Bisikan itu tidak hilang tertiup angin; ia justru merayap masuk ke dalam helm, bergaung di rongga telinga Aris, lebih nyaring dari raungan mesin motor yang dipaksanya bekerja melampaui batas wajar.
Cahaya merah di depan sana, lampu belakang motor yang ia kejar mati-matian berkedip dengan irama yang seolah-olah mengejek. Jaraknya selalu konstan. Lima meter. Tak peduli seberapa dalam Aris memutar tuas gas, tak peduli seberapa nekat ia memiringkan tubuh di tikungan vertikal yang melawan gravitasi ini, cahaya itu tetap tak terjangkau.
"Kamu dengar mesinmu, Aris?" suara Si Penumpang kembali terdengar, datar namun menusuk, seolah ia berbicara langsung di dalam batang otak Aris. "Ia menjerit. Sama seperti kamu setiap tanggal dua puluh lima. Mengejar, memburu, tapi tidak pernah sampai."
Aris menggertakkan gigi. Keringat dingin mengalir dari pelipis, membasahi busa helm yang sudah apek. Klontang. Suara logam beradu dari dalam mesin motor bututnya terdengar semakin kasar, seperti tulang-belulang yang dipaksa berlari. Dinding terowongan di sekelilingnya bukan lagi beton, melainkan blur warna abu-abu yang berputar memualkan. Aris tahu, secara logika, ia sedang berkendara dalam posisi terbalik di puncak lingkaran, namun ban motornya merekat pada lintasan seolah aspal itu memiliki tangan-tangan kecil yang menahannya jatuh.
"Diam!" Aris berteriak, suaranya parau, pecah ditelan deru knalpot. "Gue cuma perlu lebih cepat! Sedikit lagi!"
Obsesi itu mengambil alih. Rasanya persis seperti hari-hari gila mengejar bonus insentif. Saat aplikasi memunculkan notifikasi "Kurang 1 Poin untuk Bonus Harian", dan jam menunjukkan pukul 23.45. Adrenalin bercampur kortisol membanjiri darahnya. Tidak ada etika, tidak ada lelah, yang ada hanya angka. Dan sekarang, di lintasan jahanam ini, angka itu adalah lampu merah di depannya.
Ia menunduk, memangkas hambatan angin, meniru gaya pembalap yang sering ia tonton di TV warkop. Speedometer analog yang retak itu bergetar hebat, jarumnya menunjuk angka yang mustahil: 140 km/jam, lalu 150, lalu berputar kembali ke nol dan terus naik.
Namun, semakin ia cepat, semakin dunia di sekelilingnya menyempit. Kabut hitam di pinggir lintasan mulai merangsek masuk.
"Lihatlah," Si Penumpang berkata lagi. Tangan dingin itu kini tidak hanya mencengkeram leher, tapi perlahan merambat ke bahu, beratnya menekan suspensi belakang hingga shockbreaker motor menjerit ngilu. "Inilah hidupmu, Ris. Putaran setan. Kamu lari kencang bukan untuk sampai tujuan, tapi cuma biar nggak jatuh. Persis tikus di dalam roda."
Aris merasakan dadanya sesak. Ucapan itu menghantam ulu hati lebih keras dari benturan fisik. Bayangan Pak Mulyono melintas di kepalanya, orang tua itu duduk santai di pangkalan, tersenyum dengan gigi ompongnya, menasihati Aris untuk istirahat sejenak demi segelas teh manis. "Rezeki nggak bakal ketuker, Ris. Kalau dikejar terus, dia lari. Kalau disyukuri, dia nyamperin."
Dulu, Aris meludah mendengar itu. Sekarang, di tengah pusaran gravitasi yang mematikan ini, kata-kata itu terasa seperti vonis hakim.
"Gue... gue nggak bisa berhenti!" teriak Aris, air mata frustrasi mulai menggenang, mengaburkan pandangannya. "Kalau gue berhenti, gue jatuh! Gue hancur!"
"Memangnya sekarang kamu utuh?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi efeknya melumpuhkan. Aris melirik ke spion. Tidak ada pantulan wajahnya di sana. Kaca spion itu hanya memantulkan kegelapan total, seolah Aris tidak pernah ada. Yang ada hanya jaket ojol lusuh yang melayang tanpa isi.
Eksistensinya sedang dipertanyakan oleh aspal yang iagilas. Aris menyadari sesuatu yang mengerikan: lampu merah di depannya itu bukan motor lain. Itu adalah pantulan masa lalunya sendiri. Ia sedang mengejar Aris dari tiga tahun lalu. Aris yang masih punya Sarah, Aris yang ibunya masih sehat, Aris yang belum terjerat pinjaman online demi gaya hidup palsu. Ia mengejar bayangan yang sudah mati.
"Lepaskan, Aris," bisik Si Penumpang, suaranya kini terdengar tepat di telinga kiri, dingin seperti es batu yang ditempelkan ke kulit. "Hancurkan siklusnya. Atau kita akan berputar di sini sampai tulangmu menjadi bensin."
Tangan Aris gemetar di stang kemudi. Melepaskan gas berarti bunuh diri. Hukum fisika di terowongan ini jelas: kecepatan adalah nyawa. Tapi terus melaju adalah kegilaan tanpa ujung.
Otak Aris berputar mencari celah logika. Ini bukan jalan raya Jakarta. Ini adalah manifestasi dari kepalanya yang ruwet. Jika ia mengikuti aturan jalanan ini, ia kalah. Ia harus melanggar aturan. Ia harus melakukan apa yang paling ditakuti oleh setiap driver ojol yang mengejar poin: Membatalkan Pesanan.
"Persetan dengan poin!"
Aris tidak melepas gas. Ia justru melakukan hal yang paling bodoh. Ia menekan rem depan dan belakang sekaligus sekuat tenaga sambil membanting stang ke kanan, ke arah jurang kegelapan di luar lintasan.
CKIIIIIT!
Suara ban yang terseret di aspal basah memekakkan telinga, terdengar seperti jeritan wanita. Bau karet terbakar menusuk hidung, bercampur dengan bau kemenyan yang keluar dari pori-pori jaket Si Penumpang. Motor itu terpelanting, kehilangan traksi, dan gravitasi akhirnya menang.
Sensasi melayang itu datang seketika.
Bukan jatuh ke bawah, melainkan terlempar ke samping, menembus dinding realitas yang rapuh. Gelap menelan mereka. Aris terlepas dari motornya. Ia melayang di kehampaan, berputar-putar tanpa kendali. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Hanya dingin yang menusuk tulang dan suara gema masa lalu yang berseliweran.
"Maaf, Pak, saldonya kurang..." "Mas, tolong jangan lewat sini, anak saya sakit..." "Dasar driver nggak punya otak! Saya kasih bintang satu!"
Suara-suara itu menghantam tubuh Aris seperti kerikil tajam. Ia menutup mata, memeluk lutut, meringkuk seperti janin. Ia siap mati. Ia siap jika ini adalah akhir dari segalanya. Setidaknya, ia berhenti berlari.
BRAKK!
Tubuhnya menghantam sesuatu yang keras dan basah.
Napas Aris tersentak keluar dari paru-paru. Rasa sakit yang nyata menjalar dari punggung hingga ke kaki. Ia terbatuk, memuntahkan rasa besi di mulutnya, darah... Matanya mengerjap, mencoba menangkap cahaya.
Ia terbaring di atas aspal kasar. Hujan rintik-rintik turun, membasahi wajahnya. Dingin. Basah. Nyata.
Aris mengerang, mencoba bangun. Tubuhnya terasa remuk, tapi ia masih bisa bergerak. Ia menoleh. Motornya tergeletak beberapa meter darinya, mesinnya mati, namun lampu sein kirinya masih berkedip lemah. Tik-tok. Tik-tok. Irama yang akrab.
Ia melihat sekeliling. Ia berada di sebuah jalan perumahan yang sunyi. Lampu jalan merkuri memancarkan cahaya oranye suram yang membuat segala sesuatu terlihat seperti foto lama yang pudar. Pagar-pagar rumah tertutup rapat, pohon-pohon mangga berdiri kaku tanpa daun yang bergoyang sedikit pun.
Sepi. Terlalu sepi...
"Kita... kita di mana?" gumam Aris, suaranya serak. Ia meraba lehernya. Tidak ada tangan dingin. Ia menoleh ke belakang.
Si Penumpang berdiri tegak di samping tiang listrik, topi kondekturnya menutupi sebagian wajah. Ia tidak basah oleh hujan. Sosok itu tampak sedang mengamati sebuah rumah di seberang jalan dengan minat yang tak wajar.
"Zona Nyaman," jawab Si Penumpang singkat. Ia menunjuk dengan dagunya ke arah rumah bercat krem di depan mereka. "Bukankah ini yang selalu kamu inginkan? Rumah yang tenang. Jauh dari tagihan. Jauh dari bising klakson."
Aris menyipitkan mata. Rumah itu... ia mengenalnya. Itu adalah rumah kontrakan lamanya. Tempat ia dan Sarah pernah bermimpi untuk memulai hidup sebelum ambisi Aris menghancurkan segalanya. Tapi ada yang salah. Jendelanya gelap gulita, namun ada cahaya berkedip dari dalam, seperti cahaya televisi yang dibiarkan menyala.
Aris memaksakan kakinya untuk melangkah. Rasa sakit di pinggangnya ia abaikan. Ada dorongan aneh untuk mendekat, sebuah kerinduan yang tiba-tiba menyeruak di tengah horor ini. Mungkinkah ini jalan keluar? Mungkinkah Sarah ada di sana?
Ia berjalan tertatih-tatih mendekati pagar. Besi pagar itu terasa dingin dan lengket, seperti dilapisi minyak.
"Hati-hati, Aris," Si Penumpang memperingatkan, nadanya bukan lagi mengejek, tapi... waspada? "Zona nyaman adalah pembunuh yang paling sunyi."
Aris tidak peduli. Ia mendorong pagar itu. Tidak dikunci. Ia melangkah masuk ke halaman yang penuh dengan rumput liar setinggi lutut. Langkahnya terhenti di depan pintu kayu yang catnya mengelupas.
Ia mengetuk. Tok. Tok. Tok.
Hening.
Lalu, terdengar suara langkah kaki dari dalam. Berat. Terseret.
Sreeek... Sreeek...
Jantung Aris berdegup kencang. Ia merapikan jaket ojolnya secara refleks, sebuah kebiasaan lama saat hendak bertemu pelanggan. Pintu perlahan terbuka dengan derit engsel yang menyakitkan.
Bau itu langsung menyergapnya. Bukan bau rumah yang hangat, bukan bau masakan Sarah. Itu adalah bau karbol rumah sakit yang sangat menyengat, dicampur dengan bau bunga sedap malam yang layu.
Di ambang pintu, tidak ada siapa-siapa. Lorong rumah itu kosong, memanjang jauh melampaui ukuran fisik rumah tersebut. Lantainya bukan keramik putih kontrakan, melainkan ubin vinil hijau pucat khas rumah sakit. Dan di ujung lorong yang gelap itu, Aris melihat sesuatu yang membuatnya mundur selangkah.
Sebuah loket antrean.
Di atas loket itu, papan LED merah menyala dengan tulisan berjalan: NOMOR ANTRIAN: A-RIS. SILAKAN MENUJU KASIR PENEBUSAN DOSA.
Ponsel di saku Aris bergetar hebat, memecah kesunyian. Aris merogohnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya retak, tapi ia masih bisa membaca notifikasi yang baru saja masuk dari aplikasi ojeknya. Bukan orderan penumpang, bukan bonus insentif.
SISTEM PERINGATAN: Posisi Anda terdeteksi di: HALTE PENYANGKALAN. Status: MENUNGGU GILIRAN. Saldo Amal: MINUS (Tidak Mencukupi).
"Apa-apaan ini..." bisik Aris.
"Tagihan baru sudah dicetak, Aris," suara Si Penumpang muncul tepat di belakang tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri. Aris berbalik cepat, tapi sosok itu sudah tidak ada di sana. Topi kondekturnya tergeletak di atas keset bertuliskan 'WELCOME', dan dari dalam topi itu, ribuan struk belanja dan kertas tagihan mulai merayap keluar seperti serangga, menggeliat, berkembang biak dengan cepat, menutupi lantai teras, membungkus sepatu Aris.
Kertas-kertas itu bukan kertas kosong. Aris bisa melihat tulisannya: Janji Palsu pada Sarah - Rp 10 Juta, Bohong pada Ibu - Rp 5 Juta, Memaki Rio - Tak Ternilai.
Struk-struk itu mulai merambat naik ke kakinya, melilit seperti ular piton kertas, menariknya masuk ke dalam rumah, menuju lorong rumah sakit yang dingin itu. Aris mencoba menendang, merobek kertas-kertas itu, tapi mereka liat, basah, dan kuat.
"Nggak! Gue nggak mau masuk!" teriak Aris, mencengkeram kusen pintu.
Dari dalam lorong, suara speaker rumah sakit terdengar, cempreng dan menggema, namun suaranya adalah suara Aris sendiri yang didistorsi: "Panggilan untuk Bapak Aris. Waktu berkunjung ke masa lalu sudah habis. Harap segera melunasi tunggakan nurani di loket 4."
Kusen pintu di tangannya mulai melunak, berubah tekstur menjadi daging busuk yang berlendir. Aris tergelincir. Cengkeramannya lepas. Dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan, ia terseret masuk ke dalam kegelapan lorong yang berbau obat dan penyesalan, sementara pintu rumah terbanting menutup sendiri di belakangnya.
BAM!
Hanya menyisakan suara mesin printer yang bekerja gila-gilaan di kegelapan, mencetak dosa demi dosa yang tak pernah ia akui.