Ayo. Argo terus berjalan. Tarifmu sekarang bukan rupiah, tapi kewarasan."


Aris tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia menegakkan motornya. Body motor bagian kiri lecet parah, spion pecah, tapi mesinnya, entah karena keajaiban atau kutukan, masih menyala halus. Ia menaiki motor itu, merasakan beban berat di belakangnya saat Si Penumpang memosisikan diri. Berat yang tidak wajar, seolah ia membonceng satu ton beton.

Mereka melaju menembus terowongan itu. Cahaya lampu motor hanya mampu menembus kabut tipis sejauh lima meter. Dinding-dinding di sekitar mereka mulai berubah. Awalnya beton berlumut, lama-kelamaan berubah menjadi deretan lemari arsip berkarat yang tingginya tak berujung. Laci-lacinya terbuka, memuntahkan ribuan kertas, tagihan, resep dokter, surat peringatan kerja.

Aris mencoba fokus pada jalan, tapi matanya terus menangkap tulisan di kertas-kertas yang beterbangan itu. Tunggakan BPJS: 3 Bulan. Nota Pembelian Oli: Palsu. Pesan WhatsApp ke Sarah: "Maaf, aku sibuk." (Dibaca 3 tahun lalu).

"Fokus ke depan," tegur Si Penumpang dari belakang, tangannya yang dingin mencengkeram bahu Aris.

Tiba-tiba, di kejauhan, Aris melihat cahaya kuning yang hangat. Berbeda dengan neon rumah sakit yang dingin dan menyakitkan mata, cahaya ini lembut, mengundang.

"Itu..." Aris menyipitkan mata.

Bentuk bangunan itu semakin jelas saat mereka mendekat. Sebuah warung tegal sederhana dengan spanduk kain biru yang berkibar pelan. Ada tulisan putih yang sangat familiar: WARTEG BU NARSIH - SEDIA SOTO AYAM & GORENGAN.

Jantung Aris melonjak girang. Warteg Bu Narsih adalah tempat peristirahatannya di dunia nyata. Tempat ia biasa utang makan siang kalau orderan sepi. Tempat yang aman.

"Berhenti di sana!" Aris berseru, tanpa sadar tersenyum. "Gue butuh minum. Gue butuh istirahat sebentar."

"Yakin?" tanya Si Penumpang. Nadanya meragukan, tapi ia tidak melarang.

Aris meminggirkan motornya di depan warteg itu. Suasananya begitu damai. Tidak ada suara bip-bip monitor jantung, tidak ada bau darah. Hanya aroma bawang goreng dan teh manis hangat. Aris turun dari motor, kakinya yang lemas hampir tak sanggup menopang tubuh.

Ia melangkah masuk. Di balik etalase kaca yang sedikit berminyak, tumpukan lauk pauk tersaji menggiurkan. Tempe orek, telur dadar tebal, sayur nangka. Uap panas masih mengepul.

"Bu Narsih?" panggil Aris.

Sosok wanita paruh baya dengan daster batik muncul dari dapur. Punggungnya menghadap Aris, sedang mengaduk sesuatu di panci besar.

"Bu, teh manis anget satu ya. Sama nasi separuh, pakai orek," kata Aris, merasa air matanya hampir jatuh karena menemukan setitik normalitas di neraka ini. Ia duduk di bangku kayu panjang, menyandarkan kepalanya ke tembok. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya.

Sinyal! Ada satu bar sinyal 4G. Aris terkesiap. Ia buru-buru membuka aplikasi ojek online-nya. Tombol "Selesaikan Order" menyala merah.

"Gila... Gue bisa selesaikan ini," bisiknya gemetar. Jempolnya melayang di atas layar. Kalau ia menekan tombol itu, mungkin mimpi buruk ini berakhir. Mungkin ia akan bangun di pos ronda, ditertawakan Bambang karena ketiduran.

"Makanannya, Mas Aris," suara Bu Narsih terdengar lembut.

Piring diletakkan di meja. Aris menoleh, siap menyantap makanan itu. Namun, senyumnya membeku.

Di atas piring itu bukan nasi dan orek tempe. Itu adalah gumpalan belatung putih yang menggeliat di atas tumpukan gigi manusia yang kuning dan berlubang. Kuah sayurnya berwarna merah pekat, kental seperti darah yang mulai membeku.

Aris terlonjak mundur, bangku kayunya terjungkal. "Bangsat!"

Ia menatap sosok "Bu Narsih" yang perlahan membalikkan badan. Itu bukan wajah ramah ibu pemilik warung yang ia kenal. Wajah itu rata. Licin seperti manekin. Di bagian mulutnya, hanya ada jahitan benang hitam yang kasar membentuk senyuman lebar yang dipaksakan.

Dari dalam dapur, suara gemuruh terdengar. Panci besar yang tadi diaduk tumpah. Isinya bukan sop, melainkan ratusan jam tangan rusak dan ponsel retak yang berhamburan ke lantai dengan suara klontang yang nyaring.

"Di sini tidak ada istirahat untuk penipu, Mas," suara Si Penumpang terdengar dari pojok ruangan. Ia sedang duduk santai, memegang gelas berisi cairan hitam, meminumnya seolah itu kopi nikmat. "Kau pikir kau bisa membatalkan pesanan semudah itu?"

Ponsel di tangan Aris bergetar hebat. Bukan notifikasi chat, melainkan alarm peringatan aplikasi yang bunyinya memekakkan telinga, mirip sirine ambulan. Layarnya berkedip merah dengan tulisan besar:

RUTE DIALIHKAN: TUJUAN TIDAK DITEMUKAN. JARAK KE TUJUAN: (-) ∞ KM.

Dinding warteg itu mulai meleleh seperti lilin yang terbakar. Langit-langit runtuh, berubah menjadi ribuan jarum suntik yang menghujam ke bawah seperti stalaktit.

"Keluar! Kita harus pergi!" teriak Aris, menyambar helmnya. Ia tidak peduli lagi pada Si Penumpang, ia lari tunggang langgang menuju motornya.

Ia melompat ke atas jok, memutar gas dalam-dalam. Roda belakang berdecit, membakar aspal—atau apapun benda hitam lengket di bawahnya itu. Motor melesat menjauhi reruntuhan warteg yang kini mulai berteriak dengan suara Bu Narsih yang menjeritkan tagihan utang makan Aris yang belum dibayar selama dua bulan.

Aris memacu motornya secepat mungkin kembali ke terowongan gelap. Tapi ada yang salah.

Jalan di depannya tidak lurus. Jalan itu melengkung ke atas, berputar, melawan gravitasi, membentuk sebuah lingkaran raksasa (loop) vertikal seperti lintasan roller coaster yang gila.

Dan di titik tertinggi lengkungan itu, di kejauhan, Aris melihat sebuah cahaya merah kecil.

Itu lampu belakang motor.

Itu lampu belakang motor Honda Beat.

Aris menyipitkan mata, napasnya tercekat. Ia melihat dirinya sendiri. Di depan sana, di putaran waktu yang tak berujung, ia melihat punggungnya sendiri sedang memacu motor menjauh dari sesuatu.

"Selamat datang di putaran setan," bisik Si Penumpang yang entah sejak kapan sudah kembali duduk manis di boncengan, berbisik tepat di tengkuk Aris, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. "Kamu sedang mengejar dirimu sendiri, Aris. Dan percayalah, kamu tidak akan pernah menang."